
Malam harinya ....
Alex dan Wahyu mengenakan setelan jas berwarna hitam, sedangkan Ningsih dan Cahaya mengenakan dress couple berwarna biru muda. Mereka sudah menyiapkan seserahan dan bergegas ke rumah Reno. Sebelumnya, siang tadi mereka sudah menyepakati event organizer yang dipilih untuk pernikahan Alex dan Lisa.
"Alex ... kamu terlihat tampan," puji Ningsih pada putranya.
"Terima kasih, Ma. Mama juga cantik."
Mereka pun berangkat dengan Pak Sopir yang mengendarai mobil. Cahaya sangat senang mengenakan gaun itu. Malam yang indah untuk lamaran.
Reno dan Lisa sudah mempersiapkan semuanya dengan bantuan para bibi asisten rumah tangga. Saat itu, Budi dan keluarga kecilnya sudah sampai di sana. Santi memberi selamat untuk Reno dan Lisa yang hendak melangsungkan lamaran. Menunggu keluarga Ningsih datang.
"Selamat, ya, Lisa dan Reno .... Kami senang mendengar kabar baik itu. Memang benar yang Alex pikirkan. Tidak baik kalau bersama tanpa ikatan. Lebih baik menikah dahulu," kata Santi membenarkan keputusan yang diambil oleh Alex.
"Iya, Kak. Alex sudah berpikiran dewasa. Meski hidup di Sydney, dia tidak terpengaruh pergaulan bebas. Hebat sekali Alex itu," puji Reno pada calon menantunya.
Lisa masih berdandan. Dia sengaja meminta makeup dari salon terpercaya. Lisa tak sabar ingin bertemu Alex. Lisa mengenakan gaun biru muda juga seperti yang sudah disepakati bersama nuansa dress biru dan jas hitam. Kecuali Santi yang mengenakan longdress lengan panjang dengan hijab yang senada.
"Sudah jadi, Nona Lisa. Cantik sekali," kata perias itu. Lisa pun berterima kasih dan segera keluar dari kamarnya.
Tepat sekali, keluarga Ningsih sudah datang. Mereka dipersilahkan masuk ke ruang tamu yang sudah dihias menarik oleh para bibi asisten rumah tangga di Reno.
"Selamat datang Tante Ningsih, Wahyu, Cahaya, dan Alex. Silakan masuk," kata Reno mempersilakan.
"Wah, bagus sekali ruangannya. Reno mempersiapkan dengan baik semuanya," puji Ningsih pada Reno.
"Ah, tidak juga. Ini karena bantuan para bibi juga. Silakan masuk." Reno pun memanggil bibi untuk membuat minuman segera.
Wahyu membawa seserahan dibantu oleh Pak Sopir. Sedangkan Alex sudah di dalam bersama Ningsih dan Cahaya. Wahyu tersenyum puas karena dia memberi syarat mudah yang harus dipenuhi Alex, yaitu tinggal di Indonesia. Wahyu menginginkan ibunya bahagia dengan keluarga berkumpul dan itu jalan satu-satunya. Alex menyetujui persyaratan itu dengan catatan, dia tetap mengurus perusahaannya di Sydney dengan mondar mandir ke sana, jika diperlukan.
Rencana Wahyu berhasil. Dia sudah menyiapkan hadiah rumah untuk Alex sebagai suprise. Lelaki itu membeli rumah milik tetangga yang dijual bulan lalu. Tanpa sepengetahuan Ningsih, Wahyu sudah mempersiapkan semuanya, agar Alex dan Lisa tidak pergi jauh dari mereka.
Setelah semuanya duduk dan berbincang hangat dengan Budi dan Santi, sedangkan Cahaya dan Syafira bermain dengan bibi di taman belakang, Lisa pun datang. Gadis cantik dengan gaun biru muda dan riasan wajah yang menawan itu turun dari lantai dua, kamarnya.
Semua mata menatap ke arah Lisa. "Ini ... calon mempelai wanitanya sudah datang," kata Reno sambil berjalan menuju ke putrinya.
Lisa tersipu malu menuruni anak tangga satu per satu dengan anggun. Alex tak berkedip menatap Lisa yang tampil sempurna, begitu cantik dan begitu indah.
"Selamat malam semuanya. Maaf menunggu lama," ucap Lisa seanggun mungkin.
