JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 98


...šŸ”„Ingatan yang KembališŸ”„...


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ningsih membuat putranya bingung karena menganggap Bima adalah suaminya. Namun, Wahyu hanya diam karena ada suatu hal yang sepertinya tidak dia pahami. Hal yang terjadi di luar nalar, sepertinya itu penjelasannya.


Sesampainya di rumah pun begitu. Wahyu, Reno, Budi, dan Santi sebisa mungkin tak membahas tentang keanehan Tante Ningsih yang tiba-tiba menganggap Bima sebagai suaminya. Mereka seperti itu karena merasa tak enak juga pada Bima. Jika Tante Ningsih memang pikirannya terganggu, berarti Bima yang saat ini dibuat tak nyaman, bukan? Begitu pemikiran mereka. Namun, si kecil Lisa tetap mengamati hal itu dan berjalan ke arah Alex yang duduk di teras sendirian.


"Kak ... boleh aku duduk di sini?" tanya Lisa pada Alex.


"Boleh. Silakan. Sini duduk," jawab Alex yang sedari tadi melamun.


"Kak, Kakak itu anaknya Oma Ningsih, ya? Berarti aku harus memanggil Om atau Paman?" celoteh anak SD itu mengagetkan Alex.


"Ba-bagaimana kamu tahu? Bukankah kalian semua hilang ingatan?" Alex pun terkejut dengan penuturan Lisa.


"Nah. kan, benar yang aku tebak. Aku mendapatkan penglihatan itu. Oma memang sudah menikah dan memiliki putra bungsu yaitu Kak Alex. Sabar, ya, Kak. Nanti juga semua akan ingat. Saat ini mereka masih lupa," jelas Lisa membuat hati Alex merasa lebih tenang karena sedari tadi dia bersedih memikirkan ibunya yang belum mengenalinya.


"Terima kasih, ya, gadis kecil yang indigo. Kamu lucu sekali dan baik. Terima kasih sudah mau menghiburku," ujar Alex sambil mengusap kepala Lisa.


Lisa pun tersenyum sangat manis. Dia senang sudah mengatakan hal itu, karena dia tahu Alex pasti sangat sedih karena ibunya belum ingat tentang dirinya. "Sama-sama, Kak. Aku panggil Kak Alex saja, ya? Karena usia Kak Alex masih muda, rasanya aneh jika dipanggil Om atau Paman," kata Lisa sambil tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya.


"Ha ha ha ... iya, panggil Kak saja biar aku awet muda!" sahut Alex yang ikut tertawa bersama Lisa.


Siang pun berlalu dengan cepat. Awan sore segera meredup berganti dengan gelapnya malam dan bulan sabit yang terlihat menawan di antara taburan bintang. Keluarga Ningsih masih berbincang setelah makan malam bersama di sana. Mereka masih bertanya-tanya dalm hati soal Bima. Mengapa Ningsih menganggapnya suami? Siapakah Bima da Alex?


Tepat pukul delapan malam, ada suara bel rumah berbunyi. Bibi di rumah Ningsih segera membukakan pintu.


"Malam, Bi. Ningsih ada di rumah?" tanya wanita berambut putih panjang itu kepada bibi. Di belakangnya ada seorang lelaki yang gagah dan tampan.


"Oh, iya, ada, Non. Maaf, ini Non siapa ya?"


"Saya Lauren dan ini suami saya, Daniel. Kami pernah ke sini, Bi," ujar Lauren sambil tersenyum.


"Oh, iya-iya. Silakan masuk Non dan Tuan," kata bibi mempersilakan Lauren dan Daniel masuk.


Setelah mereka duduk di ruang tamu, bibi pun memanggilka. Ningsih yang berada di ruang tengah. "Nyonya, ada tamu. Nona Lauren dan Tuan Daniel ke sini," kata bibi.


"Lauren dan Daniel? Hmm? Baiklah, aku ke sana," kata Ningsih yang bingung. Sedangkan Bima dan Alex terkejut dan langsung ikut ke ruang tamu. Disusul oleh Wahyu yang juga penasaran. Ternyata Ningsih dan keluarganya pun lupa dengan Lauren dan Daniel karena mereka ada sangkut pautnya dengan Bima dan tentang iblis neraka.


"Ningsih, apa kabar?" tanya Lauren langsung berdiri. Dia bisa merasakan semua ada di sana. Meski dia buta, tetapi penglihatannya justru lebih tajam dari manusia biasa.


