JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 142


🍀ANTARA RASA DAN LOGIKA-PART 4🍀


Ningsih bergegas mengajak Joko ke bagian administrasi untuk mengubah bangsal tempat Abah dirawat. "Permisi, saya mau mengubah kelas pasien dari kelas 3 kamar Delima-C ke kelas VVIP sekarang. Bisakah?" tanya Ningsih kepada petugas yang langsung mendapat respon baik.


Sudah bukan rahasia lagi, pelayanan untuk kelas VIP dan VVIP selalu diutamakan. Tak hanya di hotel, rumah sakit pun begitu. Ningsih pernah mengalami hal buruk saat di rumah sakit dengan kelas tiga. Pelayanan buruk dan perawat yang ketus, meski tidak semua rumah sakit seperti itu. Namun, trauma itu menjadi menakutkan bagi Ningsih. Dia tak ingin orang lain juga mengalami hal yang sama.


"Bisa, Bu. Silahkan isi form ini dan tanda tangan penanggung jawab. Kami segera proses pemindahan pasien, ya." ucap petugas sambil menyodorkan kertas tiga rangkap. Joko pun mengambil kertas itu dan hendak menulis dengan ragu.


"Nggak apa, Joko. Nanti tulis saja penanggung jawab Ningsih Sukmasari. Kamu jangan khawatir, ya. Terpenting Abah cepat sehat. Nanti kita bisa melangsungkan akad setelah Abah sembuh dan keluar dari rumah sakit," lirih Ningsih dengan senyum manisnya.


"Sayang, terima kasih pengertiannya." kata Joko yang terharu dengan mata berkaca-kaca. Ningsih melakukan semua itu agar Abah lekas sembuh dan semua aksinya bisa berjalan lancar.


Setelah Joko mengisi form dan Ningsuh menandatangani, mereka segera menyerahkan kepada petugas. Perawat pun sudah menuju ke bangsal Abah untuk mempersiapkan pindah bangsal. Joko dan Ningsih segera ke tempat Abah agar Ibu dan Nindy tidak bingung.


"Sus, kenapa suami saya mau dipindahkan?" tanya Ibu kepada dua perawat.


"Ini perintah dari bagian administrasi, Bu. Sudah ada yang menandatangani form pindah ke bangsal VVIP." jawab perawat dengan lembut.


"MasyaAllah ... kelas VVIP, 'kan, jauh lebih mahal dari kelas 1. Duh, Sus ... jangan, ya. Takut tak bisa membayar," ucap Ibu yang panik dan bingung. Tepat saat perawat hampir menjawab, Ningsih pun angkat suara.


"Ibu, nggak usah khawatir. Tadi Joko dan Ningsih yang minta pindah. Untuk biaya, semua Ningsih yang membayar. Ibunjangan khawatir. Sudah, Sus, silahkan lanjutkan," sahut Ningsih yang sudah berada di sana. Sedangkan Joko langsung membantu Nindy membawakan tas ganti pakaian mereka.


"Alhamdulilah ... terima kasih banyak, Nak Ningsih. Baik sekali. Sudah perhatian sama Abah dan Ibu. Selalu menolong keluarga Joko," lirih Ibu yang terenyuh, tak henti-hentinya mengucap syukur. Bagaimana, tidak? Biaya ICU selama empat hari sudah empat puluh juta. Mereka baru bisa membayar dengan uang yang Ningsih berikan, itu pun masih kurang.


"Ibu, jangan seperti itu. Nggak enak dilihat dna didengar orang. Kita sudah seperti keluarga sejak awal. Ibu jangan menangis, ya." Ningsih menenangkan Ibu dan menggandeng wanita itu berjalan ke bangsal VVIP yang berbeda gedung dengan kelas tiga.


Sesampainya di sana, perawat memindahkan Abah ke ranjang VVIP lalu berpamit pergi. Fasilitasnya pun sangat lengkap, seperti di dalam rumah mewah. Ada kulkas mini, sofa, bed untuk digunakan yang menunggu pasien, meja dan kursi, televisi LED besar, AC, dan kamar mandi mewah dengan air hangat.


"Wah, kalau VVIP seperti ini, ya. Seperti dalam televisi cerita hotel berbintang lima," kata Ibu terkagum melihat seisi ruangan.


