JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 26


...🔥 PERUBAHAN - 2 🔥...


Zatan memakai tubuh Nindy untuk mencari tumbal. Jiwa manusia berdosa yang terjerat dalam hawa nafsu untuk dibawa ke neraka lapis keenam. Tentunya tidak sulit mencari manusia seperti itu, apalagi di kota besar yang penuh gemerlap dan kebebasan.


Zatan segera menentukan sasarannya. "Satu orang untuk tumbal setiap purnama. Bukan hal yang sulit. Jiwa manusia berdosa itu sangat nikmat." batin Zatan saat mendekati pria tambun yang sangat genit menatapnya.


Tentu saja, Zatan mengubah tampilan Nindy. Nindy yang berhijab dan terlihat menawan dengan keluguannya, berubah drastis saat Zatan memakai tubuhnya. Tampilan seksi dan menggoda dengan balutan mini dress dan rambut yang digerai, membuat lelaki hidung belang pasti terjebak dalam pesonanya. Begitlah Zatan meperdaya tubuh Nindy.


"Hai, cantik. Sendiri aja, nih?" tanya seorang pria tambun yang berusia sekitar empat puluh tahun ke atas.


"Sendiri, Om. Nunggu teman nggak jadi datang," kata Nindy melancarkan modus. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Nindy yang asli karena Zatan menggunakan tubuhnya.


"Loh, kok, sama. Mau nemani Om? Minum di sini," ucap pria itu yang merasa ada lampu hijau. "Nama kamu siapa? Om namanya Setiawan."


"Nama saya Zee," lirih Zatan yang sengaja mengganti nama Nindy agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Setiawan seorang lelaki yang tak setia. Selalu berganti wanita dan mencari mangsa layaknya kucing garong. Dia terbelenggu dosa hawa nafsu yang tiada henti. Saat ini, maut hendak menjemputnya dengan perantara iblis dari neraka lapis keenam. Dia sudah mendapat kesempatan untuk bertaubat lebih dari sepuluh kali, tetapi selalu saja disia-siakan. Menipu keluarganya dan menyalahkan wanita yang dia kelabui. Selalu seperti itu hingga iblis pun muak melihat semua catatan dosa yang selalu sama. Setiawan adalah contoh manusia berdosa yang pantas tinggal di bawah naungan Tuan Asmodeus.


Tak perlu waktu lama untuk membuat lelaki itu masuk dalam perangkap. Setiawan mengikuti Zatan ke hotel yang sudah disiapkan. Mereka pun melakukan hal yang tak seharusnya.


"Wah, nasib baik dapat cewek cantik dan mau gratisan. Nggak kenal pula. Nggak perlu mikir," batin Setiawan dengan seringai mengerikan saat menikmati tubuh Nindy.


Setelah menyelesaikan gelora nafsu, Setiawan meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribu dan sebuah kertas bertuliskan.


[ Zee, jika kamu mencariku lagi, ini nomorku 08xx xxxx xxxx ini ada uang jajan sedikit dari Om. Have nice day. ]


Setiawan pergi dari kamar hotel meninggalkan tubuh Nindy yang kembali tak sadarkan diri. Zatan keluar dari tubuh Nindy dan menjemput roh Nindy untuk masuk kembali ke tubuhnya. Malam itu, menjadi malam yang panjang dan rumit bagi Nindy.


Sedangkan Setiawan yang bergegas pulang ke rumah, tak sadar jika hidupnya tinggal beberapa saat lagi. Dia sudah menyerahkan jiwanya pada iblis. Zatan segera menghampiri Setiawan setelah mengembalikan roh Nindy pada tubuhnya.


"Kematian seperti apa yang pantas untuk pria sepertimu? Ha ha ha ha ...." kata Zatan sambil tertawa.


Saat Setiawan mengembalikan mobil sewaan milik saudaranya dan mengambil motor miliknya untuk segera pulang ke rumah, tak diduga ada sebuah bis besar menabrak dan menlindas motor beserta tubuh Setiawan. Seketika darah ada di mana-mana bersamaan tubuh Setiawan yang terbelah-belah tak beraturan. Bukannya berhenti, sopir bis itu segera melaju pergi karena takut dimasa warga yang berhenti ketika kecelakaan itu terjadi.


