
π SALAH LANGKAH π
Waktu bergulir begitu cepat. Tak terasa seminggu berlalu setelah kepergian Wahyu ke Yogyakarta. Setiap hari Wahyu selalu menelepon Ningsih dengan gaya bicara yang lucu dan ceria seperti biasa. Ningsih senang melihat puteranya bahagia di sana, tetapi tak bisa dipungkiri hari-hari dilalui sangat sepi.
Pagi itu ... Nindy yang sudah resmi bekerja di rumah Ningsih, menyediakan sarapan seperti biasa. Roti bakar dan selai kacang atau sereal + susu dan juice. Nindy juga sudah mencatat semua tugasnya seperti membuat infuse water, salad sayur, memasak makan siang atau makan malam jika diminta oleh Ningsih karena biasanya mereka makan di luar. Nindy menjadi bagian kehidupan Ningsih dan lumayan mengalihkan kesedihan Ningsih.
"Selamat pagi Tante Ningsih ...." sapa Nindy dengan semangat. Dia sudah membereskan dapur dengan rapi dan bersih.
"Pagi, Nindy. Kamu nih rajin banget. Baru jam enam loh," jawab Ningsih yang bangun awal karena hendak menengok tempat untuk usahanya.
Seminggu ini juga Bima menghilang. Ningsih pun membiarkan Bima untuk menangkan diri. Sebenarnya kepergian Wahyu adalah awal yang mengerikan untuk Ningsih. Wanita itu tidak tahu jika hidupnya sudah di ujung tanduk. Bima semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengelabui Tuan Chernobog.
"Iya, Tante. Harus rajin kan Tante kemarin juga sudah bilang mau pergi pagi. Itu Bang Joko juga sudah datang," ucap Nindy dengan senyum termanisnya.
"Wah, terima kasih ya Nindy. Makin yakin deh kalau jadi istrinya Reno," kata Ningsih sambil memencet hidung Nindy.
"Hih, Tante apaan sih. Sebel," dengus Nindy yang tak suka disentuh hidungnya.
"Gimana hubungan kamu sama Reno? Baik-baik saja 'kan?" tanya Ningsih sambil mengambil roti bakar dan mengoles selai kacang Nurlella kesukaannya.
"Hmm ... biasa aja kok, Tante. Lagi pula Kak Reno sibuk. Dia ke Yogyakarta mau urus pembukaan kost-kostan baru. Katanya uang yang dia kumpulkan sudah cukup untuk membangun lahan kosong di daerah Bantul. Jadi Nindy jarang chat takutnya ngganggu," jelas Nindy yang terlihat agak murung.
"Duh, jangan murung dong. Gini aja, dari pada galau mending Nindy ikut Tante nengok tempat yang mau buat usaha restoran, gimana?" usul Ningsih untuk menghibur hati adiknya Joko.
"Baik, Tante. Nindy ganti baju dulu ya?"
Nindy bersemangat untuk ikut pergi. Seperti halnya anak baru gede lainnya, dia pun senang jalan-jalan. Baginya Tante Ningsih sosok wanita yang sangat baik dan peduli terhadap orang lain.
Setelah selesai ganti baju dan sarapan, Ningsih mengajak Nindy dan Joko pergi menengok tempat yang akan menjadi restaurannya. Meninggalkan rumah tanpa penjaga. Mereka bergegas menemui si pemilih bangunan.
Sesampainya di tempat yang dijanjikan, Ningsih langsung mengenali orang tersebut. "Bu Eny?" sapa Ningsih pada wanita yang berambut hitam dengan uban.
"Oh, Ningsih ya? Wah cantik sekali." jawab Bu Eny yang berada di luar bangunan.
"Bu Eny terlalu memuji. Ini ya Bu tempat yang mau dijual? Boleh lihat isi bangunannya, Bu?" tanya Ningsih dengan sopan.
"Tentu saja boleh. Silahkan masuk."
Bu Eny mengajak Ningsih berkeliling. Nindy dan Joko ikut masuk ke dalam. Ruangan yang bagus dan tempat strategis di tengah perkantoran meski pinggiran kota. Ningsih yakin mengambil tempat ini untuk lokasi usahanya. Dia sudah memikirkan akan membuat masakan siap saji dan beberapa pilihan makanan populer seperti takoyaki, burger, steak, sushi, bento, bahkan nasi goreng dan bakmi goreng aneka ragam rasa.
