
Zoya termenung di kamar putrinya. Ya cinta nya pada almarhum Rangga memang sangat lah besar. Ia sudah menyerahkan jiwa dan raganya untuk Rangga suaminya. Tapi Rangga tak sepenuhnya mencintai dirinya. Hingga ia dengan mudah berpaling dari dirinya.
Sebulan ini, ia memang merasa nyaman dengan adanya David. Entah itu apa? Tapi yang jelas, sudah tak sebenci dulu. Apalagi merasa takut, karna selama ini David memperlakukannya layaknya seorang istri.
"Ku pikir kau kemana?"
Zoya berjengit kaget, tiba tiba saja David memeluknya dari belakang. Apalagi pria itu berbisik di telinganya.
Zoya berbalik dan tersenyum, ia menatap lekat mata David. Seperti yang ia dengar siang tadi. Apa David sengaja menikahi nya hanya untuk balas dendam.
"Ku pikir kau tadi ke kantor?, Apa Al rewel sayang?"
"Apa tuan sengaja menikahi ku?" David mengerutkan keningnya mendengar penuturan Zoya.
"Apa maksudmu Zoy?"
"Maaf tadi saya mendengar tuan berbicara, jika tuan terpaksa menikah dengan saya."
David memejamkan matanya mendengar kata yang menyakitkan baginya. Jadi Zoya tadi benar, datang ke kantor mengantarkan makan siangnya. Dan dia mendengar pembicaraan nya dengan wanita itu. Ia pikir Zoya tak datang ke kantor dan putrinya rewel. Ternyata dia datang dan mendengar separuh pembicaraannya dan wanita gila itu.
Nafas Zoya memburu menahan sesak dan sakit. Apa David juga sama dengan almarhum suaminya.
"Kau..."
Bibir Zoya bergetar menahan sesuatu yang membuat nya teringat bayang bayang penghianatan almarhum suaminya. Sementara David shock, ia merengkuh tubuh Zoya yang bergetar.
"Ada apa sayang? Ku mohon, percayalah pada ku. Aku tak melakukan apa apa dengan perempuan itu. Aku sangat mencintai mu Zoya. Mana mungkin aku akan menghianati dirimu."
Dada Zoya seperti di remas mendengar ketulusan David. Apalagi pria itu seperti terisak.
"Lalu bekas lipstik itu?"
David melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuhnya. Matanya melotot mendapati bekas lipstik di kemeja putih nya. Ia lalu mendongak menatap wajah cantik Zoya.
"Dia tiba tiba saja memelukku tadi, maaf. Tapi aku tak melakukan apa apa? Percayalah sa_"
Cup...
Zoya melabuhkan bibirnya pada bibir David. Semoga saja David benar, tak menghianati dirinya. Ia ingin lepas dari bayang-bayang penderitaan nya. Benar kata bibinya, ia harus bisa lepas sendiri. Tak ada yang bisa membantu nya lepas, selain dirinya sendiri. Lagi pula David suaminya. Cinta dan tidaknya, ia harus mempertahankan pernikahan nya dengan David.
David melotot tak percaya dengan Zoya. Tiba tiba ia membungkam bibirnya dengan ciuman. Ia melihat mata Zoya yang tertutup rapat. Sadar jika Zoya sangat ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Dengan senang hati David akan membantu Zoya. Ia sangat mencintai wanita ini. Meski Zoya manfaatkan nya, ia rela.
David membopong tubuh Zoya kembali ke kamar mereka. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebulan lebih menjadi sepasang suami istri. Mereka sama sekali belum pernah menyatu. Bagi David kebahagiaan Zoya lebih utama, dari pada nafsu birahinya.
David membaringkan tubuh Zoya di ranjang besar kamar mereka. Matanya tak lepas dari manik hitam Zoya. Ia lalu menunduk kembali melabuhkan bibirnya dengan bibir Zoya.
Sedangkan Zoya, menutup matanya perlahan. Saat David menciumnya lembut. Dadanya berdesir, mendapatkan perlakuan dari David seperti ini. Ia tak tau apa yang saat ini ia rasakan. Yang jelas ada kupu-kupu yang mengelilingi hatinya.
Tak mendapat kan penolakan, David menggigit kecil bibir bawah Zoya. Agar lidahnya bisa leluasa masuk kedalam. Benar saja Zoya memberinya akses, tanpa penolakan. Meski ia merasa tubuh Zoya yang sedikit gemetar.
