
π TUGAS YANG TAK MUDAH - PART 1 π
Bima keluar dari Neraka Lapis Keenam, setelah membuat kesepakatan dengan Tuan Asmodeus. Dia merasa tugas ini bukan hal yang mudah karena mencari perawan di zaman seperti ini sangat sulit. Bima pun mulai perburuannya, demi menyelamatkan Ningsih.
"Waktumu hanya sampai sebelum purnama untuk mengumpulkan ketujuh darah perawan." ucapan Tuan Asmodeus terngiang di pikiran Bima.
"Bagaimana aku bisa mengumpulkannya dalam waktu dua puluh hari? Ah, aku harus putar otak," gumamnya sambil berjalan di sebuah kota yang tentunya jauh dari tempat tinggal Ningsih.
Bima sengaja mencari tumbal di Semarang, yang jauh dari Jakarta ataupun Yogyakarta. Bima berjalan pada pusat kota, dekat dengan alun-alun. Lalu berhenti memandang keramaian kota. Ada sebuah gereja tua di sana. Lalu ada pula bangunan Belanda yang terkenal keangkerannya. Bima terdiam menatap gedung berpintu seribu itu.
"Kalian tak bisa bebas dari gedung itu, ya? Kasihan ... manusia justru mempertahankan bangunan itu dan membuat kalian tetap terperangkap," gumam Bima yang duduk menghadap gedung megah nan horor itu.
"Kamu juga bisa melihat mereka?" ucap seseorang yang ternyata duduk di samping Bima.
"Oh, iya ...." jawab Bima yang terkejut dengan wanita yang tiba-tiba di sampingnya, tetapi berusaha biasa saja.
"Kukira, cuma aku yang bisa melihat mereka. Ternyata ada bule indo yang bisa lihat mereka juga, ya?" kata wanita itu sambil tertawa.
"Wanita aneh. Kenapa ngajak ngomong? Nggak kenal, 'kan?" ucap Bima dengan cuek.
"Ha ha ha ... tenang aja, aku cuma senang bicara sama makhluk gaib, kok. Malas banget kalau bicara sama manusia. Iya, nggak? Iblis ...." lirihnya saat mengucapkan kata terakhir.
Bima kaget karena wanita itu tahu dirinya Iblis. Bima pun menatap wanita itu dengan tajam. "Siapa kamu?"
"Aku? Bukan siapa-apa. Sudah dulu, ya. Kamu nggak akan mendapatkan apa yang kamu cari di sini. Kamu salah terka, mana ada wanita waras yang mau menyerahkan diri untuk jadi tumbal iblis, kecuali pacarmu." pungkas wanita menyebalkan itu yang kemudian bangkit berdiri, berjalan meninggalkan Bima yang masih mencerna perkataannya.
"Hei! Apa maksudmu? Dasar, gila!" gertak Bima pada wanita yang pergi meninggalkannya begitu saja.
Bima semakin galau karena perkataan itu. Siapa yang mau menjadi tumbal? Wanita perawan yang ingin menjadi pengikut Iblis, apakah ada? Bima pun teringat pada tempat pesugihan di sebuah desa terpencil. Masih banyak orang yang percaya hal pesugihan di sana, Bima segera pergi dari kota itu.
***
Seorang lelaki dengan pakaian serba hitam sedang komat-kamit di hadapan dua orang wanita. Bima tiba-tiba datang di tengah mereka.
"HAI, DUKUN! KALAU ADA YANG MENCARI PESUGIHAN DAN MASIH PERAWAN, TUANKU MAU." kata Bima to the point kepada lelaki yang ternyata seorang paranormal.
"Mit, komat, kamit ... jin setan penguasa datanglah! Oh, sudah datang belum diundang? Ada manusia mau menjadi abdimu ...." kata paranormal yang bernama Ki Botak.
"Ki Botak, sudah datang jinnya?" lirih seorang wanita yang lebih tua.
"Sudah, dia cari pengikut yang masih perawan. Kamu atau adikmu, perawang nggak?" tanya Ki Botak yang berambut gondrong.
"I-iya, Ki. Saya masih perawan. Adik saya juga." ucap wanita yang bernama Hera sambil melirik ke Della, adiknya.