"Ibu suka? Ibu pernah menginap di hotel, belum? Kapan-kapan kalau Abah sudah sembuh, kita piknik bersama, ya," ucap Ningsih agar mencuri hati Ibunya Joko.


"Terima kasih, ya, Nak Ningsih."


Nindy dan Joko pun mendekat. "Tante, terima kasih banyak, ya. Nindy senang sekali. Bang Joko juga sudah cerita. Semoga langgeng, ya." celetuk Nindy yang membuat Ibu dan Abah bertanya-tanya.


Joko mengambil napas panjang, lalu menghela perlahan. Dia bersiap untuk menyatakan lamaran ke Ningsih pada waktu yang tepat. "Abah, Ibu, Nindy ... Bang mau minta izin untuk melamar Ningsih. Selama ini, Bang menyimpan perasaan kepada Ningsih. Namun, baru kemarin Bang mampu mengutarakan dan ternyata Ningsih juga merasakan hal yang sama. Bang ingin menikahi Ningsih secepatnya, setelah Abah sembuh." kata Joko dengan memantabkan hati. Membuat Abah dan Ibu terkejut. Sedangkan Nindy yang tadi sudah diberi tahu Joko pun tersenyum, bahagia.


"Alhamdulilah, Bang mau menetapkan hati. Ibu dan Abah ikut senang," ucap Ibu yang terharu.


"Joko, jadilah suami yang baik. Meski Ningsih bosmu, kamu harus segera mencari pekerjaan baru jika ingin menikahinya," tutur Abah membuat Joko jadi sungkan.


"Iya, Abah. Rencananya juga begitu. Maaf, ya, Ningsih." lirih Joko sambil menggaruk kepalanya, malu.


"Ningsih sangat senang menjadi bagian keluarga Joko. Abah lekas sembuh, ya. Setelah Abah sembuh, Ningsih ingin akad dilaksanakan segera." Ningsih pun tersenyum sambil menggandeng lengan Joko.


Semua berjalan lancar sesuai harapan Ningsih. Batin Ningsih, "Apa, sih, yang nggak bisa dilakukan jika mempunyai banyak uang? Mencari tumbal ketujuh pun mudah."


***


Malam hari pun tiba ... Joko mengantar Ningsih pulang ke rumah setelah makan bersama. "Joko, ini kartu kreditku. Bawa dan pakailah kalau ada kebutuhan mendadak. Terus, mobil ini bawa saja pulang ke rumah. Biar motormu di garasi. Soal Pak Umar, nanti aku yang beri tahu dia tentang hubungan kita. Kamu nggak usah sungkan," tegas Ningsih yang hendak keluar mobil.


"Sayang, terima kasih banyak, ya. Selamat malam." ucap Joko sambil mencium Ningsih sebelum akhirnya berpisah.


Ningsih keluar dari mobil dan menghampiri Pak Umar. "Selamat malam, Pak Umar." sapa Ningsih ke pos satpam. Pak Umar langsung berdiri dan siaga. "Selamat malam, Nyonya Ningsih!" serunya sambil hormat. Hal itu membuat Ningsih tertawa terbahak-bahak.


"Pak Umar itu lucu banget. Nggak usah hormat segala, Pak. Ningsih mau ngobrol-ngobrol, nih sama Bapak." ucap Ningsih setelah selesai tertawa.


"Ngobrol apa, Nyonya? Eh, tumben amat." sahut Pak Umar. Mereka pun bercakap-cakap tentang banyak hal. Meski Pak Umar belum genap sebulan bekerja di rumah Ningsih, beliau dahulu satpam di kantor fashion milik Ningsih. Ningsih pun hendak membantu mewujudkan impian Pak Umar membangun panti asuhan serta membukakan toko kelontong untuk istri Pak Umar. Awalnya, Pak Umar jelas menolak karena tak enak hati. Namun, Ningsih mengungkapkan keinginannya tulus hingga akhirnya Pak Umar pun mau menerima kebaikan Ningsih.


