JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 129


πŸ€ YOGYAKARTA AWAL HIDUP BARU πŸ€


Yogyakarta, kota yang ramai dengan aneka kesibukan. Namun, menyajikan pemandangan yang indah dan masyarakat yang ramah. Santi dan Reno sudah beberapa hari kembali di sana. Wahyu pun sangat senang berada di kota itu lagi. Budi dan Mak Sri memutuskan untuk menginap terlebih dahulu di rumah Santi selama sebulan. Menjaga Wahyu agar bisa beradaptasi dengan baik, sambil memikirkan langkah selanjutnya yang harus ditempuh.


Pagi itu, Santi sudah bersiap hendak mengantar Wahyu mencari sekolah yang dia inginkan. Namun, anak kecil itu berubah pikiran dengan cepat. Dia justru lebih tertarik dengan cerita Budi tentang para santri yang menuntut ilmu dunia dan akhirat di pesantren milik Pak Anwar -- Kyai sekaligus ayah kandung Budi.


"Om Budi, kalau di pesantren itu Wahyu tetap bisa pulang rumah atau dikunjungi Mama dan kakak-kakak?" tanya Wahyu dengan wajah polosnya.


"Tentu bisa. Dalam pesantren juga ada waktu liburan. Kalau untuk dikunjungi, bisa tiap dua minggu sekali, tepatnya akhir pekan. Wahyu mau di sana?" Budi tersenyum sambil menjelaskan.


"Wah, keren! Berarti Wahyu tidur sana seperti asrama?"


"Iya, jagoan. Wahyu juga bisa belajar bela diri di sana. Apa Wahyu mau lihat-lihat dulu di sana?" ucap Budi yang berharap anak itu mau agar lebih mudah menyelamatkannya dari jerat Iblis.


"Mau! Wahyu mau! Nanti Wahyu bilang Kak Santi dan Kak Reno biar diteleponin Mama, ya, Om!" jawab Wahyu dengan antusias.


Budi pun senang, anak sekecil itu mau menerima nasehat dan arahan. Mak Sri pun tersenyum sambil memeluk Wahyu yang baru saja lompat-lompat karena gembira. Saat Santi ke ruang tamu, dia terlihat bingung melihat Wahyu.


"Wahyu, jadi keliling cari sekolah?" ucap Santi dengan lembut.


"Kak Santi, Wahyu mau sekolah di tempat yang Om Budi cerita." jawab anak kecil itu dengan girang. Santi belum paham apa yang Wahyu katakan. Dia menatap Budi dan Mak Sri yang tersenyum penuh arti. Santi menahan rasa penasarannya.


"Oh, ya? Wah, pasti sekolahannya bagus! Wahyu mau berkunjung ke sana?" kata Santi sambil mengusap rambut lelaki kecil itu.


"Mau! Mau! Ayo ke sana saja. Wahyu ingin pintar ilmu dunia dan akhirat seperti yang dikatakan Om Budi," celotehnya membuat Santi tiba-tiba merasa terharu.


Santi menatap Budi. Lalu Budi tersenyum dan mengangguk. "Oh, di pesantren, ya? Hari ini kita ke sana, ya. Wahyu boleh lihat-lihat dulu. Sebentar, kak Santi panggil Kak Reno dulu."


Santi pun masuk ke dapur untuk memanggil Reno yang masih menikmati secangkir minuman kopi. "Reno, hari ini kita ke pesantren Bapaknya Mas Budi, ya."


Reno terkejut dan tak sengaja tersedak kopi yang hendak diminumnya. "Apa, Kak? Pesantren?"


Santi pun duduk di samping Reno dan menatapnya dengan tajam. "Apa kamu juga mau di sana biar nemenin Wahyu sekalian hilangin sawan-sawan aneh yang suka ama Tante sendiri?"


Reno mengusap mulutnya dengan tisu yang ada di atas meja. Dia pun tak menginginkan hal itu. "Ah, ogah, Kak! Wahyu aja lah yang masih banyak harapan. Aku sama Kakak aja di sini," sahutnya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi.


"Alasan aja! Yaudah, buruan berangkat. Kita temui Pak Anwar dulu di sana. Mak Sri dan Mas Budi juga ikut. Kamu ... nyetir, ya?" tegas Santi sambil tertawa karena tingkar Reno yang lucu. Baginya, sebesar apa pun Reno, tetaplah menjadi adik kecilnya yang lucu dan wajib dilindungi.


