JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 67


Ningsih mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Dia mampir ke toko kue terlebih dahulu. Membeli beberapa bingkisan. Sedangkan Santi ke restaurant untuk membeli beberapa lunch box. Reno sengaja tak beranjak dari mobil. Dia masih asyik berbalas pesan dengan Nindy.


[Btw, sudah makan belum?] Reno mengirim pesan kepada Nindy.


[Sudah kok...]


[Kapan yang makan, hayo?]


[Tadi malam... wkwk]


[Hlo belum sarapan juga?]


[Belum, Kak. Masih nunggu Abah pemerikasaan. Abah takut kalau ditinggal. Ibu baru pulang diantar Bang Joko untuk ambil pakaian.]


[Oh, jadi Nindy sendirian? Mau makan apa? Nanti biar aku pesankan.]


[Nggak usah, Kak. Nggak mau merepotkan.]


Reno pun turun dari mobil. Melihat ke sekeliling, mencari foodcourt atau makanan yang kira-kira disukai gadis remaja. Mata Reno berhenti saat melihat tulisan Sushi Tei.


"Nindy pasti suka. Coba ah kubelikan yang mix Sushi," gumam Reno, berlari ke resto itu.


"Reno, mau ke mana?" tanya Santi membawa tujuh box di kedua tangannya, keberatan.


"Mau ke Sushi Tei, Kak."


"Nggak usah! Ini bawain lunch box nya. Kakak udah beli buat di bawa ke rumah sakit," jelas Santi.


"Isinya apa, Kak? Kira-kira pada suka nggak?"


"Tenang aja. Udah Kakak pilihin kok. Yuk ke mobil aja. Tuh Tante Ningsih udah masuk mobil," ajak Santi.


Reno pun membawa kotak-kotak lunch box dan berjalan ke mobil. Dia meletakan tujuh lunch box itu ke bagasi mobil.


"Tante tadi beli apa?" tanya Santi sambil masuk ke mobil, duduk di samping Ningsih yang siap menyetir.


"Itu beli kue yang low sugar. Sama susu diabetasol buat ayahnya Joko. Cemilan juga belu buat keluarganya Joko," jawab Ningsih, tangannya segera memasang sabuk pengaman.


"Ok, deh. Santi beli lunch box sekalian buat makan di sana."


"Isinya apa sih, Kak? Tadi aku mau beli sushi, nggak jadi deh." sahut Reno, sudah duduk di kursi mobil belakang.


"Macem-macem, Reno. Set bento, chiken teriaki, ebi furray, pokoknya bisa pilih nanti."


"Oh... okay Kak."


Ningsih mulai menjalankan mobilnya. Dia mengamati perubahan signifikan kedua ponakannya. Sepertinya mereka sedang kasmaran.


"Kalian kok tumben kompak? Ada apa nih? Tante ketinggalan cerita apa?" selidik Ningsih sambil tersenyum.


"Nggak ada kok, Tante. Tenang ajaa...."


"Beneran? Tante rasa ada yang kasmaran nih. Apa Tante salah tebak, ya?"


Reno dan Santi langsung bingung dan salah tingkah. Merasa tak enak jika Tantenya tahu, mereka pun mencoba menutupinya.


"Tante sok nebak-nebak deh. Itu rumah sakitnya dah kelihatan!" kata Santi mengalihkan perhatian.


Ningsih membelokan stir mobilnya dan menuju ke parkiran rumah sakit. Mereka turun dan bergegas ke bangsal ayah Joko dirawat. Dia berada di kelas 1. Santi memindahkan perawatan ayah Joko ke bangsal Mawar kamar 4, agar lebih leluasa dan mendapatkan pelayanan lebih baik.


Sebenarnya, Santi hendak memindahkan ke VIP. Namun Ibu dan Joko tak setuju. Bagi mereka, itu terlalu berlebihan. Akhirnya Santi pun menaikan pelayanan kelas 1 saja.


"Bu Ningsih..." lirih Joko saat melihat Bosnya masuk ke ruang perawatan Abah.


"Hallo Joko, maaf baru tadi pagi aku pulang. Jadi baru sekarang menjenguk Ayahmu," ucap Ningsih, menjaga wibawa.


"Terima kasih, Bu. Sudah sudi menjenguk Abahnya Joko. Saya Ibunya Joko. Silahkan duduk sini," sahut Ibu sambil mempersilahkan.


"Iya, Ibunya Joko. Sama-sama." Ningsih menjabat tangan Ibu dengan hangat.


Santi dan Joko saling tatap dan tersenyum. Sedangkan Reno meletakan lunch box di meja dan berbincang dengan Nindy.


"Loh, gadis cantik itu siapa, Joko?" selidik Ningsih melihat Reno berbincang dengan seseorang.


"Maaf belum memperkenalkan. Itu adik saya, Nindy."


"Oh, pantas saja Reno dan Santi semangat ke sini ya. Ha ha ha ha...."


