Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 79


" Kau yakin itu anakku, Luna. Jika kau membohongi ku. Aku sendiri yang akan menghabisi mu."


Dewa berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Luna, wajah nya pucat pasi. Ia juga tak tau benih siapa yang ia kandung. Terlalu banyak yang memasukinya. Apalagi selama ini ia tak memakai pencegah kehamilan. Ia tak ingin tubuhnya gemuk atau yang lainnya, jika memakai alat kontrasepsi. Tapi selama ini hanya Dewa yang dulu lupa memakainya.


" Persiapkan dirimu, kita akan pergi ke kota X. Aku tak ingin berlama lama di sini. Mereka sama sekali tak membantuku. Jadi jangan pernah kau menambah beban ku."


Luna mengumpat dalam hati, ia akan pergi kerumah David. Ia tau perusahaan Dewa sedang tak baik baik saja.


Disinilah Luna di depan rumah David, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Tentu saja mudah bagi Luna masuk ke rumah mewah David. Ia mengatakan jika ia saudara Zoya, dan satpam membuka pintu gerbang membiarkan nya masuk.


"Kau sangat beruntung Zoya, aku benar-benar membencimu."


Ia benci melihat Zoya yang bahagia, hidup mewah di rumah David.


"Luna." Zoya mengagetkan Luna. Ia berbalik dan menatap tajam pada Zoya. Zoya memang berbanding terbalik dengan dulu. Tak ada daster usang yang selalu di pakaiannya.


"Kau sama sekali tak pantas memakai baju yang mahal Zoya."


Zoya mengerutkan keningnya mendengar penuturan Luna. Kenapa Luna selalu bersikap seperti ini padanya.


"Kau ingin bertemu dengan Al.?"


Cih...


"Kau pikir aku mengakui anakmu, dia hanya anak kampung mu. Kakak ku juga telah menyesal telah menikahi wanita miskin seperti mu. Kau hanya membawa sial untuk nya."


Zoya menghembuskan nafasnya perlahan, Luna sama sekali tak berubah. Ia tetap saja membencinya.


"Kalau begitu kau mau apa datang ke mari?"


" Bukan urusanmu," Luna berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Saat di dalam ia menganga lebar melihat betapa mewahnya dalamnya. Tak lama kemudian ia mendengar suara tertawa dari arah samping. Ia melangkahkan kakinya mendekati sumber suara, ia yakin itu David.


Matanya tak berkedip menatap tubuh David yang hanya memakai celana renangnya. Dia berenang bersama anak kecil, dan tertawa bersama. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati David. Ia meneguk ludahnya sendiri, membayangkan bagaimana jika ia berada di bawah tubuh kekar milik David.


Sementara David yang melihat ada seseorang yang mendekat, menghentikan tawanya.


"Sayang ambilkan handuk,!"


Luna tersenyum dan mengulurkan handuk pada David yang membelakanginya. Sementara David sendiri langsung menoleh pada wanita yang ia yakini Zoya. Tak lama kemudian ia mengeratkan giginya.


" Wanita ****** memang tidak punya etika. Berani nya kau menginjakkan kaki mu ke rumahku. Pergi dari sini, atau aku sendiri yang akan menyeret mu nona."


Cih... Tak ingin tubuhnya di lihat oleh wanita ******, ia segera memakai handuk kimono nya. Lalu kemudian mengangkat putrinya. Dan memakaikan handuk juga padanya.


"Kau menyayanginya, dia bukan anak mu. Untuk apa kau menyayangi anak yang bukan darah daging mu sendiri."


Mendengar itu David mengepalkan tangannya, jika tak ada Almira, ia pasti sudah mencekik lehernya.


"Unda..." David berbalik dan menatap Zoya. Ia yakin Zoya mendengarnya.


"Zoya.."


"Jangan berani berteriak keras pada istriku nona." Tangan David hampir saja melayang di pipi Luna. Jika tak ada Almira di antara mereka, ia yakin akan menenggelamkan Luna di kolam ini.