Mereka pun bersiap untuk berangkat ke Wonogiri. Perjalanan sekitar dua setengah jam dari pusat Yogyakarta jika tidak macet. Perjalanan yang menjadi awal hidup baru lelaki kecil yang tak berdosa, tetapi ikut andil dalam menanggung kesalahan ibunya.


***


Setelah perjalan yang panjang, akhirnya mobil Reno sudah sampai di pekarangan luas dengan gedung megah milik Pak Anwar. Segera memarkirkan mobil di tempat yang sudah disediakan. Terlihat seorang lelaki separuh baya berdiri di hadapan pintu masuk gedung dengan senyum yang mengembang. Saat pintu mobul terbuka, Budi dan Mak Sri turun terlebih dahulu serta mengucapkan salam. Setelah berbincang beberapa menit, Santi, Reno, dan Wahyu menyusul turun dari mobil.


"Assalamualaikum, Pak Kyai," sapa Santi dengan hormat kepada Pak Anwar.


"Wa'alaikumsalam, anak soleha. Apakah kamu yang bernama Santi?" tanya Pak Anwar yang sudah mendapat cerita dari Budi tentang keadaan Ningsih sekeluarga besarnya.


Pak Anwar pun mempersilahkan mereka masuk ke ruang tengah pesantren untuk menerima tamu. Banyak hal yang dibicarakan. Terlebih Wahyu yang antusias untuk berkeliling melihat kegiatan di pesantren. Pak Anwar tersenyum dan berbisik pada Budi, "Anak ini bisa diselamatkan. Jika keluarganya mau, nanti bapak bisa lakukan ruqiyah melepaskan hawa negatif dan aura iblis itu dengan kelima santri pilihan. Budi, coba bicarakan dengan kedua kakaknya."


Budi pun mengangguk, paham. Hal gaib memang semakin cepat dihilangkan akan semakin baik. Wahyu juga masih kecil dan tidak terlibat secara langsung, pasti akan lebih mudah melepaskan ikatan jerat Iblis itu.


Pak Anwar pun mengajak Wahyu dan Reno berkeliling melihat aktifitas serta segala macam isi di pesantren. Sedangkan Budi, dia menjelaskan secara serius dengan Santi dan Mak Sri soal perkataan bapaknya. Semua setuju jika Wahyu diruqiyah agar segera memulai hidup baru dan terlepas dari incaran maut.


***


Malam harinya, Pak Anwar bersama kelima santri pilihannya sudah bersiap meruqyah Wahyu. Sebelumnya, Santi dan Reno membujuk Wahyu untuk menurut agar tidak menangis saat ruqiyah berlangsung. Mereka mengatakan hal itu sebagai syarat masuk pesantren dan herannya, Wahyu bersedia.


"Sudah siap semua? Bismilah ...." ucap Pak Anwar memulai ruqiyah.


Budi, Santi, Reno, dan Mak Sri berjaga di luar pintu. Berharap semua akan segera berakhir. Setelah perjuangan selama tiga jam, pintu pun terbuka. Pak Anwar dengan wajah lelah pun berkata, "Sudah selesai. Bawa Wahyu tidur di kamarmu, Budi. Jaga dia. Semua hal ingatan tentang suami gaib ibunya pun hilang. Hidup baru akan dijalani anak ini."


"Alhamdulilah ...." ucap Santi, Reno, Mak Sri dan Budi secara bersamaan. Hal yang mereka perjuangkan akhirnya membuahkan hasil.


***


Di sisi lain ....


Sejak lagi, Bima dan Ningsih sudah kembali ke rumah untuk menghentikan penyelidikan kasus perampokan. Di sana ada Joko dan juga Nindy yang ikut membereskan rumah. Saat Ningsih sibuk berbicara dengan polisi karena hari mulai malam, Bima justru melepas roh ke tempat jauh.


"Gawat! Lelaki itu tak bisa kuanggap remeh. Kali ini dia ikut campur terlalu jauh," gumam Bima sambil memegang dadanya. Baru saja dia bertempur secara gaib dengan Pak Anwar dan kelima santrinya. Bima mundur karena tahu jika kekuatannya tidak maksimal menghalau mereka berlima.


