
Zoya menatap kagum pada, pemandangan luar sana. Ia dan David saat ini berada di dalam taksi. Ya saat ini mereka berdua berada di negri ginseng. Zoya ingin pergi berlibur ke sini. Itupun hanya ingin melihat bunga sakura. David masih ingat, Zoya pernah mengatakan jika ia ingin melihat bunga sakura. Dan memilih negri ginseng untuk berbulan madu.
Sampai di dalam hotel, Zoya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sementara David sendiri membereskan koper milik mereka. Ia juga meraih ponsel miliknya. Memesan makanan yang halal untuk mereka berdua.
"Mas David, biarkan Zoya yang melakukannya."
David berbalik dan tersenyum penuh arti, ia justru menarik tangan istrinya dan melancarkan aksinya kembali. Saat di dalam pesawat, ia kurang bebas melakukannya.
"Mas...."
David menulikan pendengaran nya, bukankah ini acara bulan madu bagi mereka. Tentu saja ini adalah momen untuk bercinta, bagi David. Ia tak perduli dengan protes istrinya. Tangan nya melepaskan kain yang menempel di tubuhnya sendiri dan membuangnya asal. Tangan besar nya juga dengan lincah menarik handuk yang melilit di tubuh istrinya.
Zoya sendiri tak bisa menolak pesona suaminya. Ia hanya pasrah mendapatkan serangan bertubi-tubi. David membuka kedua paha mulus istrinya, lalu menunduk di sana. Sementara Zoya sendiri meremas rambut David. Tubuhnya menggelinjang kegelian, saat lidah panas David mengoyak di bawah sana.
Ah...."Mas David..." Ya David benar benar gila di bawah sana. Ia tak menghiraukan tubuh lelah Zoya akibat perjalanan jauhnya. Apalagi saat merasakan tubuh Zoya yang bergetar, ia menyesapnya kuat. Kemudian ia mendengar suara jeritan Zoya. Puas rasanya, saat mendengar suara jeritan nyaring istrinya. Ia merangkak naik membungkam bibir yang sedari tadi menjerit. Dan menyatukan milik mereka berdua di bawah sana.
Ia akan bercinta dengan istrinya sepuas mungkin di sini. Ia akan mengukir perjalanan bulan madunya bersama Zoya di negri ginseng. Ya tak ada yang spesial selain bercinta tentunya. Menggempur istrinya berkali sampai Zoya memohon ampun padanya.
Hampir dua jam, ia bercinta dengan Zoya. Hingga kaki Zoya benar benar gemetar. Tak lama kemudian ia melengkungkan tubuhnya kebelakang melepaskan bibit unggul nya, memenuhi rahim Zoya.
Cup....
Satu kecupan hangat di punggung istrinya sebelum ia melepaskan penyatuan nya.
"Mas David, kakiku lemes."
David terbahak mendengar nya, ya tentu saja kakinya lemas. Hampir dua jam mereka bercinta sampai mandi keringat, dan David menyukainya. Menyukai wajah memelas istrinya yang di bawah kungkungan nya.
*
"Beritahu majikan mu, aku hanya ingin menemui nya sebentar."
"Maaf tuan, tuan David tak ada di rumah. Tuan sedang berbulan madu dengan istrinya."
Dewa menatap tak percaya pada rumah besar anaknya. Dia sedang berbulan madu, sementara dirinya sedang berada dalam keadaan menyedihkan. Apalagi di tambah, perusahaan nya yang kacau.
Dari arah belakang mobil sang pemilik rumah datang. Dewa yakin itu mobil mantan istrinya. Dewa merentangkan tangannya di depan mobil Sinta. Sementara dari dalam mobil, Sinta mengepalkan tangannya. Melihat pria brengsek di depan nya, apalagi dia merentangkan tangannya seperti orang gila.
Sinta keluar dari mobil, matanya menatap tajam wajah Dewa.
