
π SENGSARA DALAM NIKMAT - PART 1π
Hari itu, Ningsih menghabiskan sisa waktu bersama Bima. Membahas banyak hal indah dan tentang perasaan agar melupakan sejenak hal mengerikan yang Joko perbuat. Namun, berkali-kali Joko menelepon nomor Ningsih, bahkan pesan pun banyak dikirimkan membuat Ningsih makin risih.
Joko: [Maafkan aku, sayang. Aku janji tidak akan mengulangi lagi.]
Joko: [Sayang, kenapa tidak balas. Angkat teleponnya. Kamu di mana?]
Joko: [Ningsih, aku sungguh-sungguh minta maaf. Jangan seperti ini. Ayo kita menikah besok! Abah sudah boleh pulang dari rumah sakit. Sekarang aku hendak ke sana membayar administrasi. Hubungi aku jika kamu sudah membaca pesan ini.]
Ningsih memegang handphonenya. Membaca satu per satu pesan Joko dan ketiga pesan terakhir, membuat Ningsih berhenti. "Bima, Abah sudah sehat dan boleh pulang. Joko bilang kalau ingin menikahiku besok. Bagaimana?" Ningsih meminta pertimbangan suami gaibnya.
"Baik. Semua sesuai rencana. Menikahlah besok. Dia terlalu menginginkanmu dan over protectif. Tenang saja, setiap malam aku akan masuk ke tubuh Joko saat berhubungan denganmu. Tujuh hari saja, aku bisa mengambilnya," jelas Bima yang tersenyum. Memastikan semuanya akan baik-baik saja. Meski Ningsih merasa terpaksa menikah dengan orang yang melecehkannya.
Ningsih hanya bisa mengikuti apa yang Bima katakan. Demi kekuatan Bima kembali pulih. Sore itu, Ningsih menghubungi Joko.
Ningsih: "Hallo ...."
Joko: "Hallo, Ningsih. Kamu di mana? Ini keluargaku sudah di rumah. Aku sudah bilang kalau besok akan mengadakan pernikahan kita. Kamu mau, 'kan? Kamu bersedia, 'kan? Maafkan aku."
Ningsih: "Iya, aku bersedia."
Joko: "Baiklah. Oiya, maaf. Aku memakai kartu kreditmu untuk membayar biaya rumah sakit Abah dan biaya akad nikah besok. Hari ini aku sudah mencari pekerjaan. Semua akan kuganti jika pekerjaanku lancar."
Ningsih: "Tidak usah. Tak apa, Joko. Nanti malam aku akan ke rumahmu."
Ningsih mengakhiri pembicaraan itu. Dia bahkan lupa jika kartu kreditnya diserahkan ke Joko. Bagi Ningsih, soal harta tak jadi masalah. Dia saat ini fokus pada pemulihan energi Bima. Ningsih sadar jika sewaktu-waktu, hal buruk bisa terjadi. Saat waktu itu tiba, semoga energi Bima sudah penuh.
Ningsih bangkit berdiri dari kursi taman yang sejak tadi digunakan untuk duduk Bima dan Ningsih. "Ningsih, kamu akan ke rumah Joko?" tanya Bima, memandang istrinya.
Ningsih menatap Bima dan tersenyum, "Iya, Bima. Bukankah kita harus menyelesaikan tugas ini? Aku pamit dulu." Ningsih mencium pipi Bima. Lalu Bima mencium kening Ningsih. Mereka pun berpamitan, tepat saat matahari mulai terbenam.
Ningsih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, melaju ke rumah Joko. Saat dalam perjalanan, Ningsih berhenti sejenak membeli beberapa makanan serta oleh-oleh. Wanita itu tak ingin terlihat buruk di hadapan keluarga Joko.
Sesampainya di rumah Joko, kedatangan wanita yang menjadi bosnya selama ini disambut dengan hangat oleh Ibu dan Nindy. Sedangkan Joko sendiri baru saja ke penghulu untuk mendaftar nikah untuk besok. Hanya saja jika mendadak, nikah siri yang menjadi pilihan. "Silahkan masuk, Ningsih. Ibu sudah menunggu dari tadi. Abah sedang istirahat. Kecapean tadi sepulang dari rumah sakit." kata Ibu yang mengajak Ningsih masuk rumah.
"Maaf, Bu. Tadi Ningsih ada keperluan mendadak. Ini Ningsih bawakan buah tangan. Semoga Abah lekas pulih, ya." ucap Ningsih sambil meletakkan beberapa plastik berisi roti, kue, dan makanan.
