JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 50 SPECIAL EDITION BIMA - 5 -


Beberapa bulan kemudian....


Ningsih mengira suaminya akan berubah seiring berjalannya waktu. Namun, harapan dan impian tak selaras dengan kenyataan. Justru semakin hari, sifat asli dan kelakuan buruk Agus perlahan terlihat.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Ningsih sambil menggendong Wahyu yang sudah berusia setahun.


"Ada urusan sebentar," jawab Agus acuh. Dia bergegas mengendarai motornya, pergi begitu saja.


"Yaampun, Mas. Mau sampai kapan kamu keluyuran tiap malam? Sebenarnya apa yang kamu lakukan di luar sana?" gumam Ningsih sambil menggendong anaknya yang menangis karena ayahnya pergi.


Bukan hanya sekali Agus melakukan ini. Dua bulan belakangan ini, lelaki itu semakin menjadi. Tiap malam pergi entah kemana. Menurut desas desus tetangga, Agus mendekati anak Pak Karim di desa sebelah. Pak Karim adalah Juragan Kolam Pemancingan. Setiap malam beliau pergi mengurus kolam terlebih saat tebasan (memborongkan ikan pada pedagang). Hal itu membuat Tatik sering sendirian di rumah, karena istri Pak Karim sudah meninggal tiga tahun yang lalu.


Ningsih masih menahan otaknya dari segala sangka buruk. Dia merasa jika belum melihatal dengan mata kepala sendiri, tak akan dipermasalahkan agar keluarganya tetap utuh. Lalu hari itu pun sesuatu yang tak diharapkan terjadi....


"Mas, kenapa semalaman nggak pulang?" selidik Ningsih.


"Cerewet sekali kamu! Baru aja aku pulang sudah diceramahi. Yaudah aku pergi lagi saja!" kata Agus dengan santai.


"Mau kemana, Mas? Apa benar kata orang-orang, kalau Mas itu tidur sama anak Pak Karim? Jawab, Mas!" teriak Ningsih yang sudah muak menahan semua tanda tanya di kepala. Berharap jawabannya bukan, Ningsih harus menelan getir kekecewaan.


"Ha ha ha ha .... Ternyata kamu sudah tahu ya? Iya, aku memang menjalin asmara dengan Tatik. Dia juga yang selama ini bantu untuk makan kita sehari-hari. Mau apa kamu? Marah? Silahkan, Ningsih!" jawab Agus dengan santai.


Bak disambar petir di siang bolong, hati Ningsih merasa sakit yang teramat sakit. Dia pun sudah kehabisan kesabaran.


"Kamu tega, Mas! Kamu tega! Pantas saja tiap malam tak pulang! Tega kamu, Mas! Dasar breng*ek!" jerit Ningsih sambil memukuli dada suaminya.


Agus memegang erat tangan Ningsih, "Kamu itu sudah membosankan. Orang tuamu juga jarang membantu ekonomi kita, bukan? Buat apa aku nikah denganmu kalau sama saja hidup susah."


"Jahat kamu, Mas! Lelaki berhati busuk! Jahat kamu!" Ningsih mencoba melepaskan tangannya.


"Lalu kamu mau apa? Cerai? Tak apa...."


Ningsih menangis sejadi-jadinya. Anaknya pun ikut ketakutan dan menangis. Agus memeluk Wahyu dan menggendongnya. Seakan tak merasa bersalah, dia mengajak Wahyu keluar rumah dan menghentikan tangis anaknya.


Ningsih merasa terpuruk. Sakit hati dan putus asa. Hidup susah dan tak bisa makan, baginya sudah biasa. Namun, pengkhianatan tidak bisa dimaafkan. Hal itu adalah penyakit rumah tangga. Sekali lelaki selingkuh, maka selanjutnya akan selingkuh dan selalu selingkuh saat ada kesempatan dan celah.


Ningsih menghapus air matanya. Dia teringat kata Ratih, sahabat baiknya. Wanita yang sakit hati itu membulatkan tekad untuk mengikuti jejak Ratih. Dia mengambil handphone polyponik miliknya dan mengirim pesan ke sahabatnya.


[ Ratih, bisa ke sini sekarang? Aku mau bicara penting. Aku ingin sepertimu, kaya raya. ]


Belum ada semenit, balasan pun langsung didapat.


[ Ada apa, Ningsih? Baik, aku akan segera ke rumahmu. Sabar dulu ya. ]


Ningsih pun tersenyum. Pikiran wanita itu melayang jauh tentang pembalasan sakit hatinya.


"Mas, aku ingin sendiri dulu. Kamu bawa Wahyu ke orang tuamu saja. Aku butuh waktu sendiri," kata Ningsih berjalan keluar pintu rumahnya yang rapuh.