"Malam, Lisa," jawab mereka serentak.
Reno mengulurkan tangan untuk menggandeng anaknya. Lisa langsung meraih tangan Reno. Mereka pun berjalan ke ruang tamu.
Setelah itu, mereka memulai pembicaraan serius untuk melamar Lisa. Wahyu mewakili keluarganya meminta izin untuk melamar Lisa.
"Assalamualaikum ... Saya bersama keluarga datang ke sini untuk maksud baik mewakili Alex. Kami hendak meminta izin keluarga Kak Reno untuk melamar Lisa sebagai pengantin Alex," ujar Wahyu dengan sangat sopan.
Reno pun tersenyum dan menatap Budi. Budi yang ditunjuk untuk mewakili keluarga Lisa menjawab, "Wa'alaikumsalam ... Maksud baik keluarga Alex kami terima dengan senang hati. Saya mewakili keluarga Lisa menerima lamaran dari keluarga Alex. Untuk tanggal dan lain-lain bisa kita bicarakan bersama."
"Alhamdulillah ...." kata semuanya serentak.
Malam itu dilanjutkan dinner bersama di taman belakang rumah Reno yang sudah disiapkan sedemikian indahnya dengan hiasan lampu Tumbler juga. Terkesan mewah dan romantis.
Setelah makan malam, dilanjutkan acara bebas dengan iringan lagu klasik. Membuat Alex dan Lisa berdansa di bawah sinar rembulan.
...****************...
Di sebuah tempat lain ....
"Ini foto lelaki itu?" tanya seorang perempuan dengan jubah dan memakai topeng.
"Iya, Madame ... apakah bisa membantu saya?"
Seorang gadis cantik yang kurang percaya diri datang ke tempat cenayang untuk memikat seseorang lelaki. Gadis itu sudah mendapatkan foto dan informasi lengkap lelaki itu membuat dia berniat jalan pintas.
"Mau pelet, pakai susuk, atau pengikat jodoh?" tanya Madame kepada gadis itu.
"Ampuh yang mana, Madame? Keluarganya juga angkuh. Kemarin saat bertemu hanya diam saja. Huh, menyebalkan," gerutu gadis itu.
Gadis itu tersenyum dan menyetujui hal itu. "Mau, Madame!"
"Baik ... tapi ada syaratnya. Untuk membuka pengikat jodoh, kamu harus mengikuti semua persyaratan dan menumbalkan satu lelaki yang mau memberikan darahnya padamu. Kalau kau bersedia, semua ritual akan dijalankan malam Jumat saat bulan purnama."
Gadis itu membuat kesepakatan ritual dengan Madame demi mendapatkan pujaan hatinya. Gladys. Gadis itu bernama Gladys. Dia sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Wahyu. Namun saat mencari informasi dan mencoba mendekati Wahyu, justru sikap dingin yang didapatkan saat berjumpa di mall.
Gladys pun pulang ke rumahnya setelah menyepakati ritual dengan Madame. Tinggal mencari lelaki yang mau memberikan darahnya untuk ritual malam Jumat besok. Gladys melaju dengan mobil CRV kecepatan sedang. Dia memikirkan siapa yang akan menjadi lelaki yang mau berkorban darah untuk ritual pengikat jodoh itu.
"Siapa ya yang mau memberikan darahnya sukarela untukku? Hmmm ... aku harus mendapatkan karena aku ingin Tuan Wahyu menjadi milikku. Lagi pula, aku sudah cek profilnya. Dia sangat kaya dan keluarganya pun semua kaya raya. Aku tidak akan melepaskan dia!" gumam Gladys sendirian di mobil.
Tiba-tiba hawa dalam mobil terasa sangat dingin dan membuat bulu kudunya merinding. Gladys mengusap tengkuknya. "Kenapa tiba-tiba merinding gini, sih? Jadi takut ...." lirih Gladys yang segera tancap gas untuk bisa sampai di rumah secepatnya.
Bima berada di dalam mobil Gladys. Dia mengetahui ada orang yang hendak mencelakakan keluarganya. Feeling seorang ayah selalu tepat. Bima tak akan membiarkan hal itu terjadi pada Wahyu. Gadis itu tidak boleh membuat ritual gaib yang hanya akan merugikan dirinya dan banyak orang.
