JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 141


🍀ANTARA RASA DAN LOGIKA - PART 3🍀


Joko merasa mabuk kepayang dalam cinta yang berbalut hawa napsu. Pemikiran Joko yang semakin mengikuti keinginan daging, membuatnya masuk dalam perangkap iblis.


"Joko, kita sarapan di sana aja," ucap Ningsih sembari menunjuk sebuah mall.


"Kok di mall? Tumben nggak MCD he he he ...." canda Joko yang menebak kesukaan Ningsih sedari dulu.


"Itu kalau ada Wahyu. Sekarang nggak, 'kan? Ayo ke mall aja!" seru Ningsih bersemangat. Dia sengaja mengajak Joko jalan-jalan agar senang dan mau memikirkan untuk segera menikahi Ningsih. Semua sudah Ningsih bicarakan dengan Bima dan demi Bima. Joko, hanyalah alat untuk mencapai keinginan sepasang kekasih beda dunia itu.


Joko masuk ke basement tempat parkir mall. Masih sepi karena basement tidak terlalu banyak mobil. Saat sampai memarkir mobil, otak Joko kembali berpikir menjurus ke napsu. Dia mencium leher Ningsih. Kemudian terjadilah hal yang Joko inginkan di dalam mobil. Ningsih hanya mengikuti semua itu.


"Puaskan saja dirimu sekarang. Tak kusangka, kamu juga lelaki menjijikan penuh napsu! Bima akan segera pulih dan bisa bersamaku selamanya." batin Ningsih yang menanggapi Joko setengah hati.


Setelah itu, mereka merapikan pakaian dan masuk ke mall mencari tempat untuk sarapan. Mereka menghabiskan waktu di mall. Sarapan, jalan-jalan, nonton film di bioskop, lalu makan siang di sana.


***


Pada waktu yang sama di tempat lain ....


Bima berada di tepi danau. Tempat andalannya saat sepi maupun galau. Dia hanya terdiam menatap danau yang tenang. Kemudian suara seseorang menarik perhatiannya.


"Tolong! Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak seorang gadis mencoba meronta dari sergapan beberapa lelaki.


"Tak usah banyak bicara, atau ambil akibatnya!" gertak seorang pria dengan jas hitam.


"Daniel ... tolong!" teriak orang itu lagi, yang ternyata Laurent si gadis buta.


Sedangkan Daniel-pengawal pribadinya- sedang dihajar habis-habisan. Melihat itu, Bima yang sebenarnya tak ingin ikut campur urusan manusia, jadi bertindak.


"MANUSIA LAKNAT! GADIS BUTA PUN MAU MEREKA PERKOSA!" geram Bima yang kemudian mendekati mereka dengan wujud manusia.


"Hentikan!" seru Bima membuat ketiga orang berjas hitam yang hendak melecehkan Laurent pun terhenti.


"Siapa kamu? Dasar pengganggu!" kata seorang pria yang kemudian menyerang Bima. Dalam hitungan detik, Bima langsung memukul pria itu hingga terpental jauh dan terluka parah.


Melihat itu, kedua pria lainnya lekas berlari ke arah Bima. Mereka menyerang bersamaan. Namun, dalam hitungan detik juga, Bima melumpuhkan mereka dengan pukulan yang membuat mereka terpental jauh.


Keempat lelaki yang menghajar Daniel dan beberapa pengawal Laurent, tak bisa tinggal diam. Mereka menyergap Bima dan menyerang bersamaan. Bima langsung mengeluarkan api neraka dari tangannya.


"Berani maju selangkah saja, kubuat kalian menjadi abu Neraka!" gertak Bima yang membuat empat orang itu gemetar melihat api membara keluar dari tangan Bima. Mereka memilih kabur dan membawa pergi tiga orang yang sudah Bima lumpuhkan.


Mobil Van hitam itu langsung melaju pergi, menjauh dari rumah yang bisa disebut seperti castil. Bima tak tinggal diam. Dia langsung melempar bola api dari Neraka yang langsung melahap penjahat beserta mobil Van itu hingga tak bersisa. Hilang begitu saja. Penjahat itu disedot semua kejahatan dan dosa yang pernah diperbuat sehingga energi Bima bertambah.


Bima melangkah ke arah gadis buta yang gemetar ketakutan itu. Gaun gadis itu sudah koyak. Bima tak tega dan mengambil jas dari seorang pengawal untuk menutupi gadis itu.


