JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 147


πŸ€ PERJALANAN YANG TAK MUDAH πŸ€


Pagi itu, rombongan dengan dua mobil melaju dari Wonogiri ke Jakarta. Sebenarnya, Santi dan Reno sudah mengusulkan untuk naik pesawat. Namun, Kyai Anwar dan PakLek Darjo tidak menghendaki karena mereka belum pernah naik pesawat dan tidak suka. Sebagai orang yang dituakan, jelas ucapan beliau dituruti oleh lainnya. Satu mobil dikemudikan oleh Reno dengan penumpang Santi, PakLek Darjo, Ridho, dan Hafiz. Mobil yang satunya dikemudikan oleh Budi dengan penumpang Pak Anwar, Ahmad, Taufik, dan Saiful.


Perjalanan mereka terasa sangat jauh, terlebih beberapa kali berhenti karena istirahat atau makan. Namun, Santi terus menerus menangis dalam perjalanan. Reno mencoba menenangkan kakaknya, "Istigfar, Kak. Pasrahkan semua kepada Allah. Bang Joko meninggal sudah takdir Allah." Reno mencoba menghentikan tangis kakaknya, tetapi apa daya rasa sedih yang Santi rasakan terlalu dalam.


Nindy: [Asalamualaikum, Kak Reno. Bagaimana keadaan Kak Santi?]


Sebuah pesan masuk di handphone Reno. Saat makan siang, Reno membalasnya. Dia berada di mobil setelah selesai membayar makan siang rombongan demi menemani Santi yang sama sekali tak napsu makan.


Reno: [Wa'alaikumsalam, Dek Nindy. Kak Santi masih menangis dan tidak mau makan. Ini sudah hampir masuk jalan tol. Setelah ini Kak Reno nyetir lagi.]


Nindy: [Astagfirulah, sampai nggak mau makan? Ini pemakaman Bang Joko diundur karena pihak kepolisian belum menyelesaikan penyidikan. Jenazah sudah hangus terbakar jadi harus dipisah dengan bangkai mobil. Salah apa Bang Jokoku? Hingga nasibnya menyedihkan begini.]


Reno: [Sabar, Dek Nindy. Sabar dahulu. Secepatnya kami ke sana. Tegar, ya. Sabar. Kasihan Abah dan Ibu kalau Dek Nindy bersedih. Kak Reno lanjut dulu.]


Reno mengakhiri berbalas pesan saat semua sudah naik mobil. Berat. Sangat berat dirasakan Reno karena dia harus menguatkan hati Kak Santi dan juga Nindy dalam waktu yang bersamaan. Sungguh mengerikan akibat bersekutu dengan Iblis. Bukan hanya pelakunya yang menderita, pun juga tumbal yang mereka pilih menanggung derita yang mengerikan.


Dua mobil itu terlihat beriringan melanjutkan perjalanan ke Jakarta lewat jalan tol. Tidak terlalu ramai, jalanan yang terlihat, tetapi PakLek Darjo dan kedua santri yang ada di dalam mobil Reno tak henti-hentinya berdoa. Seakan mereka menolah suatu bencana yang mendekat.


Bima tahu jika mereka semua akan datang untuk memisahkan Ningsih darinya. Terlebih, Tuan Chernobog pun tahu hal itu. Mereka sengaja mengganggu perjalanan rombongan itu agar gagal sampai Jakarta.


Gangguan pertama ... tiba-tiba ada segerombolan katak lewat dan menyerbu dua mobil itu, saat melewati tol dekat sawah. Sempat membuat kecelakaan, tetapi Allah masih melindungi. Semua orang tak hendi berdoa dan berserah diri, kecuali Santi yang masih meratapi kepergian Joko.


"Bang, andai kamu tahu jika hatiku menaruh rasa sejak pertaa kita jumpa. Andai Bang mau sabar menungguku dan tidak tergoda dengan Tante Ningsih. Andai Bang tetap kuat dalam iman. Semua tak akan berakhir seperti ini," batin Santi seakan tercabik-cabik. Bagaimana bisa Tante Ningsih yang akan ditolong justru mengambil lelaki yang dia cintai? Bagaimana bisa Tante Ningsih lakukan itu setelah menghancurkan Reno dengan merenggut keperjakaannya? Bukankah selama ini Santi sudah bersabar? Bukankah Santi justru orang yang mati-matian ingin menolong Tante Ningsih? Bukankah Santi rela berkorban waktu, tenaga, dan materi demi menyelamatkan Wahyu?