"Tante, eh, Kak Ningsih. Bang Joko sedang ke penghulu minta jadwal nikah besok. Emang bisa, ya, nikah mendadak?" tanya Nindy yang tertawa, geli.
"Kurang tahu, tapi setahuku kalau nikah dadakan bisanya hanya nikah siri. Jadi, kemungkinan begitu dulu." Ningsih pun tertawa. Justru Ningsih senang jika menikah siri. Tidak tercatat resmi di negara. Jika Joko meninggal, dia tak akan kesusahan mengurus surat kematian. Setelah berbincang tentang banyak hal, Joko pun pulang.
"Bang udah pulang! Ningsih di sini, ya? Ada mobilnya di depan," seru Joko yang gembira melihat mobil calon istrinya ada di pekarangan rumah.
"Iya, Bang. Sini!" sahut Nindy yang sedari tadi menunggu Bang Joko pulang.
"Ningsih, kamu bener ke sini. Jangan marah lagi, ya. Bang sudah minta penghulu ke sini untuk menikahkan kita. Siang jam satu. Nanti Bang akan pilih baju pengantin dan segala persiapannya dibantu warga," jelas Joko bersemangat. Lagi-lagi, hal itu bukan yang diinginkan Ningsih jika semua terlalu ramai. Ningsih pun mempunyai alasan yang tepat agar Joko tidak mengumumkan pernikahan mereka.
"Begini ... Joko, Ibu, Nindy, aku sebelumnya mau bilang. Bisakah pernikahan ini disembunyikan saja? Bukan soal apa-apa. Aku nggak enak dengan Santi-keponakanku yang menyukai Joko. Kalau sampai ketahuan menikah, bisa-bisa Wahyu tidak dikembalikan. Kalian tahu, 'kan, kalau Wahyu di Yogyakarta bersama Santi dan Reno? Aku hanya ingin menjaga perasaan semuanya. Bisakah nikah siri ini hanya menjadi rahasia kita saja?" tanya Ningsih dengan penjelasan dan alasan yang tepat.
Nindy terdiam. Mengingat Kak Santi yang menyukai Bang Joko. Terlebih, ingat akan Reno yang menjadi cinta pertamanya. Ibu pun menatap Joko untuk mencari jawaban dari pernyataan Ningsih. Sedangkan Joko tersenyum, "Tak apa, sayang. Baiklah. Itu hal terbaik untuk kita."
Semua sesuai dengan rencana Ningsih. Sebentar lagi, tumbal ketujuh digenapi. Kekayaan Ningsih pasti bertambah seiring energi Bima juga bertambah. Joko pun tak sabar akan mempersunting Ningsih dan bisa memilikinya seutuhnya.
"Terima kasih, Joko. Aku akan menghubungi orang untuk menyiapkan tempat akad, pakaian, dan salon berhias. Kamu tenang saja." kata Ningsih sambil tersenyum menyembunyikan rasa kesalnya terhadap Joko.
"Dasar lelaki mesum, tak bermodal! Kalau bukan karena Bima, tak sudi aku menikah denganmu! Bisa-bisa, kamu melecehkanku setiap hari dan memaksa melayani dengan dalih suami istri!" batin Ningsih saat mengambil handphonenya dan menghubungi orang yang di kenal di bagian WO.
Ningsih: [Hei, Dinar. Ini Ningsih. Aku mau cari tempat untuk akad nikah secara siri. Muat untuk sepuluh orang saja. Sekalian hiasan, makanan, serta untuk pengantin: lelaki size L, wanita size S, ibu size L, ayah size XL, adik perempuan size S. Sekalian siapin orang untuk saksi gitu, bisa?]
Ningsih menulis pesan to the point karena Dinar memang mengurus segala hal tentang pernikahan. Berapa menit kemudian, balasan diterima.
Dinar: [Hai, Ningsih. Wah, lumayan nih job secret wedding he he he .... Bisa donk! Untuk kapan ya? Mau dress atau kebaya?]
Ningsih: [Untuk besok. Akad mulai jam satu siang, bisa? Alamat tempatnya ya jangan lupa. Aku mau pakai kebaya aja yang simple.]
Dinar: [Wow, mendadak banget. But, it's ok. Sama Dinar pasti bisa! Okay. Alamat tempatnya Jalan Cendrawasih nomor 23 dalam perumahan, ya. Besok pagi aku siapkan semua, rombongan datang sebelum jam sembilan, ya? Make sure, karena harus rias dan lain-lain. Sekalian dokumentasi?]
