
...🔥Kembali Bersama 🔥...
Ningsih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Namun yang pasti, Alex dan Bima akan segera datang menemuinya. Dia cemas menanti kedatangan suami dan anak bungsunya, karena Alex sudah memberi tahu mereka pasti akan kembali. Saat itu, Wahyu sengaja belum diberi tahu tentang hal ini. Ningsih khawatir jika anak sulungnya akan marah atau tak menerima kembali keluarga gaibnya.
Ningsih tahu jika tak semudah itu menyatukan keluarganya. Pada dasarnya, iblis tak bisa bersatu dengan manusia. Namun mereka selalu mencoba agar bisa bersama dengan menentang segala ketetapan yang ada. Berkali-kali mendapatkan masalah dan rintangan, cinta mereka tetap bertahan. Cinta sejati dua dunia yang belum tentu ada pada sesama manusia.
"Apa pun yang terjadi di sana. Kumohon ya Allah, lindungi Bima dan Alex. Izinkan mereka tetap bersamaku, ya Allah," batin Ningsih yang berdoa demi suami dan anak bungsunya. Salahkah manusia berdoa untuk iblis? Sudikah Sang Pencipta mendengar doanya?
Beberapa saat setelah berita gempa bumi dan tsunami itu terjadi, benar saja yang Ningsih rasakan. Bima kembali ke dunia manusia. Dia segera muncul di rumah Ningsih. Alex, Evan, dan Lily pun mengikuti di belakang Bima. Lelaki itu berjalan ke arah istrinya. "Ningsih," lirih Bima tak ingin mengagetkan wanita yang kini mengenakan gamis abu-abu dengan jilbab hitam.
Ningsih membalikkan tubuhnya dan terkejut menatap sosok yang berada di hadapannya. "Bi-Bima ...." Seakan suasana menjadi hening. Apakah hal ini nyata atau hanya mimpi? Ningsih dan Bima saling menatap. Mata mereka bertemu dalam satu pandangan yang penuh rasa rindu. Tak disangka ... mereka akhirnya bisa bertemu lagi, bisa bersama lagi.
Seakan itu mimpi, Ningsih masih terdiam dan tak berkedip menatap Bima. Apakah kenyataan ini yang terjadi dan bukan mimpi? Pertanyaan itu masih terngiang di pikiran Ningsih. Lelaki itu langsung berjalan menghampiri istrinya dan segera memeluk erat tubuh wanita yang hanya terdiam itu. "Ningsih ... aku pulang. Aku dan Alex kembali bersamamu," bisik lembut dari bibir lelaki yang sangat dirindukan oleh Ningsih.
"Bi-Bima ... kau benar-benar kembali ...." Ningsih pun menangis dalam pelukkan Bima. Dia tak menyangka jika suami gaibnya akan kembali dalam pelukkannya. Kembali dalam kehidupannya. Semoga akan tetap seperti itu karena Ningsih takut akan ada perpisahan lagi. Dia takut akan kehilangan lagi. Sebenarnya, Ningsih merasa tak bisa hidup tanpa Bima. Meski cinta itu terlaranh, cinta beda dunia yang menyakitkan.
Wahyu pun menatap mereka dengan bingung. Antara senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang karena keluarganya kembali utuh dan ibunya terlihat bahagia dalam pelukkan Bima. Namun satu sisi dia sedih, karena kenyataannya keluarga gaibnya akan membuat Sang Ibu kembali ke jurang dosa. Cinta beda dunia itu tak seharusnya ada. Hal itu yang selalu menjadi gejolak di hidup Wahyu. Harus menjalani kenyataan karena hidup dalam keluarga yang berbeda dunia. Apakah Sang Pencipta merestui mereka?
Setelah Bima melepaskan pelukkannya, dia pun tersenyum menatap Wahyu. "Nak, kami kembali. Adakah ruang untuk kami saat ini?" tanya Bima pada anak sulungnya. Bocah yang sejak dalam kandungan dilindungi oleh Bima ini memang mengerti hal ini sulit. Meski awalnya Wahyu menolak Bima, akhirnya mereka bisa saling memahami dan mengerti. Namun, apakah saat ini Wahyu masih bisa menerima Bima dan Alex?
Wahyu menatap Bima, lalu berganti menatap Alex yang sedari tadi melihatnya. Wahyu pun kembali mengarahkan pandangannya ke Ningsih. Keheningan tercipta, hingga akhirnya simpul senyum di bibir Wahyu terlihat. "Alex, Papa, wellcome home!" seru Wahyu membuat suasana mencair.
