JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 57


...🔥 TOBAT YANG TERLAMBAT 🔥...


Via mulai menyadari jika dirinya sudah jauh melangkah di kubangan dosa. Hanya karena hidup susah dan kekurangan materi, dia menukarkan kehidupannya dengan kesusahan yang abadi yaitu kematian dan menjadi penghuni neraka. Siksa abadi itu tidak akan berakhir. Apakah pertobatan masih bisa diterima saat detik-detik kematian menjelang?


Via sudah berobat di rumah sakit. Tadi dokter memvonisnya seperti apa yang Dinda katakan, yaitu penyakit leukemia atau kanker darah putih. Ketakutan melanda Via saat perjalanan pulang. Seketika badannya gemetar karena dia tahu berapa minggu lagi nyawanya akan melayang seperti apa yang dikatakan wanita iblis yang dia puja saat ini. Gadis itu pun menyadari waktu tiga bulan itu sangat amat singkat. Dia belum merasakan apa pun dalam kehidupannya, yang berarti uang dan kekayaan pun seperti hanya lewat saja.


Via menyadari sudah salah jauh melangkah dalam kegelapan. Dosa ini tidak hanya berimbas pada dirinya sendiri. Dinda sudah mengatakan bahwa keluarganya pun akan mendapat kesusahan seumur hidup sampai meninggal. Hal itu karena mereka sudah ikut merasakan kekayaan yang Via peroleh dari hasil bersekutu dengan iblis. Via pun menangis. Dia bersedih dan menangis tersedu-sedu karena menyesali perbuatan.


"Ya, Allah ... ampuni hambamu ini, ya Allah. Selamatkanlah Bapak, Ibu, dan kedua adikku. Andai kata hamba harus diambil beberapa minggu lagi, hamba sudah mengikhlaskan semuanya. Tapi ampunilah dosa hamba dan juga selamatkan keluarga hamba," gumam via dalam hati sepanjang perjalanan di dalam mobil menuju ke rumahnya. Tetesan air mata tak mau berhenti menggenang di pipinya.


Tiba-tiba ... gumpalan asap putih keluar menutupi pandangan dari dalam mobil. Via pun langsung mengerem dan menghentikan laju mobilnya. Tak disangka, Dinda datang menghampiri Via dengan sangat marah. Terlihat raut wajahnya yang mengerikan. Bentuknya berubah menjadi wujud aslinya, yaitu wanita iblis penghuni neraka dengan dua tanduk di dahinya.


"Dasar anak manusia serakah dan licik! Apa-apaan kau, ingin meminta ampun kepada Tuhanmu? Sudah terlambat! Tobatmu tidak akan diterima! Percuma kau meminta dan menangis kepada Tuhan, bukankah kau yang meminta semua ini kepadaku? Lihat anak manusia yang serakah dan licik, waktumu yang tinggal tiga minggu itu kupercepat hari ini! Kau akan kubawa ke neraka!" gertak Dinda yang membuat Via langsung ketakutan dan berteriak.


"Jangan! Ampun ... jangan bawa aku sekarang. Aku belum berpamitan dengan keluargaku. Kumohon ... kumohon ...." pinta Via terus-menerus, tetapi tetap saja Dinda mengabaikan hal itu.


Nasi sudah menjadi bubur, Dinda langsung membakar Via di dalam mobil itu. Seolah-olah rekayasa kecelakaan dibuat agar bisa membawa jiwa Via yang berdosa ke dalam neraka. Dinda tertawa terbahak-bahak melihat itu, karena kecerobohan seseorang akhirnya seluruh keluarganya pun tidak selamat. Kesialan dan kesusahan pun menanti pada keluarga Via. Bapak, Ibu, dan kedua adiknya yang sama sekali tidak mengerti apa yang dilakukan Via, menjadi korban keserakahan Via sendiri.


Seketika jiwa Via yang sudah diambil oleh Dinda itu terlempar ke dalam Neraka lapis ketujuh, di mana Dinda menyetorkan semua jiwa-jiwa berdosa atas keserakahan mereka ke dalam genggaman Tuan Chernobog.


Di sisi lain ....