Ningsih: [Nggak usah dokumentasi. Cuma nikah siri, kok. Thanks Dinar. Sebut nominal dan rekeningmu nantk kutransfer.]
Dinar: [Okay, Ningsih. BCA-xxxx-xxx-xxx-xx total amount Rp25.000.000 sudah lengkap dengan dekorasi.]
Ningsih: [Baik, see you.]
Ningsih pun senyum-senyum karena semua lancar, dirahasiakan, tanpa dokumentasi, dan aman! Seakan takdir pun mendukungnya.
"Sudah! Sudah beres semua. Penghulunya dihubungi, ya. Ke Jalan Cendrawasih nomor 23 masuk perumahan besok jam satu siang." seru Ningsih membuat kaget lainnya.
"Wah, keren banget Kak Ningsih. Gercep, eh, gerak cepat! Nindy nggak sabar, nih. Mau lihat Ibu dan Abah pakai baju bagus. Nggak sabar lihat Bang Joko nikahan sama Kak Ningsih. Yeay!" sorak gadis yang baru lulus SMA itu dengan antusias.
"Alhamdulilah kalau semua diberi kelancaran," kata Ibu yang kemudian memeluk Ningsih.
Malam itu, Ningsih di suruh menginap. Dia menurut saja dengan syarat, "Aku mau menginap asal malam ini jangan lakukan apa-apa. Aku tak ingin besok kelelahan." Ningsih membisikkan itu ke Joko dan lelaki itu mau menahannya untuk semalam.
***
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu yang menikahkan Joko dan Ningsih.
"SAH!" seru para saksi, Abah, Ibu, dan Nindy secara bersamaan.
"Alhamdulilah ...."
Ningsih sudah menjadi istri Joko meski hanya nikah siri. Mereka pun melanjutkan acara dengan santap siang yang sudah tersedia. Hidangan yang lezat. Rumah yang bagus dengan dekorasi yang menawan. Semua berjalan dengan lancar meski dihadiri hanya oleh sepuluh orang di ruangan.
Ningsih berencana kembali ke rumah, malam ini. Ningsih sengaja menata rumahnya dengan menggunakan jasa cleaning service panggilan. Kamarnya pun dihias dengan kelopak bunga mawar segar. Bukan untuk merayakan bersama Joko, tetapi menanti Bima masuk ke tubuh Joko.
"Sayang, kita ke rumah, yuk." lirih Joko menahan keinginannya yang tertahan sejak malam kemarin. Akad sudah selesai, makanan sudah di santap. Lalu penghulu sudah pamit pulang. Apalagi yang ditunggu? Jam menunjukkan pukul tiga sore.
"Pulang ke rumahku, aja. Nanti Abah, Ibu, sama Nindy pulang dengan taksi yang sudah kusiapkan," bisik Ningsih membuat Joko semakin membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan di rumah hanya berdua.
"Baik, sayang. Ternyata kamu pengertian sekali. Ada yang sudah kangen dan nggak tahan ingin ketemu," kata Joko sambil mengecup pipi Ningsih. Bukannya mesra, Ningsih makin jijik. Seakan pikiran Joko hanya pada napsu saja.
Bagi Ningsih, lelaki yang menyayanginya hanyalah Bima. Tidak memperbudaknya dalam paksaan napsu. Semua dalam keadaan suka sama suka, balutan cinta dan kasih sayang, meski Bima dan Ningsih beda dunia.
"Abah, Ibu, Nindy, kami pulang duluan, ya." pamit Joko pada keluarganya. Dia sengaja menggandeng mesra tangan istrinya.
"Iya, hati-hati di jalan, ya." sahut keluarga Joko bersamaan. Ningsih sudah mengatakan jika mereka pulang dengan taksi.
Ningsih dan Joko masuk dalam mobil, lalu melaju agak kencang karena lelaki itu sudah tak sabar menyentuh istrinya lagi. Sesampainya di rumah Ningsih, Joko langsung menggendong istrinya untuk masuk ke kamar. Bersamaan seringai Joko yang menakutkan, Bima masuk ke dalam tubuh Joko.
"Selamat sore, Tuan Puteriku," kata Bima dalam tubuh Joko. Ningsih pun tersenyum karena suami gaibnya yang menemani malam ini. Bukannya Joko yang mengesalkan!
Bersambung ....
***
Hai, para pembaca setia JERAT IBLIS! Yuk, jika kamu suka cerita ini, bantu Author tetap eksis di Noveltoon dengan cara VOTE dan juga bagi TIP (Koin). Terima kasih^^