Semua pertanyaan membingungkan itu menyerang pikiran Santi. PakLek Darjo yang menyadari sesuatu lekas memegang pundak keponakannya itu. "Istigfar, Nduk. Iblis sedang mengacaukan pikiranmu. Dia ingin mengambil alih tubuhmu. Istigfar ... Allahu Akbar! Allahu Akbar!" kata PakLek sambil menyalurkan energi positif ke Santi. Jelas hal itu bentrok dengan kondisi Santi dan membuatnya hampir saja kerasukan.


Ridho dan Hafiz segera membantu PakLek Darjo dalam doa. Ridho yang memiliki perasaan khusus terhadap Santi, langsung meletakkan tasbihnya di pangkuan Santi. Hawa di dalam mobil itu kian memanas, padahal AC mobil selalu menyala. Sekuat tenaga, PakLek Darjo melawan bisikan gaib itu agar Santi bisa berpikir logis. Setelah dua jam bergelut dalam perang doa dan kekuatan gaib, akhirnya mereka memenangkan Santi.


Santi pingsan seketika. Reno panik, lalu menepikan mobil diikuti oleh mobil Budi. "Tak apa, Reno. Mbakyumu sudah terbebas dari bisikan gaib itu. Sebentar lagi maghrib, kita salat dulu dan nanti Mbakyumu harus minum air ini sampai habis," kata PakLek sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sudah didoakan.


"Baik, PakLek. Terima kasih banyak. Nanti salatnya gantian saja. Reno jaga Kak Santi dulu." sahut Reno yang mengelus kakaknya.


"Saya di sini saja dahulu. Menunggu mereka," ucap Ridho yang juga khawatir pada Santi. Bersamaan dengan kedatangan Budi yang mengetuk kaca mobil samping Reno.


"Ada apa, Reno?" tanya Budi khawatir.


"Ini, Mas. Kak Santi pingsan. Kita di sini dulu sampai selesai salat maghrib. Ini sekalian nunggu Kak Santi bangun," jelas Reno. PakLek Darjo dan Hafiz turun dari mobil dan bergegas menunaikan ibadah salat Maghrib bersama rombongan di mobil Budi. Sedangkan Budi tetap di sana menunggu Reno dan Santi bersama Ridho.


Gangguan kedua ... setelah semua selesai salat Maghrib dan hendak melanjutkan perjalanan, Santi teriak ketakutan. "Ular! Ada Ular besar! Aaaaa ...." serunya sambil menutup mata dengan kedua tangannya dan gemetar ketakutan.


"Astagfirullah ...." PakLek Darjo yang tahu itu adalah tipu muslihat Iblis, langsung menghalau. Kyai Anwar pun bersama rombongan membantu dalam doa. Sepertinya penghuni Neraka membuat perjalanan mereka tak mudah, agar bisa merenggut Ningsih sebelum bertaubat.


Setelah semua mereda, dua mobil itu pun melaju kembali ke arah Jakarta. Meski lelah secara fisik dan batin, mereka tak akan menyerah. Kali ini, Kyai Anwar sudah memagari dua mobil agar tidak diganggu makhlul gaib dalam bentuk apa pun.


Hampir tengah malam saat masuk ke Kota Jakarta. Mereka sempat makan saat selesai salat Isya tadi. Lalu Santi tertidur sedangkan yang lain masih berjaga dan berdoa. Kali ini, Reno tidak menyetir karena lelah. Ridho pun bersedia menggantiannya dan berada di samping Santi. Sedangkan Budi masih menyetir mobil tanpa terlihat lelah.


"Nak, kita ke rumah lelayu dahulu. Jenazah itu harus didoakan agar lebih mudah jalannya. Meski menjadi tumbal, semoga amal ibadahnya diterima sisi Allah," ucap Pak Anwar pada Budi. Budi langsung mengangguk. "Baik, Pak."


