
...🔥 PERDEBATAN 🔥...
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Budi dan Santi sampai ke tempat tujuan pertama yaitu rumah sakit di mana Nindy dan Tante Ningsih dirawat. Mereka berdua langsung ke tempat informasi dan pendaftaran untuk menanyakan ruang bangsal kedua orang tersebut berada. Setelah mengetahui ruangannya berada di gedung yang berbeda, mereka memutuskan untuk mengunjungi Tante Ningsih terlebih dahulu karena gedungnya lebih dekat.
"Sayang, semoga Tante Ningsih baik-baik saja, ya. Wahyu bilang kalau mamanya itu sudah membaik setelah sadar dari koma," ucap Santi resah sambil memegang tangan Budi.
"Iya, Sayang. Kita berdoa yang terbaik untuk mereka. Soal Reno, nanti aku bantu agar bisa menyelesaikannya." Budi menenangkan istrinya.
Mereka berjalan perlahan ke arah bangsal di mana Ningsih dirawat. Budi semakin khawatir dan detak jantungnya mulai memburu. Sebentar lagi bertemu dengan wanita yang selama ini ada di hatinya. Meski sebuah rasa terlarang, tetapi bagaimana Budi bisa mengusir rasa cinta yang singgah begitu saja selama waktu tahunan? Kadang cinta memang tak bisa dilogika. Awalnya Budi mengira rasa itu akan hilang seiring berjalannya waktu dan setelah dia menikah, memiliki keluarga. Namun ternyata tidak. Rasa itu masih bertahta di hati Budi.
Sampailah di depan bangsal tempat Ningsih dirawat. Budi mengetuk pintu itu dengan menahan rasa gugupnya. "Assalamualaikum ...."
"Wa'alaikumsalam," jawab Wahyu sambil membuka pintu. "Wah, Om Budi dan Kak Santi datang. Silakan masuk ke sini. Mama, ada Om Budi dan Kak Santi," seru Wahyu senang melihat ada yang menjenguk ibunya.
Budi dan Santi pun masuk ke dalam kamar bangsal. Budi sudah membawa dua parcel buah. Satu untuk Ningsih, satu untuk Nindy. Seperti itu mereka berusaha tetap bersikap adil.
"Tante Ningsih, bagaimana keadaan Tante? Maaf kalau kami baru ke sini sekarang," ucap Santi mengawali pembicaraan.
Ningsih pun tersenyum menatap Santi yang datang bersama Budi. Meski awalnya Ningsih merasa mereka mungkin tidak akan menengok keadaan Ningsih, tetapi ternyata mereka berdua masih memedulikannya. "Tidak apa-apa, Santi. Kalian sudah ke sini pun Tante merasa bahagia. Apakah kalian sudah menengok Nindy dan juga Reno?" tanya Ningsih kepada Santi tanpa menatap Budi. Dia tahu jika Budi memperhatikannya sedari tadi.
"Belum, Tante. Kami mengutamakan ke sini karena khawatir Tante yang baru saja sadar dari koma. Apa yang Tante rasakan sekarang?" Santi sangat perhatian dan terlihat cemas menatap Tante Ningsih.
Bagaimanapun keadaannya, beliau sudah sangat berjasa dalam kehidupan Santi dan juga Reno. Ketika orang tua mereka pergi dan menghilang, hanya Ningsih satu-satunya yang masih memperhatikan dan merawat mereka. Hal itu yang membuat Santi tidak bisa terlepas dari kehidupan Tante Ningsih.
Meski sebenarnya kehidupan Tante Ningsih itu sangat berliku dan membuatnya selalu terlibat dalam hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Namun apa boleh buat, itulah jalan yang ditempuh sebagai keluarga yang utuh. Melihat keadaan Tante Ningsih yang sekarang membuat Santi tak henti-hentinya bersyukur kepada Sang Pencipta karena mengubah jalan hidup tantenya. Tidak seperti ibunya dahulu yang berakhir diambil makhluk gaib, meninggal secara tiba-tiba dan mengenaskan. Setidaknya Tante Ningsih sudah memilih jalan terbaik untuk memulai kehidupannya yang baru.
