
"Dokter.."
Bisma berlari keluar memanggil dokter, saat melihat tangan Zoya bergerak. Dokter pun tak lama masuk dan memeriksa pasien yang terbaring.
Zoya, mengerjapkan matanya, menghalau cahaya lampu yang menyorot pada nya. Ia meringis merasakan pusing yang menyerang kepalanya. Tak hanya itu, tubuhnya juga terasa kaku.
"Zoy..."
Bisma tersenyum lebar, akhirnya Zoya sadar setelah sebulan lamanya koma. Sedangkan Zoya hanya menatap pria di depannya. Bisma, pria yang pertama kali ia lihat saat membuka mata. Ia tak tau sudah berapa lama ia terbaring di sini. Yang jelas semuanya terasa asing baginya.
"Mas David" Gumamnya lirih. Bisma masih bisa melihat bibir Zoya mengatakan kata David. Ia mengepalkan tangannya, melihat Zoya justru menggumamkan nama David.
"Nona, apa anda mengatakan sesuatu,?" Zoya melirik dan menggelengkan kepalanya. Dokter tersenyum dan memeriksanya kembali.
"Ini adalah perubahan yang luar biasa. Nona sudah melewati masa kritis. Tak sia sia suami anda menjaga anda nona."
Zoya menautkan kedua alisnya, tak mengerti apa maksud dokter.
Suami....
Ia meneteskan air matanya, mengingat jika suami sudah meninggal. Tangan nya meraba perut yang sudah kembali seperti semula, ia mengingat nya.
Deg...
"Anak saya dimana?"
Bisma tersenyum masam mendengar nya. Itu artinya Zoya mengingat semua nya.
" Zoy.."
"Mas Bisma, dimana anak saya. Saya ingin pulang mas."
Bisma mengangguk mengiyakan ucapan Zoya. Tak lama ia mengulurkan tangannya memegang tangan wanita yang di cintai itu.
"Kita akan pulang, tapi kau harus sembuh terlebih dahulu."
Cup....Mata Zoya membola saat merasakan bibir Bisma mendarat di bibir nya. Sedangkan Bisma menjauhkan wajahnya pada Zoya, setelah berhasil menciumnya. Dadanya berdetak lebih cepat, mencium wanita yang paling di cintai nya.
"Sabar lah tuan, istri anda sudah siuman sekarang. Nona, suami anda sudah tak sabar menunggu anda sadar." Dokter terkekeh kecil melihat nya.
Lagi lagi Zoya di kagetkan dengan penurunan dokter. Ia menatap tajam Bisma yang masih berdiri di sampingnya.
"Kalau begitu saya permisi. Jika ada yang perlu di tanyakan anda bisa ke ruangan saya."
Bisma mengangguk mengiyakan dan berjalan ke arah pintu mengantar dokter. Setelah dokter pergi ia menutup pintu rapat. Lalu berjalan kearah Zoya dan menatap wanita yang di cintai nya tanpa berkedip.
"Aku suamimu,"
Zoya mengepalkan tangannya mendengar penuturan Bisma. Matanya menyalak tajam pada pria yang lancang mengatakan jika dia suami nya.
"Kau lancang sekali mas, kau tau aku baru saja kehilangan suamiku dan kau mengatakan jika kau suami ku. Bukankah kau sudah menikah dengan Arum."
"Aku sudah meminta izin dari nya, dan dia mengizinkan aku menikahimu."
Zoya menggelengkan kepalanya mendengarnya. Ia tak percaya jika Bisma bisa senekat ini.
"Tapi aku tidak mau menjadi istri mu mas. Aku masih mencintai David, dan itu sampai kapanpun."
" David sudah meninggal Zoy."
Zoya meneteskan air matanya saat mendengarnya lagi. Ia mengingat saat kecelakaan, sebelum mobil terbalik. David mengatakan jika dia sangat mencintainya.
"Aku akan membahagiakanmu," Lanjutnya lagi.
"Maafkan Zoya, sampai kapanpun aku tetap mencintai suamiku, dan suami ku hanya David. Lagi pula tak ada seorang pun yang akan menikahkan wanita yang baru saja melahirkan, dia masih dalam keadaan kotor. Jika ingin berbohong, carilah yang lebih masuk akal Bisma."
Bisma mengepalkan tangannya mendengar penuturan Zoya. Tak lama kemudian ia membungkam bibir Zoya dengan bibirnya, menyesapnya kasar. Zoya shock saat Bisma lagi lagi mencium nya. Ia berontak memukul dada Bisma, apalagi pria ini berani menyesap bibirnya. Spontan saja Zoya menggigit bibir Bisma.
