JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 84


...🔥Servus Amoris Sang Iblis Budak Cinta 🔥...


Tujuh lapisan neraka masih gencar soal pro dan kontra penggabungan neraka. Para panglima neraka merasa bahwa menggabungkan lapisan neraka tidak akan mengubah apa pun kecuali pertengkaran antar panglima neraka. Di tengah pertikaian yang tak akan ada habisnya, beberapa iblis memilih untuk menjalankan tugas-tugasnya menyesatkan manusia daripada bertengkar sesama iblis.


Servus Amoris atau yang dikenal dengan sebutan Servus adalah salah satu iblis anak buah Tuan Asmodeus. Servus tidak akan menyerah menyesatkan manusia dengan rasa yang diperbudak cinta. Ya, Bucin adalah istilah keren masa kini yang menjadi singkatan dari budak cinta. Itulah perbuatan Servus dalam menyesatkan manusia. Mengikat rasa agar manusia mau diperbudak oleh perasaan mereka sendiri. Cinta yang harusnya murni, menjadi penuh ambisi bahkan tak segan-segan melakukan apa pun demi tetap bersama kekasih yang dicintai.


Servus sudah mengincar Budi. Iblis Servus pernah menghadapi almarhum Kyai Anwar saat masuk ke tubuh seorang wanita. Waktu itu, Kyai Anwar masih muda dan Budi masih berusia tiga tahun. Servus sudah menandai Budi karena ingin membalas dendam. Selama ini, dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas kekalahannya waktu lalu.


Servus mengembara di dunia dan menghasut banyak manusia, terutama para muda mudi yang sedang dimabuk cinta. Banyak remaja yang jatuh dalam godaan Servus yaitu menjadi budak cinta. Mereka tak segan-segan membuat orang lain putus hubungan demi menggapai cintanya. Tak hanya remaja yang menjadi sasaran Servus. Para lelaki atau wanita yang sudah memiliki pasangan atau keluarga pun digoda untuk selingkuh dan terjebak pada dosa yang Tuan Asmodeus kuasai. Dosa hasrat hawa napsu yang meraja rela tak kenal usia. Servus memanfaatkan itu untuk membuat manusia terjebak dan terus memuja cinta.


Pada hakikatnya, cinta itu suci. Namun saat segala sesuatu berlebihan---termasuk cinta, semua akan menjadi pembawa masalah. Cinta yang menggebu dan tak kenal logika, cinta yang menghalalkan segala cara demi kesenangan semata, dan cinta yang tak semestinya ada---perselingkuhan dan hasrat semata, menjadi hal yang menodai kesucian cinta itu sendiri. Servus tertawa ketika manusia menjadi budak cinta.


Servus siap menghancurkan Budi lewat rasa cinta terpendam yang tak seharusnya ada. "Lihat saja, manusia keturunan Anwar. Dahulu Ayahmu mampu membuat aku hampir musnah. Sekarang, tunggu pembalasanku. Ha ha ha ha ...." seru Servus saat melihat Budi dari kejauhan. Lelaki itu sering memikirkan Ningsih yang ditinggal Bima sudah berbulan-bulan.


Servus mencari celah agar bisa menjebak Budi. Budak cinta akan menghancurkan iman seseorang. Servus yakin jika Budi akan terhasut oleh bujuk rayunya karena pada dasarnya Budi memang menginginkan Ningsih. Dia membuat rencana licik atas hidup Budi agar hancur dan menjauhi Sang Pencipta.


...****************...


Beberapa minggu kemudian ....


Hari itu Budi menjalani kesibukan seperti biasa. Santi juga kembali merawat anaknya dengan sepenuh hati. Mereka mencoba untuk tidak mengganggu Reno agar dia tenang terlebih dahulu. Meski sesungguhnya Santi sangat khawatir dengan keadaan adiknya.


Santi memikirkan Reno yang tidak membalas pesan darinya. Dia pun mencoba membujuk suaminya agar mau mengantar dirinya ke Yogyakarta untuk menjenguk Reno.


"Pa, minggu depan apakah boleh ke rumah Reno?" tanya Santi yang jujur saja masih memikirkan adiknya. Dia khawatir jika adiknya berbuat nekat. Kesedihan Reno, Santi bisa merasakan.


