
Flashback Lee dan Kenangan di Merlion....
"Ayo Lee ke sebelah sini, bagus banget viewnya. Nanti kelihatan semua patung Merlionnya di foto," ucap seorang wanita berwajah oriental kepada puteranya.
"Iya, Ibunda. Ayo Ayah ikut foto," rengek anak kecil itu menarik tangan ayahnya.
"Pelan-pelan Lee... terus siapa yang ambil foto kalau mau foto bertiga?" jawab seorang lelaki berbadan besar, terlihat wajahnya lelah penuh perjuangan.
"Aku ada ide... taruh di sini saja, Ayah. Ayo foto bertiga," sorak Lee kecil yang sangat antusias berfoto bersama orang tuanya.
Lee meletakan kamera itu di atas kotak sampah besar. Dia menekan setting timer 10 detik. Lalu mengajak Ibu dan Ayahnya berpose bersama. Beberapa kali mengambil foto di Merlion membuat Lee sangat bahagia. Meski penduduk asli Singapura, dia baru sekali itu ke sana. Orang tuanya sangat sibuk. Ayah bekerja menjadi sopir bus kota sedangkan Ibu bekerja menjadi sekretaris sebuah kantor pemasaran perumahan.
Lee kecil menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah susun, sendirian. Orang tua Lee tidak mampun menyewakan pengasuh atau pembantu. Di usia hampir sebelas tahun, Lee belajar mandiri. Bahkan bisa memasak sendiri
Lima hari setelah pergi ke Merlion, Lee menyaksikan pertengkaran orang tuanya yang pertama kali. Padahal tiga bulan lagi Lee akan berulang tahun yang ke sebelas. Lee ketakutan dan gemetar sambil memeluk lututnya.
"Shit! Wanita ****** kamu ya! Tak berpikirkah tentang anakmu yang selama ini tak kamu perhatikan?" hardik ayah lee sambil menampar ibundanya.
Lee mendengar jelas pertengkaran mereka. Paling menyakitkan Lee mendengar pernyataan Ibunya.
"Tampar saja aku! Ini tidak akan mengubah keadaan apa pun. Sejak awal aku sudah bilang tak ingin anak lelaki. Aku bilang ingin gugurkan tetapi kamu menginginkannya. Urus saja anakmu itu. Aku hanya ingin anak perempuan tetapi kamu sudah imp*ten, cuih!" kalimat pedas keluar dari mulut Ibu, menyulut emosi Ayah.
Seketika beberapa bogem mentah ayah pun dilayangkan ke tubuh ibu. Ayah terpancing emosi karena membahas tentang Lee.
"Kamu boleh hina aku tetapi jangan mengatakan hal itu! Lee itu anak kita. Buah cinta kita." suara ayah bergetar seakan menahan rasa sedih.
"Buah cinta apa? Kamu memperkosaku agar bisa menikahiku! Dasar licik! Aku menyesal menikah denganmu!!" hardik ibu membuat Lee semakin pusing mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Ibu Lee sengaja berbohong. Memang Lee ada sebelum orang tuanya menikah, tetapi sempat ibunda hendak menggugurkan saat tahu bayi yang dikandungnya lelaki.
"Jangan alasan saja! Apa pun alasanmu tidak akan menyanggah kenyataan kamu sudah berselingkuh!"
"Iya! Aku selingkuh dengan direkturku. Kamu mau apa? Cerai? OKE!"
Kalimat itu terakhir yanh keluar dari mulut ibu. Setelah itu terdengar suara pintu dibanting keras. Lalu ayah membanting beberapa barang dan berteriak-teriak.
"Jal*ng! Wanita gila! Wanita jahat!! Pembohong!"
Setelah suara teriakan ayah hilang, tangis pun terdengar bergema di ruang tengah. Lee turun dari tempat tidurnya. Perlahan dia berjalan menghampiri ayahnya yang menangis tersedu-sedu.
"A... ayah...." lirih Lee sambil menyentuh pundak ayahnya yang berlutut tersungkur di lantai yang sudah berantakan.
"Lee..." ayah memeluk Lee dengan erat. "Tak apa Lee... maafkan ayah sudah marah-marah dan membuatmu takut."
"Ibu kenapa ayah?" tanya Lee dengan lugu.
"Tak apa Lee. Sabar ya. Terpenting masih ada ayah di sini."
Lee tak tahu jika itu awal perpecahan keluarganya.
Tiga Bulan Kemudian.... saat Lee berulang tahun, ibunya berjanji akan pulang setelah sekian lama tak terlihat.
Lee kembali kecewa. Dia merasa diabaikan dan dibuang oleh ibunya. Ayah mencoba menegarkan hati Lee. Namun cara yang Ayah tanamkan salah.
