
Hai guys apa kabar? Semoga sehat selalu. Sebelum baca lanjutan kisahnya, Author mau tanya nih. Pada suka kisah cintanya siapa?
Bima & Ningsih
Lee (Evan) & Lily
Reno & Nindy
Joko & Santi
Boy & Dinda
Jangan lupa jawab di kolom komentar, ya!
Dukung selalu Author bekarya dengan Like, Vote/Tip, SHARE ke akun sosial kalian, serta selalu baca kelanjutan ceritanya.
Selamat membaca!
π PENDING PERNIKAHAN? π
Pagi hari yang indah, Reno sudah bangun lebih awal menanti Nindy yang semalam menggantungkan jawaban. Reno sebenarnya bingung antara cinta beneran atau hanya iseng belaka. Namun, semakin hari ... Nindy membuatnya selalu terbayang.
"Nindy, selamat pagi," sapa Reno saat Nindy keluar dari kamarnya.
"Astafirullah ... ngagetin aja Kak Reno. Kok tumben jam segini sudah bangun?" kata Nindy yang terkejut melihat Reno di depan kamarnya.
"Jangankan bangun, tidur pun belum. Nindy kenapa semalam nggak jawab pertanyaanku?"
"Suruh siapa nggak tidur, iiih. Emang Kak Reno tanya apa sih? Nindy semalam ketiduran," ucap Nindy yang berbohong. Dia ingin melihat bagaimana Reno mengatakan langsung perkataannya semalam.
"Nggak ada yang nyuruh sih, cuma galau aja nggak dijawab. He he he he ... tumben nih Nindy galak amat, lagi mens?"
Reno tersenyum, iseng. Nindy pun malu dan merajuk. "Apaan sih Kak Reno tuh nggak lucu deh! Udah ah, aku mau bantu masak. Dah ya ...."
Nindy melewati Reno yang menatapnya tak berkedip. Gadis itu membuat Reno gemas. Saat Reno mau ke teras, Joko menarik tangan Reno. Reno pun kaget.
"Ada apa Bang?"
"Sini, Den Reno yakin dah sehat?" selidik Joko, hampir membuka punggung baju Reno. Lalu Reno mencegahnya.
"Apaan Bang? Reno baik-baik aja. Jangan buka-buka, Bang. Masih pagi. He he he," ledek Reno membuat Joko bermasam muka.
"Emang aku apaan? Bang cuma mau mastiin lebamnya beneran hilang atau muncul lagi. Bang masih penasaran soalnya. Aneh banget loh."
"Bang Joko, kalau Reno sakit terus sembuh, lah bersyukur kan. Bang nih paranoid amat. Ikut bersyukur napa? Oiya, Bang kalau ini Reno mau ngomong serius. Nindy itu kira-kira lulus SMA mau nggak ya nikah ama Reno?"
Reno menengok kanan kiri sambil berbisik pada Joko. Joko justru tertawa dan menjawab dengan kencang.
"Ha ha ha ha ... Den Reno kok tanya sama saya? Tanya sama Nindy langsung lah. Den Reno seriusan sama adik saya?"
"Reno sih serius. Kalau nggak ngapain tanya Bang Joko. Takut lah ntar digampar. he he he ...."
Saat asyik mengobrol, Nindy pun muncul dan membuat Reno dan Joko terkejut sampai melompat.
"Hlo kok pada kaget? Ngomongin apa Bang sama Kak Reno?" selidik Nindy.
"Nggak apa ... Nindy dah selesai masak kah?" tanya Joko mengalihkan pembicaraan sedangkan Reno jadi salah tingkah.
"Gasnya abis, Bang. Biasanya ada yang kirim stock tapi belum datang. Bang beliin donk."
"Nindy tu lucu. Bang kan bukan orang sini. Mana tahu tempat beli gas. Tanya ama Reno aja nih. Bang mau nyuci mobil dulu, ya," kata Joko sambil menahan tawa lalu pergi ke garasi. Sengaja meninggalkan Nindy dan Reno berdua. Membuat keadaan semakin canggung.
'Dasar Bang Joko malah kabur. Udah tahu Nindy lagi merajuk," batin Reno menatap Joko pergi.
"Kak, berarti Kak Reno yang disuruh Kak Santi beli gas. Nindy masuk dulu ya," lirih Nindy langsung masuk ke rumah.
Reno pun bertanya-tanya. Semua menjadi tak menentu di hati Reno.
***
Setelah sarapan, siang harinya pun Nindy selalu menghindar dari Reno. Dua hal yang Reno pikirkan. Pertama, mungkin Nindy marah karena nonton film dewasa. Kedua, mungkin Nindy marah karena pertanyaan Reno mengajak menikah.
Reno jadi bingung dan uring-uringan di kamarnya. Sedangkan Bima dan Tante Ningsih pergi bersama Bapak Ibu dan Wahyu serta Mak Sri.
"Gimana sih? Chat nggak ya? Duh, gimana sih," gumam Reno sambil gulung sana sini di kasurnya.
Nindy: [Kak Reno ... Nindy mau ke swalayan sama Kak Santi and Bang Joko. Mau ikut, nggak?]
Suara satu pesan diterima membuat jantung Reno berdegub kencang. "Yes! Akhirnya Nindy chat juga. Pasti dia kangen aku," ucap Reno dengan percaya diri tinggi.