"Panggil ambulan!"


"Telepon polisi sekarang!"


Teriak orang yang mulai ribut melihat kecelakaan itu membuat seseorang tewas mengenaskan dengan motor yang juga hancur. Setiawan langsung dibawa Zatan ke neraka lapis keenam.


"Aku di mana? Kau siapa? Ada apa ini?" Setiawan yang belum sadar dia meninggal pun kebingungan.


"Dasar manusia! Sudah mati juga banyak bertanya! Ikut aku ke neraka lapis keenam. Hidupmu sia-sia penuh dosa hawa nafsu. Kau cocok bersama kami, para iblis di neraka. Kau akan menjadi budak Tuan Asmodeus selamanya!" gertak Zatan dengan mata merah membara membuat Setiawan teriak ketakutan.


...****************...


Nindy membuka mata perlahan. Dia merasa sangat pening dan tubuhnya sakit. Saat tersadar, dia masih di dalam kamar hotel seperti siang tadi saat bersama Zatan.


"Ugh, ada apa ini?" Nindy memegang kepalanya dan sama sekali tak mengingat apa pun karena tubuhnya baru saja dipakai Zatan.


Nindy melihat handphonenya. Terlihat sudah lewat tengah malam. Nindy segera beres-beres untuk pulang.


"Reno pasti marah kalau tahu aku pergi dari tadi siang. Duh, aku alasan apa ini?" gumam Nindy yang terburu-buru meninggalkan kamar hotel.


Dia pun kaget saat melihat uang di meja dengan kertas berisikan pesan dari orang yang tak dia ketahui. Nindy pun menyobek kertas itu dan membuangnya di bak sampah. Sedangkan uang yang tak seberapa itu, Nindy tinggalkan untuk tip petugas yang membersihkan ruangan.


Nindy segera check out dari hotel dan memesan taksi online. Dia takut jika Reno marah. Dalam perjalanan pulang pun, perasaan resah hinggap di hati Nindy.


Sedangkan di rumah ....


Melihat isterinya belum ada di dalam kamar, Reno yang hendak marah pun jadi terdiam. Seakan emosinya tertahan. Semua itu karena pengaruh Zatan. Iblis itu sudah mulai memperngaruhi pikiran Reno. Menutup emosi Reno terhadap Nindy dan membuat Reno akan menuruti semua perkataan Nindy.


Perjanjian sudah berlangsung sejak Nindy melayani Zatan dan memberi darah padanya. Sempurna saat satu tumbal sudah diambil. Reno tak bisa mengelak lagi. Kekuatan gaib itu nyata. Pagar gaib di tubuh Lisa membuat Reno panas di dekat anaknya sendiri.


Zatan pun geram karena ada manusia yang ikut campur dengan memberi pagar gaib pada Lisa. "Awas saja kalian yang ikut campur akan kubuat menyesal!" geram Zatan yang tahu bahwa Lisa diberi pagar gaib.


Reno yang hendak marah justru berubah menjadi rasa gelisah. "Sayang, kenapa kamu belum pulang? Kamu di mana?" lirih Reno yang kemudian mengambil handphone untuk menelepon Nindy.


Pengaruh kekuatan gaib Zatan sungguh luar biasa. Reno berubah menjadi budak cinta Nindy tanpa memikirkan logika apa pun lagi. Nindy tak sadar jika sebenarnya sejak dulu Reno sudah mencintainya.


...****************...


Pesantren saat tengah malam ....


Wahyu yang tidur, tiba-tiba terbangun. Dia pun terkejut karena bermimpi aneh. "Kak Reno?" lirih Wahyu yang kemudian bergegas berdzikir.


Wahyu mencari petunjuk kepada Allah apa arti mimpi itu. Dia sangat khawatir pada Reno yang selama ini sudah merawatnya hingga dia bisa masuk ke pesantren.


Tak hanya Wahyu yang merasakan itu, Alex pun merasakannya. Alex segera menuju ke Wahyu. Melihat kakaknya sedang berdzikir, Alex menunggu dengan sabar. Setelah selesai, Alex pun mendekat.


"Kak Wahyu merasa sesuatu?" tanya Alex mengagetkan Wahyu yang hanya sendirian di dalam kamar.


