
Mata Aaron berkaca kaca mendengar penuturan istrinya. Ia langsung menubruk tubuh kecil Almira dan mencium wajah nya bertubi tubi. Ia tak menyangka jika Almira akan menerimanya dengan baik, padahal ia belum meminta Almira pergi dari rumah David. Tapi Almira sudah siap di boyong ke negara asal nya.
"Al mau belajar mencintai Om, jika Om benar sayang sama Al tinggalkan wanita masa lalu Om jadikan Almira yang terakhir."
Aaron tak bisa berkata apa-apa, ia mengeratkan pelukannya pada istrinya. Ia juga tak bisa menyembunyikan air matanya mendengar jika Almira siap menyerahkan tubuh dan hatinya untuk nya.
Cup.. Cup....
Aaron menangkup wajah Almira dan mencium nya bertubi tubi. Ia tak bisa menyembunyikan bahagianya mendengar penuturan Almira. Dua minggu ia datang ke Indonesia dan baru empat hari ia menikahi Almira tak di sangka jika Almira menerima dirinya secepat ini.
Sedangkan Almira sendiri, ia harus bisa mendapatkan hak nya sebagai istri Aaron. Jika ia harus di paksa menjadi dewasa ia pasti bisa, harus bisa mengimbangi suaminya yang jauh jauh datang ke mari mencari dirinya dan menikahinya secara sah. Ia akan menjadi satu satunya wanita yang harus Aaron ingin kan, bukan wanita di luaran sana.
*
David dan Zoya gelisah saat melihat Nathan datang di rumah mewah nya. Sebelum nya asisten Aaron ini tak mengikuti tuannya datang kemari.
"Apa yang tuan mu katakan hingga kau berani datang ke rumah ku."
David mengumpat pada Aaron yang mengijinkan seseorang datang kemari. Ia tak suka jika banyak yang tau tempat tinggal nya. Apalagi komplotan pria seperti Aaron.
Nathan menunduk ia tak berani mengatakan nya jika tuannya ingin membawa putrinya sebentar ini.
"Apa kau tuli.."
Bentaknya pada pria yang berdiri mematung di ruang tamu.
"Maaf aku yang memintanya datang ke mari."
Mereka semua menoleh ke arah Aaron. David menatap sengit pada Aaron, ia tak suka sikap semena mena Aaron di rumah nya.
"besok, semua nya harus ada di tangan ku."
David melotot melihat berkas dan kartu identitas putrinya. Untuk apa David memberikan nya pada Nathan.
"Baik tuan..."
Nathan keluar dari rumah David setelah menerima berkas dari tuannya.
"Apa maksud mu brengsek,"
David tau berkas itu untuk apa, Aaron akan membuat paspor untuk Almira. Jelas saja ia tau maksud tujuan nya. Pria brengsek ini akan membawa putrinya ke negara asalnya secepat ini. Aaron pasti sudah maksa Almira pergi secepat ini. Sementara Sinta yang tak sengaja mendengar David berteriak berjalan mendekati mereka.
"Ada apa,?"
Aaron menatap mereka semua penuh rasa bersalah. Ia tak mungkin menyia nyiakan kesempatan untuk nya kali ini. Almira sendiri yang meminta nya pulang bersamanya. Tentu saja ini adalah kesempatan dirinya yang tak harus menunggu sebulan lagi.
"Maaf tiga hari lagi aku akan membawa Almira bersama ku."
Zoya meneteskan air matanya mendengar penuturan Aaron, begitupun dengan Sinta. Sedangkan David sendiri meradang mendengar nya. Mungkin saja Aaron yang sudah memaksa Almira. Pria brengsek seperti Aaron tak ada yang tak mungkin, termasuk merayu Almira. Ia yakin Aaron mengancam putrinya, jika tidak, mana mungkin Almira mau menyetujuinya secepat ini.
Meja kaca ruang tamu hancur saat David melayangkan tendangan nya pada Aaron.
Dan Aaron menatap datar pada David, ia tak akan pernah mengalah jika Almira sendiri yang meminta nya. David tak bisa mencegahnya begitupun dengan Zoya.
