
Ark....
" Kenapa kalian mempermainkan aku, seharusnya kalian tak memberikan ku harapan. Jahat sekali kalian padaku,"
Kartika membasuh wajahnya dengan air. Ia sengaja pergi kemari karna tak ingin temannya menyadari bahwa ia menangis. Sebenarnya tadi ia tak ingin ikut bersama mereka. Tapi mereka memaksa dengan alasan sudah lama tak kumpul bareng.
Semoga saja mereka tak menyadari jika matanya sembab. Sudah dua minggu yang lalu ia mengurung diri di kamar. Kecewa dengan David dan ibunya, yang memberinya harapan palsu.
" Aku harus menanggung malu, teman teman ku sudah tau semua, David. Kenapa kau harus menikah dengan orang lain."
Kartika terisak ia lalu mengambil bedak di tas branded nya. Menaburkan pada wajah nya yang pucat. Ia tak ingin teman temannya menyadari jika dia habis menangis.
*
Zoya menatap kagum pada rumah besar di depannya. Ia menoleh kearah kiri dan kanan. Sangat luas, tak ada tetangga di sebelah rumah mewah ini.
"Ayo sayang, ini rumah David.! David juga belum lama disini. Dia dulu tinggal nya berpindah pindah."
Sinta terkekeh kecil mengingat putra nya yang kadang tinggal nya berpindah pindah. Demi pekerjaan yang ia kembangkan sendiri tanpa bantuan siapapun.
Zoya mengerutkan keningnya mendengar penuturan ibu mertua nya.
"Ayo lupakan, David memang dulu itu tak pernah di rumah."
Sinta antusias menggeret tangan menantunya. Wanita yang lemah lembut itu tak lama juga sudah mengambil hati nya. Ia pikir Zoya wanita yang jauh dari bayangannya. Ternyata wanita itu memang tipe menantu idaman.
Begitu pula dengan David, berjalan di belakang ibu dan istri nya, sambil menggendong Almira. Rupanya gadis kecil ini juga sudah sangat dekat dengannya.
"Unda minum cucu,"
David mengusap kepalanya sayang, gadis kecil itu baru saja terbangun.
"Tunggu sayang,"
Sinta memanggil pembantu di rumah nya. Menyuruh mereka membuatkan susu untuk cucu nya.
*
Zoya melangkah perlahan, sementara David sudah lebih dulu di depannya. Ia melirik ke sana kemari. Seketika ia merasa tak pantas berada di rumah yang seperti istana ini.
"Sayang, ayo...!"
David kembali lagi dan menarik pelan tangan Zoya. Ia tak sabar dengan langkah istrinya yang seperti siput.
Clek...
David langsung menutup pintu kamarnya kembali. Ia lalu mendorong Zoya ke arah ranjang empuknya, membaringkan dan memeluk tubuh yang membuatnya candu itu.
Di sinilah ia selalu melamun. Memikirkan wanita yang sudah memporak porandakan hati nya. Kali ini wanita ini yang akan menghuni kamar ini.
"Mas David mau apa?"
"Sayang temani tidur sebentar saja Ok."
Zoya mengangguk mengiyakan ucapan David. Ia menemani suaminya tidur, dia pasti lelah memangku Almira dari dalam pesawat tadi.
Tak lama kemudian Zoya benar benar mendengar dengkuran halus David. Ia menggeser tangan David, lalu menurunkan kakinya.
Matanya terbelalak melihat foto dirinya ada di dinding kamar David. Sejak kapan foto itu ada di sana. Dan lagi pula, dari mana David mendapatkan foto nya. Ia lalu menoleh pria yang tidur di sampingnya. Meneliti wajah nya yang memang sangat tampan.
Tangan nya terulur menyentuh kening, hidung dan turun ke bibir. Ia tersenyum tipis, bibir inilah yang suka mengumpatnya dan menghinanya.
Zoya menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk nya. Ia yakin David tak akan melakukannya lagi.
Hap...
Zoya kaget saat tangannya di cekal oleh suaminya.
"Mas..."
"Mau kemana sayang,?"