"Aku ingin memiliki mu seutuhnya sayang,"
Zoya membuka mata dan menatap wajah David. Ia mencari cari kesungguhan suaminya.
Melihat Zoya yang menatapnya, David tersenyum lebar. Ia tau, mungkin Zoya belum siap. Ia tak boleh egois. Trauma Zoya juga sebagian adalah ulahnya. Jadi tak mungkin ia memaksa istrinya untuk melayaninya. Ia bisa menekan hasratnya pada Zoya. Tapi ia tak bisa, jika wanita itu pergi lagi dari hidup nya. Cukup tiga tahun ia kehilangan Zoya. Setelah ia menjadi istrinya, tentu saja David tak akan menyakiti wanita ini lagi.
"Miliki aku jika anda tak jijik tuan?"
Mata David berkaca-kaca, mendengar jika Zoya mengijinkan nya untuk memilikinya.
Cup...
Tanpa menunggu lagi, ia melabuhkan kembali bibirnya. Mana mungkin ia jijik pada istrinya sendiri. Bagi nya, Zoya adalah berlian yang ia miliki.
Tangan David membuka jilbab istrinya. Selama ini Zoya belum pernah melepaskan jilbabnya di hadapan nya. Dan David mengerti itu. Tapi lain dengan sekarang, ia ingin melihat mahkota yang tersembunyi di balik jilbabnya.
Zoya tak mencegah David membuka jilbabnya. Ia yakin untuk saat ini, tak hanya jilbab yang akan Zoya perlihatkan pada David. Tapi seluruh tubuhnya.
David tersenyum dan mencium rambut Zoya. Rambut panjang sepinggang milik istinya yang baru saja ia lihat.
"Sayang, apa kau juga mengijinkan aku melihat yang lainnya?"
Zoya rasanya ingin menangis mendengar penuturan David. Kenapa selama ini ia harus terbelenggu dengan cinta nya, pada almarhum Rangga. Sementara suaminya David, begitu baik dan sabar menunggunya. Tanpa menunggu lama Zoya mengangguk mengiyakan. Ia sudah siap lahir batin, ia ingin David menjadi suaminya sepenuhnya juga.
Mendapatkan persetujuan dari Zoya. David berdiri dan menarik tangan Zoya pelan. Setelah itu tangan nya, menurunkan resleting gaun panjang Zoya. Tak lupa, tangan kirinya melepaskan kancing bajunya sendiri. Membuangnya asal, dan menurunkan gaun panjang Zoya.
"Tubuhku jelek" David mendengar suara Zoya, meski hanya bisikan lirih, sangat lirih. Zoya masih trauma, tak mungkin ia menyianyiakan Zoya. Sejelek apapun tubuh Zoya, ia tetap mencintai nya.
"Bagiku kau adalah berlian untuk ku, aku mencintaimu bukan karna tubuhmu. Tapi aku mencintai mu karna hati dan hidupmu.?" ( apa ia kek gitu sih, seribu satu kek nya laki laki seperti ini🤣 heh)
David menatap tubuh Zoya, ia menangis kenapa almarhum Rangga tega sekali menghianati Zoya. Dari mananya tubuhnya yang jelek. Hanya ada bekas sayatan di perut bagian bawah nya. Selain itu, tak ada yang cacat. Tubuh Zoya mulus bagai porselen.
Dada David bergemuruh hebat, ia bahagia dengan apa yang ia miliki saat ini. Zoya menyerahkan tubuhnya seutuhnya padanya. Meski hati nya belum ia miliki, setidaknya ia mengerti.
"Buka matamu sayang.. Jika aku bebas melihat setiap inci tubuhmu. Maka kau juga bebas melihat setiap inci tubuhku."
Zoya membuka matanya perlahan, mendengar kata kata David.
David tersenyum lebar, melihat pipi Zoya yang tiba-tiba memerah. Ia tau Zoya malu, melihat tubuhnya. Tak menunggu lama, ia membaringkan Zoya kembali di ranjang empuknya. Mencium lagi bibir yang sudah membengkak, dan **********.
😁😁
Coba aja beri hadiah dan VOTE juga.
Terserah emak emak, mau di buat anu anu kayak novel aku yg udah tamat. Apa skip aja langsung.🤣🤣
Aku sih maunya yang itu😁
.
.