
π NINDY - Part 2 π
Nindy beristirahat sejenak di kamar. Saat merebahkan tubuh ke ranjang, ponselnya pun berdering. Mengeluarkan suara lagu Someone You Loved mengalun perlahan. Nindy langsung mencari ponsel yang ada di dalam tas. Tulisan nama Evan ada di sana. Nindy pun segera menggeser layar ke menerima panggilan.
Nindy: "Hallo, Tuan."
Evan: "Hai, bagaimana infonya? Sudah ada perkembangan?"
Nindy: "Sudah, Tuan. Besok akan ke rumah Tante Ningsih karena acara keluarga."
Evan: "Oke, baiklah. Akan aku transfer uang dua ratus juta untukmu. Mana nomor rekeningnya? Pastikan jangan sampai Ningsih dan Bima curiga. Ok?"
Nindy: "Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Nanti kukirim nomor rekening via pesan."
Telepon itu pun berakhir. Nindy segera mengirim pesan nomor rekeningnya ke Tuan Evan. Nindy tersenyum, senang. Orang tuanya akan memiliki rumah setelah ini. Nindy pun berandai, lebih baik tinggal di Yogyakarta karena biaya hidup lebih murah dibanding di Jakarta.
Nindy pun mengistirahatkan matanya sejenak. Meski lapar membuat perutnya berbunyi, dia memilih tidur lebih dahulu. Perjalanan di travel membuatnya pegal-pegal dan sakit sekujur tubuh.
Reno pun berterima kasih kepada Santi. "Kak, terima kasih sekali lagi sudah mengizinkan aku menikahi Nindy." ucap Reno sambil memeluk Kak Santi.
"Tentu, Reno. Jika itu yang terbaik untukmu, Kakak pasti mengizinkannya. Jangan khawatir dengan hal lain. Kak Santi sudah mengikhlaskan semuanya," kata Santi yang membalas pelukan Reno. Dia hanya ingin adiknya bahagia, seperti yang Ratih ajarkan untuk membuat Reno bahagia.
Tiba-tiba ... seorang mengetuk pintu dan berkata, "Permisi ...."
Santi dan Reno melepaskan pelukan dan segera melihat siapa yang datang. Ternyata anak kost yang sedari tadi mengamati rumah Santi. Rifaldi namanya.
"Iya, oh, anak kost. Sini masuk," kata Santi mempersilahkan Rifaldi masuk.
"Iya, maaf, ya, kalau mengganggu. Ini mau bayar kost untuk setahun sekalian." kata Rifalfi mencari alasan. Dia betah tinggal di kost karena ada Santi. Usia Rifaldi yang menginjak dua puluh tujuh tahun, merasa butuh pendamping.
"Oh, iya. Kenapa nggak bayar sama Mamang aja? Kan, Mamang yang pegang indekost?" tanya Reno agak sinis. Dia tak suka gelagat Rifaldi tiap melihat kakaknya.
"Mamang lagi pergi, nggak tahu ke mana. Kebetulan tadi lihat kalian di rumah, jadi sekalian saja bayar setahun ke depan," kata Rifaldi kembali beralasan. Padahal Mamang baru saja menyirami tanaman di depan.
"Wah, terima kasih, ya, Mas Rifaldi. Bayar selalu duluan dari yang lain." Santi pun menerima uang kost itu dan menghitungnya.
Sebulan uang kost kamar mandi dalam adalah lima ratus ribu, tetapi jika membayar setahun sekalian mendapatkan potongan dua bulan free, menjadi lima juta saja untuk setahun. Fasilitas indekost yang Santi buat pun lengkap. Mulai dari parkiran yang luas, dapur umum dengan gas dan galon gratis, listrik termasuk pembayaran bulanan, serta tempat mencuci baju dan menjemur yang luas. Saat ini kamar indekost di samping rumah Santi ada dua puluh kamar.
Reno sengaja mengelola di tempat lain, dekat stadion Manguwoharjo. Mereka sudah memisah pemasukkan masing-masing dan uang untuk bersama. Santi dsn Reno tak pernah ribut soal uang. Mereka bisa mengelola semua dengan baik.
"Sama-sama, Dik Santi. Senang bisa kost di sini. Semua komplit dan bersih," ucap Rifaldi menyanjung Santi.
