Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 68


Almira terbelalak melihat suaminya yang langsung memberikan kepalan tangannya pada pria di depannya ini. Ia mendekati Aaron dan melingkarkan tangannya pada pinggang lebar suaminya.


"Om,..."


Aaron sendiri masih mengepalkan tangannya dan menatap tajam pada pria yang berani memeluk istrinya. Dadanya naik turun menahan emosi melihat Istrinya di peluk oleh pria lain, apalagi di hadapan nya. Apa dia ingin merebut Almira darinya.?


"Om,.."


Aaron berbalik, ia menatap mata Almira yang berkaca kaca, tak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya perlahan. Menggendong tubuh Almira yang kecil dan masuk ke dalam lift.


Ia tak tega melihat istrinya sedih karenanya. Ia juga tak bisa marah, pada Almira. Apalagi Almira sudah datang ke perusahaan, pasti istrinya ingin bersamanya. Bodohnya dia yang meninggalkan nya di mension sendiri. Apalagi ia baru saja menemui Queen, dan berbohong pada Almira.


Aaron menatap tajam pada Mic sebelum pintu lift tertutup. Ia mengumpat pengawalnya berkali kali, yang membawa Almira kemari tanpa sepengetahuan nya. Sedangkan Mic yang melihat tatapan mata tajam tuannya hanya menunduk. Ia tak menyangka jika mengantar nyonya nya akan membuatnya terkena masalah.


"Kau memang bodoh Mic."


Nathan beralih menatap tajam pada pria yang berdiri dan menunduk.


Bug....


Stt...


"Tuan, saya benar-benar tak tau, maafkan saya tuan."


Karyawan pria itu meringis mendapatkan tendangan dari Nathan. Tubuhnya bergetar ketakutan, Ia sungguh shock mengetahui jika gadis belia itu adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Ia tau siapa Aaron, pemilik perusahaan terbesar di di kota Venesia. Tapi ia tak tau jika wanita cantik yang masih belia itu ternyata istri CEO perusahaan tempatnya bekerja. Ia baru bekerja di sini dua hari, dan ia belum tau siapa istri tuan Aaron. Dan ia tak mau dirinya di pecat dari pekerjaan ini, ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Tuan saya berjanji tidak akan mendekati nyonya lagi, maafkan saya. Saya janji tak akan mengulangi kesalahan saya." Hibanya menatap pria yang menatapnya tajam.


"Seharusnya kau tau jika wanita itu adalah istri pemilik perusahaan ini. Dan kau berani menyentuhnya, apa kau pikir tuan Aaron akan membiarkan mu begitu saja."


"Tidak tuan saya minta maaf, tolong jangan lakukan ini pada saya tuan. Saya tidak sengaja menabraknya, saya mohon tuan, maafkan saya."


Mic sendiri mendesah kasar melihat Nathan yang sama seperti tuannya. Ia tak tega melihat pria itu menghiba pada Nathan.


"Pergilah, aku yang akan bicara dengan tuan Aaron."


Ucap Mic pada pria di depannya ini, dan tanpa menunggu lama pria itu pergi meninggalkan Nathan dan Mic. Ia tak menyangka jika ia akan mendapatkan masalah di hari kedua bekerja. Padahal ia sangat mengharapkan pekerjaan ini, untuk adik adiknya yang masih sekolah.


"Aku yang akan menjadi jaminannya jika dia melakukan nya lagi."


Ucap Mic saat melihat mata tajam Nathan mengarah padanya.


Tak lama Nathan pergi meninggalkan Mic sendiri, ia tak habis pikir jika Mic terlalu bodoh membawa nyonya nya tanpa sepengetahuan Aaron.


"Jangan marah, Al tadi cuma keluar beli eskrim Om. Tapi ingan di antar ke sini dulu sama om Mic. Apa Om marah Al datang ke mari,? Kalau begitu Al mau pulang."


Ucapnya menatap mata Aaron, ia tak ingin suami nya salah paham dengannya. Ia juga tak tau jika ia akan menabrak pria tadi.


"Kenapa Om harus marah, Om senang sayang. Apa Al merindukan suami Al yang tampan ini."


Goda Aaron pada Almira, dan di balas dengan bibir yang mencebik.


Cup....


*


Aaron menatap tajam pada Mic yang membawa Almira pergi tanpa seijinnya.


"Maaf tuan, nyonya yang memaksa ingin tetap pergi tuan.?"


"Jadi kau akan mengatakan jika istri ku yang bersalah begitu."


Ucapnya emosi mendengar Mic menyalahkan istrinya. Sedangkan Mic sendiri menggelengkan kepalanya mendengar bentakan keras tuannya. Ia juga mengumpat kebodohan nya sendiri yang tak menelpon tuannya terlebih dahulu.


"Maafkan saya yang bersalah tuan."


Mic menunduk, ia memang bersalah saat ini dan ia mengakui nya. Aaron mendengus mendengarnya. jika bukan orang kepercayaan nya, ia yakin ia akan menembak kepala Mic kali ini.


"Awas saja jika pria itu mendekati istri ku, Mic. Aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu."


Aaron pergi meninggalkan Mic dan Nathan ke kamarnya. Ia yakin jika Almira sudah tertidur pulas. Istri cantik nya yang sudah mengubah hidup nya dan keyakinannya. Meski ia belum melakukan seperti yang Almira lakukan, tapi ia akan pelan pelan mengontrol emosi nya terlebih dahulu. Ia sangat mencintai Almira, ia yakin jika ia bisa melakukan seperti yang Almira lakukan suatu hari nanti.


Aaron membuka pintu kamar nya di mana Almira tidur nyenyak. Bibirnya tersenyum tipis melihat gadis kecil miliknya tertidur pulas.


Ia mengumpat lagi mengingat jika pria yang menjadi karyawan nya telah berani menyentuh istrinya. Dadanya bergemuruh lagi, ingin sekali ia melepaskan timah panasnya pada pria yang berani padanya.


"Brengsek, awas saja jika kau berani mendekati istri ku lagi brengsek. Aku tak segan segan membunuhmu kali ini, sialan."


Rahangnya mengeras,ia tak bisa melihat milik nya di lihat atau di sentuh oleh pria lainnya. Almira milik nya dan akan seperti itu sampai kapanpun.


Satu Minggu kemudian....


Hoek..Hoek...


"Sialan..."


Aaron mengumpat berkali kali saat tubuhnya lemas tak berdaya. Sudah berulang kali ia keluar masuk ke dalam kamar mandi. Mengeluarkan cairan bening dari perutnya sampai tubuh besar lemas tak berdaya.


"Apa tuan sakit..?"


Gumam Nathan, tak lama matanya melihat Aaron keluar dari kamar mandi di ruang pribadi nya.


"Tuan sakit..."


Aaron melirik Nathan yang menatapnya penuh tanda tanya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, sudah berulang kali ia keluar kamar mandi dan muntah. Ia tak menjawab pertanyaan Nathan. Berjalan melewati Nathan, dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ruang kerjanya.


"Tuan ingin ke rumah sakit.?"


"Diam lah brengsek,..."


Sarkasnya, kepalanya pusing dan berputar putar. Dan Nathan justru bertanya terus padanya. Apa dia tak melihat jika tubuhnya lemas dan tak bertenaga.


"Nathan sialan..."


.