Suasana pun menjadi hangat. Mereka berbincang dan menghibur Abah. Tak lupa mengajak makan bersama. Lunch box yang sudah di siapkan, hidangan yang jarang keluarga Joko santap. Mereka pun bersenda gurau sambil bersantap siang menjelang sore.


****


Di sisi lain negara... pada waktu yang sama....


"Demikian keterangan yang saya ketahui tanpa ada hal yang ditutupi atau dipalsukan," ucap seorang wanita dengan tegas dihadapan pihak kepolisian.


"Baik, semua penyelidikan hari ini kami simpan dan dokumentasikan dalam bentuk tulisan maupun rekaman. Saudari boleh pulang sekarang. Terima kasih sudah menjadi saksi," terang seorang polisi.


Wanita itu lantas berdiri dari tempat duduknya dan berjalan, keluar dari kantor polisi. Dia tersenyum kecut dengan segala kenyataan yang dilalui. Lee bukanlah orang yang mudah putus asa. Wanita itu tahu persis siapa Lee.


Sebuah keganjilan jika Lee bunuh diri dan meninggalkan wasiat yang membuat heboh se Singapura. Mengaku jika penculik, pembunuh, serta kanibal? Tak mungkin dilakukan Lee. Bahkan ketika awal obsesinya, wanita itu sudah menasehati Lee, tetapi tak dihiraukan.


Lantas hal konyol lainnya yang jelas tak akan Lee lakukan adalah melepas semua hartanya. Wasiat itu mencantumkan semua korban kanibalisme Lee dan meminta seluruh hartanya di bagi ke orang tua korban-korbannya. Lee bukan orang yang sedermawan itu.


"Lily! Kau sudah selesai berurusan dengan polisi-polisi itu?" sapa seorang lelaki yang menjadi tangan kanan Lee.


"Sudah. Apakah kamu merasa apa yang kurasa? Soal Tuan Lee?" tanya Lily pada Josh.


"Tentu. Tak mungkin dia meninggal dengan cara konyol seperti itu. Terlebih sesaat setelah menemuiku," bisik Josh.


"Untuk apa Lee menemuimu?"


"Tentu soal transaksi itu... dia tiba-tiba hendak berhenti. Dia mencoba menyuapku untuk berhenti bertindak. Kau tahu? Penculikan anak perempuan berusia tujuh sampai sepuluh tahun, yang disayangi orang tuanya. Aku pelakunya. Atas perintah Tuan Lee," Josh berkata lirih sambil memastikan tak ada orang yang mendengar.


"Aku tak terkejut mendengarnya. Kamu memang ahli dalam hal menculik tanpa meninggalkan petunjuk," sanjung Lily terhadap kemampuan Josh.


"Kamu tahu tentang Tuanmu memakan gadis kecil?" selidik Josh.


Mata Lily mencoba menghidar dari tatapan Josh. Hal itu membuat semua terlihat jelas.


"Kamu tahu. Kamu tahu dan kamu membiarkannya. Cinta terlarang?" lirih Josh kembali menyudutkan Lily.


"Tidak. Aku tak ada rasa. Aku hanyalah bodyguard Tuan Lee. Tak lebih," sanggah Lily.


"Tak lebih? Apakah bodyguard juga berkewajiban memuaskan Tuannya di ranjang? Atau mendengarkan semua keluh kesahnya? Atau mengetahui rahasia brankas yang berisi kelingking gadis kecil yang menjadi korban Tuannya?" cibir Josh sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Lily.


"Kamu!"


Lily mencoba melepaskan pelukan Josh di pinggangnya. Namun, tak semudah itu.


"Sampai kapan kamu akan melihat orang yang tak melihatmu, dan mengabaikan orang yang mengagumimu?"


Seketika hal yang tak Lily sadari selama ini terungkap. Lily terlalu mengagumi dan mencintai Tuan Lee hingga dia buta dan tuli terhadap perasaan Josh. Lelaki yang selalu bersikap dingin dan misterius itu beberapa kali memberi sinyal ketertarikan kepada Lily, tetapi terabaikan.


Kini setelah kepergian Tuan Lee, Lily mulai menyadari satu hal. Cinta dan hasratnya tak lebih dari sekedar kegaguman dan rasa simpatik yang berlebih. Tuan Lee tak pernah menganggap serius tentang Lily. Bahkan berapa puluh malam yang mereka lalui, tak membuat Lee merasakan sesuatu yang membuat wanita itu tak bisa tidur. Ironi.


"Lily... menyerahlah dengan perasaanmu. Tuanmu sudah pergi. Bahkan istrinya pun menghilang. Ikutlah denganku, aku mempunyai rahasia kecil tentang Lee yang bisa membuat kita kaya raya," pinta Josh sambil mengecup bibir Lily.


Tanpa perlawanan. Lily menyambut ciuman Josh dengan lembut, lalu bersemangat.


Dunia memang tak adil. Terlebuh soal perasaan dan cinta. Selalu ada hati yang tersakiti atau cinta bertepuk sebelah tangan. Hal itu... selalu meninggalkan rasa sakit yang disebut LUKA.


Bersambung....