JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 69


Seingat Lily, tadi pagi mereka sudah check out dari hotel dan pergi ke rumah misterius milik Lee. Namun, Josh kembali meyakinkan Lily bahwa mereka belum pergi. Tentunya itu hanya tipu daya Iblis. Asmodeus sudah merasuki Josh dan memiliki rencana licik untuk menjerat banyak orang.


"Sudah sayang, tak perlu panik," ucap Josh, mengecup pundak Lily.


Lily pun menatap lelaki itu dan berkata, "Ahh... mungkin memang itu mimpi buruk. Sayang, take me higher, please...."


"All right Honey..."


Mereka pun melanjutakan bercinta di siang hari. Lily lupa jika apa yang dialaminya tadi pagi adalah nyata. Saat Lily pingsan, Josh yang sudah bersatu dengan Asmodeus membawanya kembali ke hotel. Sesampainya di kamar, Josh melepaskan pakaian Lily dan membaringkan tubuh Lily di ranjang membuat seolah-olah mereka belum ke mana-mana.


Rencana itu berhasil dengan lancar. Lily tertipu dan lupa akan keberadaan iblis yang dilihatnya. Dia menganggap hal itu hanyalah mimpi buruk.


Asmodeus mencium kegiatan anak buah Chernobog yaitu Bima. Dia akan berlomba mencuri jiwa manusia berdosa agar mendapatkan kuota lebih banyak dari pada Sang Penguasa Perbudakan (Chernobog). Iblis bekerja dengan cara anggun untuk menyesatkan manusia. Mereka menyukai jiwa-jiwa yang penuh dendam dan kepahitan serta salah satu hal yang paling disukai adalah KESOMBONGAN.


Kesombongan tak hanya menghancurkan si empunya, tetapi juga menghancurkan orang lain yang mempunyai sifat iri dengki. Bukankah menarik? Satu dosa yang menepuk tak hanya satu orang. Jiwa-jiwa incaran Iblis itu dikumpulkan sebanyak mungkin agar menjadi penghuni Neraka.


****


Jakarta...


[Santi, hari ini Abah pulang. Besok aku mulai masuk bekerja. Terima kasih kepedulianmu kepada keluargaku selama beberapa hari ini.]


Joko mengirimkan pesan via whatsapp kepada Santi. Hubungan mereka mulai dekat terlebih Santi setiap hari mengajak Reno menjenguk ke rumah sakit. Hal yang tak pernah Joko bayangkan bisa dekat dengan wanita mandiri dan soleha seperti Santi.


Santi dan Ningsih dua wanita hebat dengan kepribadian dan pesona yang berbeda. Joko terperangkap dalam pikiran dan hatinya yang bertolak belakang. Hatinya masih menaruh rasa pada Bos Cantik nan seksi, Ningsih. Sedangkan pikirannya tertuju pada Santi, wanita muda yang mandiri dan sukses.


[Alhamdulilah, Mas. Besok aku ke rumah sakit lebih awal dengan Reno. Nanti Mas tidak usah khawatir, pakai mobil Tante Ningsih saja untuk pulang. Besok aku dan Reno membawa dua mobil, ya.]


Santi membalas pesan dari Joko sambil tersenyum membayangkan wajah Joko. Malam itu, Santi tak bisa tidur lebih awal.


[Terima kasih, Santi. Jadi ngrepotin, ya. Maaf ya.]


[Mas, nggak ngrepotin kok. Aku seneng bisa bantu Mas Joko sekeluarga.]


Santi pun meletakan ponselnya. Pipinya memerah, malu. Layaknya orang jatuh cinta... dia tersenyum dan tertawa sendirian serta berguling di ranjang.


Sedangkan Reno masih berbalas pesan dengan Nindy.


[Mas Reno, besok Abah pulang. Jadi siangnya nggak usah ke sini, ya.]


[Emang siapa yang mau ke sana? Ha ha ha...]


[Uh, dasar. Yaudah deh. Terserah, Mas.]


[Sudah malam ini... kamu tidur ya, Nindy.]


[Mas Reno juga tidur, ya.]


[Nggak. Kamu aja yang tidur.]


[Yaudah deh.]


Reno tertawa berhasil mengerjai Nindy. Reno mulai merasa asyik dengannya. Sejenak soal rasa pada Ningsih dilupakannya.


Pagi harinya....


"Reno ayo bangun! Kita mau ke rumah sakit lebih awal!" teriak Santi.


"Iya, iya. Ini udah siap."


