Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 71


Almira di kagetkan dengan kedatangan David dan Zoya di mension suaminya. Aaron memang sudah meminta pengawal menjemput kedua orang tua istrinya yang datang ke mension mewah nya.


Aaron mendengus, ia masih duduk di kursi sofa. Ia sama sekali tak bahagia dengan kedatangan mertua nya, apalagi jika harus menyambutnya. Sedangkan David yang melihat Aaron, duduk tenang di sofa mengeraskan rahangnya.


"Menantu sialan..."


Gigi nya gemerutuk menahan emosi pada pria arogan yang duduk tenang di sofa milik nya.


Sedangkan Aaron sendiri tak perduli dengan tatapan tajam dari David, mulutnya masih memakan mangga muda di tangan nya. Sama sekali tak berniat melirik David atau menyapanya. Matanya tak berkedip menatap layar televisi berukuran besar yang menampilkan sosok wanita cantik yang memakan buah seperti yang ia makan. Bedanya dia pakai lombok dan ia tidak.


Zoya menatap tak percaya pada Aaron yang duduk di kursi sofa. Matanya beralih menatap pada putrinya yang memang terlihat gembil pipinya. Belum genap satu bulan, putrinya sudah banyak berubah di tangan Aaron.


Sedangkan David sendiri mendengus saat melihat Zoya menatap Aaron.


"Apa kau tidak menyambut mertuamu.?"


Sembur David pada Aaron, ia geram dengan pria yang menjadi menantunya ini. Bisa bisanya dia sama sekali tak menyambut kedatangan nya sebagai mertuanya.


Aaron menoleh mendengar perkataan David, matanya menyipit menatap David dari atas sampai turun ke bawah. Dan David sendiri mengeraskan rahangnya saat melihat tatapan mata Aaron padanya.


"Kau masih utuh dan baik baik saja, kenapa kau seperti kehilangan satu kakimu di bandara."


"Kau..."


"Mas.."


Zoya menengahi keduanya, entah kapan mereka akan akur, ia sendiri tak tau. Ia menatap Aaron lagi, giginya ngilu melihat Aaron yang memakan mangga muda di tangan nya, apa lagi dengan kulit yang masih utuh sama sekali tak membuangnya.


"Bunda ayo, Al tunjukan kamar bunda. Bunda pasti capek.!"


Almira menarik tangan Zoya pergi ke kamar tamu yang tak jauh dari sana. Ia yakin jika ibunya sangat capek dan butuh istirahat. Bibirnya tak berhenti mengoceh melaporkan bahwa dirinya sangat betah tinggal di mension Aaron. Ia juga mengatakan jika suami nya memperlakukan nya dengan baik di sini. Ia juga mengatakan jika Aaron hampir setiap hari mengajaknya ke perusahaan milik suaminya.


Aaron sendiri tersenyum lebar saat mendengar istrinya yang mengatakan jika ia sangat bahagia tinggal di sini. Ia melirik ke arah David, yang menatapnya tak suka padanya.


"Aku akan membawa putriku pulang, percaya diri sekali kau."


Sarkasnya pada Aaron. Aaron sendiri menatap sengit pada pria yang menyebalkan menurut nya. Tapi tak lama kemudian ia berdiri.


"Aku pasti akan lebih akrab dengan Rangga Yudistira di bandingkan dengan mu."


"Hey..."


Aaron meninggalkan David di ruang tamu, ia menyusul istrinya yang pergi ke kamar tamu. Malas sekali harus berdua dengan David, yang ada ia ingin marah terus saat melihat wajah menyebalkan nya.


"Pria sialan itu, benar-benar membuat ku cepat tua."


David mengumpat Aaron, matanya menatap Mension mewah Aaron di depannya. Tak lama ia tersenyum tipis, Aaron memang sangat kaya. Terlihat mension mewahnya yang jauh lebih mewah dari yang ia bayangkan. Pantas saja Almira selalu riang saat ia menelepon.


Tak lama kemudian ia melototkan matanya saat menyadari jika Aaron pergi ke arah sana. Ia berjalan ke arah yang sama, ia tak akan membiarkan Aaron bertemu Zoya, apalagi di dalam kamar. Ia yakin jika Aaron akan menemui istrinya.


"Aaron sialan, dia selalu membuatku semakin tua karna cemburu."


David menggerutu bibirnya, mata tajam nya mencari di mana Aaron tadi berbelok. Ia berjalan lagi dan sama, tak ada tanda tanda jika mereka ada di dekat sini.


"Memang kau siapa? Ayah ku membangun mension ini tentu saja tak ada hubungannya dengan istri mu apalagi dengan mu.?"


David berjengit kaget, ia menoleh ke arah Aaron yang pergi meninggalkan. Tak ingin Aaron menemui Zoya, ia mengikuti nya dari belakang. Tak lama kemudian ia mengumpat lagi saat sadar jika Aaron pergi ke dapur bukan ke kamar di mana istri dan Almira berada.


"Sialan.."


Umpat David. Dan Aaron tersenyum penuh kemenangan. Mata tajamnya melirik ke arah David, ia akan membuat pria tua itu tak betah di Mension nya.


"Apa kau lapar papa mertua,"


Ucap nya sembari tersenyum. Dan David menatap tajam pada Aaron yang menyebalkan.


"Di mana kamar untuk ku, aku lelah dan aku mau istirahat. Apa kau tak tau aku baru perjalanan jauh dan butuh istirahat." Ucapnya ngegas, David geram dengan Aaron yang sama sekali tak memperlakukan nya sebagai mertuanya.


"Aku lupa, di mana istri ku membawa Istrimu tadi. Kau bisa memilih kamar yang mana saja. Di lantai bawah ada empat kamar di lantai atas ada_"


Aaron tertawa terbahak melihat David yang meninggalkan nya.


"Jika kau bukan suami putri ku, aku yakin aku akan membunuhmu di mension mu sendiri."


"Dad.."


David menoleh pada Almira yang memanggil nya.


"Sayang, di mama bunda?"


"Di kamar itu dad, ayo daddy juga harus istirahat sama bunda."


David bernafas lega mendengar nya. Tubuhnya memang sangat lelah dan kaku. Akibat perjalanan jauh dia hanya tidur sebentar. David mengikuti langkah kecil Almira.


"Sayang kau betah tinggal di sini.?"


Almira menoleh ke arah David, tak lama kemudian ia mengangguk mengiyakan ucapan Daddy nya.


"Bunda di sini Dad.."


David mengangguk dan membuka pintu kamar untuk nya.


"Pria itu benar benar sialan, kau tau sayang, dia membawaku berputar putar mencari mu. Kenapa kita harus mempunyai menantu sialan seperti nya. Huh... Aku bisa cepat tua Zoy."


Keluhnya pada Zoya yang duduk di atas kasur. Zoya menggelengkan kepalanya mendengar gerutuan David. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah akibat perjalanan jauh nya. Matanya menerawang memikirkan perubahan putrinya.


"Semoga saja benar."


Zoya tersenyum tipis membayangkan jika benar apa yang ada dalam pikirannya. Almira akan mempunyai bayi. Tapi tak lama kemudian ia mendesah lirih, saat melihat tubuh Almira yang sangat kecil.


"Sayang, ada apa.?" David merasa jika Zoya sangat senang berada di sini. Huh menyebalkan...


"Aku pikir Al hamil mas.."


"Apa..."