"Ngusir aku?"


"Nggak, Mas. Aku cuma ingin sendirian...." jawab Ningsih sambil membuang muka, mengalihkan pandangannya dari tatapan Agus.


Tak ingin merasa iba oleh orang yang sudah menyakiri hatinya, Ningsih pun bergegas ke kamar membereskan kebutuhan Wahyu selama pergi. Agus menyusul istrinya. Wahyu diletakkan pada kursi yang sudah lapuk.


"Kamu marah, Dek? Maafin, Mas ya sudah terlalu padamu," ucap Agus sambil mengusap bahu Ningsih dari belakang.


"Istri mana yang mau diselingkuhi dan tak marah saat suaminya mengakui perbuatan bejatnya, Mas?"


"Ningsih, maafin Mas ya...." bisik Agus membuat tubuh Ningsih merinding. Lelaki itu sudah paham akan memanfaatkan emosi wanita.


"Mas pergi ke rumah orang tua saja dulu. Aku mau menenangkan pikiran," kata Ningsih sambil berbalik menyerahkan tas berisi keperluan Wahyu.


"Ya, Dek. Mas memang salah. Mas turuti maumu, asal...."


Agus mencium bibir istrinya. Ningsih terbelalak akan tindakan Agus yang memang tak bisa diprediksi. Tangan Agus bergerilya di tubuh istrinya. Ningsih hanya diam, pasrah. Dia pikir ini kali terakhir sebelum dilakukannya apa yang Ratih perbuat.


"Dek, maafin Mas ya. Oh... oh... oh...." teriak Agus tertahan sambil menuntaskan hasratnya. Ningsih diam tak bergeming. Tak ada lagi rasa apa pun untuk suaminya.


"SABAR NINGSIH.... SEBENTAR LAGI AKU AKSN MENYANDINGMU DAN MEMBUAT HIDUPMU LEBIH BAHAGIA." perkataan Bima belum bisa terdengar oleh wanita yang dia inginkan.


Ningsih hanya mengangguk dan melambaikan tangan ke arah suami dan anaknya. Sekian menit kemudian, mobil ratih mendekat ke halaman rumah Ningsih.


Ratih turun, membawa sekotak makan siang kesukaan Ningsih. "Hallo, Ningsih.... Makan dulu ini."


"Terima kasih, Ratih. Kamu langsung ke sini. Pas banget di Agus sudah pergi."


"Ada apa lagi ama lakimu?" selidik Ratih.


"Ah, dia memang gila. Sini masuk dulu." ucap Ningsih mempersilahkan sahabatnya masuk ke dalam rumah.


"Ratih, please ajak aku sepertimu," pinta Ningsih.


"Seriusan?"


"Serius banget. Tapi bener kan aku bisa kaya raya?"


"Iya, kamu lihat aku kan? Perubahan drastis setelah suamiku meninggal."


"Iyaa.... Aku mau sepertimu."


"Ningsih, apa yang Agus lakukan sampai kamu bertekad sepertiku?"


"Rat, bener kata orang-orang. Mas Agus selingkuh. Tadi dia ngaku sendiri. Dia selingkuh dengan Tatik anak Pak Karim, Juragan Kolam Pancing itu loh. Aku sudah tak bisa memaafkannya. Barusan pun dia malah memaksaku berhubungan. Aku yakin dia tak merasa bersalah sama sekali. Aku lelah...." jelas Ningsih sambil menghela napas.


"Yaampun.... Sabar ya, Ningsih. Yaudah aku ajari caranya."


Ratih pun menjelaskan ritual yang harus dilakukan Ningsih malam ini. Seperti mandi kembang pas tengah malam, memakai jarik sebagai pengganti pakaian, serta menaburkan bunga di kasurnya. Lalu Ratih juga mengingatkan untuk memberi sesaji di tempat yang akan digunakan untuk mengambil uang hasil bersekutu dengan Iblis. Karena Ningsih tak mempunyai lemari, dia pun menyimpan sesaji di tudung saji.


Ratih pun memberi tahu rapalan apa untuk memanggil iblis, memilih suami gaibnya.


"Nah, itu tadi semua rencananya. Ingat ya, Ningsih, besok pasti suamimu meninggal secara tidak wajar. Kamu harus bersedih saat mendengar kabar itu, atau setidaknya pura-pura sedih. Tetapi di dalam tudung saji, kupastikan sesaji berubah menjadi uang bahkan emas," kata Ratih menyelesaikan penjelasannya.


"Siap, Ratih."


"Kalau gitu, sekarang makan dulu. Ini nasi box nya. Kesukaanmu."