Bima dan Alex sangat senang kembali diterima dalam keluarganya. Mereka berempat pun langsung mendekat dan saling berpelukkan. Evan dan Lily terharu melihat kebersamaan mereka. Bima tak menyangka jika Wahyu akan menerimanya kembali. Setelah Ningsih bertaubat, kemungkinan mereka bersama sangat kecil. Namun, penerimaan ini adalah awal yang baik mereka bersama.
Banyak hal yang mereka bahas, bahkan soal gempa bumi dan tsunami yang terjadi. Ningsih dan anak sulungnya tak menyangka jika bencana itu karena pergerakkan salah satu iblis yang kuat. Hal mengerikan akan terjadi, jika makhluk itu ke dunia manusia. Untung saja makhluk itu hanya keluar untuk pergi ke neraka. Bagaimana jika makhluk itu ke dunia manusia? Pastinya akan membawa kehancuran di mana-mana.
Rasa ngeri itu sangat nyata, bahkan Bima yang sesama iblis pun sempat gemetar menatap Tuan Abaddon. Evan dan Lily yang melihat Tuan Abaddon pun gemetar dan takut. Alex pun ketakutan dan menahan diri karena Bima menyuruhnya tenang di hadapan Tuan Abaddon.
"Evan, Lily, dan Alex, aku sudah meminta Tuan Abaddon untuk mengabulkan satu permintaan kita. Apa yang akan kita minta darinya?" tanya Bima pada ketiga iblis lainnya. Bima memang iblis, tetapi dia juga menjadi makhluk yang bijak. Dia tak hanya mementingkan dirinya sendiri.
Evan menatap Bima dan melihat ke arah Lily dan Alex. Satu permintaan untuk empat iblis. Apa yang mungkin akan mereka minta untuk bersama? "Menurutmu apa yang terbaik bagi kita?" Evan justru mengembalikan pertanyaan ke Bima. Dia tahu sahabatnya tahu yang terbaik untuk bersama.
"Papa, sepertinya aku punya ide bagus. Namun, kita harus menunggu kapan bisa menyampaikan permintaan ini, bukan?" pungkas Alex yang memiliki ide lebih cemerlang.
"Baiklah. Kita memang harus menunggu hasil Taun Abaddon ke neraka. Semoga semua ini berakhir. Bukankah kita tak ingin terus menerus hidup seperti buronan?" Bima mengucapkan hal yang mereka pikirkan. Menjadi iblis tak murni karena bukan keturunan asli, mengemban tugas menyesatkan manusia padahal mereka dahulu juga manusia. Lantas, apakah ada kemungkinan mereka lepas dari siksaan neraka? Selain harus menebus dengan jiwa manusia berdosa?
...****************...
Tuan Abaddon yang marah dan geram langsung ke neraka mencari di mana saudaranya berada. Kerajaan Neraka memang megah dan dikawal ketat oleh para iblis. Namun, siapa yang berani menghadang Abaddon? Tak ada. Tuan Abaddon dengan mudah masuk ke dalam kerajaan neraka. Kerajaan yang dibangun Tuan Lucifer-- Sang Malaikat yang terbuang.
"Abaddon? Ada apa saudaraku? Hal apa yang membuatmu datang ke neraka dan meninggalkan lubang bawah laut nan gelap?" tanya Tuan Lucifer kepada saudaranya. Ya, mereka sama-sama malaikat yang terbuang karena kesombongan dan rasa angkuh yang mereka miliki. Mereka ingin disanjung dan ingin melebihi kemampuan dan kemuliaan dari Sang Pencipta. Mereka berakhir dalam pembuangan dan pengasingan bersama semua malaikat yang menjadi pengikut mereka. Itulah awal mula iblis tercipta.
"KAU ITUBUKAN SAUDARAKU! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN NERAKA INI? APA RENCANAMU? INI RUANG KEMERDEKAAN KITA. JANGAN KAU BUAT SESUKA HATIMU!" gertak Tuan Abaddon yang marah mengingat rencana Tuan Lucifer akan menjadikan satu neraka.
Ketujuh Panglima yang ada di setiap lapisan neraka merupakan raja tujuh dosa besar dalam kehidupan. Jika diubah dan dibuat menjadi satu kesatuan, yang ada hanya pertikaian. Tuan Abaddon tahu hal itu buruk untuk neraka dan para iblis di dalamnya. Jika mereka bertengkar, maka akan ada pertumpahan darah dan saling bunuh. Ketika neraka tercerai berai, jiwa manusia yang selamat akan semakin banyak.
