JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 102


...🔥Kecelakaan Mobil🔥...


Ningsih dan Alex menunggu ayah dan kakaknya pulang. Reno dan Lisa sudah pulang karena waktu sudah menujukkan pukul empat sore. Sepertinya ada yang aneh karena Alex sudah menelepon nomor ayah dan kakaknya tetapi tidak diangkat.


"Ma, Alex coba telepon ke minimarket-minimarket, ya? Siapa tahu Papa sama Kak Wahyu masih ada di sana," usul Alex pada ibunya.


"Iya, Alex. Coba saja siapa tahu Papa dan Kakakmu masih ada di salah satu minimarket kita," jawab Ningsih menyetujui ide tersebut.


Alex pun mengambil catatan nomor telepon minimarket dan meneleponnya satu per satu. Berharap bisa mendapatkan kabar dari ayahnya. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang datang ke rumah Ningsih dengan terburu-buru.


"Permisi, Bu. Permisi, Mas." Orang itu segera memanggil karena pintu rumah Ningsih terbuka.


"Iya, maaf. Bapak siapa, ya?" tanya Ningsih.


"Bu, saya diutus sama pihak rumah sakit. Bapak Bima dan putranya kecelakaan bertabrakan mobil dengan mobil. Saat ini ada di RSU," ujar orang tersebut membuat Ningsih syok.


"Mas Bima dan Wahyu? Ya Allah ... ya Allah!" Ningsih langsung pusing.


Alex langsung memegang pinggang ibunya. "Sabar, Ma. Sabar. Pak, terima kasih informasinya. Nanti kami langsung ke sana." Alex mengambil keputusan.


"Baik, Den. Saya permisi dulu," kata orang itu berlalu pergi.


Alex langsung memanggil Pak Sopir untuk menyiapkan mobil dan juga bibi untuk membuatkan minum teh hangat. Alex khawatir dengan keadaan Ningsih, tetapi dia juga khawatur dengan keadaan Bima dan Wahyu.


...****************...


Flashback saat kecelakaan ....


Bima dan Wahyu sudah selesai mengecek lima minimarket milik mereka. Mereka bergegas akan pulang, sebelum itu mereka hendak membeli sup daging sapi pesanan Ningsih.


"Mama pasti senang kalau kita pulang lebih awal, Pa," kata Wahyu yang melihat tempat makan sup daging sapi sudah di hadapan mereka. Wahyu menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul dua siang. Waktu yang cukup awal untuk pulang.


"Iya, pasti Mama senang dan lahap yang makan." Tepat saat Bima menjawab, dia hendak belok ke tempat makan yang dimaksud, tetapi tanpa disangka ada mobil yang melaju dari arah berlawanan.


Tabrakan pun tak bisa dihindarkan. Mobil yang dikendarai Bima menabrak sebuah mobil berwarna putih. Kecelakaan mobil itu berakibat fatal. Orang-orang berhamburan dan langsung menolong untuk mengeluarkan para korban kecelakaan dari dalam mobil.


"Kecelakaan mobil! Ayo tolong."


"Wah, kasihan banget. Ayo tolong mereka."


"Bawa korban keluar dari mobil terlebih dahulu. Lihat ada percikan api!"


Sang Pencipta masih melindungi Bima dan Wahyu. Sesaat setelah korban kecelakaan dibawa pergi agak jauh dari mobil, tiba-tiba percikan api dari kecelakaan mobil itu langsung meluas dan terjadi ledakan yang mengejutkan orang di sekitarnya.


Dueer!


Bima, Wahyu, dan seorang wanita yang menjadi korban kecelakaan langsung dibawa ambulance ke rumah sakit terdekat. Keadaan mereka bersimbah darah karena tabrakan itu memang cukup keras.


...****************...


Alex dan Ningsih ke rumah sakit segera diantar oleh Pak Sopir yang juga panik karena kabar tersebut. Mereka segera sampai di rumah sakit dan menanyakan di bagian administrasi tentang korban kecelakaan yang bernama Bima dan juga Wahyu.


"Dokter ... di mana suami dan putra saya? Bagaimana keadaan mereka, Dokter? Apakah kecelakaannya parah?" tanya Ningsih yang mulai panik.


