JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 107


...🔥Doa Mengubah Segalanya🔥...


Wahyu menyadari hal itu dan dia lebih banyak beristighfar. Tak lupa dia juga menyebut Asma Allah berkali-kali. Meski diganggu, dia mengingat semuanya dengan jelas jika ayahnya dan juga adik lelakinya ternyata iblis yang saat ini menjadi manusia. Wahyu berkali-kali meminta ampunan kepada Allah agar bisa membawa keluarganya menjadi keluarga utuh. Entah mengapa di dalam benak Wahyu, dia masih berharap keluarganya menjadi manusia yang seutuhnya dan mendapat restu Sang Pencipta untuk menjalani hidup dengan bahagia.


Setelah kiranya Wahyu tenang, dia pun segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke ayahnya yang masih bersedih dan duduk sendirian di ruang tengah. Wahyu menatap iba ayahnya dan duduk di samping lelaki yang segera mengusap air mata di wajah agar tidak ketahuan oleh anak sulungnya itu.


"Papa ... sudah jangan menangis. Maaf jika tadi Wahyu berkata kasar karena masih terkejut dengan cerita yang Mama katakan. Saat ini, Wahyu benar-benar mengerti apa yang terjadi dan Wahyu harap semua memang hanya sebatas mimpi, bukan apa yang Papa inginkan, iya 'kan?"


Bima menatap anaknya yang berada di samping. "Sungguh ... dalam hati papa pun hanya ada Mamamu seorang. Dari dulu, hingga sekarang, dan sampai kapanpun perasaan itu akan tetap sama. Maaf jika membuat kalian merasa sedih atau marah akan hal itu. Karena mimpi ... di dalam mimpi itu ada sesuatu hal yang terjadi dan itu di luar kuasa Papa," jelas Bima kepada Wahyu berharap anak lelakinya akan mengerti.


"Iya, Pa. Aku sudah mengetahui itu. Wahyu harap semua akan baik-baik saja. Wahyu sangat berharap jika keluarga kita bisa menjadi manusia seutuhnya yang bahagia dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta." Wahyu memperlihatkan wajah yang serius saat berbicara hal itu.


Mendengar perkataan Wahyu, Bima pun merasa terkejut. Apakah Wahyu sudah mengingat siapa sebenarnya Bima dan Alex sebenarnya? Apakah semua ingatannya benar-benar pulih? "Wahyu ... maksud kamu seperti itu ... Apakah kamu sudah mengingat sesuatu hal?" tanya Bima yang sangat curiga.


"Iya, Pa. Wahyu mengingat semuanya. Papa ... mungkin saat ini Wahyu belum mengerti mengapa ingatan itu tiba-tiba hilang dan muncul. Namun yang pasti, Wahyu akan selalu mendoakan kepada Allah agar keluarga ini menjadi keluarga seutuhnya. Menjadi manusia seutuhnya yang takut akan ketetapan Allah dan mau berdoa dan meminta perlindungan hanya pada-Nya," tegas Wahyu yang kemudian tersenyum sambil berdiri. Tentu saja lelaki itu segera kembali ke kamarnya untuk menenangkan Ningsih yang masih bersedih. Semua ini hanya sebatas salah paham, bukan?


Saat Wahyu kembali ke kamarnya, ternyata ibunya sudah mulai tenang karena Alex memberi nasehat dan juga masukkan hal-hal yang logis atau masuk di akal. Wahyu pun merasa jika semuanya akan menjadi baik-baik saja.


"Mama ... Wahyu sudah membicarakan hal itu kepada Papa. Maafkan jika Papa bermimpi seperti itu, karena Papa juga tidak sadar saatnya mimpi dan memanglah semua itu murni hanyalah mimpi belaka. Jadi, Mama tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Agar Mama tetap sehat, tidak sedih, dan juga calon adik kami akan lahir dengan sehat dan bahagia. Benarkan, Alex?" ujar Wahyu dengan tersenyum.


Bagaimana mungkin Ningsih bisa sedih kembali, jika melihat kedua putranya tersenyum di sampingnya. Wahyu dan Alex sangat pandai untuk mengambil hati dari ibunya. Mereka membuat Ningsih kembali tersenyum dan mencoba melupakan apa yang terjadi. Ningsih mencoba berpikir, jika itu hanyalah sebuah mimpi dan Bima mengigau adalah hal yang di luar kesadaran atau kuasanya.