Ibu Via merasa gelisah di dalam rumah. Sedari tadi dia berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Hal itu membuat bapak Via geram dan membentak istrinya. "Bu! Kenapa, sih, dari tadi mondar-mandir ... mondar-mandir ... seperti setrika aja! Ibu, tuh, kenapa bikin tidak nyaman saja di rumah!" gertak bapak Via yang yang sikapnya mulai berubah setelah memiliki banyak uang.


"Astagfirullah, Pak ... Pak ... mengapa Bapak bilangnya seperti itu, sih? Ibu ini rasanya dari tadi seperti merasakan sesuatu. Bukannya Bapak bertanya baik-baik, malah berkata seperti itu. Lagi pula, Kakak juga belum pulang 'kan, Pak," jawab ibu Via yang khawatir dengan anak sulungnya itu.


"Halah ... Ibu ini seperti tidak tahu anakmu yang besar itu saja. Sudah biasa, bukan, dia itu pergi kelayapan sampai malam atau bahkan pulangnya besok. Ya biarkan saja. Namanya anak sekolah. Dia 'kan juga punya teman-teman. Siapa tahu menginap di tempat sahabatnya. Yaya atau siapa itu namanya," ucap bapak Via yang sama sekali tidak merasakan sesuatu terjadi kepada putri sulungnya.


"Astaga ... kenapa seperti itu jawabnya? Nyebut, Pak nyebut. Sudah kalau begitu, Ibu mau telepon saja! Siapa tahu Via mengangkat telepon Ibu," pungkas ibu Via yang kemudian melangkah menuju ke meja untuk mengambil handphonenya. Ya, dia mencoba menghubungi nomor putrinya itu. Namun, beberapa kali selalu tersambung pada mailbox yang bertanda handphone via tidak aktif.


Perasaan Ibu Via semakin kalut karena nomor handphone anaknya tidak bisa dihubungi. Tepat saat dia meletakkan ponsel di meja kembali, ada suara bel berbunyi tanda ada tamu datang. Ibu Via langsung berlari menuju ke pintu. Dia berharap putrinya sudah pulang. Namun sungguh disayangkan, yang datang bukan putrinya. Melainkan dua orang berseragam polisi di depan pintu rumah.


"Selamat malam. Maaf mengganggu. Apakah benar ini rumah keluarga dari saudari Via?" tanya salah seorang polisi kepada ibu yang bingung dengan kedatangan polisi.


"I-Iya, Pak, betul. Saya Ibunya Via. Ada apa ya, Pak?" jawab ibu Via yang sangat khawatir dan bergantian mengajukan pertanyaan.


"Mohon maaf, Bu. Kami menginformasikan, jika putri Ibu mengalami kecelakaan di Jalan Simpang Lima. Saat ini, tim medis sudah membawa jenazah anak Ibu ke rumah sakit terdekat," jelas petugas kepolisian membuat ibu Via histeris.


"A-apa? Je-jenazah anakku? Apakah aku tidak salah dengar ini, Pak?" kata ibu Via mencoba menguraikan apa yang kedua polisi itu sampaikan.


"Iya, Bu, benar. Apakah Ibu mau ke rumah sakit bersama kami atau dengan suami Anda?" tanya kepolisian memastikan.


Bapak Via yang mendengar teriakan itu langsung berlari menghampiri istrinya yang memanggil. Seketika ibu Via pun pingsan tidak sadarkan diri mendengar kabar seperti itu. Terlebih, sedari tadi memang perasaannya tidak tenang. Ternyata ada hal buruk terjadi kepada Via.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, bapak dan dan ibu beserta petugas kepolisian akhirnya pergi bersama ke rumah sakit. Theo dan Fafa menangis di rumah mendengar kabar itu. Sebelum pergi, bapak sudah berpesan untuk menghubungi RT dan RW lingkungan perumahan untuk menyiapkan kedatangan jenazah Via.


...****************...


Hari ini, tujuh hari tepat kepergian Via. Setelah mengadakan tahlilan, keluarga Via pun kembali menutup pintu rumah rapat dan mencoba beristirahat. Sekitar tengah malam, angin bertiup kencang membuat gorden kamar orang tua Via terbuka. Seketika mata kantuk mereka teralihkan dan langsung kaget bangun untuk menutup gorden jendela.