Melihat Ningsih yang bertanya dengan kondisi panik, dokter pun mencoba menjelaskan perlahan. "Maaf, Bu, untuk saat ini korban kecelakaan atas nama Bapak Bima dan saudara Wahyu sedang menjalani operasi darurat karena ada bagian tulang yang patah dan harus segera dioperasi untuk menghentikan pendarahan. Sedangkan korban yang satunya lagi seorang wanita yang diketahui identitasnya bernama Via, saat ini keadaannya kritis dan pihak keluarganya belum bisa dihubungi karena yang tertera di ktp-nya bukan lagi rumah tempat tingga mereka. Juga handphone dari ketiga korban kecelakaan ini sampai saat ini belum diketemukan. Kami memperkirakan hal itu karena ada ledakan di mobil tersebut dan membuat barang-barang yang didalamnya juga rusak," jelas dokter yang membuat Ningsih sangat sedih.


Meski sebenarnya Alex juga merasa hatinya hancur dan terluka, dia mencoba tetap tegar untuk menemani Ningsih--ibunya. "Andai kata kami bukan manusia seperti ini, hal buruk tidak akan terjadi kepada Papa. Andai saja kami masih memiliki kekuatan, tentunya Papa tidak akan mengalami kecelakaan ini. Kasihan sekali Papa. Papa dan aku hanya ingin hidup bahagia bersama Mama dan Kak Wahyu, tetapi mengapa banyak sekali rintangan yang menghadang?" batin Alex sangat tersiksa menerima kenyataan ayah dan juga kakaknya harus dioperasi karena kecelakaan.


Wanita mana yang hatinya tidak hancur melihat suami dan anaknya berada di ruang operasi karena kecelakaan mobil yang terjadi sangat tiba-tiba dan juga bisa berakibat fatal. Beruntungnya kedua lelaki itu bisa selamat sebelum mobil tersebut meledak. Ningsih merasa syok dan juga tertekan, karena saat ini dia pun sedang hamil. Calon anak dari suaminya tercinta, yaitu Bima. Bagaimana jika ada hal buruk menimpa Bima? Ningsih tidak bisa membayangkan hal itu karena dia tidak sanggup hidup sendiri. Terlebih dia saat ini sedang mengandung.


"Alex, bagaimana ini? Apakah Papamu dan juga Wahyu akan baik-baik saja? Ya ampun ... Mama sangat sedih mendengar kabar Ini. Terlebih saat ini Mama memerlukan kehadiran Papa kamu setiap saat," ujar Ningsih yang merasa tubuhnya semakin lemas. Dia mengelus bagian perutnya.


Alex pun berinisiatif untuk memapah ibunya untuk segera duduk di kursi ruang tunggu. "Mama sabar dulu, ya, Ma. Tenang dulu. Semua akan baik-baik saja. Kita hanya bisa berharap operasinya berjalan dengan lancar. Papa dan Kak Wahyu akan kembali seperti sedia kala. Mama tenang dulu. Atur pernafasan seperti dokter yang katakan waktu priksa kemarin. Ingat, Mama tidak boleh stres," jelas Alex mencoba menenangkan ibunya.


Bagaimanapun, Alex masih berusia enam belas tahun. Dia belum banyak mengerti tentang kehidupan. Apalagi perasaan yang dirasakan ibunya saat ini. Tentunya Alex belum memahami hal itu. Namun Alex tetap berusaha yang terbaik untuk menenangkan ibunya, sambil menunggu hasil operasi ayah dan juga kakaknya.


Setelah menunggu selama dua jam, akhirnya pintu ruang operasi pun terbuka. Terlihat Bima dan Wahyu yang berada di ranjang sudah dipindahkan ke ruangan pemulihan. Alex dan juga Ningsih langsung melihat ke ruangan pemulihan. Kedua lelaki yang sangat mereka sayangi terbaring lemas di atas ranjang dorong dan terlihat mata mereka masih tertutup. Mungkin karena efek obat bius untuk operasi masih bereaksi.