Reno menyipitkan matanya menatap Rifaldi yang sedang mencoba mendekati Kak Santi. "Kak, besok jadi ketemu Mas Budi anaknya Kyai Anwar, nggak? Pasti dia kangen sama Kakak." celetuk Reno membuat Rifaldi terkejut.
"Eh, kok, kangen, sih, Reno? Mas Budi nggak-" belum selesai Santi beebicara, Reno kembali menyahut.
"Kalian 'kan mau dijodohkan sama Kyai Anwar. Siapa, sih, yang tak kenal beliau? Iya, nggak, Mas Rifaldi?" cibir Reno mengusir halus pada lelaki yang coba menggombal pada Santi.
"Eh, iya. Beliau pemilik pesantren di Wonogiri, ya?" jawab Rifaldi yang jadi mati kutu.
"Iya, benar. Calon mertuanya Kak Santi," tegas Reno kembali.
Rifaldi merasa tak enak hati. Dia pun berpamit, "Aku pamit dulu, ya. Nanti siang ada kerjaan soalnya. Terima kasih banyak, Dik Santi." Seolah mengabaikan keberadaan Reno, Rifaldi pun pergi.
Setelah tak terlihat kembali, Santi langsung protes pada adiknya. "Reno, kamu ngapain, sih, ngarang cerita? Bikin malu aja. Lagi pula, Mas Rifaldi cuma bayar indekost tahunan, 'kan?"
Reno pun duduk di samping Santi. "Kakak itu nggak paham, atau lugunya kebablasan? Jelas-jelas dia modus mau dekati kakak. Ya sudah, Reno bilang gitu aja. Toh, Kyai Anwar memang pernah bilang ke Reno soal Kak Santi dan Mas Budi yang cocok jadi pasangan," jelas Reno membuat Santi terkejut. Pasalnya, dia tak pernah memikirkan hal itu. Semenjak kepergian Joko, Santi lebih sibuk dengan kegiatan amal dan juga membantu pesantren sambil menjaga Wahyu dan tubuh Tante Ningsih saat mati suri.
Bagi Santi, perasaan cinta itu hal yang aneh dan bisa sangat menyenangkan, lalu menjadi begitu menyakitkan. Jika tidak siap, bisa jadi boomerang dalam hidupnya.
"Ah, Reno pasti bercanda. Mas Budi orang yang sangat soleh. Apalagi anak Kyai. Mana bisa sama Kak Santi. Kak Santi juga anggap dia sebagai kakak lelaki, tidak lebih." sangkal Santi yang tak ingin melibatkan perasaan.
"He he he he ... jangan ngambek, dong! Iya, iya, Kakak diam aja dari pada salah. Yuk, siap-siap! Kalau Nindy sudah bangun, kita makan di luar aja. Biar seru!" kata Kak Nindy mencoba menghibur Reno yang mulai manyun.
Bagi Santi, dijodohkan atau tidak, dia sudah pasrah akan hidupnya. Memikirkan cinta hanya akan berujung sakit hati. Lebih baik dia memikirkan hal yang berdasar logika dan juga masa depannya dan Reno-adiknya tercinta.
Dua jam kemudian ....
Nindy bangun dari tidurnya yang lumayan lelap. Dia bergegas mandi agar segar. Setelah itu, dia segera keluar dari kamar, mencari Reno dan Kak Santi di ruang tamu.
"Wah, Nindy sudah bangun. Ayo kita keluar beli makan!" seru Kak Santi melihat Nindy menghampiri mereka.
"Ha ha ha ha ... Kak Santi sudah keburu lapar, ya?" ejek Reno pada kakaknya.
"Gimana nggak lapar, sarapan aja belum. Yuk, ah, pergi. Mau makan di mana siang-siang gini?" kata Santi pada Reno dan Nindy.
"Aku ikut Kak Santi aja," sahut Reno dan Nindy bersamaan dengan kalimat yang sama tanpa diperintah.
"Iih, kalian lucu banget, sih! Kompak banget. Ya sudah, ayo buruan pergi. Reno nyopir, ya?" kata Kak Santi dengan girang, bangkit berdiri dari duduk dan menggandeng Reno dan Nindy.
"Oke, Kak Santi," jawab Reno dengan tersenyum senang.
