JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 114


Author mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha kepada readers sekalian yang merayakan. Mohon maaf lahir batin^^


Jangan lupa Vote, share, dan like ya setelah membaca^^


***


πŸ€ SAWAN πŸ€


Bima segera menghentikan mobil. Mendengar suara jeritan serta mobil yang dikendarai Joko berhenti mendadak, membuat Bima dan Ningsih khawatir.


"Ningsih di sini saja. Tetap di dalam mobil bersama Wahyu. Biar aku saja yang ke sana." kata Bima sambil memberi pelindungan di mobil yang ditumpangi Ningsih.


Bima segera menghampiri mobil di belakangnya. Mengepalkan tangan dan marah karena makhluk halus di sekitar mengganggu.


"Adepto perdidit, te Diabolus condemnabitur!" *) ucap Bima sembari menjentikan jarinya.


Seketika semua makhluk halus yang mengganggu dan mengikuti mereka pun pergi. Bima membuka pintu dan memastikan keponakan Ningsih baik-baik saja.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Bima.


"Tu-tuan Bima, Non Santi dan Den Reno sepertinya pingsan. Tadi ada hantu di belakang," jawab Joko masih gemetaran.


Angin berembus agak kencang. Menandakan akan hujan. Bima pun khawatir mereka tak bisa sampai rumah jika seperti ini.


"Ada rumah di sana, titipkan saja mobil ini di sana dan ikut ke mobilku. Nanti Santi dan Reno kita gotong saja untuk pindah mobil," ucap Bima memberi solusi.


Setelah meminta bantuan warga terdekat dan menitipkan mobil, mereka pun pulang dengan mobil yang dikedarai Bima. Benar saja, angin kencang membawa awan hitam dan hujan mengguyur dengan deras. Semakin malam, perjalanan terasa sepi.


"Om Bima, terima kasih," lirih Santi yang sudah sadar dari pingsan.


"Sama-sama. Lain kali jangan banyak melamun. Makhluk rendahan seperti itu senang mengikuti orang yang sering kosong."


"Iya, Om. Tadi serem banget." kata Reno menyela.


"Baru lihat makhluk seperti itu kalian pingsan. Bagaimana kalau lihat Iblis? Ha ha ha ha ...." ledek Bima sambil tertawa.


Santi dan Reno hanya terdiam dan saling pandang karena tahu mereka yang disinggung. Sepertinya penyelidikan ini memang 50:50 membuahkan hasil. Semua hanya "sepertinya" dan menduga-duga karena belum melihat wujud Bima yang sesungguhnya. Perjalanan pulang yang melelahkan. Mereka berhenti di restoran karena belum bersantap malan.


"Bima, mau makan di sini?" tanya Ningsih yang memangku puteranya tertidur.


"Suka nggak di sini? Atau mau cari tempat lain juga boleh," jawab Bima tersenyum.


"Tante, ke MCD aja lah yang pasti pada suka," ucap Reno tak yakin dengan restoran di depan mereka.


"Yaudah ke MCD aja. Bima, nggak apa kan." Ningsih melihat Bima yang mengedipkan mata tanda tak apa.


Mereka pun makan malam di MCD. Melepas ketegangan yang tersisa karena insiden tadi sambil berbincang ringan. Tiba-tiba Reno merasa tengkuknya sakit dan mual. Sedari tadi Bima memang mengetahui ada hal yang tak beres dengan Reno. Seperti ada sesuatu yang menempel dengannya tetapi pintar bersembunyi dari Bima.


"Tante, Om, Kak, Bang ... tengkukku kok sakit banget ya. Rasanya berat. Ini habis makan juga rasanya mual. Apa aku masuk angin ya?" tanya Reno sambil mengusap-usap tengkuknya.


"Mungkin masuk angin. Nanti biar dikerokin Mak Sri, ya? Pantes aja tumben ini makanan kok Reno nggak habisin," jawab Ningsih belum sadar hal apa yang terjadi.


"Kakak bawa minyak angin ini. Reno pakai, ya?" ucap Santi sambil meraih minyak angin di dalam tasnya dan menggosokan minyak ke tengkuk Reno.