"Bima ... Bima, kau kenapa? Kok ada darah?" ucap Ningsih panik melihat suaminnya berdarah dari sudut bibirnya.


"Tak apa, sayang. Hanya ada sesuatu terjadi. Kamu tak perlu khawatir." kata Bima menenangkan Ningsih yang baru saja keluar dari rumah.


"Polisi menutup kasusnya. Semoga saja mereka tidak curiga. Uang dan emas yang kita ambil kembali, kuletakkan di tempat restauran baru kita." jelas Ningsih sambil mengelus punggung suaminya yang terlihat lelah.


"Selamat malam, Bu. Kami kembali ke kantor. Maaf untuk ketidak nyamanannya." kata seorang polisi sambil berlalu bersama polisi lainnya.


"Terima kasih, Pak." sahut Ningsih.


Dia bergegas mengajak Bima masuk ke rumah. Nindy dan Joko sudah selesai membereskan rumah. Joko pun hendak pamit pulang, tetapi Ningsih menyuruh Joko menginap saja. Tawaran itu pun dilakukan oleh kakak Nindy itu karena waktu menunjukkan hampir tengah malam.


"Sudah, tidur di sini saja. Terlalu larut malam ini," kata Ningsih saat Joko hendak berpamit pulang.


"Iya, Bang. Tidur di samping kamar Nindy. Sudah Nindy bereskan kok bekas kamar Mak Sri," imbuh Nindy.


"Baik, Nyonya." jawab Joko dengan singkat. Dia merasa agak tak nyaman karena ada Bima di sana.


Rasa yang pernah ada dan menghilang, kini timbul lagi. Rasa suka atau justru cemburu? Joko terusik dengan perasaan itu. Bima yang mengetahui hal itu sengaja membuat Joko semakin terbakar cemburu dengan memeluk Ningsih dan mengajak istirahat di hadapan Joko.


"Ayo tidur, sayang. Sudah larut malam," bisik Bima yang memeluk tubuh indah Ningsih.


"Iya, sayang. Ayo naik." Mereka pun menaiki tangga dan masuk ke kamar.


Joko dan Nindy pun masuk ke kamar mereka masing-masing. Nindy langsung tertidur lelap karena lelah. Sedangkan Joko tak bisa tidur membayangkan Ningsih yang saat ini bersama Bima.


Dalam kamar, Ningsih berganti pakaian dan berbaring di ranjang. Bima membelai wajah Ningsih dan bertanya, "Ningsih, kamu tahu jika pegawaimu itu menyimpan rasa?"


"Rasa apa? Ah, perasaanmu saja. Joko tidak seperti itu." jawab Ningsih menyepelekan.


"Tidak, aku ini juga lelaki. Aku tahu persis dari cara dia menatapmu. Lalu ... aura cemburu yang begitu besar telihat sedap bagiku," ucap Bima yang kemudian menyeringai. Dia justru memiliki ide untuk bisa menyerap kecemburuan dan kegelisahan hati Joko.


Rasa takut, amarah, benci, dendam, iri hati, cemburu, bahkan kesedihan merupakan aura hitam yang disukai Iblis. Mereka menyerap aura itu dari manusia. Membuat para manusia semakin terlarut dalam perasannya. Melupakan kebahagiaan yang ada. Lalu perlahan hancur dengan sendirinya. Dari ketakutan, seseorang akhirnya bisa membunuh orang. Dari amarah, seseorang bisa menghancurkan hidup orang lain. Dari rasa benci, seseorang bisa memfitnah. Dari dendam, seseorang tidak akan terbebas dan bahagia. Dari iri hati, seseorang akan tersiksa selamanya. Dari cemburu, seseorang akan menghalalkan segala cara mendapatkan apa yang dia inginkan. Dari kesedihan, seseorang bisa mengakhiri hidupnya sendiri.


Hal itu, semua dosa yang menyenangkan bagi Iblis. Semua rasa itu adalah santapan yang nikmat untuk makhluk kegegelapan seperti Bima, Evan, Lily, bahkan para Tuan Tertinggi Neraka. Manusia tak sadar jika semakin banyak rasa itu, semakin kuat makhluk kegelapan.


Bersambung ....


***


Jangan lupa VOTE ya guys^^ Bantu Author selalu semangat update dengan like, komentar, serta vote dan ratting. Terima kasih 🌹