"Aw,...."
Plakkk...
Tangan Zoya terayun menampar Bisma. Ia tak menyangka jika pria ini begitu berani menciumnya lagi.
Mendapatkan tamparan keras dari tangan Zoya, Bisma tersenyum masam.
Zoya dan Bisma di kagetkan dengan suara Arum. Arum sendiri juga kaget saat melihat suaminya mencium Zoya. Saat ia mendengar bahwa Zoya sudah sadar ia langsung datang kemari. Tapi ia tak menyangka, akan di kejutkan dengan apa yang di lihatnya.
Zoya menatap Arum datar, dadanya bergemuruh saat melihat wanita yang menjadi istri Bisma.
" Apa maksud kalian,?"
Arum menunduk takut saat melihat tatapan mata Zoya.
"Mbak..."
"Apa yang kalian rencanakan,?" Teriak Zoya.
"Tenanglah mbak, mbak baru saja siuman, jangan sampai mbak sakit lagi."
Zoya terkekeh mendengarnya, ia tak menyangka pasangan suami istri ini sedang mempermainkannya.
"Pergilah, aku ingin istirahat."
Arum menatap Bisma, ia menunduk lalu berbalik keluar. Sedangkan Bisma menatap Zoya sebelum ia keluar.
"Maafkan aku Zoy, aku ingin kau menjadi istriku."
Tak lama ia keluar, menyusul Arum. Sedangkan Zoya sendiri meneteskan air matanya.
Dari luar Bisma menatap Arum datar. Arum sendiri tak berani menatap wajah Bisma, ia menundukkan wajahnya.
"Mbak Zoya marah."
"Aku tak perduli, aku akan mendapatkan nya kali ini. Mau setuju atau tidak, Zoya harus menjadi istri ku. Sudah cukup selama ini aku mengalah, aku tak akan melepaskannya lagi."
Dada Arum seperti di remas kuat mendengar sendiri penuturan suaminya. Ya sebulan yang lalu Bisma mengizinkan ia ikut asal ia tak mencampuri urusannya. Ia harus mengijinkan nya menikahi Zoya saat wanita itu sadar dari komanya.
Sementara di dalam kamar rawat inap. Zoya menangis segukan, entah kenapa takdir mempermainkannya. Suaminya meninggal dunia dan Bisma, pria itu dengan entengnya mengatakan jika ia harus menjadi istrinya.
*
"Bagaimana perkembangan nya,?"
"Baik nyonya, beliau banyak sekali menunjukkan kemajuan. Saya yakin, tak lama lagi tuan pasti akan segera siuman."
"Ya aku percayakan padamu,"
Dokter menatap iba pada wanita yang baru saja meninggalkan ruangan nya. Tak sembarang orang bisa bertahan dengan cobaan yang tertubi tubi. Ia salut padanya yang sabar. Ia berjanji akan berusaha semaksimal mungkin.
"Aku akan memberikan yang terbaik untuk kalian, berjuanglah."
*
"Oma,..."
Sinta tersenyum dan mengecup pipi cucu sambungnya.
"Ada apa sayang,?" Bocah berusia lima tahun itu menunduk. Tubuhnya bergetar, ia segukan di depan Sinta.
Tuhan kuatkan hamba...
Sinta mengusap pipi Almira yang basah. Ia lalu mengecup kedua pipinya lagi.
"Ada apa sayang.?"
"Bolehkah Al bertemu dengan bunda dan Daddy? Al rindu mereka Oma."
Almira memeluk tubuh tua Sinta, menangis di pelukan nya. Ia sudah tak bisa membendung kerinduan nya pada Zoya. Wanita ini hanya mengatakan jika Zoya sedang pergi mencari uang untuk nya.
"Al tidak ingin boneka baru lagi Oma. Al ingin bunda sama Daddy saja."
Tak hanya Sinta yang menangis mbok Minah pun sama. Mereka berdua larut dalam kesedihan masing masing. Bagaimana mengatakannya pada cucunya. Baru saja ia menerima telpon dari Arum. Jika Zoya sudah siuman, dan Bisma tetap ingin menikahi menantunya itu.
Ingin sekali ia berteriak sekencang mungkin. Bagaimana mungkin Bisma memanfaatkan keadaan ini.
Sampai kapan keluarganya akan seperti ini. Ia menyesal telah mengijinkan Bisma membawa Zoya.