"Kita lihat kondisi besok, ya, Ma," jawab Budi yang tahu Reno belum ingin bertemu dengan orang lain. Lelaki itu butuh waktu menyendiri agar bisa tenang dan mengikhlaskan kepergian istrinya. Budi paham ketika melihat wajah Reno saat meminta dengan halus Santi untuk pulang tempo lalu.


"Hmm ... iya, Pa. Tapi aku khawatir sekali. Bagaimana kalau kita menginap di Tante Ningsih saja? Terus siang harinya bisa ke Reno. Bagaimana, Pa?" bujuk Santi pada suaminya. Jika menginap di Reno membuat dirinya menjadi canggung. Santi pikir ide bagus untuk menginap di rumah Tante Ningsih.


Mendengar nama Ningsih disebut, membuat jantung Budi berdetak kencang. Dia membayangkan wanita pujaannya itu dan merasa senang akan bermalam di rumahnya. Dia pun secara tak sadar mengiyakan ajakan Santi, meski dia tahu Reno belum tentu mau menerima tamu. "Kalau begitu ... sepertinya tak apa, Ma. Asal jangan menginap di Reno, karena dia seperti terganggu dengan kehadiran kita. Tempo lalu saat Mama pulang itu, kan, Reno mengusir secara halus. Mama saja tak peka," jawab Budi sambil tersenyum mengejek istrinya.


Santi pun senang karena suaminya mau diajak berkunjung ke rumah adiknya yang masih berduka. Tepat sekali dengan apa yang diinginkan Servus yaitu membujuk Budi agar menjadi budak cinta terhadap Ningsih. Tak mungkin bagi lelaki itu memadu istrinya, jelas jawaban Santi pasti tidak mau. Budi hanya bisa memendam rasa karena Ningsih juga tidak membalas cintanya.


"Terima kasih, Pa. Berarti besok boleh? Kalau nunggu minggu depan terasa lama sekali. Aku khawatir sama Reno. Mau, ya, Pa? Please, Pa," rengek Santi meminta segera ke Yogyakarta. Tentu saja lampu hijau bagi Budi bertemu Ningsih. Dia menahan perasaan agar tidak terlihat mencurigakan. Sambil menghela napas, Budi pun menjawab.


"Iya, iya. Selepas salat Subuh kita berangkat, ya. Tak usah bawa Safira. Kita ke sana berdua saja, biar Safira dengan Bibi. Lisa di sana juga masih bersedih, tak mungkin bermain dengan Fira," kata Budi dan Santi langsung menyetujui.


Santi senang karena akan bertemu dengan adiknya. Begitu pula Budi yang senang akan bertemu dengan Ningsih. Budi meminta Santi menghubungi Ningsih jika akan menginap di sana. Santi pun setuju untuk meminta izin pada tantenya lewat pesan singkat. Budi pun senang. Tak mungkin Ningsih menolak keponakannya yang hendak menginap. Budi tahu jika Ningsih pasti menyetujui jika Santi yang meminta izin.


Santi mengambil ponsel dan segera mengrim pesan pada tantenya.


Santi: [Assalamualaikum, Tante.]


Ningsih: [Wa'alaikumsalam, Santi. Ada apa, Santi? Tumben kirim pesan, biasanya telepon.]


Santi: [Iya ini, Tante. Begini, Santi mau minta izin. Tante, besok aku dan Mas Budi mau menengok Reno. Kalau semisal menginap di rumah Tante apakah boleh? Reno sepertinya belum menginginkan kalau kami menginap di sana.]


Ningsih sebenarnya tidak menginginkan Budi di rumahnya, apalagi menginap. Dia tak ingin ada hal buruk terjadi seperti tempo lalu saat Budi khilaf. Namun mengingat Santi yang pasti khawatir pada adiknya, dia akhirnya menghela napas dan memberi balasan pesan tersebut. Terpaksa, Ningsih mengizinkan Santi menginap di sana.


Ningsih: [Iya, Santi. Silakan. Biar Reno tenang dulu. Kalau mengunjungi siang hari, Tante rasa tak apa.]


Santi: [Terima kasih banyak, Tante. Besok setelah Salat Subuh, aku dan Mas Budi perjalanan ke rumah Tante dulu, ya.]