"Terima kasih banyak, Santi dan juga Budi. Maaf kalau Tante merepotkan kalian dengan kabar seperti ini. Pasti kalian sangat cemas dan khawatir. Maaf ya di sela-sela kesibukan kalian sampai menyempatkan diri ke sini. Terima kasih banyak atas perhatiannya," ujar Tante Ningsih dengan senyum manis di bibirnya.
Mereka pun berbincang sejenak. Budi hanya tersenyum menatap Ningsih yang terlihat sudah membaik kondisinya. Lelaki itu tak berani berucap apa pun karena takut salah kata. Dia memendam rasa syukurnya dalam lantunan doa karena Allah menyelamatkan wanita yang dia cintai.
Santi pun lega karena kondisi Tante Ningsih setelah sadar dari koma semakin membaik. Setelah dirasa cukup, mereka pun pamit untuk segera mengunjungi Nindy. "Tante Ningsih, kami pamit dahulu, ya. Oh iya, Wahyu, kami ada sedikit keperluan bisakah berbicara di luar sebentar?" Santi memohon pamit.
"Ya, Kak. Mama di sini dulu, ya. Wahyu ke depan sebentar," ucap Wahyu dengan sopan. Dia pun segera keluar dari bangsal.
Santi dan Budi yang sudah berpamit dengan Ningsih pun keluar dari bangsal. Mereka menanyakan terkait soal Nindy dan Reno. "Wahyu, kami ingin mengetahui cerita secara detail dari awal hingga saat ini. Tolong jelaskan," kata Budi dengan tatapan serius.
"... begitu ceritanya, Om Budi dan Kak Santi. Jadi, kondisi Kak Nindy memprihatinkan. Tiap melihat aku, Kak Nindy seperti takut atau malu. Dia langsung meminta asistennya menyuruhku pergi. Maka dari itu, aku tidak ke sana lagi. Kak Reno akhirnya menjadi penjamin agar Kak Nindy tidak dibawa atau diinterograsi karena kondisi fisik dan psikisnya terguncang." Wahyu menjelaskan semuanya secara detail. Sampai soal pihak kepolisian yang sudah menemui dan menginterograsi Ningsih.
Setelah dirasa sudah cukup info, Santi dan Budi pun pamit untuk mengunjungi Nindy terlebih dahulu. Mereka berjalan ke arah bangsal di mana menjadi tempat untuk merawat Nindy. Setelah sampai di depan bangsal, Santi mengetuk pintu dan mengucap salam. Beberapa menit kemudian, seorang bibi membukakan pintu.
"Ya, siapa? Oh, Tuan Budi dan Nyonya Santi? Silakan masuk," ucap bibi mempersilakan.
"Nindy ... maaf kami baru datang ke sini. Bagaimana kondisimu?" tanya Santi dengan lirih.
"Keluar," jawab Nindy tidak ramah. Wajahnya berpaling, tidak ingin melihat Budi dan Santi yang datang menjenguknya.
"Nin-Nindy ... kumohon jangan seperti ini ...." Santi mendekati ranjang untuk tempat tidur Nindy. Namun, Nindy tetap tak ingin melihat mereka.
"Keluar! Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihat kalian!" seru Nindy sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanda mengusir mereka keluar.
Santi yang hendak bicara segera dicegah oleh Budi. "Sudah, baiknya kita keluar saja. Bibi, kami titip parcel ini, ya. Semoga Nindy mau memakan buahnya. Kami pamit dahulu. Terima kasih. Segera sembuh, Nindy," kata Budi menengahi kondisi yang mulai tidak kondusif itu.
Terpaksa Santi dan Budi keluar dari bangsal karena Nindy tidak menginginkan bertemu mereka. Nindy menjadi bersikap aneh sejak tersadar dari pingsannya. Patah tulang dan beberapa bekas luka, serta tertekan karena tidak bisa menerima kenyataan kalau dituduh sebagai tersangka penusukan membuat psikis Nindy terguncang. Reno yang kasihan terhadap istrinya, akhirnya berkorban menjadi penjamin Nindy.
"Kenapa Nindy seperti itu, sih? Kasihan Reno kalau begini. Abah dan Ibunya juga ke mana? Kenapa tidak menbantu menasehati putrinya yang manja dan tak tahu diri itu," gerutu Santi yang kesal niat baiknya ditolak mentah-nentah.