"Baik, sayang. Kalian ini kedua putra Mama yang sangat tampan Kalian juga baik dan pandai menghibur hati Mama. Kalau begitu, Mama tidak akan memikirkan hal itu lagi dan tidak akan bersedih. Mama akan berusaha untuk tetap sehat dan menjaga adik kalian. Kalau begitu, sekarang lebih baik kita salat subuh terlebih dahulu," ajak Ningsih kepada kedua putranya karena memang azan subuh sudah berkumandang sedari tadi.


Lagi-lagi ... Snowice merasa gagal membuat keluarga itu porak-poranda atau saling memaki dan menyakiti. Dia tak habis pikir untuk mencari ide-ide lainnya agar bisa membuat Bima dan Ningsih terluka. Snowice berharap jika perbuatannya bisa membuat Bima dan Ningsih berpisah. Setidaknya dengan menjadi manusia, Snowice akan membuat hidup Bima dan Alex beserta keluarganya seakan di dalam neraka. Dia tidak rela membiarkan mereka bahagia, oleh karena itu dia selalu mencoba untuk melukai mereka atau membuat salah paham yang berujung pertikaian. Sungguh iblis memang licik.


...****************...


Hari demi hari berlalu begitu cepat. Usia kandungan Ningsih masuk ke bulan lima ....


Tinggal empat bulan lagi, Ningsih akan melahirkan. Berarti waktu Bima dan Alex menjadi manusia dan hidup bersama keluarganya hanya tinggal enam bulan lagi. Mereka menjalani kehidupan sebahagia mungkin. Ningsih dan Bima membentengi diri mereka dari kemungkinan cobaan datang. Dengan menutup diri dari Reno atau pun keluarga Richard. Hal itu Bima dan Ningsih putuskan untuk kebaikan bersama.


Snowice sudah gagal membuat masalah pada keluarga Bima karena mereka tak ingin lagi bertemu dengan Stefy. Bima dan Ningsih sepakat untuk mencegah Stefy atau Richard ke rumahnya dengan mengatakan ke satpam jika mereka sekeluarga pergi, padahal tidak. Hal itu lumayan efektif dan berjalan karena memang tamu tidak bisa masuk jika satpam tidak mengizinkan.


Saat semua terasa baik-baik saja, suatu ketika pada saat malam hari ... Richard menelepon Bima dalam keadaan terdesak. Bima mengangkat teleponnya dengan terpaksa karena sudah sepuluh panggilan tak terjawab.


Richard: "Hallo, Mas Bima? Maaf malam-malam saya mengganggu. Ini ... Stefy sedang dalam masalah. Dia tiba-tiba melotot dan kejang-kejang sedari tadi. Saya bingung minta bantuan ke siapa, sedangkan Lucy ketakutan dan menangis. Tolong kami, Mas Bima."


Bima: "Coba bawa ke rumah sakit dahulu. Atau kirim alamat rumahmu. Aku akan ke sana."


Richard: "Terima kasih, Mas Bima."


"Ada apa, Pa?" tanya Ningsih pada suaminya yang terlihat gusar.


"Ini si Richard telepon kalau istrinya melotot dan kejang-kejang seperti orang kesurupan. Dia minta tolong karena tidak bisa panggil dokter juga karena takut. Bagaimana, ya, Ningsih?" jelas Bima meminta pertimbangan dari istrinya.


"Bantu saja, Pa. Kasihan. Memang sepertinya ada yang aneh dengan Stefy. Seharusnya dia sudah meninggal, sepertinya ada yang ... emm, Mama jadi merinding. Papa ke sana sama Wahyu saja. Wahyu bisa bantu kalau memang Sefy kerasukan. Alex biar ke sini, Pa. Papa panggil Alex temani Mama di kamar, ya?" Ningsih mengizinkan suaminya untuk membantu keluarga Richard asal bersama Wahyu. Karena Ningsih tahu, Wahyu sudah mempunyai pondasi agama yang cukup baik.


"Iya, Ma. Sebentar. Papa panggilkan Wahyu dan Alex dahulu. Mama tak apa di rumah sama Alex?" Bima menanyakan kembali mencoba memastikan.