"Bagaimana Ningsih? Sudah puss melihatnya?" tanya Bu Eny setelah tiga puluh menit berkeliling seisi bangunan itu.
"Sudah, Bu. Nanti malam saya kabari. Untuk harga apakah boleh kurang?"
"Ini sudah murah sekali, Ningsih. Tujuh ratus juta angka sedikit bukan dibanding kekayaanmu? Sesuai dengan bangunan dan fasilitas yang ada meski tempatnya tidak terlalu besar tetapi strategis untum membuka usaha," jelas Bu Eny.
"Baiklah, Bu. Nanti malam saya hubungi kembali."
Ningsih mengakhiri pertemuan pagi itu dan mengajak Joko serta Nindy pergi. Bu Eny sengaja menjual bangunan itu karena hendak pindah ke Kota Semarang dan tinggal bersama anaknya. Ningsih memang langsung tertarik dengan lokasi itu. Dalam perjalanan pun Ningsih meminta pendapat pada Joko yang ada di sampingnya.
"Joko, lokasi tadi dan bangunannya menurutmu gimana?"
"Oh, bagus sih, Bu. Eh, Ningsih. Cocok nuga untuk usaha kuliner." kata Joko sambil menyetir mobil.
"Kalau harganya kemahalan nggak sih?"
"Lokasi sana memang harganya tinggi. Terlebih fasilitas kamar mandi bagus dengan exhause-fan. Lagi pula bangunan masih kokoh dan cat juga bagus. Sepertinya menjadi investasi yang tepat," ucap Joko dari sudut pandangnya.
"Iya, juga ya Joko. Oiya, antar belanja ya. Udah jam sebelas ini. Mau beli sayur sama daging."
Mereka pun berbelanja. Tak lupa menikmati santap siang. Ningsih tak menyadari jika suatu hal buruk terjadi di rumahnya. Kawanan perampok sudah lama mengawasi rumah Ningsih. Sejak kejadian Alex dan Hartono tempo lalu, kawanan rampok ini menunggu saat yang tepat untuk beraksi seperti hari ini.
Lima perampok itu beraksi dengan gesit. Menggasak seluruh harta Ningsih mulai dari barang berharga mahal hingga dalam kamar Ningsih. Mereka menemukan almari sesaji yang berisi uang dan emas sangat banyak.
"Bener! Heran aja uang ama emas segini banyaknya disimpen tanpa penjaga atau satpam. Kalau gue pasti dah simpen di bank aja."
Perampok itu menggasak semua tanpa ampun. Lalu segera pergi sebelum menimbulkan kecurigaan. Mereka sangat ahli sampsi tak meninggalkan sidik jari karena memakai sarung tangan.
Setelah selesai berbelanja, Ningsih kembali menghubungi Bu Eny untuk deal banguann itu. Pembayaran dan serah terima dilakukan sore itu juga dengan memanggil notaris kepercayaan Ningsih. Ningsih mengambil uang di tabungannya yang masih ada delapan ratus juta. "Tak apa lah untuk usaha. Lagi pula masih banyak uang dan emas dari Bima di alamari sesaji rumah. Lebih baik aku segera membuat usaha ini nyata." batin Ningsih saat serah terima berlangsung.
Ningsih merasa lega sudah membeli bangunan itu. Dia pun menghubungi bidang dekorasi ruangan dan memesan beberapa item tambahan serta meja kursi tamu, kitchen set, tempat kasir, serta perlengkapan makan yang senilai total dua ratus juta rupiah. Nominal yang sangat besar untuk usaha yang mencangkup kapasitas pengunjung empat puluh sampai lima puluh orang. Ningsih ingin totalitas dalam usaha kulinernya kali ini.
"Sudah selesai ini, Bu? Maaf, Ningsih." tanya Joko yang seharian ini menemaninya. Terlihat Nindy pun sudah lelah seharian di luar.
"Sudah Joko. Kamu manggil Bu terus sih. Panggil nama aja biar santai. Maaf ya hari ini sampai petang. Soalnya banyak yang diurus," kata Ningsih yang memperhatikan Joko dan Nindy kelelahan.
