JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 79


🎢 Sunday is gloomy,


My hours are slumberless


Dearest the shadows


I live with are numberless


Little white flowers


Will never awaken you


Not where the black coaches


Sorrow has taken you


Angels have no thoughts


Of ever returning you


Wouldn't they be angry


If I thought of joining you?


Gloomy Sunday


Gloomy is sunday,


With shadows I spend it all


My heart and I


Have decided to end it all


Soon there'll be candles


And prayers that are said I know


But let them not weep


Let them know that I'm glad to go


Death is no dream


For in death I'm caressin' you


With the last breath of my soul


I'll be blessin' you


Gloomy Sunday


Dreaming, I was only dreaming


I wake and I find you asleep


In the deep of my heart here


Darling I hope


That my dream never haunted you


My heart is tellin' you


How much I wanted you


Gloomy Sunday 🎢


πŸ€ LAGU BUNUH DIRI - LILY πŸ€


Kegelapan menawarkan jalan pintas bagi orang yang putus asa. Seperti Lily dalam ambang batas kewarasan. Dia memilih menggenggam tangan Iblis dan masuk dalam perangkap. Seratus jiwa orang berdosa sebagai tanda kesetiaan mengikut Asmodeus. Lily tak paham jerat itu mengubah takdir hidupnya. Dia tak akan bisa melihat cahaya Surga.


***


Berita terkini...


Belakangan ini terjadi banyak kasus bunuh diri di Jakarta dan sekitarnya. Dalam waktu dua minggu, sudah terjadi kasus bunuh diri di tiga puluh tempat yang berbeda dan menyebabkan empat puluh lima korban jiwa. Hal ini menarik perhatian publik. Entah bunuh diri masal atau disengaja, saat ini sedang dalam penyelidikan oleh pihak berwajib.


Satu hal yang menjadi pertanyaan, para korban ditemukan dengan membaca, mendengar, atau menulis lirik lagu lawas yang sempat booming di masanya.


Lagu yang terkenal dengan kemistisannya. Gloomy Sunday, apakah ada kaitannya dengan kasus bunuh diri masal ini? Kita simak informasi selanjutnya....


"Matikan saja televisinya, Reno. Tante nggak suka dengar berita apalagi soal seperti itu," kata Ningsih memerintah ponakannya yang masih duduk di sofa.


Ningsih duduk di bed pasien. Tangannya sudah lepas infus karena kondisinya mulai membaik.


"Nah, kan... jadi mikir yang macem-macem. Tante bilang nggak suka berita aneh-aneh karena mempengaruhi pikiran kita. Udah biarin aja. Ada petugas yang mengusut hal seperti itu kok."


"Hmm... iya juga sih... cuma Reno jadi kepo kan. He he he... Oiya, Tante sama Om Bima emangnya sudah married ya? Kok Reno sama Kak Santi nggak dikasih tahu?" Reno mengalihkan pembicaraan agar tak kena marah Tante Ningsih.


"Iya... Udah nikah... udah lama yang nikah. Cuma memang belom pernah ngenalin ke kalian. Maaf ya... Menurut Reno, Om Bima gimana?" tanya Ningsih menunggu respon Reno.


Reno memang masih menaruh hati pada Tante Ningsih. Namun semua hal menjadi rumit dan Reno sadar harus lebih mengedepankan logika.


"Om Bima cakep sih... macho juga... badannya kekar... perhatian... baik... dan kelihatannya dia...."


"Dia kenapa?" Ningsih menengok ke arah Reno yang masih duduk santai di sofa dalam ruang bangsal VVIPnya.


"Om Bima bucin ya, Tante?"


"Bucin? Apaan itu, Ren?"


"Ha ha ha... Tante nggak tahu kah? Bucin sama dengan budak cinta. Kelihatan banget loh khawatir sama Tante. Dibela-belain tidur sini tiap malam walau subuh harus pergi kerja. Bucin kan? Bawain makanan, bunga, ini itu. Ha ha ha...." Reno menertawakan Tantenya yang mulai tersipu malu.


"Reno apaan sih? Tante itu sudah tua bukan AbG lagi! Mana ada itu bucin bucin an. Jangan bilang gitu lah...." Ningsih mengelak dan menahan malu. Namun pipinya yang merah merona tak bisa ditutupi.


"Nah kan Tante malu... berarti benar tebakan Reno. Om Bima bucinnya Tante... coba aja Tante minta pesawat... pasti dibeliin deh. Atau minta anak Cheeta atau Hyena pasti dicariin," tawa Reno makin menjadi. Dia sampai tak tahan dan memegangi perutnya yang mulai kram. Lalu Reno batuk karena terlalu lama tertawa.


"Sukurin kan batuk. Suruh sapa ngejek Tante."


"Uhuk...uhuk...uhuk..." Reno meraih segelas air di meja. Dia meminumnya perlahan dan batuknya pun reda.


Ningsih tertawa melihat Reno. Pagi itu, dokter sudah menyatakan Ningsih sehat dan boleh pulang. Santi dan Joko bergegas menjemput. Setelah tiga hari di bangsal VVIP dan setiap malam Bima selalu berkunjung, akhirnya Ningsih sehat dan bisa rawat jalan.