Sebenarnya, Ningsih adalah wanita yang lembut hatinya dan baik. Namun, jerat iblis membuatnya berubah sekejab jika berurusan dengan lelaki yang hanya memikirkan napsu. Terlebih pada mantan suaminya yang menjadi tumbal untum Bima, kecuali Tomi. Hanya Tomi, suami Ningsih yang kedua, mencintai Ningsih tanpa napsu. Dia pun menyayangi Wahyu tulus, meski nyawanya akhirnya diambil Bima.


"Terima kasih banyak, Nyonya. Semoga Nyonya sekeluarga diberi kesehatan, rezeki lancar, dapat mencapai impiannya. Amin ya Allah," kata Pak Umar diakhir percakapan. Ningsih sudah menjanjikan hal itu akan dilaksanakan besok. Jadi, Ningsih dan Joko akan ikut ke rumah Pak Umar di desa. Lalu, mencari tanah yang dijual dan menyerahkan pembangunan pada pihak yang ditunjuk. Sudah direncanakan dengan baik. Ningsih mengingat perkataan Bima jika Pak Umar umurnya tinggal tiga bulan dengan kondisi kanker otak stadium akhir yang belum diketahuinya.


Ningsih pun berpamit masuk ke rumah. Dalam hatinya, rasa sesak menyeruak. Pak Umar mengatakan bahwa Ningsih orang baik. Namun, mengapa dalam hati berkata lain? Orang baik seperti apa yang rela menumbalkan suami sendiri agar mendapatkan kekayaan? Orang baik seperti apa yang menjadi perbudakan napsu para calon suaminya yang akhirnya menjadi tumbal? Orang baik seperti apa yang mencintai Iblis? Ningsih mengelus dadanya. Sesampainya di kamar, tangis pun pecah.


Bulir-bulir air mata berjatuhan ke pipi Ningsih. Ningsih tak kuasa. Antara rasa dan logika, semua berbeda. Ningsih menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuk yang kemudian Bima muncul di sana. "Istriku, ada apa? Mengapa kamu menangis?" tanya Bima.


Ningsih masih menangis, lalu menatap suaminya. "Apakah aku ini pantas disebut orang baik?" tanya Ningsih yang masih berurai air mata.


"Ningsih, tidak ada patokan baik atau buruknya makhluk hidup bahkan Iblis dan malaikat sekalipun. Semua tergantung cara orang lain memandangnya. Jangan pernah merasa rendah diri. Apa yang kamu lakukan untuk Pak Umar merupakan kebaikan bagi Pak Umar dan keluarganya. Bukan soal bagaimana kamu saat ini, tetapi bagaimana kamu memperlakukan orang lain. Jangan bersedih, Ningsih." ucap Bima sambil memeluk istrinya.


Apalah daya dirinya Iblis. Andai Bima bisa menjadi manusia, tentunya tak akan serumit ini. Namun, semua sudah takdir. Apa yang dia alami, dia jalani tanpa menyesal. Ningsih pun begitu. Ningsih memilih dalam jalan berbeda dari manusia biasa. Dia memilih bersama Bima.


"Terima kasih, Bima. Kamu selalu mengerti perasaanku. Mengerti apa yang aku alami dan apa yang aku pikirkan. Terima kasih, sayang." jawab Ningsih yang membalas pelukan Bima.


You will see


What you mean to me


Search your heart


Search your soul


And when you find me there


You'll search no more


Don't tell me it's not worth tryin' for


You can't tell me it's not worth dyin' for


You know it's true


Everything I do


I do it for you


Look into your heart


You will find


There's nothin' there to hide


Take me as I am


Take my life


I would give it all


I would sacrifice


Don't tell me it's not worth fightin' for


I can't help it, there's nothin' I want more


You know it's true


Everything I do


I do it for you


There's no love


Like your love


And no other


Could give more love


There's nowhere


Unless you're there


All the time


All the way, yeah


Look into your heart, baby


Oh you can't tell me it's not worth tryin' for


I can't help it, there's nothin' I want 🎶🎶


Bersambung ....


***


Hai, guys! Gimana ceritanya? Makin menarik? Makin bikin baper? Atau malah Bosen? Yuk, dukung Author dengan VOTE. Kalian bisa bantu VOTE berapapun sangat berarti untuk Author tahu seberapa menariknya cerita ini untuk kalian! Syukur-syukur kalau diberi Tip koin, makin seneng, loh! Okey, see you nanti malam all 😉 by Author Rens09 🌹