Mereka pun makan di restauran dalam Ambarukmo Plaza. Senang bisa makan di sana bersama orang-orang yang dicintai. Nindy merasa dirinya berharga dan kembali menemukan bahagia setelah setahun lebih merasakan duka yang tak bertepi.
Mereka memesan dimsum dan steamboat serta beberapa macam sushi. Nindy dan Reno makan dengan lahap. Sedangkan Santi sesekali tertawa melihat mereka berdua. Santi pun mengajak foto bertiga sebagai kenang-kenangan. Reno dan Nindy tersenyum manis menatap kamera depan ponsel yang Santi pegang.
Setelah selesai makan, mereka jalan-jalan di dalam mall dan berbincang tentang banyak hal. Nindy tak lupa menanyakan soal Tante Ningsih. "Kak, terus Tante Ningsih ada di mana sekarang?" tanya Nindy kepada Santi.
"Kalau sekarang, alamatnya Kakak nggak tahu karena Tante Ningsih nggak mau kasih tahu. Tenang aja, nanti Kakak telepon Tante Ningsih dan bilang kamu di sini, pasti kita bisa bertemu dengan Tante Ningsih," jawab Santi dengan tenang.
"Oh, begitu. Ok, Kak."
Mereka pun keliling mall dan berhenti di sebuah toko yang menjual pakaian couple. Mereka sengaja membeli tiga pakaian yang sama motif agar terlihat kembaran. Tunik untuk Kak Santi, blouse lengan panjang untuk Nindy, dan kemeja lengan panjang untuk Reno.
"Nah, ini buat foto keluarga aja. Nanti kita ke studio foto, yuk!" usul Reno yang cemerlang.
"Kalau begitu, kita belikan untuk Tante Ningsih, Wahyu, Abah, dan Ibu sekalian aja," kata Kak Santi yang peduli terhadap keluarga.
"Ide bagus, Kak." sahut Reno yang kemudia memilih lagi.
Nindy hanya tersenyum dan mengikuti segala kegiatan itu hingga malam. Dia hanya berharap besok bisa bertemu dengan Tante Ningsih seperti yang diinginkan Tuan Evan.
***
Di sisi lain ....
Evan sedang dalam perjalanan ke Yogyakarta dengan Lily. Mereka sudah seperti Iblis buangan karena Tuan Asmodeus sama sekali tak memedulikan mereka lagi.
"Sayang, kita berburu lagi di Yogyakarta?" tanya Lily pada Evan.
"Hemat tenaga saja dulu, kita akan segera menemukan Ningsih dan Bima dengan bantuan Nindy. Bukankah banyak hal yang harus kita perhitungkan?" kata Evan dengan senyum menyeringai.
Evan semakin dendam dengan Bima karena pertempuran terakhir mereka yang luar biasa membuat Evan dan Lily terluka parah. Mereka pun seperti dibuang dari Neraka Lapis Keenam karena gagal menakhlukan Bima. Oleh karena itu, Evan dan Lily bertekad menghancurkan Bima.
Mereka tidak tahu jika Bima juga sudah menjadi iblis buangan dari Neraka Lapis Ketujuh. Tuan Chernobog menganggapnya sudah musnah. Begitu juga pada Ningsih, Tuan Chernobog menganggap perjanjiannya batal dan harta Ningsih semua hangus dilalap api neraka.
"Evan sayang, kau selalu tepat mengambil keputusan. Tak sia-sia kita menghimpun tenaga selama hampir dua tahun ini." bisik Lily pada kekasihnya yang saat ini bersama.
Padahal dalam lubuk hati paling dalam, Lily menginginkan bersama Lee. Bukan bersama Evan yang pernah menyamar menjadi Lee. Apa boleh buat, untuk membebaskan Lee, Lily harus menembus Neraka Lapis Ketujuh di ruang tahanan khusus karena Lee menjadi milik dua penguasa karena menjadi tumbal Ningsih dan berdosa pada kejahatan yang mengerikan.
Lily berjuang agar bisa menghancurkan Bima dan mendapatkan energinya agar bisa mengambil Lee kembali dari neraka. Hal itu sama sekali tidak diketahui oleh Evan. Perempuan yang bersama Evan, tidak tulus mencintainya. Bahkan merencanakan hal licik pada Evan. Mungkinkah keinginan Lily mendapatkan Lee kembali bisa terwujud? Ataukah kali ini, Neraka kembali tak berpihak kepada makhluk itu?