JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Ningsih dan Keluarga


Beberapa tahun kemudian ....


Wahyu sudah sukses menjadi psikiater dan memiliki klinik sendiri. Dia mengelola semuanya dengan senang karena bisa menjaga ibunya juga. Wahyu menjadi pemuda dewasa yang menawan dan Soleh. Dia sangat sopan dan perhatian kepada ibunya dan juga keluarga lainnya. Wahyu menjadi panutan dan sering kali diminta menemani Budi, tetapi Wahyu menolak karena ingin fokus pada kehidupannya sebagai psikiater.


"Wahyu ... kamu sudah telepon adikmu?" tanya Ningsih yang baru saja menata bunga mawar di taman belakang rumah.


"Sudah, Ma. Dia mau pulang akhir bulan sekalian libur akhir tahun. Baru balik urus perusahaannya pertengahan Januari, maybe," jawab Wahyu yang sudah mengenakan setelan jas berwarna hitam karena hendak menjadi pembicara di seminar 'Tolak Bunuh Diri-Save Me' di sebuah universitas.


"Wah, bagus kalau begitu. Mama sudah kangen sekali dengan Alex. Entah mengapa dia memilih di Australia daripada di Indonesia. Padahal berbisnis dan membuka perusahaan di sini juga bagus." Ningsih sangat merindukan anaknya.


Kehadiran Cahaya di hidup Ningsih membuat dia tidak terlalu tersiksa kerinduan akan Bima dan juga Alex. Ningsih tahu jika Alex sangat terpukul dengan kepergian Bima. Alex memilih kuliah di Australia untuk menenangkan diri. Setelah itu, dia bekerja dan membuka perusahaan sendiri dengan bantuan modal dari Wahyu. Ningsih paham jika puteranya masih ingin menyendiri. Namun, ibu mana yang tak merindukan anaknya?


"Mama sabar, ya. Nanti kalau Alex pulang, Wahyu akan bujuk dia. Mama tenang saja," kata Wahyu mencoba menenangkan.


"Apa? Kak Alex mau pulang? Horee! Aya mau minta oleh-oleh yang banyak, ah!" seru Cahaya yang langsung lonjak kegirangan.


"Ah, sayangnya Mama ... sudah nggak sabar, ya ketemu Kak Alex? Sabar, ya?" Ningsih langsung memeluk erat putrinya.


Putri yang dia besarkan bersama kedua anaknya yang lain. Tanpa kasih sayang seorang ayah. Meski begitu, Ningsih tahu jika Bima masih menyayangi dirinya dan keluarganya. Ningsih bisa merasakan itu, tetapi dia sudah tak bisa melihat Bima lagi. Dinding pembatas begitu besar dan tak bisa ditembus untuk bersama.


Wahyu menatap secercah kebahagiaan di mata ibu dan adik bungsunya. Kabar Alex akan ke Indonesia membuat keluarga itu terasa hangat.


"Ma, Wahyu berangkat dulu, ya?" pamit Wahyu pada ibunya sambil mencium punggung tangan wanita yang selama ini sudah berjuang keras menafkahi dan menjaga mereka.


"Iya, sayang. Hati-hati di jalan, ya!"


Ningsih dan Cahaya melambaikan tangan menatap Wahyu yang masuk ke dalam mobil dan segera melaju pergi karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sedangkan acara seminar itu mulai pukul sembilan.


Sepanjang perjalanan, Wahyu menyetir sambil tersenyum. Dia merasa Alex yang pulang akan menghapus kesedihan ibunya. Meski awalnya Wahyu harus berdebat dulu dengan adiknya. Alex sebenarnya tak ingin pulang karena ada beberapa proyek. Namun, berhubung Wahyu tahu Alex tak bisa menolak permintaan dari Lisa, Wahyu pun meminta agar Lisa membuat alasan agar Alex mau pulang.


Ya, rencana itu berhasil. Lisa yang sudah lulus SMA hendak kuliah di Australia menyusul Alex. Dia membuat alasan agar Alex mau pulang sekalian menjemputnya. Selama ini, Lisa selalu dikawal oleh Reno karena khawatir anak gadisnya salah bergaul. Namun jika ada Alex, Reno merasa tenang.


"Rencanaku berhasil, kan, Alex? Mama dan Cahaya senang hendak menyambutmu pulang. Lisa juga sangat senang. Jadi ... jangan kecewakan kami, ya," gumam Wahyu see sendirian.


Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Wahyu mengangkat panggilan itu sambil menyetir mobil.


"Hallo ... ada apa?"


"Hallo selamat pagi Pak Wahyu, ada tamu di kantor."


"Saya sedang perjalan ke tempat seminar. Acara hari ini saya ke universitas, kan?"


"Iya, Pak. Baik. Saya sampaikan ke tamu, ya?"


"Iya. Jadwalkan saja untuk bertemu besok."


"Baik, Pak."


Wahyu kembali fokus menyetir dan akhirnya sampai di tempat yang dituju. Dia langsung membawa tas berisi laptop, lalu berjalan ke tempat seminar akan dimulai.


"Pak Wahyu?"


"Ya, panggil saja Wahyu," jawab Wahyu sambil menengok ke arah suara itu.


"Saya Gladys. Kemarin sempat berbincang di telepon," ucap gadis cantik berambut hitam sebahu yang mengenakan setelan rok dan blezer merah.


"Oh, iya. Gladys, ya. Senang bertemu dengan kamu," kata Wahyu sambil mengulurkan tangannya.


Gladys menyambut tangan itu dengan jabat tangan yang hangat. "Ruangan seminarnya di sebelah sini, silakan, Tuan."


Gladys memanggil Tuan kepada Wahyu karena tak enak memanggil dengan sebutan Pak. Dia baru bertemu secara langsung dengan Wahyu dan ternyata pembicara seminar kali ini masih muda ... serta tampan.


"Gladys, terima kasih, ya."


Wahyu pun masuk ke ruangan. Dia mengikuti pembukaan acara seminar hingga waktu dia menjadi pembicara.


Gladys mengamati Wahyu tanpa henti. Dia merasa tertarik dengan lelaki itu. "Ternyata Tuan Wahyu masih muda dan tampan, ya. Wah ... aku ingin kenal lebih lagi," batin Gladys.


Wahyu tahu jika wanita itu menatapnya berkali-kali. Bukannya senang, Wahyu justru merasa risih.


...****************...


"Tuan ... sudah sampai air port."


"Baik. Terima kasih, Pak."


"Sama-sama, Tuan Alex. Sampai berjumpa tahun depan!"


"Siap, Pak."


Alex turun dari mobil berwarna hitam tersebut. Dia diantar oleh sopirnya pergi ke bandara. Hari ini, Alex hendak pulang ke Indonesia. Dia akan membuat kejutan kepada keluarganya. Terutama Ningsih--ibunya. Sesungguhnya, Alex sangat merindukan ibu, kakak, dan adiknya, juga dengan Lisa.


"Mama ... jangan sedih terus, ya. Aku sebentar lagi sampai rumah," gumam Alex yang menarik koper besar miliknya untuk segera sampai ke gate yang dituju.


Alex juga tak sabar bertemu Lisa. Gadis kecilnya sudah beranjak remaja. Lulus SMA dan merengek untuk kuliah di Australia karena ingin menyusul Alex. Lelaki itu sangat senang Lisa akan bersamanya, tetapi juga bingung dengan perasaan yang dia rasakan.


Selama ini Lisa dan Alex sangat dekat. Mereka sering bertukar cerita dan berkomunikasi intens. Seiring berjalannya waktu hubungan Lisa dan Alex seakan lebih dari sekedar keponakan dan paman. Apalagi Lisa sudah ABG alias anak baru gede. Tingkahnya sangat lucu dan menggemaskan bagi Alex. Kadang Lisa merajuk karena Alex sibuk dengan pekerjaan..


Alex selalu tertawa saat berkomunikasi atau Videocall dengan Lisa. Ada saja yang gadis itu ucapkan. Apalagi kalau membahas soal mistis, Alex bisa tertawa seharian karena Lisa.


Alex sudah berada di dalam pesawat setelah melakukan check-in di gate. Dia duduk di kursi sebelah jendela pesawat. Sudah tak sabar untuk pulang, Alex pun memilih tidur sejenak. Dia sudah membawa banyak oleh-oleh untuk keluarganya. Apalagi adiknya yang menggemaskan, si Cahaya. Alex sudah hafal karena setiap pulang, selalu diminta untuk membawa oleh-oleh.


"Sabar dulu ... sekarang aku mau tidur. Besok kita pasti berjumpa," kata Alex sambil memejamkan mata.


