JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 21


πŸ€ CEACIL ATAU RATIH - PART 2 πŸ€


Handphone Ningsih bergetar. Ada pesan masuk dari anak buahnya. Ningsih segera membaca info menarik itu.


[ INFO BOS! Ceacil berada di perumahan Griya Asri dekat Kampus ISI. Sudah memiliki suami bernama Frans Gumelar. Isunya, pernah mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu dan mengalami amnesia. Namun hasil penyelidikan berkata beda. Beberapa tetangga mengatakan bahwa Ceacil operasi plastik. Wajah Ceacil yang dahulu berbeda dengan yang sekarang. Kami sudah cek ke rumah sakit besar di kota ini, data Ceacil tidak ada di Yogyakarta.


Fakta yang mengejutkan, Ceacil dinyatakan meninggal di Semarang. Data diri dan ciri-ciri berbeda dengan Ceacil yang sekarang. Kemungkinan, ini hasil cuci otak. Orang yng berbeda memakai identitas orang yang sudah meninggal. Kami sudah mengantongi informasi dan bukti terkait. Tetapi untuk orang ini, tidak ada data sama sekali di rumah sakit atau negara. Kami akan infokan kelanjutannya besok pagi. ]


Ningsih membacanya dengan seksama. Hal ini membuat dia terkejut sekaligus menemukan secerca harapan.


Semoga itu kamu, Ratih! Siapa pun Frans Gumelar, aku akan menguak identits Ceacil yang sesungguhnya!


Ningsih sangat mantab mencari titik terang dari hal ini. Tanpa Ningsih sadari, ini sudah di luar kemampuannya.


"Uhuk! Uhuk!"


Seketika Ningsih batuk dan saat tangan menutup mulutnya, darah segar keluar dari mulut.


"Astaga! Apa ini?" Ningsih mengambil tissue dan mengelap mulut dan tangannya.


Handphone Ningsih pun berdering nyaring. Ningsih mengambil dan mengangkat telepon itu.


"Hallo, siapa ini?"


"Hei, wanita iblis! Jangan ikut campur urusanku! Jika kamu berani menemui istriku lagi, aku tak segan-segan membunuh anakmu dan kedua anak yang kau asuh!"


"Hallo? Maaf ini siapa? Maksudmu apa?"


"Jangan berpura-pura tuli atau bodoh! Aku tidak akan mengulangi perkataanku! Jauhi Ceacil dan jangan mencari informasi apapun lagi!"


Bip ... bip ... bip ....


Telepon misterius itu pun terputus. Ningsih sangat syok. Bagaimana bisa lelaki itu tahu nomornya? Ningsih yakin lelaki itu adalah Frans Gumelar, suami Ceacil. Ningsih semakin curiga tentang Ceacil dan Frans Gumelar.


"Bima, sayang, bantulah aku. Siapakah mereka?"


"HAHAHA. KENAPA KAU INGIN TAHU MEREKA, ISTRIKU?"


"Apakah benar perempuan itu Ratih, sahabatku?"


"NINGSIH JANGAN CARI INFORMASI LAGI. LELAKI SILUMAN ITU TAK SEGAN MENGHABISI ANAKMU. RATIH SUDAH MATI SECARA JIWA DAN ROHNYA. NAMUN JASADNYA DI GUNAKAN LELAKI SILUMAN ITU UNTUK MEMBANGKITKAN ISTRINYA DENGAN BANTUAN ORANG PINTAR BERILMU TINGGI."


"Apaa? Kenapa kamu tidak bilang padaku, Bima? Aku tidak bisa diam saja. Ratih harus diselamatkan!"


"TIDAK SEMUDAH ITU. LELAKI SILUMAN ITU BERILMU TINGGI BERGABUNG DENGAN ILMU DUKUN SAKTI. AKU TIDAK INGIN MEREKA MENYAKITIMU MAUPUN ANAKMU!"


Jadi, selama ini Bima sudah tahu? Ningsih merasa sakit hati. Tak bisa berbuat apapun kepada sahabatnya. Melihat Reno dan Santi yang bersedih ketika dahulu membaca surat dari Ratih tentang kematian palsunya, membuat hati Ningsih semakin sakit.


Ratih di depan mata, tetapi tak bisa Ningsih menjangkaunya. Lelaki yang memanfaatkan raga Ratih bukan orang sembarangan.


Ningsih ingin mencari cara bagaimana agar Ratih ingat dengan anaknya. Namun, kembali dia merasa ngeri dengan ancaman dari gawainya tadi.


"Jika bukan menyangkut hidup Wahyu, Reno dan Santi, pasti sudah aku lanjutkan penyelidikan ini. Sial!" gumam Ningsih kesal.


Ningsih lekas menghubungi orang suruhannya.