Reno keluar dengan kemeja warna biru muda. Sudah rapi dan siap pergi.


"Tumben sudah siap? Pasti kangen Nindy ya?" ledek Santi pada adiknya yang mendadak bisa bangun awal.


"Ih, apaan sih kak? Aku ini susah tidur. Jadi mending mandi and siap-siap. Kakak sendiri ngapain semangat ke rumah sakit? Kangen Joko ya?" Reno gantian meledek kakaknya.


"Dasar sok tahu kamu!"


Santi memalingkan muka menutupi malu.


"Kalau dah siap buruan pergi yuk. Bawa mobil sendiri-sendiri. Nanti breakfast di jalan aja," ajak Santi.


Saat mereka keluar dari rumah, tak disangka ada seorang wanita yang mengamati rumah Ningsih. Wanita cantik nan menawan. Entah siapa gerangan. Reno tak sengaja melihatnya. Sorot mata itu membuat Reno tak berkedip


Santi menekan klakson mobilnya. Membuat Reno sadar harus melanjutkan perjalanan. Saat itu Reno tak sadar jika wanita itu menatapnya hingga berlalu.


Sesampainya di rumah sakit, Reno dan Santi langsung ke bangsal. Mereka terlalu bersemangat hingga lupa untuk sarapan.


"Iya, Mas. Kan Abah sudah sehat jadi aku dan Reno semangat buat antar pulang."


"Terima kasih, ya. Aku janji besok akan mulai bekerja. Bolehkah aku bicara sebentar?" Joko mengajak Santi berbicara empat mata.


"Ada apa, Mas?" Santi mengira ada sesuatu yang Joko rasa.


"Santi, begini... untuk perawatan Abah, aku pinjam dana dahulu. Bu Ningsih tak bisa dihubungi. Aku bingung mau pinjam uang pada siapa lagi."


Santi merasa kecewa. Ternyata soal uang. Dia berusaha sebiasa mungkin menjawab perkataan Joko.


"Oh, soal itu. Tenang saja Mas. Tante Ningsih sudah memberi mandat padaku. Semua aman. Mas nggak usah mikir soal biaya itu. Dan tak dihitung hutang. Tenang saja."


Santi pun berlalu. Joko merasa tak enak hati. Dia memegang tangan Santi dan menariknya. Seketika mata Santi dan Joko saling tatap. Perasaan sesuatu yang berbeda. Hampir saja jantung Santi berhenti berdetak. Sedangkan Joko mencoba menguasai pikirannya.


"Santi, terima kasih banyak. Kurasa ini keinginanmu, bukan Bu Ningsih. Aku berhutang budi padamu," bisik Joko.


Hembusan nafas Joko terasa di wajah Santi. Hal itu membuat darah Santi seakan membeku. Namun rasa malu atau gerogi membuat pipi Santi memerah. Dia tak pandai menutupi perasaan.


"Mas, nggak apa. Aku ikhlas kok. By the way, lepasin tanganku, ya. Malu dilihat orang. Bukan muhrim," ucap Santi sambil melepas genggaman Joko.


Joko pun melepaskan tangan Santi dan nekad berkata, "Kalau jadi muhrimku, mau?"


Santi terdiam seketika. Antara kenyataan atau mimpi yang dia dengar. Joko salah bersikap. Dia hanya ingin bercanda. Namun saat yang tak tepat. Hal itu membuat Santi bawa perasaan. Suasana menjadi canggung.


"Uhm, aku ke sana dulu, Mas." Santi menghindar agar tak terlihat seperti kepiting rebus. Sedangkan Joko menggaruk kepalanya, merasa konyol.


"Mas Joko bilang begitu apa beneran, ya? Duh jadi malu nih. Jawab apa ya? Atau pura-pura nggak dengar? Duh gimana ini...." batin Santi yang berjalan ke arah administrasi rumah sakit.


"Duh, niatnya bercanda malah jadi canggung. ****** banget sih aku ini!" gumam Joko sambil masuk ke ruangan. Abah dan Ibu sudah bersiap menunggu obat untuk dibawa pulang. Sedangkan Reno masih berbincang dengan Nindy.


"Nindy terlihat sangat senang bersama Reno. Tak mungkin jika aku mendekati Santi. Reno dan Santi kakak beradik kandung seperti aku dan Nindy. Biar Nindy saja yang melanjutkan hubungannya. Aku tak bisa merenggut kebahagiaan adikku. Lagi pula aku ini orang tak sebaik itu. Santi terlalu sempurna," batin Joko saat menatap Nindy tertawa lepas bersama Reno.