"Te-terima kasih ... terima kasih ...." ucap Laurent yang kemudian menangis tersedu. Hampir saja semua berakhir. Penjahat itu sengaja akan menculik Laurent dan mencabulinya.


Bima hanya bisa berkata, "Kenapa berterima kasih? Dasar gadis lemah! Jangan biarkan orang seperti sampah itu datang kembali."


Laurent pun terdiam dan mengusap air matanya. "Iya, Tuan Iblis! Aku memang lemah." serunya yang kemudian mencoba berdiri dan mencari di mana Daniel.


"Orang kepercayaanmu pingsan. Sekarat. Babak belur." celetuk Bima yang hendak pergi dari sana.


"Tuan Iblis, maukah kau menyembuhkannya?" tanya Laurent yang membuat Bima berhenti melangkah.


"Apa untungnya untukku?" ucap Bima sembarangan. Dia hanya mencari alasan untuk bisa menolong manusia selain Ningsih.


"Kuberikan tubuhku untukmu, jika kau mau menyelamatkan Daniel." lirih Laurent yang asal bicara.


"Ha ha ha ha ... aku tidak tertarik! Baiklah, aku sembuhkan dia. Anggap semua ini tak pernah terjadi." tegas Bima yang berjalan mendekati Daniel yang pingsan. Dia memegang kepala Daniel dan memberikan sedikit energi untuk menyembuhkannya. Saat Daniel hampir sadar, Bima langsung menghilang.


"Daniel! Daniel! Kamu tidak apa-apa?" seru Laurent memastikan keadaan bodyguardnya.


"Laurent! Saya baik-baik saja, Nona. Nona tidak apa? Di mana penjahat itu?" Daniel bersiaga sambil melihat ke segala arah.


"Semua sudah baik-baik saja, Daniel." lirih Laurent yang kemudian pingsan.


Bima sudah menjauh dari danau. Meninggalkan gadis buta dengan permasalahannya. "HUH! KENAPA AKU BANTU MEREKA. DASAR MANUSIA MENYUSAHKAN!" Bima terlihat menyesal sudah berurusan dengan orang-orang yang tak dikenalnya.


***


Setelah puas menghabiskan waktu di mall, Ningsih pun mengajak Joko untuk pulang. "Joko, capek, nih. Pulang aja, yuk!" ucap Ningsih yang bergelanyut manja di tangan Joko.


"Iya, sayang. Ayo pulang. Maaf, ya. Kamu jadi capek." jawab Joko.


Ningsih sebenarnya muak dipanggil sayang oleh lelaki yang hanya bernapsu padanya. Namun, semua rencana tetap harus berjalan.


Tiba-tiba ... handphone Joko berdering. Panggilan dari Nindy. Dia segera mengusap layar datar handphonenya ke arah diterima.


Joko: "Hallo, ada apa, Dek?"


Nindy: "Bang, Abah sudah sadar. Tadi Nindy telepon pagi tapi bunyinya sedang di luar service area. Jadi, Nindy urus Abah dan Ibu dulu. Sekarang Abah udah di bangsal biasa. Bang kalau sudah selesai kerja, ke sini, ya?"


Joko pun terdiam sejenak. Dalam hatinya, mungkin tadi saat Nindy telepon, Joko sedang bermain dengan Ningsih di mobil dalam basement. Tak ada jaringan selular di sana.


Joko: "Oh, iya, Dek. Bang segera ke sana!"


Nindy: Iya, Bang. Kami tunggu. Hati-hati di jalan, ya."


Joko pun mengakhiri pembicaraan di handphonenya dan memasukkan benda pipih itu di dalam saku. Lalu menatap Ningsih yang sudah memandang Joko terlebih dahulu.


"Abah kenapa, Joko?" tanya Ningsih penasaran.


"Abah sudah sadar. Nindy minta Bang segera ke sana. Sayang mau ikut?" kata Joko yang berharap Ningsih mau bersamanya ke rumah sakit.


"Mau sih, tapi ... lamar aku di depan keluargamu." ucap Ningsih to the point. Membuat Joko bingung dan gugup.


"Eh, Ningsih ... bukannya nggak mau. Bang belum ada persiapan. Uang pun tahu sendiri. Bang juga ingin ... tapi ...."


"Nggak usah pikirkan ini itu kalau memang serius. Buat apa uang? Aku sudah ada. Namun, yang kubutuhkan adalah kesetiaan dan tanggung jawab!" gerutu Ningsih yang melihat ragu di mata Joko.