"Tak apa, Papa Bima tersayang. Ada Bibi-bibi dan Pak Sopir juga. Mama baik-baik saja. Lebih baik Mama dan dedek di rumah, ada Alex yang menemani kami. Papa sana segera ke Wahyu." Ningsih tersenyum sambil mengusap-usap perutnya yang sudah mulai membesar.


"Terima kasih, Ningsih. Kamu memang mama dan istri terbaik. Aku ke kamar Wahyu dan Alex dulu. Semoga mereka belum tidur. Mama tunggu dulu, ya." Bima langsung melangkah keluar kamar menuju ke tempat Wahyu dan Alex secara bergantian.


Untung saja kedua putranya belum tidur. Setelah menjelaskan ke kedua putranya, Bima pun segera pergi bersama Wahyu dengan menggunakan mobil. Sedangkan Alex menjaga Ningsih di rumah. Sepanjang perjalanan, Wahyu berdoa dalam hati. Tak lupa dia membawa tasbih yang selalu dia gunakan saat salat dan tahajud.


Sesampainya di alamat yang Richard berikan, Bima merasa hal aneh. Wahyu pun merasakannya, "Papa ... sepertinya ada yang aneh. Kita harus waspada. Berdoa pada Allah pasti akan ada perlindungan dari Sang Maha Kuasa," ujar putra sulung Bima.


"Iya, Wahyu. Kita berusaha sebaik mungkin. Tetap waspada dan jangan lengah." Bima keluar dari mobil dan mengajak putranya segera mengetuk pintu rumah yang terlihat mewah tetapi seram.


Tok ... tok ... tok ....


Suara pintu diketuk membuat heningnya malam terpecah. Beberapa saat kemudian Richard membuka pintu rumahnya. Wajah lelaki itu terlihat pucat.


"Ada apa, Richard?" tanya Bima.


"Bi-Bima ... kita sudah terlambat. Stefy sudah meninggal dengan tidak wajar," ungkap lelaki itu bersedih.


"Inalilahi ...." Wahyu langsung ikut masuk ke rumah bersama Bima dan Richard. Ternyata tubuh Stefy seperti khayang di lantai samping tempat tidurnya. Mata Stefy terbelalak dan dari mulutnya keluar darah berwarna hitam pekat.


Wahyu hampir saja mual melihat hal tersebut. Tak disangka, doa Wahyu sepanjang perjalanan dikabulkan oleh Sang Pencipta. Snowice meninggalkan tubuh Stefy karena sudah mulai membusuk. Tubuh yang sudah kehabisan waktu di dunia karena rohnya sudah sejak lama pergi, pasti lama kelamaan akan membusuk.


Saat seakan kehidupan Bima dan Ningsih berada dalam ancaman, ternyata doa yang selalu Wahyu panjatkan mengubah segalanya meski perlahan. Lelaki itu tak akan menyerah untuk meminta kedamaian dan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya dan keluarganya.


Malam itu, Bima dan Wahyu membantu Richard menghubungi ambulance dan membantu mengurus jenazah Stefy untuk segera dimakamkan. Richard merasa sedih, istrinya harus berakhir seperti itu. Meninggal dalam kondisi mengerikan. Lucy pun syok saat melihat jenazah ibunya. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Richard dan Lucy. Dokter pun heran karena hasil pemeriksaan seakan jenazah sudah meninggal lima hari yang lalu. Hal itu membuat heboh. Padahal Richard menjelaskan jika istrinya meninggal beberapa jam yang lalu. Bahkan orang yang memandikan jenazah pun merasa aneh.


"Sebenarnya, bagaimana cerita beberapa hari ini? Apakah ada yang aneh?" tanya Bima yang penasaran.


"Banyak. Sangat banyak hal aneh yang terjadi dan keganjilan terasa. Seakan Stefy seperti mayat hidup. Bahkan dari mulutnya keluar belatung saat tidur. Aku saja hampir tak percaya karena selama ini aku tak pernah percaya hal gaib. Saat menjalani sebulan terakhir, aku baru sadar. Setelah Stefy sadar dari ICU, sepertinya dia bukan istriku. Entahlah apa yang terjadi," jawab Richard yang merasa bingung dengan apa yang dia alami.