Pemuda tampan dan gadis cantik, bukankah suatu keindahan ciptaan Tuhan? Semua mata pun akan takjub melihat pesona dua sejoli itu. Begitu yang Joko pikirkan. Kebahagiaan Nindy.


Santi menyelesaikan pembayaran administrasi demi Abah segera bisa pulang. Abah dan Ibu tidak tahu jika Santi membayarkan dengan percuma. Mereka menganggap Joko berhutang pada bosnya untuk biaya pengobatan di rumah sakit.


Mereka pun pulang setelah obat rawat jalan diberikan. Reno, Nindy, dan ibu berada di satu mobil yang sama. Membawa mobil dan barang-barang serta pakaian yang selama ini digunakan saat menunggu Abah. Sedangkan Joko mengendarai mobil bersama Santi dan Abah. Mereka sudah seperti keluarga meski baru kenal sebentar. Santi pandai mencuri hati kedua orang tua Joko.


"Abah sudah sarapan?" tanya Santi dengan lembut.


"Sudah, Non. Tadi pakai bubur. Padahal Abah nggak suka buburnya hambar. Pingin makan nasi yang seger," celetuk Abah.


Joko merasa tak enak hati, "Hus, Abah nggak boleh gitu. Kita pulang saja. Nanti Joko belikan makanan di rumah."


"Mas, nggak apa loh kita mampir ke Resto Soto Betawi dulu. Kebetulan aku dan Reno juga belum sarapan. Itu perempatan belok kiri aja, Mas. Restonya di kiri jalan," ucap Santi seraya mengirim pesan ke Reno agar dia mengikuti ke Resto Soto Betawi.


"Non Santi bagai malaikat ya? Tahu bener apa yang Abah mau. Abah sudah lama tak makan soto Betawi. Pingin..." ucap Abah seperti anak kecil. Bukankah manusia semakin tua akan kembali ke sifat seperti anak kecil?


"Santi orang biasa, Abah. Hanya saja seleranya sama kan. Jadi tepat gitu suka Soto Betawi," kata Santi sambil tersenyum.


Joko hanya bisa mengikuti kata Santi. Terlebih Abah juga menginginkan makan Soto Betawi. Joko tak mau membuat keributan atau membuat Abah kecewa.


Mereka memarkirkan mobil. Santi membantu Abah turun dengan memakai krek sebagai alat bantu berjalan. Sebenarnya Santi sudah mengusulkan memakai kursi roda, tetapi Abah tidak suka karena terkesan berlebihan.


Joko memperhatikan Santi. Terlihat Santi sangat tulus membantu Abah. Reno dan Nindy pun turun dari mobil bersama Ibu. Mereka menyusul Abah yang sudah di dalam.


Joko dan Santi sedang memesan makanan.


"Santi, Non Santi... kenapa baik banget sama Joko dan sekeluarga?" tanya Joko penasaran.


"Mas Joko, sudah seharusnya manusia saling tolong menolong, bukan?" jawab Santi sambil memesan makanan.


"Santi... kalau manusia yang kamu maksud bukan aku, lelaki lain, apakah kamu akan seperti ini juga?"


Santi menatap Joko dengan tajam.


"Harusnya hal semacam ini tak perlu Mas tanyakan padaku. Bukankah Mas tahu sendiri apa jawabannya? Perlukah kuperjelas?" Joko tersentak dengan jawaban Santi yang berani dan penuh percaya diri.


Jelas hal itu membuat Joko malu. Seorang sopir yang mendapatkan hati keponakan bosnya yang juga kaya raya dan pengusaha sukses. Mampukah Joko menghadapi rasa itu? Ataukah rasa Santi akan bertepuk sebelah tangan?


Mereka duduk bersama. Di tengah ada meja bundar yang lumayan besar. Enam bangku mengelilingi meja yang sudah terisi makanan Soto Betawi plus pelengkap serta minuman. Mereka menikmati sarapan dengan berbagi canda tawa. Bahkan Abah mengatakan hal yang tak duga.


"Abah senang seperti ini. Abah sakit malah buat keluarga kita seneng. Non Santi ini cocok banget sama Bang Joko. Kalau Tuan Reno ini cocok banget sama Nindy. Sayangnya Nindy masih sekolah ya. Bentar lagi lulus sekolah," celetuk Abah.


Bersambung....