"Ratih, terima kasih yaaa...."


Ningsih pun melahap isi box yang dibawa Ratih. Nasi bento komplit, kesukaan Ningsih. Dia sudah memantabkan hati menyingkirkan suaminya dan membuat hidupnya kaya raya.


Jika cinta yang suci sudah ternoda, bagaimana bisa menahan diri untuk bertahan?


****


"WANITA YANG SELAMA INI KUPERHATIKAN, AKHIRNYA MENEMPUH JALAN DI BAWAH NAUNGANKU. AKU AKAN MENJAGAMU WALAU INI BUKAN HAL YANG IBLIS LAKUKAN. AKU AKAN BERSAMAMU HINGGA MAUT MEPERSATUKAN KITA. NINGSIH.... MESKI AKU TAHU HAL INI SALAH, SESUNGGUHNYA AKU TAK TEGA MENJADIKANMU PENGIKUTKU. TIDUR DENGAN LELAKI LAIN, SELAINKU, DEMI MENAMBAH PUNDI-PUNDI UANG. TETAPI APA DAYAKU, KITA BEDA DUNIA. AKU INI IBLIS ANAK BUAH TUAN CHERNOBOG YANG HARUS MENYESATKAN MANUSIA. AKU PUN MEMPUNYAI TUGAS UNTUK MERENGGUT JIWA-JIWA MANUSIA TERSESAT SEBANYAK MUNGKIN. MAAF. INILAH YANG TERBAIK YANG BISA KULAKUKAN, CALON ISTRIKU."


Bima yang bingung memikirkan Ningsih, berasa sangat bodoh terjebak perasaan layaknya manusia. Hal ini tak boleh diketahui atasannya, Tuan Chernobog. Jika tidak, bisa jadi nyawa Ningsih menjadi terancam.


Malam harinya, Ningsih memepersiapkan diri untuk melakukan ritual seperti yang Ratih katakan siang tadi. Dia berharap semua akan baik-baik saja. Dia hanya ingin membesarkan putranya tanpa kekurangan ekonomi lagi. Baginya, cinta itu sudah mati bersama pengkhianatan Agus.


Ningsih yang gugup, berbaring di kasur lapuknya. Bunga sudah ditaburkan. Dia membaca rapalan yang Ratih ajarkan. Jantungnya berdegub kencang, memikirkan bentuk seperti apa Iblis yang akan menjadi suaminya.


Angin bertiup agak kencang. Seiring datangnya beberapa Iblis karena rapalan yang diucap Ningsih. Di sana, terjadi peperangan yang tak disadari Ningsih.


"WANITA INI MILIKKU. PERGI KALIAN!"


Bima mencegah tiga Iblis yang turut datang. Pertama, Iblis dari Laut Selatan. Berbentuk kepala seperti Naga, tubuh tegap dan kekar dengan tombak di tangannya. Kedua, Iblis dari Gunung Berapi. Berbentuk merah, tinggi besar, taring panjang dan mata hitam. Ketiga, Iblis dari Tanah Jawa. Berbentuk seperti Genderuwo, memiliki bulu lebat, badan besar, tangan kekar dengan kuku hitam panjang dan taring tajam.


Bima menghalau tiga Iblis itu sendirian. Pertempuran sengit tak terelakkan. Bima memang menginginkan Ningsih menjadi miliknya walau harus melalui ritual ini. Untungnya, ketiga Iblis yang berhadapan dengannya bukan Tuannya. Jika berhadapan dengan petinggi Neraka, jelas Bima akan kalah. Tingkatan kasta dan kekuatan ketiga Iblis yang bertempur dengan Bima berbeda. Dia dengan mudah menghalau dan membuat satu per satu Iblis itu menghilang, pergi dengan menelan kekalahan.


"NINGSIH.... AKU DATANG. HARI INI TERWUJUD SUDAH. KAU MILIKKU SELAMANYA. SELAMANYA!"


Bima melangkah ke kamar Ningsih. Wanita itu tak bisa melihat wujud Bima. Sejak penyatuan itu, hanya suara Bima yang bisa Ningsih dengar. Bahkan, Bima harus dalam kondisi kekuatan maksimal untuk mengubah wujud ke bentuk manusia jika menginginkan bertemu Ningsih. Itu pun harus memakan tumbal jiwa suci atau anak-anak. Beda dengan tumbal lelaki dewasa, itu hanya untuk kekekayaan saja.


"KUBERIKAN HARTA MELIMPAH UNTUKMU NINGSIH. SETIALAH PADAKU. AKU ADALAH SUAMIMU SATU-SATUNYA." kata Bima mengakhiri malam yang panjang bersama Ningsih.