"Keluar dari sini,"


"Tidak, kau tau aku mengandung anak ayahmu. Dia adikmu David..."


Cih...


David berdecih dan mengeraskan rahangnya mendengar penuturan wanita tak tau malu sepertinya. Sementara Zoya shock, ia sama sekali tak tau siapa ayah mertuanya. Dan Luna bilang dia mengandung anak nya.


"Lalu, kau mau aku mengakuinya begitu. Nona, kau memang sangat menjijikkan. Datang kemari hanya untuk mengatakan bahwa kau hamil anaknya. Kau salah nona, ada seribu wanita yang mengaku mengandung anaknya, aku juga tidak perduli."


Ia lalu menggendong Almira, tapi sebelumnya ia mengatakan agar Luna segera pergi meninggalkan rumah nya. Tak lama kemudian dua penjaga datang menghampiri Luna.


" Kau tak bisa mengabaikan nya, David. Dia juga punya hubungan darah dengan mu. Kau harus mengakuinya. Brengsek lepaskan aku."


Luna meronta di seret paksa oleh penjaga. Sedangkan David sama sekali tak menggubris nya. Ia masuk menggendong Almira, dan Zoya yang mengikuti dari belakang.


*


Dewa membuka pintu apartemen nya yang di ketuk, ia tak tau Luna pergi kemana tadi. Ia mengumpat wanita itu, mungkin saja ia tak mau mengikuti nya ke kota X. Di luar ia melihat wanita yang dulu pernah menjadi teman ranjangnya.


" Tuan..."


Dewa terkesiap melihat wanita cantik yang pernah tidur dengan nya. Tak lama ia tersenyum tipis, rupanya wanita itu mencarinya kembali.


" Kau mencari ku nona?" Bibirnya tersenyum kecut, mana mungkin ia mencari pria ini tanpa alasan. Ya kartu ATM yang Dewa berikan padanya tak bisa di gunakan. Padahal ia baru mengambilnya sebagian. Sedangkan Dewa menatap lekat wajah cantik di depannya. Ia yakin wanita ini, mencarinya. Tak lama kemudian ia membawanya masuk ke dalam apartemen. Niat hati ingin mencari keberadaan Luna, ia justru di suguhkan dengan wanita cantik yang datang mencarinya. Mana mungkin Dewa akan menolak pesona wanita seksi di depan matanya.


Dewa langsung melancarkan aksinya, ia membuang pakaian nya asal. Dan membuka paksa kain yang menempel di tubuh sang wanita.


Uh...


"Kau sangat seksi, Honey... Cup." Satu kecupan panas di dada yang menonjol dan menyesapnya. Terang saja sang wanita melenguh panjang, tak lama kemudian ia mendesah. Saat Dewa menyatukan miliknya, di bawah sana.


Aksi kedua nya, tak luput dari pandangan Luna. Luna menatap tajam keduanya yang bergumul di ruang tamu. Dan Dewa yang menyadari kedatangan Luna, hanya melirik. Ia juga tak terganggu dengan nya. Ia justru mempercepat gerakan pinggulnya. Mencari kepuasan di tubuh yang tergolek di bawah kungkungan nya.


Sementara sang wanita kaget, saat menyadari jika mereka tak berdua. Ia berusaha mendorong tubuh tua di atasnya.


"Jangan hiraukan di honey, nikmati saja permainan kita."


*


Sementara Sinta, ia masih di butik miliknya. Ia tak ingin pulang, jika pipinya masih memerah. David pasti akan membunuh Dewa, jika mengetahui nya. Ia hanya tak ingin David membunuh pria brengsek itu. Biar bagaimanapun pria itu ayah David.


"Semoga kau meregang nyawa terkena penyakit kelamin Dewa. Tak hanya brengsek, kau juga menjijikkan. Aku juga muak dengan mu. Andai kau bukan ayah dari David, aku sudah meracunmu dari dulu."