"Tenang Lee... abaikan saja wanita itu. Mulai sekarang dia bukan bagian hidupmu lagi. Dia berselingkuh dengan direktur yang lebih muda dan kaya raya. Alasan klasik para wanita meninggalkan pasangannya. Padahal setiap manusia pasti menua. Serta soal kekayaan itu relatif," ujar Ayah Lee sambil membuanh semua barang milik ibunda.
Sakit hati dan kepahitan menjadi dasar hidup Lee. Sejak saat itu, cara pandang Lee terhadap dunia menjadi berubah. Dia bersumpah akan menjadi kaya raya dan selalu awet muda dan tanpam agar tidak mengalami seperti ayahnya. Dia pun berjanji akan menghancurkan ibundanya beserta lelaki yang sudah merebut kebahagiaan Lee.
****
Balik ke Lee dan Ningsih.....
"Sayang, kamu nggak apa ke Merlion?" tanya Ningsih dengan hati-hati.
"Nggak apa, sayang. Ini yang aku mau. Merasakan bahagia yang sesungguhnya."
Mereka pun pergi ke Merlion bersama. Menikmati indahnya pemandangan pusat kota. Namun Lee tidak mengambil foto apa pun dari ponselnya. Setelah itu, mereka melanjutkan berjalan-jalan ke Marina Sand By hingga malam tiba.
Lee dalam kondisi mabuk, pulang bersama Ningsih dengan naik mobil yang dibawa anak buah Lee.
"Maaf, Nyonya. Tuan Lee memang seperti itu jika ke Merlion. Selalu saja mabuk parah," kata Lily bodyguard yang disiapkan Lee untuk menjaga Ningsih.
"Kenapa bisa begitu? Kata Lee dia tak pernah ke sana?"
"Iya, Nyonya. Benar. Namun Tuan Lee akan mabuk-mabukan parah walau hanya melihat atau lewat Merlion. Kenangan pahit belum hilang dari perasaannya," jelas Lily.
Ningsih pun menatap Lee yang tertidur. Dia pun jatuh iba kepada suaminya. Sesampainya di kamar, para anak buah Lee pun pergi termasuk Lily.
Lee terbaring di ranjang. Ningsih melepaskan sepatu Lee. Lalu saat hendak mengganti pakaian Lee, Ningsih terkejut saat Lee membuka mata. Dia mengamuk dan memaki.
"Sudah kumusnahkan kedua anakmu! Anak perempuan yang menghancurkan hidupku. Bahkan kumakan mereka. Tapi kenapa kamu selalu menguasai rasa kesakitan ini! Lihat semua perbuatanmu! Puluhan anak tak berdosa kupisahkan dari orang tuanya agar merasakan sepertiku! Kumakan mereka tanpa ampun! Lihat semua koleksi jari kelingking mereka di sini! Dasar wanita ******!" caci maki Lee yang mengira Ningsih adalah ibundanya.
Ningsih mundur dan gemetar ketakutan. Isi brangkas di kamarnya ternyata kumpulan jari kelingking korban kanibalisne Lee yang sudah diawetkan. Jari kelingking melambangkan janji yang harus ditepati.
Lee kembali tertidur dan tak sadarkan diri akibat mabuknya. Sementara Ningsih masih ketakutan harus tidur di samping kanibal. Takut jika Lee tak sadar dan memakan tubuh Ningsih.
"Lee... sebentar lagi semua dendam dan penderitaanmu akan berakhir. Tenang saja. Aku akan membantumu terbebas dari kesakitanmu. Benar yang Bima katakan. Kamu adalah sasaran yang tepat setelah empat tahun ini. Kamu membutuhkan bantuan keluar dari kehidupan yang tak adil dan menyedihkan ini," gumam Ningsih menatap Lee yang tertidur setelah memaki.
****
Di sisi lain...
Reno merasa galau dan gelisah menunggu kabar Ningsih di Singapura. Berada di Jakarta adalah pilihan terbaik bagi Reno agar bisa menyanding tantenya yang sudah lama tak dilihatnya. Namun, Ningsih beralasan ada acara bisnis selama seminggu di luar negeri.
Reno menahan rasa cemburu membayangkan Ningsih dengan Lee. Pemuda berusia dua puluh tahun ini masih mendamba tantenya. Meski cinta dan rasa yang salah, dia tetap meyakini hal itu benar adanya.
Cinta bukan hal yang salah jika jatuh pada orang dan saat yang tepat. Namun cinta juga menjadi neraka jika berada pada orang dan waktu yang salah. Perasaan yang disebut cinta itu sering menggerogoti kewarasan serta mematikan logika.
Bersambung....