Joko langsung menyahut, "Baik. Baik. Bang lamar di depan Abah, Ibu, dan Nindy. Semoga mereka merestui. Jangan marah, sayang." Joko membujuk Ningsih agar tidak merajuk. Jelas saja, Ningsih hanya pura-pura marah agar kemauannya dituruti.


"Yak, betul! One step closer! Sabar, Bima. Sebentar lagi semua akan berjalan lancar." batin Ningsih saat Joko langsung meraih tubuhnya dan memeluk erat.


Mereka pun segera ke tempat parkir basement, mengendarai mobil menuju ke rumah sakit. Terlihat wajah Joko gugup. Mungkin karena dia tak yakin akan melamar bosnya sendiri. Beberapa kali, Joko menghirup napas dalam, lalu menghempaskan perlahan.


"Kamu kenapa? Gugup, ya? Atau nggak suka, nggak serius?" lirih Ningsih membuat Joko semakin tak menentu.


"Jangan bilang begitu, sayang. Bang ini sungguh cinta mati sama kamu sejak pertama kita berjumpa. Kamu bagaikan bidadari penyelanat hidupku. Bagaimana bisa aku tidak sungguh-sungguh cinta?" ungkap Joko yang agak panik melihat wajah Ningsih yang kesal.


"Terus, kenapa seperti gugup gitu?" Ningsih hanya mengerjai Joko agar makin gugup.


"Bang ini gugup karena dag dig dug. Mau kenalkan calon mantu ke orang tua itu rasanya nano nano. Maaf, sayang. Maaf ...."


Ningsih hampir saja tertawa. Tak pernah dia melihat ekspresi Joko seperti itu. Ningsih hanya menahan tawa dan tetap dengan ekspresi datar. Sedangkan Joko sudah berkeringat seiring mobil semakin dekat dengan rumah sakit.


Mereka sudah memarkirkan mobil dan berjalan ke pintu utama rumah sakit. Berjalan menuju koridor bangsal.


"Loh, kok ke lantai kelas tiga, sih?" tanya Ningsih pada Joko sambil mengerutkan dahi.


"Eh, iya. Kata Nindy, Ibu minta di kelas tiga saja biar lebih irit karena biaya ICU tempo lalu sangat tinggi." jawab Joko yang menunduk malu. Bahkan uang berobat pun sebagian besar dari Ningsih. Seperti cowok matre saja, jika Joko akhirnya menjadikan Ningsih istri. Namun, apa boleh buat, dia pun menginginkan wanita cantik di sampingnya menjadi teman hidup.


"Yaampun, Joko. Kenapa nggak bilang? Nanti kita ajak Abah pindah ke kelas VVIP, ya? Kasihan Nindy dan Ibu kalau tidur di lantai terusan bisa sakit." ucap Ningsih sambil mengelus tangan Joko.


Joko pun hanya bisa mengiyakan. Dia merasa beruntung mendapatkan cinta, perhatian, dan tubuh Ningsih. Joko tersenyum, bangga.


"DASAR LELAKI TAK TAHU DIRI! KAMU ITU AKAN DIJADIKAN TUMBAL! KENAPA TERLALU PERCAYA DIRI BISA MENDAPATKAN NINGSIH SEUTUHNYA!" celetuk Bima yang kesal dan cemburu dengan Joko.


Ningsih pun menahan tawa kembali. Dia membalas dengan bicara dalam hati. "Biarkan saja dia berkhayal dulu, suamiku. Agar saat dijadikan tumbal, dia tidak menyesal. Tadi dia bilang cinta setengah mati. Biar kita wujudkan mati sekalian." batin Ningsih yang tak kalah sadisnya.


"HA HA HA HA ... BETUL JUGA. ISTRIKU MEMANG PANDAI. NIKMATI SAJA HALUSINASIMU, JOKO! SEBELUM KUCABUT NYAWAMU." geram Bima yang jelas tak dapat didengar orang lain kecuali Ningsih.


Sesampainya di bangsal kelas tiga, keadaan cukup ramai. Banyak tamu pasien berdesakan dan membuat Ningsih tak suka. "Joko, bawa Abah pindah dahulu saja. Baru kita bisa leluasa bicara. Ayo kita ke bagian administrasi dan perawat," perintah Ningsih yang dijawab dengan anggukan kepala Joko.


Bersambung ....


***


"Menulislah ... maka dunia baru akan kamu temukan. Membacalah ... maka banyak dunia baru akan kamu lihat. Semakin banyak menulis, kamu akan semakin banyak berlatih. Semakin banyak membaca, kamu akan semakin banyak ilmu." ~ Rens09