"Hal ini bukan main-main, ya. Biar Tuan Jin yang cek dulu. Mit, komat, kamit ... Tuan mau dengan mereka? Cek dulu ...." kata Ki Botal sambil melirik ke arah Bima.
Bima menatap dua wanita yang belum bisa melihatnya. Kedua wanita itu benar masih perawan. Bima pun tersenyum, senang.
"MEREKA BENAR MASIH PERAWAN. PESUGIHAN APA YANG MEREKA INGINKAN? TUANKU PASTI SUKA." tegas Bima dengan seringai yang mengerikan.
"Pesugihan kalian akan disetujui. Apa yang kalian inginkan?" tanya Ki Botak pada kakak beradik itu.
"Kami ingin Ibu kami sembuh dan kami bisa kaya raya agar tidak ada yang menghina kami lagi." ucap Hera dengan tegas.
"Iya, Ki. Kami lakukan ini agar Ibu kami sembuh. Apakah Jin itu bisa?" imbuh Della dengan mata penuh harap.
"IBUNYA SAKIT KANKER STADIUM AKHIR. RUMAH MEREKA DISITA BANK. AYAH MEREKA NIKAH LAGI DENGAN ORANG YANG DULU MENJADI PEMBANTU DI RUMAH MEREKA. KASIHAN SEKALI. AKU AKAN BANTU, TETAPI SYARATNYA ADALAH TUJUH TUMBAL DARAH PERAWAN. MEREKA BERDUA PERAWAB, JADI MEREKA HARUS MENCARI LIMA LAINNYA." pungkas Bima memberi syarat dan disampaikan kembali oleh Ki Botak sesuai perkataan Bima.
Hera dan Della saling menatap. Mereka berpikir sejenak. "Kurang lima wanita perawan untuk syarat, asalkan Ibu bisa sembuh ... aku harus berusaha," batin Della yang takut kehilangan ibunya.
"Kak, iya saja. Aku juga akan berusaha mencari yang mau dibayar keperawanannya. Bukankah kita akan kaya juga? Ibu pasti sembuh, 'kan?" ucap Della pada Hera.
"Iya, Dek. Ki Botak, kami setuju."
Setelah persetujuan itu, mereka mulai mengikuti ritual untuk pengikat perjanjian dengan Bima yang mencari tumbal pada Tuan Asmodeus. Bima senang bisa mendapatkan kemudahan mencari tumbal yang Tuan Asmodeus mau.
"NINGSIH, SABAR YA. SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA." batin Bima membayangkan istrinya di sana.
***
Opening N & B Resto ....
BUY TWO GET ONE FREE itulah yang terpampang di depan resto Ningsih. Menarik perhatian para karyawan maupun pelajar sekitar resto.
"Selamat siang, silahkan pesan di sini!" ucap kasir dengan ramah saat ada pelanggan masuk ke resto.
N&B Resto merupakan fast food gabungan dari makanan fenomenal yang tentunya dengan harga terjangkau. Menjadi gebrakan baru di bidang kuliner pinggiran Kota Jakarta. Hal itu jelas menarik perhatian, termasuk orang sekitar yang menjadi iri pada Ningsih.
"Ningsih, tadi ada seorang wanita separuh baya yang menitipkan kotak ini untukmu. Katanya, 'Selamat atas bukanya resto di sini' begitu." ucap Joko membawa kotak dengan pita warna emas.
"Wah, baik sekali. Namanya siapa?" jawab Ningsih yang segera menerima kotak itu.
"Entah, hanya saja wanita itu berjalan ke arah sana," kata Joko menunjuk ujung jalan.
Ningsih tak berpikir buruk tentang hal itu. Dia segera membuka kotak itu di depan resto. Betapa terkejutnya Ningsih, isi kotak itu adalah kecoa!
"Joko!" teriak Ningsih sambil melemparkan kotak itu dan kecoa berhamburan terbang menuju got terdekat.
Ningsih loncat kepelukan Joko. Joko dengan sigap menangkap bosnya. Tak disangka, opening itu membuat orang iri dan membuat Ningsih ketakutan dengan hadiah kecoa di dalam kotak.
"Jahat banget ibu-ibu tadi! Biar kucari orang itu!" tegas Joko sambil melepaskan gendongannya. Ningsih berdiri dan masih lemas karena kaget serta takut.