Setelah membalas pesan Nindy, Reno bergegas ganti pakaian dan memakai jaketnya. Memang tubuhnya sudah tak terasa sakit, tetapi cuaca Yogyakarta yang belakangan ini sering mendung membuat Reno kedinginan.
Santi dan Nindy sedang bercanda di teras. Menunggu Joko menyiapkan mobil. Mereka memakai mobil Civic hitam pemberian Tante Ningsih dahulu. Lebih enak memakai mobil kecil dari pada mobil sebesar Pajero atau Avanza. Terlebih mereka cuma berempat.
"Non Santi, sudah siap mobilnya," kata Joko berlari kecil ke teras.
"Okay, Bang!" sahut Santi yang bangkit berdiri.
Nindy menengok ke dalam rumah, pas Reno sudah bersiap dan menyusul ke teras.
"Aku hadir! Ayo berangkat!" kata Reno semangat, matanya berkedip ke arah Nindy.
Nindy mencoba biasa saja dan berjalan ke dalam mobil. Santi dan Joko hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua.
"Nindy ...." sapa Reno.
"Hmm ...."
"Kok cuma hmm sih? Sariawan?"
"Nggak."
"Marah?"
"Ngapain marah?"
Ternyata Nindy masih dingin. Reno pun memutar otak. Apa yang Nindy pikirkan dan Reno hendak menurutinya jika tahu.
"Yaudah, aku ulangi pertanyaan semalam di hadapan Kak Santi dan Bang Joko, ya." ucap Reno dengan sepenuh hati.
"Eh? Jangan. No!" cegah Nindy yang terlihat malu, mukanya mulai merah.
"Hla kenapa? Tadi malam nggak dijawab, sekarang diem aja and ketus. Reno salah apa?" tegas Reno. Santi dan Joko menyimak saja sambil melajukan mobil ke arah swalayan.
"Nggak salah, iih. Nindy cuma lagi males aja," jawab Nindy dengan bibir manyun lima senti.
"Tuh kan, nggak ada alasan jelas. Oke, Reno mau minta izin Kak Santi ama Bang Joko. Reno mau ..." belum selesai Reno bicara, Nindy pun berusaha membekap bibir Reno agar tidak melanjutkan perkataannya.
"Ssst ... diem napa. Bikin malu, Kak," cicit Nindy.
Santi dan Joko pun tertawa melihat kelakuan adiknya. Mereka sebenarnya sudah tahu, tetapi pura-pura tak tahu. Reno sudah curhat dengan Bang Joko, sedangkan Nindy curhat pada Kak Santi.
"Sudah, jangan bertengkar. Reno mau ngomong apa sih? Kakak sama Bangk Joko jadi penasaran 'kan," kata Santi menengahi pertengkaran dua anak baru gede itu.
Seketika Nindy pun melepaskan tangannya dari Reno. Merasa malu dan terpojok, Nindy hanya diam.
Reno melirik ke arah Nindy dan tersenyum, "Gini Kak Santi, Bang Joko, Reno mau minta izin menikah dengan Nindy setelah Nindy lulus SMA. Boleh 'kan?"
Seketika Nindy bagai kepiting rebus. Di luar pemikiran, jawaban Santi membuat Reno kecewa.
"Nggak boleh," tegas Santi.
"Hlo kenapa Kak? Reno kan sudah mapan. Nggak akan kekurangan finansial dan Nindy pasti Reno jaga," ucap Reno membela diri.
"Ya nggak boleh karena peraturan negara minimal wanita menikah usia 20 tahun. Jadi Reno harus nunggu Nindy genap usia. Nggak usah aneh-aneh dulu!" jelas Santi dengan nada mengancam..
Teringat kejadian Reno dan Tante Ningsih membuat Santi lebih waspada terhadap adik tunggalnya. Reno pun murung.
"Yah, nunggu dua tahun lagi, dong. Nindy varu umur 18 tahun kan?"
"Ya. Harus sabar. Nggak boleh macem-macem. Awas aja kalau main-main, Kakak nggak mau anggap kamu adik!" pungkas Santi membuat Reno semakin pupus harapan.
"Betul. Kalau macem-macem ntar Bang dan Abah turun tangan," imbuh Bang Joko membuat Reno takut.
"Busyet! Bang kok ikut-ikutan? Belain Reno biar cepet nikah, napa?" kata Reno tak mendapat pembelaan.
"Nah, udah dijawab ama Kak Santi and Bang Joko. Itu yang buat Nindy diem aja. Karena tahu nggak semudah itu Kak Reno ajak nikah. Maaf ya, Kak," lirih Nindy mengakhiri pembicaraan sepanjang perjalanan ke swalayan.
Sesampainya di swalayan, mereka turun dan berbelanja kebutuhan rumah. Reno berjalan di samping Nindy dengan wajah murung. Menahan kecewannya. Dia kira bisa menikah muda asal sudah mempunyai usaha mapan dan pemasukan tetap. Ternyata tidak semudah bayangan Reno.
Reno memandang wajah Nindy yang terlihat tenang saat memilih barang belanjaannya. "Kak Reno mau beli apa?"
"Oh, mau beli cinta dan kasih sayangmu, bisa? Belinya bukan dengan uang tapi dengan janji suci saat ijab," celetuk Reno membuat Nindy malu.
Bersambung....