Gangguan ketiga ... saat hendak sampai ke rumah Joko, entah mengapa dua mobil itu hanya berputar-putar saja. Seakan kembail ke jalan yang sama. Kembali ke rute yang sama. Sadar akan gangguan itu, kembali para santri dan PakLek Darjo serta Pak Anwar melawan hal itu. Saat mereka sadar, hampir saja mobil mereka terperosok ke batas kebun. Mereka hanya bisa berdoa dan Allah membantu tepat pada saat mobil hendak terperosok.


Akhirnya ... rombongan itu sampai di rumah almarhum Joko. "Alhamdulilah." ucap mereka bersamaan. Depan rumah masih ada orang berjaga dan menunggu jenazah Joko selesai diautopsi. Saat mobil mendekat dan membuka pintu, Nindy langsung menghampiri. Santi memeluk Nindy dan mengucapkan berbela sungkawa. Tangis pun pecah mengisi keheningan malam. Hampir setengah tiga saat itu. Abah dan Ibu juga belum tidur, menanti jenazah Joko dipulangkan.


"Sabar, ya. Sabar, Nindy." ucap Santi sambil menangis memeluk gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Iya, Kak. Kakak juga sabar, ya. Maafin Bang Joko jika ada salah." kata Nindy yang menbuat tangis mereka semakin menjadi.


Seorang wanita jalan mendekat ke arah Santi dan Nindy. Wanita itu mengelus punggung Santi dan membuatnya melihat ke arah si pemilik tangan. "Tante ... kenapa Tante masih di sini?" tanya Santi yang sedikit meninggi, menahan emosi dan rasa sedih. Bukan hal yang mudah terlebih melihat orang yang menjadi penyebab kematian Joko berada di tempat yang sama.


"Santi, maafin Tante kalau buat kamu sedih. Joko meninggal karena takdir. Ikhlaskan sa---" Belum selesai Ningsih berbicara, Santi langsung menggertaknya. "Tahu apa Tante perihal takdir? Tahu apa! Bukannya Tante harusnya sadar apa yang Tante lakukan musyrik dan membuat orang lain menderita!" Santi tak bisa menahan emosinya.


Ningsih pura-pura tak mengerti yang Santi katakan. Hal itu membuat Santi makin geram. "Tante jahat! Kejam! Harusnya aku tidak ke sini menolong Tante!" seru Santi sambil mencoba menyerang Ningsih. Melihat hal itu jelas pelayat dan juga rombongan segera memisah dua wanita yang dibalut duka. Nindy menghentikan Santi yang hendak mengamuk sedangkan Ibu Joko langsung memeluk Ningsih yang pura-pura sedih dan tak berdaya.


"Maaf, Santi. Maafkan Tante jika menikah siri dengan Joko dan membuat hatimu terluka. Namun, semua ini demi Allah adalah kehendak Joko. Jika takdirnya, Joko meninggal secepat ini, bukankah Tantemu ini wanita yang paking bersedih. Mengapa kamu menyalahkan Tante?" Ningsih bersandiwara dan mengelak dengan mudah. Hal ini jelas menarik simpatik para pelayat yang ikut bergadang menunggu rumah duka dan menanti jenazah Joko datang. Ningsih menangis, lalu Ibu memeluknya dan mengajak masuk ke dalam rumah.


Keadaan yang kacau itu membuat segala sesuatu menjadi canggung. "Kak, sabar. Kalau Kakak marah-marah di sini, nanti dikira Kakak yang salah. Sabar, ya." lirih Reno sambil menenangkan Santi. Sedangkan Budi memperkenalkan rombongannya ke pelayat serta orang tua almarhum Joko.


Situasi mulai membaik saat fajar menyingsing. Sebuah mobil ambulance dan polisi datang ke pekarangan rumah Joko. Mereka pun menurunkan kantong jenazah Joko yang sudah dikafan dengan kondisi hancur dan gosong, beberapa bagian sudah menjadi abu. "Selamat pagi, apakah Anda orang tua almarhum Joko?" sapa polisi yang diikuti pertanyaan ke Abah.


"I-iya, Pak Polisi. Apakah jenazah anak saya sudah bisa dikebumikan?" kata Abah penuh harap.


"Sudah bisa, Pak. Namun, dari hasil penyelidikan, rem mobil pengangkut BBM mengalami blong. Pihak keluarga almarhum akan mendapatkan santunan dari pemerintah." jelas Pak Polisi.


Setelah penjelasan singkat, mereka pun menyiapkan semuanya untuk pemakaman.


Bersambung ....