"Maksudmu apa, Abaddon? Aku tidak membahas hal itu sama sekali. Siapa yang memberi tahu akan hal itu? Apakah fitnah terjadi saat ini?" Tuan Lucifer yakin ada hal yang salah. Seharusnya Abaddon tak mengetahui rencana itu.
"TAK PERLU TAHU SIAPA YANG MENGATAKAN. HAL ITU BENAR, BUKAN? GAGALKAN RENCANAMU, ATAU LIHAT SAJA AKIBATNYA! BIARKAN NERAKA DENGAN TUJUH LAPISAN DAN TUJUH PANGLIMA YANG MENJADI RAJA DARI TUJUH DOSA YANG MEMATIKAN BAGI MANUSIA. JANGAN USIK ATURAN INI ATAU KAU AKAN MENYESAL!" seru Tuan Abaddon mengancam Tuan Lucifer. Dia tak main-main dengan ancaman itu.
"Jadi, sekarang kau berani mengancamku? Kita ini saudara, Brother. Mengapa kau seperti itu? Kita sama-sama malaikat yang terbuang," kata Tuan Lucifer memancing amarah Tuan Abaddon.
Tuan Abaddon segera memukul saudara yang berada di hadapannya. Tuan Lucifer menahan pukulan Tuan Abaddon. Sudut bibirnya mengeluarkan darah hitam kental.
"JAGA BICARAMU! AKU BUKAN MALAIKAT. AKU TIDAK SEPERTIMU. LIHAT WUJUDKU SEKARANG! AKU BUKAN KESAYANGA SEPERTIMU DULU. DENGAR BAIK-BAIK, AKU TAK AKAN TINGGAL DIAM KALAU KAU MENGUBAH KETETAPAN NERAKA. BAAL, ASMODEUS, CHERNOBOG, DAN YANG LAIN PASTI TAK AKAN SETUJU DENGAN RENCANAMU. JANGAN MAIN-MAIN, LUCIFER. KAU DAHULU MEMANG KESAYANGAN-NYA. TAPI DI NERAKA, KITA SAMA-SAMA DI SINI. MEMBANGUN KERAJAAN UNTUK BERPERANG." Tuan Abaddon pun berjalan meninggalkan neraka dengan perasaan kesal. Tuan Lucifer hanya bisa diam menatap punggung saudaranya yang berlalu pergi. Melawan pun percuma hanya akan ada kesakitan dan abu arang.
"Sial! Ba*ingan! Ke*arat! Kenapa kau harus tahu hal ini! Sial! Sial!" umpat Tuan Lucifer yang marah. Dia tak bisa menjalankan rencananya karena tahu jika Abaddon ikut turun tangan, semua akan hancur. Meski Lucifer menjadi penguasa di neraka, tak bisa dipungkiri kekuatan Abaddon sangat besar. Dia pun tak mau memicu pertengkaran yang akan membuat seluruh iblis Neraka menjadi terkena dampaknya.
...****************...
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Tuan Lucifer, Tuan Abaddon pun pergi dari neraka. Dia hendak kembali ke singgah sananya di dalam dasar Samudra Pasifik. Namun sebelum itu, Tuan Abaddon akan menghampiri Bima di dunia manusia. Kemunculannya selalu membawa bencana ke sekitarnya. Hal itu membuat gempa bumi yang terasa dan berdampak di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Bencana yang akan terjadi, langsung dihentikan oleh Bima yang segera menghadap ke Tuan Abaddon di dimensi lain. Jika sampai iblis itu muncul ke dunia manusia, semua akan hancur. Bima mengetahui hal itu.
"Hamba di sini, Tuan Abaddon Yang Mulia," ucap Bima sambil menundukkan tubuhnya.
"AKU SUDAH MEMASTIKAN KEADAAN NERAKA. SEKARANG GILIRANMU, APA YANG KAU INGINKAN WAHAI IBLIS TAK MURNI?" tanya Tuan Abaddon pada Bima.
Bima tersenyum, lalu mendongakkan wajah ke arah Tuan Abaddon. Dia hendak mengucapkan permintaan yang sudah disetujui oleh Alex, Evan, dan Lily. Permintaan yang sudah disepakati dan akan mengubah segalanya.