Pesawat pun terbang perlahan menuju ke Indonesia. Sebentar lagi Ningsih akan berkumpul bersama ketiga anaknya secara komplit.


...****************...


Lisa sudah mempersiapkan diri untuk menyambut Alex pulang. Dia tahu kemungkinan besok, Alex sudah sampai di rumah.


"Ah, baju ini nggak pantes. Pakai yang ini aja, ah. Hmmm .... ternyata ini norak. Pakai yang itu aja, kah?" gumam Lisa yang bingung hendak memakai pakaian seperti apa untuk bertemu dengan Alex.


"Wah ... anak Papa mau ke mana, nih?" tanya Reno mengagetkan Lisa yang sedang memilih pakaian.


"Papa ngagetin aja! Jadi malu, kan!" Lisa langsung mengemasi pakaian yang sedang dia pilih.


"Kenapa malu? Mau ketemu siapa? Anak Papa sudah besar, ya ...." ledek Reno kepada putrinya.


"Papa ... ihh ... sana keluar kamar aja. Lisa mau milih baju dulu ...." kata Lisa sambil mendorong tubuh ayahnya agar keluar dari kamar.


"Papa tahu ... kamu nunggu Alex, ya? Ciee ... apa anak Papa ini jatuh cintrong, ya? Sama Kak Alex, ya?" Reno masih menggoda putrinya dan membuat Lisa makin malu dan kesal.


"Papa! Ayo keluar ...." Lisa pipinya langsung memerah karena malu. Dia tak menyangka jika ayahnya tahu apa yang dia rasakan.


Apakah bisa Lisa mencintai Alex yang menjadi pamannya? Apakah mungkin hubungan mereka berjalan dengan baik? Namun, Lisa pernah menanyakan hal itu ke ayahnya. Kata Reno, mereka bersaudara bukan karena Oma Ningsih dan Oma Ratih kakak beradik, tetapi karena sahabat dekat. Itu berarti, Lisa masih ada kesempatan untuk bersama Alex. Itu yang Lisa pikirkan.


Maklum saja, bocah yang beranjak dewasa ... masa ABG adalah masa puber yang membentuk karakter seseorang. Lisa sangat menyukai Alex yang bisa menenangkan hatinya.


"Kak Alex ... aku senang Kakak mau pulang setelah aku meminta. Berarti aku spesial, dong ...." lirih Lisa sambil senyam-senyum sendiri.


Dia masih menatap cermin di almarinya. Senang tak terkira membuat Lisa lupa kalau selama beberapa bulan ini ada yang mengikutinya.


"Hi hi hi hi ... ada yang lagi senang, mau ketemu gebetan," lirih makhluk gaib yang mengikuti Lisa semenjak kelulusan SMA.


"Apa, sih?! Pergi sana!" Lisa cemberut menatap makhluk yang duduk di belakang Lisa, tepatnya di atas meja belajarnya


"Ngambeg cie ... jangan suka marah-marah ... nanti cepat tua ...." ledek makhluk itu pada Lisa.


"Heh! Malah hina, ya? Mau dimusnahkan?!"


"Kaburrr ... takut, ah."


Makhluk itu mengikuti Lisa karena tahu gadis itu memiliki kelebihan di atas manusia biasa. Lisa sebal sebenarnya karena makhluk itu hantu banci bernama Oben. Makhluk itu mengikuti Lisa karena tak sengaja Lisa menemukan dompet di dekat sekolah. Ternyata dompet itu milik Oben yang beberapa waktu lalu di jambret dan dibunuh oleh orang tak dikenal.


Oben yang meninggal secara penasaran pun ingin mencari tahu siapa penjambret yang tega membunuhnya. Dia mengikuti Lisa dengan harapan bisa mendapatkan bantuan. Meski begitu, Lisa tak bergeming. Dia tak mau membantu karena hal itu bisa membahayakan dirinya sendiri. Menyelidiki keberadaan penjambret tentu tidak akan mudah. Maka dari itu Lisa menolak.


Oben terus menghantui dan mengikuti Lisa karena bingung, siapa lagi manusia yang bisa dimintai pertolongan. Oben harus mengetahui siapa penjambret yang membunuhnya agar bisa berpulang dengan tenang.


...****************...


...Holla! Selamat tahun baru 2021 ya! Semoga suka tayangan ini!...