Saat perjalanan pulang, mereka sepakat untuk pergi ke Sushi Tei dan merayakan kesembuhan Tante Ningsih bersama. Dalam perjalanan, mereka pun saling berbagi cerita. Reno paling semangat bercerita.


"Bener hlo... Om Bima itu misterius tapi keren. Tahu nggak soal film horor Hanna Grace yang tubuhnya kerasukan Iblis dan nggak bisa mati. Aku sempet debat sama Om Bima. Dicerita film itu kan si Hanna mau di autopsi tapi malah bunuh orang-orang agar luka di tubuhnya jadi sembuh. Nah, kata Om Bima semacam itu hanya untuk menarik penonton film. Dalam kenyataannya kalau manusia yang sudah bersekutu dengan Iblis, tidak perlu membunuh orang buat sembuh dari luka. Mereka bisa sembuh dengan bantuan Iblis yang menjadi sekutunya. Aku sih nggak percaya. Kalau orang kerasukan nggak sadar kan. Tapi ya soal setan atau iblis aku percaya sih..." Reno bercerita panjang kali lebar.


Ningsih hanya tersenyum tak menanggapi cerita Reno sedangkan Joko tertarik dengan hal itu.


"Lantas... menurut Den Reno soal bunuh diri masal yang katanya disebabkan lagu Gloomy Sunday itu beneran nggak?" selidik Joko sambil memancing reaksi Reno yang memang kepo.


"Menurutku itu lagu memang kutukan sih. Bikin hopeless banget. Namun kalau bunuh diri masal belom bisa nebak karena apa. Kalau hipnotis bisa nggak sih?" Reno balik bertanya.


"Reno... Mas Joko.... Seperti itu sudah takdir kan. Nggak ada yang namanya kutukan lagu untuk bunuh diri masal yang ada ya orangnya nggak punya iman. Jadi iblis seneng deh nangkap mereka ke Neraka," terang Santi membuat Ningsih makin terdiam. Dia tahu jika jalan yang diambilnya adalah salah.


Belum selesai bercakap, tiba-tiba Joko mengerem mobil dengan cepat. Seorang lelaki berlari ke tengah jalan seakan ingin menabrakan diri ke mobil. Mereka pun terkejut saat lelaki itu melihat ke arah mobil, tersenyum menyeringai, lalu berlari dan terjun ke jembatan.


"Astafirullah..." teriak Santi ketakutan.


"Tante... i... itu orangnya terjun dari jembatan!" Reno terkejut melihatnya bunuh diri.


"Bu, telepon polisi. Biar nhham jadi salah paham. Itu orangnya loncat kan bunuh diri," kata Joko, gemetar. Hampir saja dia menabrak orang. Sopir memang takut jika berurusan dengan kecelakaan dan polisi. Bisa-bisa SIM nya dibatalkan izin alias tak bisa mengemudi lagi.


Ningsih segera menghubungi polisi. Beberapa mobil pun ikut berhenti dan menepi melihat lelaki yang terjun dari jembatan untuk bunuh diri ternyata tersangkut di sebuah kawat besar. Darah mengucur deras karena kawat itu menancap di dada lelaki yang memegang sebuah kertas.


Saat Ningsih, Joko, Santi, dan Reno keluar dari mobil untuk melihat kondisi korban bunuh diri itu, Ningsih tak sengaja melihat sosok yang dia kenal.


"Lily..." gumam Ningsih.


Perempuan yang menjadi bodyguard kepercayaan Lee itu terlihat mengamati ke arah bawah jembatan sambil tersenyum puas. Ningsih merasa ada suatu hal yang tak beres dengannya. Lily menatap Ningsih seakan tahu jika sedang diamati. Ningsih lantas memandang ke arah lain.


***


"Tunjukan kesetiaanmu... seratus jiwa berdosa, maka aku akan hidupkan Lee untukmu," ucap Asmodeus membuat Lily mengikat janji pada kegelapan.


"Kalau begitu... aku goda mereka dengan pesonaku... lalu aku bisikan lagu putus asa yang akan membuat mereka bunuh diri. Tuanku... beri aku kemampuan berbuat seperti itu..." pinta Lily pada Tuannya.


"Baik... ide bagus... tak salah pilih kupinta kau menjadi anak buahku."


Lily menyebabkan bunuh diri masal pada orang yang sudah melakukan hubungan sek*ual dengannya. Setelah bersama Lily, mereka akan merasa lagu Gloomy Sunday bergaung di otak mereka hingga tak sanggup lagi menahan dan memilih untuk bunuh diri.


Perlahan tapi pasti... Lily menjalani syarat Tuannya. Semua demi bisa bertemu lagi dengan Lee. Tuan Asmodeus tahu jika Lee berada dalam cengkraman penguasa Iblis Lapis Tujuh. Beda satu lapis dengan tempat Lily pernah berpijak.


Bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih guys selalu membaca dan memberikan komentar positif hingga Author tetap semangat bekarya.


Jangan lupa selalu like, vote poin, serta beri penilaian (sedang berlangsung) di beranda Jerat Iblis agar bisa full bintang lima ya.


Selain itu, para readers bisa bergabung di grup chat yang tentunya akan makin dekat dengan Author dan sesama readers JERAT IBLIS. Siapa hayo yang belum gabung? Klik aja ya di beranda Grup Chat.


Thank you so much, guys!