Santi pun senang mendapatkan izin dari tantenya. Dia makin semangat untuk menjenguk Reno dan memastikan keadaan adiknya membaik. Budi pun dalam hati bersemangat karena ada kesempatan melihat Ningsih secara dekat.


Servus menyeringai senang melihat kesempatan itu. Ningsih yang kesepian akan menjadi wadah yang tepat untuk menjebak Budi yang terobsesi padanya. Lagi pula, Servus tahu jika suami gaib Ningsih sedang mengabdi pada Tuan Lucifer. Harusnya iblis yang tidak murni seperti Bima tak mendapat hak istimewa itu. Servus iri padanya karena dia merupakan turunan iblis murni. Namun dia tidak mendapat kesempatan berharga seperti Bima. Meski dia tahu, sebenarnya kekuatan milik anak dari Bima yang menjadi sorotan para panglima iblis. Iblis kecil itu sudah memiliki kekuatan seperti itu, jika dilatih pasti akan dahsyat, bukan?


"Betul, Budi. Temui Ningsih. Cepat atau lambat kau pasti masuk dalam perangkapku! Ha ha ha ... cinta memang seperti itu. Dari dulu selalu menawarkan keindahan meski akhirnya derita tak berujung akan terjadi." Servus menyeringai mengerikan menatap Budi.


Budi tak sadar jika perjalanannya ke tempat Ningsih besok akan menjadi hal yang menggoyahkan imannya. Ya, cinta pada Ningsih bisa saja meledak kapanpun. Meski Budi sudah menahan, hal itu tetap ada dan mencoba menyeruak.


...****************...


Sementara itu, kehidupan Reno jauh berbeda setelah kepergian Nindy ....


Reno menjalani hari-hari dengan tak semangat. Rasa sedih masih hinggap di hatinya. Meski dia mencoba bangkit dari kesedihan, nyatanya tetap sama. Reno menjadi melupakan salat lima waktu, tidak ikut salat Jumat, serta jarang makan. Dia tidak mengecek usaha kost-kostan dan lebih banyak mengunci diri di dalam kamar. Untungnya para bibi membantu menjaga dan merawat Lisa. Gadis kecil itu paham jika ayahnya masih butuh waktu sendiri.


Wahyu sering berkunjung ke sana. Dia juga mengajak Kak Gio dan Kak Gilang untuk mengecek kondisi Reno. Beberapa kali Reno menolak menemui, tetapi mereka tetap mengunjungi Reno. Mereka tak ingin Reno berakhir dengan pilihan buruk atau jalan pintas menuju dunia lain---bunuh diri.


Suatu malam, Reno merasa jika dirinya tak mampu menjalani hidup tanpa istrinya. Salah satu iblis sudah mengamati Reno yang terlarut dalam kesedihan. Iblis itu memanipulasi pikiran Reno agar merasa seolah-olah yang ada di dekatnya adalah Nindy. Ya, iblis membuat tipu daya untuk membujuk Reno mengakhiri diri.


"Sayang, apakah itu kamu?" gumam Reno saat embusan angin lumayan kencang menerpa hingga jendela terbuka tiba-tiba.


Iblis itu mencoba menipu Reno. Menggerakkan beberapa benda yang sering dipakai Nindy semasa hidup.


Saat Reno melihat di atas meja tempat Nindy sering menulis, vas bunga plastik itu bergerak. Reno terkejut dan menatap vas itu. "Nindy? Apakah itu kamu?"


Iblis itu pun menjawab pertanyaan Reno dengan suara lirih meniru suara Nindy. "Re-Reno ... Sayang ... aku kesepian di sini."


Mendengar suara itu, Reno langsung bangkit dari ranjangnya. Dia mendekati meja dan mencari asal suara itu. "Nindy? Kamu kenapa?"


Iblis itu tersenyum. Tipu muslihatnya mulai berhasil. Reno percaya jika itu adalah Nindy. Perlahan tetapi pasti, Reno dibuat bingung agar semakin terpuruk dan depresi. Saat itulah, iblis akan mengambil nyawa Reno dengan segala bujuk rayu untuk mengakhiri hidupnya.