"Untuk apa kau datang kemari,? David tak ada di rumah. Jangan membuat ulah lagi Dewa.,"
Dewa menghembuskan nafasnya perlahan, bibir nya kelu, yang ingin mengatakan jika ia butuh bantuan nya. Malu rasanya ia mengatakan jika ia butuh dana besar untuk perusahaan nya dan kesembuhan dirinya, dari penyakit kelamin. Apalagi sudah berkali kali ia di tolak oleh Sinta. Tapi kali ini mantan istrinya itu harus membantunya.
"Kumohon bantu aku, kali ini saja. Aku sudah tak tau lagi, perusahaan ku kacau Sinta."
"Itu bukan urusan ku!"
Almira mengerjapkan matanya mendengar suara nyaring. Ia bangun dan menggeser tubuh kecilnya ke pintu yang terbuka. Dewa, yang melihat balita perempuan di dalam mobil berpikir. Mungkin ini satu satunya cara agar Sinta mau membantunya.
"Jangan pernah kau bermimpi aku akan memberikan mu uang Dewa."
Sinta berbalik dan tubuhnya menegang melihat cucunya tergeletak di aspal. Begitupun dengan Dewa, pria itu juga shock melihat balita itu tergeletak. Niat hati ingin menculiknya dan mengancam David agar mau membantunya. Justru gadis kecil itu lebih dulu tergeletak di jalan.
Dewa terkesiap saat mendengar suara jeritan Sinta. Mata nya menatap Sinta yang memangku tubuh kecil yang tergeletak.
Sinta menyesal telah melakukan kebodohan. Tentu saja gadis itu akan keluar dari mobil, saat ia bangun.
Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka. Sinta menerobos masuk begitu saja. Melihat keadaan cucunya, apalagi Zoya dan David tak ada di rumah.
Ia meneteskan air matanya, melihat kaki mungil itu di perban.
"Dokter bagaimana dengan cucu saya."
" Kaki nya cidera nyonya, kami memasang gips untuk nya."
Sementara di negeri ginseng, usai bercinta, David dan Zoya kembali lagi ke tanah air. Lima jam menunggu waktu penerbangan menuju Indonesia dan beberapa jam berada di dalam pesawat. Zoya tak berhenti menangis mendengar putrinya kecelakaan. Ya Sinta langsung menelpon David, Almira pasti akan mencari keberadaan ibunya.
" Sayang tidak apa-apa, ibu sudah bilang kan. Almira hanya di perban kakinya, dia akan sembuh dalam beberapa hari."
Zoya tak mendengarkan ucapan suaminya, ia menyesal telah meninggalkan putrinya. Pasti bundanya sangat repot mengurus butik dan putrinya.
Keesokan harinya, Dewa datang ke rumah sakit. Ia melihat tubuh lelah Sinta, yang menyuapi cucunya. Ya Dewa tau, dia putri sambung David.
" Oma unda mana,"
" Nanti sayang, sebentar lagi unda pulang jadi Al harus makan banyak ok."
" Unda..." Almira menangis melihat bundanya datang. Ia merentangkan tangannya, ingin Zoya memeluk tubuh nya.
Sementara David sendiri, mengeratkan genggaman tangan nya, melihat pria tua yang menjadi ayah nya di sini.
"Maaf, bunda ceroboh."
" Bunda, harus nya Zoya yang meminta maaf pada bunda. Meninggalkan Almira bersama bunda." Zoya mengusap pipinya yang basah, mata sayu nya bengkak akibat menangis terus menerus teringat putrinya. David sendiri mengusap punggung istrinya, ia juga ikut menyesal meninggalkan putrinya. Ini memang salahnya, tak seharusnya Almira di tinggal begitu saja. Dia masih kecil, dan ia sangat menyesalinya.
" Jangan lagi kau tunjukan wajahmu yang brengsek itu pada keluarga ku, tuan." David tersenyum miring, melihat keadaan pria di depannya ini. Ia tau tak lama lagi pria ini akan menjadi gembel. Sekarang saja, dia sudah sangat menyedihkan.
" Bantu Daddy.."
Cih...
"Apa kau baru mengatakan kau seorang Daddy. Sayang sekali aku tak mengakui mu sebagai seorang ayah."
David berbalik meninggalkan nya, ia muak dengan pria tua itu.
"David, Daddy sakit..."
.
.