"Kabar baik. Mm maaf, kamu Lauren siapa ya?" tanya Ningsih membuat wanita di hadapannya tersenyum.


"Jadi, penerawanganku benar, ya? Kalian lupa ingatan? Kalian tidak kenal lagi dengan Bima, Alex, bahkan dengan kami? Bukan hanya Ningsih, tetapi keluarganya juga?" tebak Lauren dengan benar.


Bima langsung menatap Lauren. "Ka-kamu ... tidak lupa ingatan, Lauren?" tanya Bima pada Lauren--kawan lamanya.


"Tidak. Mereka tidak bisa mengubah ingatan orang sepertiku, bukan?" Lauren tersenyum. Dia pun merapal sebuah mantra singkat, lalu meniup sesuatu yang dia keluarkan dari dalam sakunya. Seketika Ningsih dan keluarganya pun jatuh pingsan bersamaan.


"Lauren? Kau apakan mereka?" kata Bima yang langsung menangkap Wahyu hampir terantuk lantai. Sedangkan Ningsih pingsan saat di sofa.


Alex pun segera menopang tubuh Santi, sedangkan Reno dan Budi jatuh ke lantai karena pingsan. Hanya Lisa yang tak pingsan dari keluarga Ningsih karena dia mengingat banyak hal.


"Tenang, Bima. Aku akan mengembalikan ingatan mereka tentangmu dan Alex. Namun hanya terbatas dan kita tidak bisa membuat mereka ingat semua hal yang sudah terjadi, bagaimana?" Lauren menanyakan hal itu pada Bima dan Alex dengan pasti.


"Ya, terima kasih Lauren." Bima menyetujui hal itu. Alex juga mengangguk setuju. Lisa pun tersenyum menatap Lauren dan Daniel.


...****************...


Dua hari kemudian setelah kedatangan Lauren dan Daniel ....


Keadaan Ningsih, Bima, Wahyu, dan Alex sudah kembali normal seperti keluarga yang utuh. Reno dan Lisa menjalani kehidupannya di rumah mereka seperti biasa. Budi dan Santi juga sudah kembali ke Wonogiri. Lauren juga Daniel langsung pergi karena melanjutkan misi mereka menyelamatkan orang-orang yang dirasuki iblis. Mereka jadi pengusir iblis dan membantu banyak orang yang membutuhkan.


"Papa, Mama ... Bagaimana kalau hari ini kita ke pantai?" tanya Wahyu dengan semangat.


"Mau, Ma. Alex mau asal dengan Mama, Kakak, dan juga Papa," jawab Alex sambil memeluk kembali ibunya. Rasa bahagia tak terkira karena ibunya sudah mengenali dirinya. Alex berterima kasih tak henti-hentinya pada Lauren yang sudah membantu. Meski mereka semua tak ingat soal iblis dan neraka, setidaknya mereka ingat tentang Bima dan Alex yang menjadi suami dan anak dari Ningsih.


"Alex, jangan manja gitu! Kamu udah besar, tahu. Malu nggak, sih?" ledek Wahyu pada adiknya sambil tertawa.


"Biarin, ah, Kak. Alex ingin dekat Mama dulu. Sana Kakak sama Papa aja. Xixixixi ...." ujar Alex sambil menjulurkan lidahnya mengejek kakaknya.


"Udah, sayangm Jangan ribut. Sini Wahyu, berpelukan bareng, sini," kata Ningsih menengahi dan meminta putra sulungnya mendekat.


Bima tertawa melihat kedua putranya yang sedang bermanja dengan Ningsih. Rasanya sangat bahagia bisa menjalani kehidupan sempurna sebagai manusia dengan orang yang dia cintai. Manusia tidak seburuk yang Snowice perlihatkan. Bima sangat bahagia bersama Ningsih dan kedua putranya. Dia berharap, waktu kebersamaan tak hanya setahun, tetapi bisa dalam waktu lama. Bima tak ingin jauh lagi dari keluarganya karena Ningsih satu-satunya wanita yang dia cintai.


"Terus gimana ini? Jadi ke pantai?" tanya Bima memastikan sambil tersenyum menatap mereka bertiga.


Wahyu, Alex, dan juga Ningsih menjawab bersamaan. "Jadi, donk!" seru mereka dengan gembira.


Hari itu, Bima sekeluarga pergi ke pantai pasir putih di Wonosari. Mereka melakukan tamasya hanya berempat. Menikmati semua waktu bersama.