"Nggak usah, Joko. Jangan ada ribut-ribut. Udah biarin aja, yang penting opening kita sukses." lirih Ningsih sambil menatap orang yang dari kejauhan terlihat menertawakan Ningsih.
"Baik, Bu. Eh ... Ningsih."
Joko menemani Ningsih selama bekerja sedangkan Nindy di rumah bersama satpam baru mereka yang bernama Pak Umar.
Lima hari kemudian ....
Setelah kejadian waktu itu, Ningsih lebih berhati-hati dalam menerima sesuatu yang tak jelas. Dia setiap hari ke resto untuk mengontrol kinerja pegawai dan menambah beberapa pekerja karena lonjakan pembeli yang tak pernah surut tiap harinya.
Ningsih menjadi hot topic di kawasan kuliner sebagai janda kaya raya baru yang sukses menarik perhatian pecinta kuliner di Jakarta. N&B Resto membuat banyak youtuber dan artis instagram datang mencicipi serta membuat ulasan positif. Terlebih saat mereka tahu jika N&B Resto memiliki chef ternama bernama Aldo Pamungkas.
Ningsih sangat senang, jalan yang dia ambil kali ini sepertinya tepat. Dia tak menyadari bahwa segala sesuatu bisa berbalik arah kapan saja.
***
Bima sudah melakukan ikatan perjanjian dengan dua wanita kakak beradik itu. Dia pun menemui Tuan Asmodeus untuk memberi laporan.
"Tuan Asmodeus. Hamba sudah menemukan dua perawan yang Tuan inginkan. Lima lainnya segera hamba berikan." kata Bima yang menunduk hormat.
"Bima, tak disangka kau gerak cepat. Seberharga itukah wanita yang bernama Ningsih? Baiklah, aku akan ambil darah perawan dua wanita itu. Lalu, kau cari lima lainnya sebelum aku membantumu!" tegas Tuan Asmodeus yang kemudian tertawa nyaring.
Bima pun pergi meninggalkan Neraka dan kembali ke dunia manusia. Dia pun memperhatikan dua wanita yang saat ini menjadi pengikutnya. Tuan Asmodeus langsung mengambil darah perawan dua tumbal itu dan memberi mereka sesuai apa yang diinginkan. Bima hanyalah perantara perjanjian, demi mewujudkan hidup abadi bersama Ningsih yang ia cintai. Bima tak sadar jika cinta mereka makin menyengsarakan orang lain.
Hera dan Della melepaskan keperawanannya dalam balutan jerat iblis. Mereka pun dalam sekejap mendapat apa yang mereka mau. Ibu mereka sembuh seketika dari penyakit ganas. Lalu uang dan emas yang mereka dapat setelah melepas keperawanan dari dalam almari. Ibu mereka pun curiga dan bertanya, "Mengapa hal ini bisa terjadi, Nak?"
Hera dan Della tak mampu berkata yang sesungguhnya. Mereka terpaksa berbohong demi Ibunya tak sedih. Mereka rela masuk ke jurang kegelapan demi menyelamatkan Ibunya.
Tugas yang tak mudah, tetapi harus mereka tepati. Hera dan Della mencari lima gadis yang rela memberikan darah perawan untuk ditukarkan harta. Mereka tak sadar jika hal itu membuat orang lain terjerat dalam tipu daya iblis.
Bersambung ....
***
"Aku rela melakukan apa pun demi menyelamatkanmu. Namun, aku lupa jika takdir terkadang tak sesuai yang kita inginkan." ~ Bima Prawisnu
***
"Meski aku mencoba lepas, tetapi rasa itu kembali mengikat. Akhirnya aku menyerah dalam gelap, karena rasa itu akan tetap ada meski mataku terpejam selamanya." ~ Ningsih SukmaSari
***
"Menulislah, maka kamu akan mendapatkan dunia baru tanpa penolakan. Bebaskan hidupmu dan buat aturan baru dalam setiap gerbang karya yang kau buat sendiri." ~ rens09
***
Jangan lupa like, komentar, dan Vote ya teman-teman. Salam hangat selalu untuk para pembaca setia JERAT IBLIS πΉπΉ