"Astagfirullah, Mama. Jangan berpikir dan berucap seperti itu. Nindy saat ini sedang terguncang. Kita maklumi saja. Lebih baik sekarang segera ke Reno untuk membantunya keluar dan menutup kasus ini secepatnya agar bisa fokus pada pemulihan kondisi Ningsih dan Nindy." Budi pun memberi solusi yang logis. Santi yang sebenarnya kesal dengan adik iparnya pun terdiam mengikuti apa yang suaminya katakan.
Memang bagi Santi, Nindy sejak dulu hanyalah gadis manja. Sialnya, adik semata wayangnya menyukai gadis seperti itu. Tidak bisa ditolak, Santi merestui saja agar adiknya bahagia. Ternyata setelah berkeluarga pun sifat Nindy tidak berubah, justru makin menjadi-jadi. Hal itu sangat menyebalkan bagi Santi karena dia adalah wanita yang mandiri. Melihat orang manja dan banyak tingkah, lama-lama membuatnya geram. Apalagi kasus saat ini membuat adiknya berurusan dengan kepolisian.
"Sayang, sabar, ya. Kita pasti bisa bawa pulang Reno. Jangan berpikir banyak hal, aku khawatir kamu sakit. Reno pasti baik-baik saja," ujar Budi sepanjang perjalanan ke kantor polisi untuk meyakinkan istrinya bahwa adiknya akan segera dibawa pulang.
Santi bersyukur memiliki suami yang bisa mengayomi. Suami yang menjadi imam keluarga dan panutan banyak orang. Santi senang menjalani kehidupan bersama Budi dan putri mereka. Seakan banyak orang iri kepada Santi karena Budi memang sosok idaman wanita. Bagaimana tidak? Budi tampan, baik, berakhlak mulia, senang membantu orang lain, pandai, dan menjadi pemimpin sekaligus pemilik pesantren.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu bisa menenangkan hatiku yang gundah," gumam Santi sambil bergelanyut manja di tangan kiri Budi. Budi tersenyum sambil menyetir mobil ke arah kantor polisi. Melihat istrinya bahagia, membuat Budi bahagia juga. Meski rasanya, dia lebih bahagia saat melihat Ningsih tersenyum tadi.
Rasa cinta yang tak berlogika membuat Budi kadang tak bisa berpikir jernih. Soal hati, mengapa dia selalu merasa sesuatu saat Ningsih tersenyum di hadapannya. Budi masih menyukai Ningsih lebih dari perasaan pada istrinya. Salahkah perasaan yang hadir dan tinggal selama bertahun-tahun di hatinya? Budi sendiri tak kuasa dengan perasaan itu.
Sesampainya di kantor polisi, Budi mengajak Santi masuk. Mereka mencari bagian penyelidikan kasus dan meminta izin bertemu Reno serta mengurus hal itu agar Reno terbebas. Keadaan di penjara sangat berbeda dengan kantor polisi biasa, bukan?
"Pak Ustad Budi? Anak almarhum Kyai Anwar, ya?" tanya salah seorang polisi yang ternyata menjadi kepala kepolisian di sana.
"Iya, Pak. Salam kenal. Mohon maaf jika kami ke sini. Saudara Reno adalah adik dari istriku. Soal ini, apakah bisa kami selesaikan tanpa ada tahanan di sini, Pak?" Budi dengan sopan membicarakan hal itu. Karena kepala kepolisian itu kenal akrab dengan almarhum Kyai Anwar, dia pun membantu agar kasus itu segera ditutup.
Mereka berbincang banyak hal dan segera menandatangani berkas soal penutupan kasus dan penjamin. Reno pun dibawa keluar dari sel tahanan. Santi bersyukur semua berjalan dengan baik. Reno bisa pulang bersama Santi dan Budi.
"Terima kasih banyak, Pak atas bantuannya." Budi menjabat tangan polisi tersebut.
"Sama-sama, Pak. Sudah sepatutnya saya membantu. Apalagi Anda anak dari guru Kyai Anwar."
Mereka pun berpamit pergi setelah menyelesaikan semuanya. Reno langsung memeluk kakaknya. "Kak Santi, maaf jika aku merepotkan. Terima kasih sudah membantu." Santi senang adiknya bisa keluar dari tahanan.