"Tenang, ya Mama. Semua pasti akan baik-baik saja. Lihat Kak Wahyu dan juga Papa sudah selesai operasi. Kita hanya tinggal menunggu mereka sadar dari obat bius yang tadi di suntikan kepada mereka." Alex terus menemani ibunya. Dia hanya bisa berharap ayah dan juga kakaknya segera bangun.


Setelah Ningsih menandatangani beberapa dokumen untuk perawatan Bima dan juga Wahyu di Bangsal VVIP--satu kamar untuk berdua, akhirnya mereka pun bisa dipindahkan ke bangsal. Mereka hanya diletakkan dalam ruang pemulihan selama beberapa menit.


Ningsih dan juga Alex berjalan bersama dengan Bima dan Wahyu yang sedang didorong dari ruang pemulihan menuju ke bangsal VVIP yang sudah disetujui oleh Ningsih. Setelah pasien dipindahkan ke ruangan bangsal, perawat pun memberi instruksi kepada Ningsih dan juga Alex mengenai prosedur setelah operasi, pun juga jika ada keperluan, mereka bisa memencet tombol bantuan dan Perawat akan langsung ke sana. Tentunya jika pasien sudah membuka mata pertama kali setelah operasi, mereka harus melapor ke perawat. Setelah dirasa sudah cukup paham dan mengerti, perawat pun keluar dari kamar VVIP tersebut meninggalkan Ningsih dan juga Alex yang tetap menemani Wahyu dan Bima.


"Alex ... Alex ... Mengapa semua ini terjadi saat kita berbahagia? Mama harap Papamu segera bangun karena Mama pun merasa sedih melihat mereka seperti ini. Tadi dari pihak rumah sakit juga meminta Mama untuk menandatangani jaminan bagi wanita yang menjadi korban tabrakan mobil dengan Papamu karena keluarga wanita tersebut tidak bisa dihubungi dan rumahnya sudah pindah. Jadi, Mama terpaksa untuk menandatangani hal itu. Jika tidak ada penanggung jawab, wanita itu pasti tidak akan ditangani pengobatannya," kata Ningsih yang merasa sedih dan juga harus menanggung beban lebih karena menjadi penanggung jawab dari korban kecelakaan yang satunya.


Kecelakaan mobil ini sedang diusut oleh pihak kepolisian. Agar bisa mengetahui mana yang sebenarnya menyebabkan permasalahan. Apa pun itu, Ningsih hanya bisa berharap jika suami dan anaknya kembali sehat dan lekas bangun pasca operasi. Karena bagi Ningsih, berapa pun biayanya, dia pasti akan membayar asalkan suami dan anaknya lekas sembuh.


Empat puluh lima menit kemudian, Bima membuka mata. Ningsih melihat dan langsung senang. Wahyu pun segera membuka mata menyusul ayahnya. Alex langsung menekan tombol panggilan untuk perawat agar bisa segera mendapat bantuan medis.


"Sayang, terima kasih kalian sudah bangun. Mama sayang kalian," lirih Ningsih yang tak kuasa menahan air mata.


Setelah perawat datang, mereka pun dicek secara seksama dengan dokter yang juga ada di sana. Operasi tersebut berjalan dengan lancar. Namun, Bima yang kakinya patah akan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa berjalan dengan normal kembali. Sedangkan Wahyu yang tangannya patah, akan segera sembuh jika tetap memakai gips terlebih dahulu.


Ningsih tak henti-hentinya berdoa kepada Sang Pencipta dalam hatinya. Dia berharap Allah akan berbaik hati untuk menyembuhkan suami dan putranya segera. Ningsih merasa sangat lega setelah dokter memeriksa keadaan pasca operasi kedua jagoannya. Wanita itu yakin jika Bima dan Wahyu akan segera sembuh.


"Bu Ningsih, Anda tak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja karena mereka sudah melalui masa kritis. Saat ini mereka perlu banyak istirahat. Anda tak perlu panik jika sebentar lagi merek akan kembali tertidur," pungkas dokter yang kemudian berpamit pergi dengan para perawat.


Tinggallah Ningsih dan Alex yang menemani Bima dan Wahyu. Merek masih berbaring lemas di ranjang.