David mengangguk mengiyakan, tak lama ia melanjutkan tidurnya. Sedangkan Zoya melangkah keluar kamar.
"Nona, koper anda?"
"Biarkan di sini saja dulu, mas David masih tidur. Takut nanti terganggu dan bangun."
"Kalau begitu saya permisi nona.?"
Zoya mengangguk dan melanjutkan langkahnya mencari keberadaan putrinya.
*
"Diam di apartemen ini, dan jangan berbuat ulah. Apalagi keluar dari sini. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, kau mengerti!"
"Ya..."
Luna menjawab malas pria di depannya ini. Ia sungguh akan menjadi pelampiasan nafsu pria itu di sini lagi. Dulu Ia bertemu dengannya di sini dan malam ini ia juga akan terkurung sebagai boneka pria itu lagi.
"Luna kau mendengar ku?"
Dewa membentak Luna, ia benci pada wanita yang tak menurut padanya.
" Iya tuan.."
"Bagus..."
Luna mengepalkan tangannya mendengar pintu tertutup dari luar.
"Brengsek...Kenapa harus bertemu dengan bangkot tua itu lagi. Sialan,...."
Sementara di luar Dewa mendesah lirih. Apa David masih membencinya sekarang? Atau sudah memaafkan dirinya. Sungguh bukan niatnya untuk memusuhi anaknya sendiri. Tapi David sepertinya memang benar benar sangat membencinya.
Berawal dari perselingkuhan nya yang berujung ketahuan oleh anak kandungnya sendiri. Saat David berusia lima belas tahun. Dia memergoki dirinya dan sekertaris nya yang sedang bercinta di kantor nya. Entah nasib sial Dewa yang ketahuan oleh David. Sehingga saat itu juga, David memusuhinya. Tak menganggap nya sebagai ayah nya.
Ya semenjak David masuk sekolah menengah pertama. Ia memang sering berinteraksi dengan wanita. Tapi saat itu dia sama sekali tak pernah meniduri mereka. Ia mencoba setia dengan Sinta istrinya. Tapi godaan di luar sana memang sungguh luar biasa. Ia termakan dengan pesona sang sekertaris. Hingga awal mula kehancuran rumah tangga nya di mulai. Sampai saat ini memang ia tak bisa lepas dari mereka. Wanita penghibur tentunya.
Dewa melangkah pergi, ia akan menemui putra nya. Sudah lebih dari tujuh tahun ia tak pernah melihat David. Terakhir kalinya saat ia dan David memperebutkan proyek pembangunan di kota x.
*
"Tuan, tuan Dewa ingin menemui anda?"
Seketika David meremas kertas putih di mejanya. Padahal kertas itu bukan sembarang kertas. David langsung emosi, mendengar jika ada ayahnya datang kemari. Mau apa pria brengsek itu datang kemari.?
Clek...
"Mau apa datang kemari.?..."
Tanpa mempersilahkan duduk terlebih dahulu. David lebih dulu menunjukan tak sukanya pada pria yang baru saja masuk. Sementara Rey keluar dari ruangan CEO. Ia yakin bukan masalah bisnis yang akan mereka bahas. Itu sebabnya ia pergi dari sana.
"Daddy rindu padamu."
Tanpa malu dan sungkan, Dewa duduk di sofa ruangan CEO.
Cih...
David berdecih mendengar kata rindu dari mulut pria brengsek di depannya ini. Ibunya bertahun tahun tertekan gara gara dia yang berselingkuh dengan banyak wanita. Ibunya sudah tahu kelakuan bejatnya dari dulu. Lima belas tahun dia memperlakukan ibunya seperti sampah. Yang katanya cinta tapi selalu menyiksa lahir batin.
Ya David pernah memergoki ibunya yang pernah di cambuk oleh ayahnya. Hanya alasan sepele dia menyiksa ibunya. Padahal sudah jelas dia yang kerap kali berselingkuh dan menggandeng wanita cantik di luaran sana. Apalagi wanita itu jauh lebih muda dari ibu nya.
David benar benar sangat membencinya. Meski dia ayah kandungnya sendiri. Ia benar benar muak melihat wajah pria tua ini.
.
.
.