"Astagfirullah Alex. Kamu kenapa tengah malam di sini? Kalau ada yang lihat bisa gawat!" kata Wahyu yang kemudian menutup tirai kamar.


"Kak, aku pakai mode tak terlihat, kok. Kakak 'kan spesial bisa lihat aku. Ha ha ha ... oh, iya, Kakak merasa sesuatu? Alex merasakan ada sesuatu sama Reno." ucap Alex yang kemudian membuat suasana menjadi serius.


"Kamu nggak lagi baca pikiranku, 'kan?" tanya Wahyu dengan menyipitkan mata menatap Alex.


"Alex itu bukan cenayang. Kak, ayo kita selidiki Kak Reno! Alex jadi khawatir. Apalagi anaknya Kak Reno itu spesial seperti Kakak," jelas Alex yang membuat Wahyu mengernyitkan dahinya.


"Lisa? Maksudmu Lisa juga bisa melihat hal gaib?" selidik Wahyu memastikan.


"Tak hanya bisa, dia punya hal lebih yang diinginkan makhluk gaib untuk hidup kembali. Kecuali aku, Papa, dan Tante Dinda, loh! Kita 'kan Iblis baik kalau sama keluarga. He he he ...." Alex memang seperti itu. Tak bisa melihat situasi dan keadaan, selalu saja bercanda dan susah untuk berbincang serius.


"Kalau begitu, besok aku izin sama Om Budi dan Kak Santi untuk pulang. Kamu bilang Mama untuk jemput, ya?" perintah Wahyu yang sangat khawatir dengan Lisa dan keluarga Reno.


"Siap. Beres. Tapi Kakak janji dulu, jangan bersikap dingin sama Papa. Papa itu sudah berusaha yang terbaik beberapa tahun ini. Mereka juga bekerja real, nyata, tanpa tumbal dan pesugihan. Kakak beri kesempatan, ya? Seperti Kakak mau menerimaku, meski belum seratus persen," ucap Alex yang memperingatkan sikap Wahyu. Jujur saja Wahyu masih tak menyukai Bima karena tahu semua hal buruk yang menimpa Ningsih karena bersekutu dengan iblis.


"Ok. Insyaallah aku akan menerimanya asal tidak mengganggu manusia lagi. Allah Maha Pemurah dan Pemaaf, apalagi aku yang hanya umatNya, harus mencoba memaafkan kalian."


Wahyu pun mencoba menahan diri meski dia masih merasa luka mengetahui ayahnya meninggal tak wajar karena ibunya mengikuti pesugihan. Alex pun menghampiri Wahyu dan menepuk pundak kakaknya.


"Kak Wahyu berhati mulia. Aku tahu jika kelak Kak Wahyu bisa menjadi orang yang hebat. Jika aku bisa membantu, aku akan bantu sebisa mungkin. Demi keluarga kita saat ini," ucap Alex yang kemudian berpamit untuk pergi.


Setelah Alex menghilang, Wahyu kembali bersujud dalam doa. Dia sungguh merasa beban berat di dada untuk menjalani dan menerima kenyataan jika ibunya menikah dengan iblis bahkan memiliki anak. Sebagai manusia biasa, Wahyu merasa luka dan sulit menerima keluarganya yang tak normal. Dia ingin ibunya kembali ke jalan Allah dan hidup normal. Bukan hidup berdampingan dengan iblis.


Alex pun kembali ke rumah. Bima menatapnya curiga. "Dari mana" tanya Bima kepada puteranya.


"Dari Kak Wahyu. Dia bilang mau pulang. Besok Papa Mama jemput, ya." ucap Alex dengan santai.


"Pu-pulang? Yakin?" tanya Bima tak percaya setelah hampir sembilan tahun Wahyu tak mau pulang melihat rumah barunya.


"Iya, Pa. Alex 'kan nggak suka bohong. Meski Iblis itu biangnya pembohong ha ha ha ha ...." jawab Alex dengan bercanda.


"Kalau serius, Mamamu pasti senang akhirnya Kakakmu mau pulang rumah. Tidak hanya di pesantren terus. Besok pagi kita bilang ke Mamamu untuk kejutan," ucap Bima. Alex pun mengedipkan satu matanya tanda setuju.