"Nggak apa kan sudah kewajibanku sebagai sopir pribadi." sahut Joko dengan senyum di wajahnya.
Ningsih pun sampai di rumah yang masih gelap karena belum menyalakan lampu kecuali lampu depab gerbang yang otomatis menyala ketika gelap. "Sepertinya kita kurang orang untuk menjaga rumah. Besok coba ke tempat pelatihan sekurity ya Joko."
Mereka pun masuk ke rumah setelah Joko turun dari mobil dan membuka gerbangnya. Memarkirkan mobil dan beranjak ke dalam rumah. Ningsih dan Nindy membawa barang bawaan sedangkan Joko mengangkut coolling box berisi daging dan ikan yang cukup berat. Setelah itu Joko keliling menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Ningsih melihat TV LED dan home teater di ruang tengah hilang.
"Joko! Sepertinya ada maling ke sini." kata Ningsih berteriak.
"Mana malingnya?" Joko sigab dan waspada.
"Coba kalian cek ada barang hilang lagi nggak?" kata Ningsih yang berlalu pergi ke kamarnya.
Nindy pun mengecek bahkan ke dalam kamarnya. Dia menangis melihat laci kamarnya dicongkel. Kotak merah berisi cincin berlian pemberian Reno raib diambil orang tak dikenal.
Joko pun berkeliling dan mengecek semuanya. Tak hanya TV LED dan Home Teater yang digondol maling, beberapa guci antik hiasan pun hilang. Joko segera menelepon kantor polisi untuk melaporkan kasus perampokan ini.
Ningsih masuk ke kamar dan kaget karena almari sesajinya sudah terbuka. Terlihat ada bekas pembukaan paksa yang membuat Ningsih terkejut seisi dalam almari hilang tak bersisa. "Tidaaakkk!" teriak Ningsih lalu pingsan seketika.
Joko mendengar teriakan Ningsih dan bergegas menyusul. Nindy yang menangisi cincin pun mengusap air matanya dan segera ke kamar Tante Ningsih karena mendengar teriakan juga. Ningsih pingsan dan terbaring di lantai. Joko segera menolong, menggendong Ningsih dan meletakkan ke ranjang.
"Bangun, Ningsih. Bangun ...." ucap Joko yang menggoyangkan lengan Ningsih.
Ningsih sangat syok sampai tak sadarkan diri. Uang di alamari adalah hartanya yang tersisa dari menumbalkan suami-suaminya. Sedangkan uang yang di tabungan sudah dia gunakan membeli bangunan untuk restauran dan DP pembelian barang-barang. Ningsih tak menyangka, kali ini dirinya sungguh diuji dengan berat. Melepas puteranya untuk jauh dari sisi. Kehilangan harta benda juga dalam sekejab.
"Tante, bangun. Gimana ini Bang?" tanya Nindy yang mengipasi Ningsih dengan tangannya. Membuatnya panik karena Ningdih belum sadar.
"Ambilkan minyak angin sana, Dek!" kata Joko yang juga panik.
Setelah mengambil minyak angin, Nindy mengoleskan ke pelipis, hidung, dan leher Tante Ningsih. Sesaat kemudian, Tante Ningsih sadar dari pingsannya. Lalu dia melihat ke sekeliling.
"Joko ... Nindy ... ini mimpi atau kenyataan ya?" lirih Ningsih pada kedua pegawai yang sudah seperti keluarga sendiri.
"Ini kenyataan, Ningsih. Aku sudah telepon polisi dan mereka bergegas ke sini untuk mengusutnya. Sabar ya," ucap Joko yang juga bingung.
"To ... tolong tengok almari itu ada isinya tidak?" Ningsih menunjuk almari yang biasanya untuk tempat sesaji.
Nindy berjalan ke almari besar itu dan melihat isinya yang ternyata kosong. "Tante, ini kosong. Nggak ada isinya."
"Kosong? Hilang? Ini bukan mimpi?" Ningsih pun pingsan kembali. Membuat Joko dan Nindy semakin panik.
Bersambung ....
***
"Harta yang didapatkan secara instan, akan hilang dengan mudah juga. Bagaimanapun juga JERAT IBLIS begitu menggoda tetapi juga menyengsarakan secara perlahan tapi pasti." ~ Rens09
Jangan lupa VOTE ya guys^^ Author bukan apa-apa tanpa kalian π