Bima menatap hamparan pasir yang tertuju ke laut. Dia mengingat kejadian dua hari yang lalu saat semua pingsan karena Lauren.


Flash back kejadian setelah pingsan ....


Bima, Alex, dibantu oleh Daniel segera menggendong mereka yang pingsan dan diletakkan ke sofa atau kamar. Lauren masih duduk di sofa ruang tamu. Setelah selesai, Bima langsung menghampiri Lauren kembali di ruang tamu.


"Lauren, bagaimana ini? Mengapa semua pingsan?" tanya Bima yang bingung.


"Tenang, Bima. Aku menggunakan ilmu milik nenek untuk mengembalikan ingatan yang hilang. Tenang saja, setelah dua jam, mereka akan bangun dan mengenalimu dan juga Alex kembali. Aku tak tega karena dalam penerawanganku, aku melihat Alex menangis karena Ningsih tak mengenalinya," jelas Lauren membuat Bima dan Alex terenyuh.


"Kebetulan, kami mendapatkan panggilan untuk EXORCISM di daerah Semarang. Jadi, kami sempatkan ke sini terlebih dahulu untuk membantu kalian, " imbuh Daniel yang terlihat senang bisa bertemu mereka kembali.


"Terima kasih banyak, Lauren dan Daniel. Kalian sudah membantuku." Bima merasa mereka sangat peduli pada keluarga Bima.


"Tenang saja, Bima. Hmm ... ada hal yang ingin aku tanyakan, tapi ... ada anak kecil itu, tak apa?" Lauren menunjuk ke arah Lisa yang terdiam sedari tadi menatapnya.


"Biar Lisa sama aku ke taman belakang. Papa sama Tante ngobrol aja. Oke!" Alex langsung menggandeng tangan Lisa untuk segera pergi ke taman belakang.


"Ada apa, sih, Kak?" tanya Lisa yang bingung.


"Udah, ikut aja ...." Alex tetap menggenggam tangan Lisa.


Bima pun melanjutkan percakapan dengan Lauren dan Daniel. "Kamu mau bertanya apa, Lauren?" tanya Bima kembali.


"Mengapa mereka jadi lupa ingatan dan kenapa kamu serta Alex menjadi manusia?" Lauren penasaran tentang hal itu.


"Tuan Abaddon yang melakukannya. Dia melepaskan Evan dan Lily menjadi manusia sepenuhnya dan lupa ingatan. Sedangkan aku dan Alex, harus menjalani menjadi manusia setahun saja. Tapi ingatan kami tetap ada. Hanya saja, kami benar-benar manusia yang tak memiliki kekuatan lebih," jelas Bima pada Lauren. Daniel pun ikut menyimak.


"Hmm ... kamu menerima tawaran seperti itu?"


"Tidak ada pilihan lain, Lauren. Kami sebenarnya ingin menjadi manusia saja hingga akhir hidup, tetapi Tuan Abaddon meminta kami mengabdi untuk balasannya."


"Bima, kalian tahu jika sedang dicurangi?" selidik Lauren.


"Ya, aku dan Alex tahu itu. Tapi untuk saat ini, berkumpul dengan keluarga sudah hal terbaik yang bisa kami rasakan. Alex pasti senang jika sebentar lagi Ningsih mengingatnya kembali," pungkas Bima tak ingin ada keraguan di hatinya.


"Bima, jika ada apa-apa, kabari aku dan Daniel. Kami pasti membantu kalian. Kami akan menunggu mereka sadar, setelah itu segera melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Jaga dirimu dan Alex baik-baik. Juga si kecil tadi, dia punya energi unik. Jaga dia, Bima. Jarang ada indigo dengan aura seperti itu," terang Lauren membuat Bima mengangguk paham.


"Baiklah, Lauren. Terima kasih banyak, ya. Aku berharap kita bisa berkumpul lebih lama."


"Malam ini aku harus sampai di Semarang, Bima. Ada lelaki yang kerasukan iblis dan hampir membunuh satu keluarganya. Aku harus menyadarkan orang itu," kata Lauren.


"Aku mengerti. Semangat menebar kebaikan, Lauren!"


Waktu itu, setelah yang lain sadar, ingatan mereka benar-benar pulih. Mereka mengenal Bima dan Alex juga Lauren dan Daniel. Malam itu, Alex sangat senang bisa memeluk erat Ningsih--ibunya.