Sementara Asraf dan Arhas bersembunyi dibalik pintu kamar nya yang tak jauh dari sana. Mereka berdua mendengar apa yang mereka bicarakan. Sama, mereka sangat sedih jika kakaknya akan pergi meninggalkan mereka secepat ini. Bahkan mereka belum sempat pergi berlibur bersama. Asraf dan Arhas baru mengikuti ujian semester. Minggu depan bari mereka libur. Dan kakaknya akan pergi meninggalkan mereka berdua, kenapa pria itu akan membawa kakaknya secepat itu.
"Aku tak akan membiarkan kesempatan ini untuk ku David. Almira akan pergi bersamaku meski kau mencegahnya sekalipun."
Ungkap nya pada semua orang. Ia tau jika Zoya masih belum menerima pernikahan nya dengan putri nya. Apalagi sekarang ia akan membawa Almira pergi meninggalkan mereka dalam waktu tiga hari kedepan.
" Bukankah kau akan membawa Al sebulan lagi, kenapa harus secepat ini."
Zoya berkata lirih, bahkan ia masih shock dengan pernikahan mereka berdua, Dan Aaron akan membawa Almira pergi meninggalkan mereka secepat ini.
"Aku tau, kau yang meracuni anakku brengsek. Baru satu hari mana mungkin Almira menginginkan kau membawanya pulang. Kau jangan bermimpi Aaron, Almira tak akan mau pergi secepat ini."
David menimpali, ia juga tak percaya jika Almira akan mau pergi bersama Aaron.
"Bunda..."
Mereka semua mengalihkan pandangannya pada Almira yang menunduk. Aaron dengan sigap menggendong istrinya. Ia tak ingin Almira terkena pecahan kaca, meski jauh bisa saja jika Almira akan terkena.
Aaron menurunkan Almira di sofa, dan mereka semua menatap Aaron tak percaya. Bahkan Sinta mengusap pipinya yang basah berkali kali.
"Semoga saja Aaron akan memperlakukan Almira baik seperti ini."
Sinta bergumam dalam hati, melihat Aaron yang menggendong cucunya. Meski bukan cucu kandungnya, tapi Almira lebih dari cucu yang sebenarnya.
"Al yang meminta Dad, Al tak ingin melihat suami Al nanti menjadi pengangguran."
Almira terkekeh kecil, ia tak ingin mereka sedih dengan keputusan nya yang secepat ini pergi dari rumah orang tua nya. Empat hari di nikahi tanpa seorang tau dan tiba tiba saja dia juga akan pergi secepat ini. Tentu saja mereka akan shock dan tak terima, apalagi percaya.
Aaron menatap Almira tak berkedip, hatinya berbunga-bunga mendengar jika Almira tak ingin ia menjadi pengangguran. Itu artinya tak hanya tubuh dan hatinya, Almira juga pasti menginginkan sebuah keluarga.
David menatap Almira tak percaya, gadis belia yang baru menginjak delapan belas tahun itu berfikir jika ia takut suaminya menjadi pengangguran.
David mendengus menatap tajam Aaron. Ia bahkan mengumpat pria brengsek di depannya ini. Ia tak pernah membayangkan memiliki menantu yang hampir seumuran dengan istrinya. Apalagi dia dulu adalah pria yang ingin merebut istrinya.
"Al, bunda tak ingin kau memaksakan diri sayang."
Almira menggeleng, bukankah ia juga di ajarkan jika suatu saat nanti menikah harus patuh pada suami. Ia tau Aaron ingin mendapatkan keikhlasan nya agar mau di bawa pulang ke negaranya. Dan saat ini dia sudah menjadi seorang istri.
"Saat Al sudah di nikahi, itu artinya Al milik suami Al kan bunda. Dan Al menerima pernikahan ini. Almira akan mengikuti langkah suami Al. Bukankah bunda juga begitu? Al tak ingin berdosa pada suami Al. Al tak ingin membuat suami Al menunggu, Al ikhlas lahir batin saat menerima pernikahan ini, begitu pun saat suami Al membawa Al keluar dari rumah daddy."
.