Saat Bima hendak menyentuh Gladys, terdengar suara yang menggertaknya. Madame mencoba menghentikan Bima. Dia melihat Gladys dari bola kristal yang dia bawa.
"Jangan ikut campur! Iblis sepertimu untuk apa ikut campur urusan manusia?!" gertak Madame pada Bima.
"Kenapa? Takut kalau rencana yang kau buat berantakan?! Kamu memanfaatkan gadis ini untuk dapat darah lelaki, kan? Agar kamu awet muda? Dasar bukan manusia!" ledek Bima pada cenayang itu.
"Ayo adu kekuatan! Jangan sentuh Gladys!"
Bima menyeringai. "Baik kalau begitu. Aku akan segera ke sana!"
Bima menghilang dan dalam sekejap mata langsung sampai di tempat Madame berada. Mereka berduel kemampuan untuk menyelesaikan masalah.
...****************...
Keluarga Ningsih dalam perjalanan pulang dari rumah Reno. Mereka sangat senang sudah berhasil lamaran ke Lisa. Setelah ini, mereka akan mencari tanggal baik dan melakukan pernikahan setelah selesai menyiapkan semuanya.
Cahaya tidur di pangkuan Ningsih di kursi depan sebelah sopir. Sedangkan Wahyu dan Alex duduk di belakang.
"Kamu senang, Alex?" tanya Wahyu.
"Senang sekali, Kak. Terima kasih banyak restu, bantuan, dan dukungannya," jawab Alex dengan girang.
"Alhamdulillah kalau senang. Kakak juga senang. Sebagai kadonya ... besok Kakak mau kamu dan Lisa menerima sesuatu dari Kakak, ya?" ujar Wahyu dengan senang.
"Apa, Kak? Wah, Kakak baik banget. Perhatian pula," puji Alex pada kakaknya.
"Iya, lah. Kakak ini diam tapi mengamati. Apa yang kamu butuhkan, Kakak mencoba menyiapkan semuanya. Kamu jangan khawatir. Kakakmu yang tampan ini selain penuh pesona, juga baik hati," kata Wahyu sambil tertawa.
"Duh, salah, deh, muji Kakak yang super narsis. Iya, Kak. Semoga cepat dapat jodoh."
"Amin," celetuk Ningsih yang memperhatikan percakapan kedua putranya.
"Loh, Mama dengerin?" Wahyu menatap ibunya.
"Ya dengar ... Mama kan punya telinga. Pak Sopir aja juga dengar, iya, kan, Pak? Xi xi xi ...." Ningsih tertawa.
Alex pun ikut tertawa. "Nah, kan ... Mama aja udah Aminkan. Pasti Kakak cepat dapat jodoh, deh ...." ledek Alex yang senang melihat kakaknya malu.
Malam itu ... mereka berbincang riang sepanjang perjalanan. Hingga sampai di rumah kembali dan Wahyu menggendong Cahaya masuk ke kamarnya. Sedangkan Ningsih segera masuk ke kamarnya karena kaki Ningsih luka karena memakai high heels terlalu lama.
Alex mengikuti ibunya ke kamar. "Mama gimana kakinya? Alex ambilkan air hangat untuk direndam mau?"
"Tidak usah, Alex ... Mama ada salep, kok. Ini lecet aja," jawab Ningsih yang langsung duduk di sisi ranjang.
"Ma ... sini Alex obatin, ya. Mana yang sakit?" tanya Alex sambil berjongkok di depan Ningsih dan segera memegang kaki ibunya yang terlihat merah karena luka. "Ma, salepnya mana?"
"Itu di meja. Salep warna putih," kata Ningsih sambil menunjuk arah meja. Alex segera mengambil salep di meja kamar ibunya. Melihat isinya yang tinggal sedikit. Lelaki itu segera berjongkok kembali dan memegang kaki Ningsih yang lecet.
Ningsih langsung terharu dan menangis. Dia teringat Bima. Selalu saja Alex membuatnya menangis jika menatap karena sangat mirip dengan Bima.
"Andai kamu di sini, Bima ... anak-anakmu sudah besar ... mereka melihat sisi baikmu dan mencontohnya dengan baik," batin Ningsih yang melihat Alex dengan telaten mengobati kaki Ningsih yang terluka.