"Reno, Om pegang tanganmu sebentar sini." Bima mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Reno.


Ragu-ragu Reno mengulurkan tangan kanannya meraih tangan Bima. Bima pun memejamkan mata.


Dalam kegelapan terlihat sesosok makhluk yang meringkuk sendirian. Makhluk itu menangis dan suaranya menyayat hati. Bima mendekati makhluk itu.


"APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI?" tanya Bima dengan tegas.


Makhluk itu mengenadahkan wajahnya ke arah Bima dan berkata, "Tolong ... aku masih mau hidup. Tolong ...."


Seketika Bima diseret melihat sempalan memori makhluk tersebut. Seorang wanita yang periang sedang berwisata dengan calon suaminya ke puncak. Mereka sudah tunangan dan akan menikah dua bulan lagi. Kebahagiaan wanita itu sirna saat mengetahui calon suaminya memiliki selingkuhan. Semua terungkap saat tak sengaja mobil mereka menyerempet motor selingkuhan itu.


Lelaki itu awalnya hendak menolong dan membuka pintu mobil. Situasi yang sepi dan angin kencang pertanda hendak hujan, membuat tak ada pengendara lain yang lewat. Saat tahu wanita itu hanya pingsan, si lelaki justru mempunyai ide buruk. Dia mengambil dompet beserta handphone dan ATM wanita yang jelas dia sudah tahu paswordnya. Tak lupa dia mengambil seluruh perhiasan yang menempel di wanita itu.


Usai hal itu, si lelaki dengan kejam memukul kepala wanita itu berkali-kali hingga napasnya habis. Lelaki itu meninggalkan wanita itu seakan kecelakaan mobil. Ya, lelaki itu bersama selingkuhannya kabur tanpa terlacak polisi hingga saat ini. Semua orang mengira hal itu murni kecelakaan sehingga arwah Jin Qorin wanita itu gentayangan.


Bima tersenyum melihat hal itu. Bahkan wanita yang membuat Reno sawan ternyata salah sasaran hanya karena wajah calon suaminya mirip Reno.


"AKAN KUTEMUKAN LELAKI ITU DAN KUSERET DIA KE NERAKA. KAU TENANG SAJA DAN KEMBALILAH KE AKHIRAT. TAK USAH DI TEMPAT KEMATIANMU LAGI DAN MEMBUAT BANYAK ORANG CELAKA SAAT KAU LEWAT!" tegas Bima pada makhluk gaib itu yang lalu menghilang seiring tangan Reno lepas dari genggaman Bima.


Bima kembali ke dunia nyata dengan wajah cemas semua orang menatapnya. "Ah, aku tak apa. Reno sudah membaik, kan?" ucap Bima memastikan makhluk itu pergi.


"Iya, Om. Terima kasih ya. Terima kasih banyak, Om Bima!" kata Reno sangat senang tengkuknya sudah tidak berat seperti tadi.


Setelah itu, mereka pulang ke rumah. Tentu saja Bima tak bisa masuk ke rumah Ningsih. Bima hanya mengantar sampai depan gerbang dan memastikan mereka semua masuk ke dalam rumah dengan selamat.


Bima pun pergi dan menghilang. Tugas lain menanti karena saat ini waktunya mengambil sesaji bulan purnama dengan Wati.


"WATI ... BAGAS ... KALIAN SUDAH SIAPKAN SESAJI?" kata Bima mengagetkan sepasang suami-istri itu.


"Su-sudah, Tuan Bima. Ini Wati. Ambillah," kata Bagas spontan menyodorkan istrinya yang gemetar ketakutan.


"Ampun, Tuan. Aku ini masih belun bersih setelah mendadak melahirkan. Tolong beri aku waktu ...." Wati gemetar hebat saat Bima membentak.


"DIAM! MASUK KE KAMAR SESAJI!" tegas Bima yang tak bisa dielakan.


"Sudah sana kamu ikut kata Tuan saja. Aku berjaga di sini sama Rifai (Bayi mereka)." Bagas mendorong Wati agar masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk sesaji Bima.


Setelah masuk ke kamar itu, Wati semakin pucat ketakutan. Bima pun menunjukkan wujud aslinya. Besar, merah, menakutkan dengan seringai yang mengerikan.


