
Pagi itu, hal menggemparkan terjadi. Salah seorang pegawai hendak membersihkan kamar yang digunakan Sugeng semalam. Betapa terkejutnya, Sugeng tergeletak di lantai dengan darah di kepala yang mulai mengering.
Telepon di kamar Satria berbunyi. Satria melangkah, lalu mengangkatnya.
"Hallo, ada apa ya?"
"B-Bos, maaf, ayah bos tak sadarkan diri di kamar. Cleaning service yang menemukannya. Beliau dalam keadaan bugil dan terluka di bagian kepala."
"Apa! Baik, aku segera ke sana!"
Satria menutup telepon itu dengan kasar. Bergegas memakai pakaiannya dan keluar kamar. Pintu ditutup dengan kencang. Ningsih masih tak berdaya di ranjang. Berharap keajaiban datang.
Banyak karyawan hotel berkumpul di depan kamar 313 tersebut. Satria datang dengan wajah panik serta cemas. Menyibak kerumunan orang, masuk ke kamar itu dan menemukan ayahnya terkapar.
"Panggilkan ambulance!" teriak Satria.
"Sudah, Pak. Sedang dalam perjalanan bersama polisi juga." ucap salah staff hotel.
"Apa? Bodoh kamu! Kenapa panggil polisi!"
Satria mulai panik. Mencoba menyadarkan ayahnya. Denyut jantungnya sangat lemah. Seakan sudah tak mampu berdetak. Tim medis dan kepolisian pun datang mengamankan tempat tersebut.
Sugeng segera dibawa ambulance ke rumah sakit terdekat. Satria hendak menyusul ayahnya, namun polisi menahannya sejenak untuk dimintai keterangan. Cleaning service yang menemukan kondisi Sugeng pun tak luput dari penyelidikan.
Polisi pun menggeledah beberapa ruangan yang dianggap mencurigakan. Sekaligus melihat rekaman CCTV dari bagian keamanan.
Satria semakin was-was. Khawatir akan keadaan ayahnya dan juga takut jika polisi menemukan Ningsih.
"Pak, apakah Anda kenal dengan wanita yang bersama korban semalam?" interogasi polisi dengan seksama.
"Tidak. Setahuku, ayah menginap karena lelah." Satria mencoba menutupi hal itu.
'Brengsek ******* itu! Dia harus mati!' kata hati Satria.
"Lalu, siapakah wanita ini?" polisi menunjukkan sepenggalan gambar dari CCTV.
"Anda ikut kami ke kantor. Saat ini status Anda menjadi saksi. Kami akan tindak lanjuti kasus ini." polisi membawa Satria pergi.
Sedangkan beberapa polisi lain menuju kamar yang digunakan Satria menyekap Ningsih. Beberapa kali polisi menekan bel kamar. Ningsih mendengar dan meronta sekuat tenaga di ranjangnya.
"Apakah ada kunci cadangan?" tanya seorang petugas kepada staff hotel.
"Ada, Pak." Staff hotel itu membukakan kamar.
Polisi dengan hati-hati melangkah masuk. Betapa terkejutnya mereka, menemukan seorang wanita terikat dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
"Segera amankan lokasi! Panggil ambulance!"
Polisi dan staff hotel beregerak cepat. Salah satu pegawai wanita pun datang membawa pakaian yang layak untuk dipakai Ningsih.
Ningsih merasa bersyukur. Terselamatkan dari sekapan ini. Namun hatinya berkecamuk mengingat Satria menyekap Reno dan Santi serta Wahyu dalam perjalanan ke Semarang.
Berita itu pun heboh! Restu Hotel & Resto Semarang: terjadi penyekapan menelan dua korban. Seketika menjadi viral! Meski media belum menyadari bahwa korban yang koma itu adalah Sugeng, namun mereka tetap mencari info siapa identitas ayah dari Satria, pemilik Restu Hotel& Resto.
Satria berusaha tenang dan mengirim pesan SOS kepada anak buah kepercayaannya saat digiring ke kantor polisi. Bahkan Satria sudah mengirimkan pesan untuk menghabisi wanita bayaran yang mencoba membunuh ayahnya.
Satria dengan licik dan lihat menutupi hal itu demi nama baik keluarga dan perusahaannya.
***
Ningsih menatap langit-langit berwarna putih di ruang ICU. Semakin lama, pandangannya mulai kabur. Antara sadar dan tidak, Ningsih masih berharap Bima datang.
Bima, tolong selamatkan anak-anakku. Aku takkan sanggup menghadapinya sendirian.
Ningsih hanya bisa berharap, nasib baik berpihak pada keluarganya. Ningsih oun tak sadarkan diri.
Bersambung ....