[ Sudah hentikan penyelidikan. Upah kalian saya transfer sekarang. ]


[ Ada apa Bos? ]


[ Tidak apa. Saya hentikan penyelidikan itu. Upah saya kirim sesuai perjanjian awal. ]


[ Baik Bos! Sesuai perintah Bos! ]


Ningsih membuang gawainya ke ranjang. Lantas terentang di atas ranjang.


Tanpa suara, Bima menggerayangi tubuh Ningsih. Perlahan tapi pasti, satu per satu pakaian Ningsih terlepas oleh makhluk tak kasat mata itu.


"Aaah .... Bi ... ma ...." rintihan Ningsih saat terasa Bima menciumi lehernya, serta tangan Bima mulai bermain di tempat intim Ningsih.


"Tante! Tante baru ngapain?" pertanyaan Reno membuat Ningsih terkejut.


Segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Reno yang sudah kelas satu SMA, pasti mengira Ningsih sedang masturbasi.


"Ah, anu ... t-tante nggak lagi ngapa-ngapain. Reno kenapa masuk sini nggak ketuk pintu?" Ningsih berdiri dengan tubuh terbalut selimut.


"Kak Santi pergi ke pabrik mendadak. Ada yang penting, katanya. Tadi aku lewat, pintunya terbuka sedikit, dan suara Tante sedang ...." Reno mendekati Ningsih, menatapnya dengan sendu.


Ningsih menyadari anak baru gede ini tersulut napsu. Ningsih pun mundur selangkah.


"LAYANI DIA NINGSIH! TAK APA! AKU TIDAK AKAN MEMBUNUHNYA, AKU INGIN KEPERAWANAN PACAR RENO."


'T-tapi bagaimana caranya Bima? Bahkan aku tidak tahu Reno sudah mempunyai pacar.'


"ITU URUSANKU! SEKARANG KAU BERGUMULLAH DENGAN PERJAKA ITU. HAHAHA. NIKMATILAH NINGSIH!"


Reno menatap nanar tubuh Ningsih. Sahabat dari ibu kandung Reno itu melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya. Ningsih tak berbusana sehelai pun.


Reno menelan ludah melihat tubuh wanita dewasa yang bugil. Reno pun mendekati Ningsih. Mengelus tubuh Ningsih.


Ningsih pun memeluk Reno dan berbisik, "Reno, ini rahasia kita. Jangan sampai orang lain tahu."


Reno hanya mengangguk pasrah, lalu mencium bibir merah milik tantenya itu. Pengalaman pertama Reno ini sangat mendebarkan dan tak terlupakan.


------------------------


Di sisi lain ....


"Reno, Reno?" ucap seorang gadis jelita yang berkunjung ke rumahnya.


Reno (jadi-jadian) membuka pintu rumah sambil tersenyum, "Silahkan masuk nona cantik."


"Eh tumben kamu panggil aku nona cantik. Ngegombal ya."


"Nggak kok. Yuk ke kamarku. Seperti biasa," Reno mengerlingkan matanya.


Gadis itu bernama Mona, teman sekelas Reno. Mereka memang sering melakukan ciuman serta saling meraba di dalam kamar Reno. Tentunya tanpa sepengetahuan Santi maupun pekerja di rumah itu.


Jadi, inilah yang di maksud Bima. Bima mengijinkan Ningsih menikmati keperjakaan Reno dan sebaliknya, Bima merubah wujud menjadi Reno untuk menikmati keperawanan Mona.


"Ah ... uh ... Reno, lepas ya. Jangan kebablasan. Kita kan masih suci." bisik Mona dengan leguhan.


"Mona, ayolah kita melepaskan bersama. Aku janji nggak akan meninggalkanmu." rayu Bima ala kekinian.


Bima pun menciumi perut Mona, turun ke bawah, membuka kedua paha mulus Mona dan menciumi seputar kewanitaannya.


Mona merintih, mulai memberontak karena geli dan nikmat. Akhirnya Mona pun jatuh dalam siasat Reno jadi-jadian.


Satu hentakan penuh membuat Mona berteriak. Selaput daranya sobek dan mengeluarkan cairan merah segar. Bima lantas menjilati cairan itu sampai habis, menjijikan! Namun Mona hanya memejamkan mata menikmati semua itu.


Bima tersenyum puas, lalu melanjutkan menyetubuhi Mona. Hingga Mona tertidur pulas karena lelah. Bima pun menghilang.


Reno asli, sudah menyelesaikan permainannya dengan Ningsih. Lalu segera mandi dan balik ke kamarnya, takut Santi mengetahui perbuatannya.


Betapa kaget Reno melihat seorang gadis di ranjangnya tanpa busana.


"Mona!"