"A-ampun Tuan Bima. Aku berterima kasih telah memberiku keturunan bayi lelaki yang sehat dan tampan. Namun saat ini aku masih belum siap. Ampun, Tuan," kata Wati sambil menunduk serta menangkupkan tangannya.


"HA HA HA .... SIAPA JUGA YANG AKAN MENYENTUHMU? KAU TIDUR SAJA DI SINI. AKU MENGAMBIL SESAJI BUNGA DAN MENYAN SAJA. BIAR SI BAGAS URUS BAYI SEMALAM SUNTUK." jawab Bima membuat Wati tercengang.


Sempat Wati berpikir hal terburuk akan diperko*a oleh makhluk gaib, ternyata Bima tak seperti itu. "Te-terima kasih, Tuan Bima."


Wati menatap Bima yang mengambil bunga tujuh rupa dan menyan yang sudah mereka sediakan. Lalu Bima mengganti itu semua dengan uang dan emas di dalam almari yang boleh dibuka setelah matahari terbit. Semalaman Wati tak bisa tidur. Hanya menatap Tuan Bima yang wajahnya mirip film Hell Boy.


"Tu-Tuan, bolehkah aku bertanya?" Wati memberanikan diri bertanya.


"BOLEH. SILAHKAN."


"Kenapa Tuan tidak mengapa-apakan aku? Bukankah perjanjian itu ...."


"ITU SESUKAKU. KALAU SEMUA WANITA YANG SUAMIMU AJAK BERKENCAN, MEMANG KUAMBIL SEBAGAI TUMBAL. TENANG SAJA. KALAU SOAL KAU, AKU TAK BERMINAT. SEBENTAR LAGI AKU PERGI JADI KAU TIDUR SAJA DAN BERPURA-PURALAH PADA SUAMIMU JIKA KITA SUDAH MENJALANI SESUATU SESUAI PERJANJIAN. JAGA BAYIMU BAIK-BAIK. ITU KAN YANG KAU INGINKAN WAHAI MANUSIA." terang Bima pada Wati yang takjub dengan penjelasannya.


"Baik, Tuan Bima. Terima kasih."


Setelah itu Bima menghilang. Meninggalkan Wati di dalam kamar yang menjadi syarat perjanjian mereka. Menunggu pagi datang dan bertanya-tanya soal isi almari sesaji.


Wati tak habis pikir jika ada sejenis Jin atau Iblis sebaik Tuan Bima. Bukannya takut, sekarang Wati malah kagum dengan perkataan Bima. Tak seperti Bagas-suaminya yang jelalatan serta tak pernah setia. Pantas saja Bagas senang mendapatkan syarat meniduri wanita-wanita lain sebagai tumbal. Hal itulah yang selama ini Bagas selalu lakukan di belakang Wati.


Padahal semua harta kekayaan yang dinikmati bersama adalah pemberian orang tua Wati. Sedangkan pangkatnya, jabatan itu bisa dicapai berkat rekomendasi ayah Wati. Meski saat ini, Bagas sudah resmi menjadi Direktur dengan gaji besar. Tak sulit baginya mencari tumbal kapan pun dia mau.


Wati pun dari kamar termenung. Lalu terlelap tidur setelah Bima mengembuskan angin penidur agar Wati beristirahat dari segala pemikirannya. Iya, Bima menghilang dan masih mengamati Wati yang termenung memikirkan suaminya.


Setelah Wati benar-benar tidur, Bima pun pergi dari rumah itu. Dia tak berniat menyentuh Wati sejak awal karena incarannya adalah Bagas beserta kekasih-kekasih gelapnya. Jerat iblis pada lelaki tak setia dan wanita yang mudah menemani atas dasar keserakahan adalah hal terlezat yang Bima lakukan. Jiwa berdosa itu, ambisi mereka, keserakahan, ketidak setiaan, kepalsuan, serta hawa napsu yang tak pernah puas menjadi hal yang menjerat manusia masuk ke dosa yang lebih gelap dan dalam.


Bersambung ....


***


NB:


*) enyah kalian, setan terkutuk!