Betapa terkejutnya bapaka saat gendak menutup gorden. Sekelibat terlihat sosok putrinya di depan jendela membuatnya teriak. "Apa itu, Bu!"


"Ada apa, Pak?" tanya ibu yang kemudian berdiri dan menatap jendela.


"Bapak ... Ibu ... sakit ... tolong Via ... panas ... panas ... sakit ...."


Suara kesakitan itu terdengar jelas. Bapak yang takut langsung berdiri di belakang ibu. "Bu ... suara apa itu tadi?" tanya bapak sambil menengok kanan dan kiri.


"Pak ... apakah itu suara Via, anak kita?"


"Ngawur aja, Bu. Via sudah meninggal. Tak mungkin bisa bicara!" sanggah bapak coba meredam ketakutan. Bukannya berani, arwah Via pun muncul tiba-tiba.


"Bapak ... Ibu ... tolong Via ... maafkan Via ...."


Melihat wujud anaknya yang berlumuran darah dan sekujur tubuh gosong karena terbakar, bapak dan ibu pun jatuh pingsan. Mereka terkejut dan tak kuasa melihat wujud arwah anaknya seperti itu. Bukan hanya orang tua Via yang didatangi, tetapi juga Theo dan Fafa, bahkan Yaya atau Setya yang menjadi kawan Via pun melihat penampakan menyeramkan itu.


Kelas tempat sekolah Via menjadi horor. Beberapa kali penampakan hantu gosong dan hantu gosong berlumuran darah terlihat di sana. Perwujudan Via dan Rama membuat kawan-kawan sekelas ketakutan dna tak berani memakai ruangan kelas itu.


Akhirnya mereka pindah kelas demi kenyamanan semuanya. Guru sudah mengusulkan pada kepala sekolah agar memanggil orang pintar, tetapi saat dilakukan, justru membuat panik para siswa. Karena takut banyak siswa mengacam pindah sekolah, akhirnya kepala sekolah meminta sekola memgosongkan kelas itu dan pindah ke kelas lain.


Teror arwah Via masih berlanjut. Dia menghantui orang tuanya seiring usaha laundry dan taksi online orang tuanya mulai sepi. Perlahan tetapi pasti, semua harta yang Dinda beri habis entah ke mana. Saat orang tua mencari keberadaan Dinda pun tidak ketemu. Hanya hamparan rumput luas di sana. Tempat yang dahulu adalah rumah Dinda, lenyap seketika. Mereka menjadi curiga dan ketakutan. Orang tua Via pun curiga jika Dinda dan Via melakukan sesuatu yang di luar logika. Sampai hari ke empat puluh, teror Via terus menghantui hingga ibu jatuh sakit dan harus dirawar di rumah sakit.


"Bu ... bertahan, ya. Ini segera berakhir. Semoga tidak ada hal mistis atau aneh-aneh lagi," lirih bapak pada istrinya untuk menenangkan wanita itu.


"Pak ... apakah putri kita ikut sesuatu dengan wanita yang bernama Dinda itu?" tanya ibu dengan berbisik


"Semoga saja tidak. Ibu tenang saja dulu. Pulihkan kesehatan," jawab bapak menutupi sesuatu. Tentu saja sebagai seorang kepala rumah tangga tidak akan membuat penghuni di rumahnya takut. Meski sebenarnya bapak sudah menyadari ada hal yang aneh dengan Via dan Dinda.


Bapak pun berpikir apakah benar Dinda menumbalkan Via? Atau justru Via yang menggunakan harta yang tak semestinya menjadi milik dirinya? Begitulah pemikiran bapak setelah menghadapi teror dari arwah anak sulungnya. Bapak dan ibu sangat takut kalau arwah anak sulungnya tidak tenang di dalam dunia lain. Bapak pun khawatir jika Via akan meneror keluarga dan kedua adiknya. Hal ini sangat mencurigakan. Apakah harus segala kekayaan yang Via dapatkan dikembalikan kepada pemiliknya? Ya, kepada Dinda yang menganggap Via menjadi anak angkatnya. Wanita misterius itu memang patut dicurigai.