
"Zoy, apa benar dia calon suamimu. Lalu kenapa kau tak pernah sekalipun menyinggungnya, jika kau sudah memiliki tunangan."
Bisma angkat bicara, walaupun dia sangat kecewa dengan apa yang ia dengar. Tapi setidaknya Zoya memberikan penjelasan terhadap nya. Apalagi mereka hampir setiap minggunya jalan. Meski itu Bisma tak menampik dengan alasan anaknya untuk mendekati nya.
Zoya menunduk ia bingung dan juga shock. Apa maksud David mengatakan jika dirinya adalah tunangan nya. Tak puas kah pria itu mempermainkan dirinya.
Meski Zoya tak mencintai Bisma, tapi David tak berhak mempermainkan dirinya. Apalagi Zoya sangat dekat dengan keluarga ibu Rita.
"Ah maafkan putra saya jeng Lili. Saya tidak tau jika Zoya sudah bertunangan dan akan menikah. Kami tidak tau kabar bahagia itu. Kami pikir Zoya masih sendiri dan kami berniat, Zoya menjadi bagian dari keluarga kami."
Bibi Lili hanya mengangguk. Ia sendiri juga bingung. Situasi macam apa ini.
Di tempat duduk yang lain seorang gadis sedang memandang tak berkedip wajah tampan David. Meski ketampanannya tertutup oleh jambang yang panjang dan tak terurus. Tapi Arsy tau pria itu sungguh sangat tampan dan berkarisma. Baru kali ini ia melihat pria tampan dan berkarisma.
Sedangkan David tak perduli, pandangan seseorang yang dari tadi melihat nya tak berkedip. Ia tau gadis itu dari tadi tak mengalihkan pandangannya. Tapi bagi David hanya Zoya wanita yang menguasainya saat ini.
Tiga tahun kehilangan Zoya membuat hidupnya berantakan. Ia sering melewatkan makan nya dan merawat dirinya.
Bisma melirik ke arah pria yang mengaku sebagai tunangan Zoya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Apa Zoya memilih pria yang jauh di diatasnya. Ya terlihat David lebih dewasa karna kumis dan jambang yang tak di rawat.
"Maaf tuan David, bu_"
"Unda Daddy udah pulang kan?"
Zoya menutup kembali mulutnya yang hendak berbicara. Ia melihat Almira sangat senang dan bahagia bersama David.
"Ya Allah cobaan apalagi ini?"
Dalam hati Zoya ingin sekali mengatakan jika David bukanlah pria yang berstatus sebagai tunangannya. Mereka tak memilik hubungan sama sekali.
"Tuan Ridwan, kalau begitu kami permisi. Maaf sudah mengganggu ketenangan anda!"
"Ah ya."
Tak hanya Zoya yang kaget dan shock. Ridwan dan istrinya pun tak kalah kagetnya. Mereka tau siapa David. Pria yang Zoya hindari sampai mereka menetap di kota B.
Bisma melangkah lesu menuju mobilnya
Rupanya Zoya sudah memiliki tambatan hatinya. Dua tahun ia mengenal Zoya, berharap wanita itu menjadi penghuni hati dan rumahnya kelak. Tapi semua itu hanyalah angan-angan nya saja.
Setelah kepergian keluarga Bisma. Zoya menatap nanar wajah Almira. Putrinya itu sangat gembira dengan kedatangan David. Padahal David lah yang membuat mereka pergi dari kota A.
Ingin sekali Zoya mengusir David dari rumahnya. Meski kedatangan David tak di inginkan oleh Zoya. Tapi setidaknya David menyelamatkannya dari Bisma.
Ya Zoya memang tak bisa menikah dengan Bisma. Pria itu sudah di anggap nya sebagai seorang kakak baginya. Selain itu tak pantas rasanya Zoya mendapatkan Bisma. Pria keturunan bangsawan, sementara dirinya hanyalah debu tak berarti. Biarlah Bisma mencari wanita yang lebih pantas untuk mendampingi nya.
"Ha... Ha... Geli addy"
Almira tertawa terbahak kegelian, David menggesekkan dagunya pada leher putrinya. Jika orang yang tak tau, mereka akan mengira jika David benar benar ayahnya.
"Zoy, apa kau masih tak memaafkan David. Sepertinya pria itu sangat menyesal telah menyakiti mu dan Almira. Lihatlah betapa bahagianya Al dengannya. Almira merindukan sosok seorang ayah selama ini."
Zoya menangis segukan di tempat duduknya. Kenapa almarhum suaminya Rangga, bahkan dulu tak pernah sekalipun menggendong atau menyentuh putrinya.
"Tapi bagaimana jika Al mengira dia adalah ayah nya bibi. Tuan David sangat membenci Zoya. Zoya tau dia membenci kami bi. Zoya tak sanggup jika Al harus kecewa seperti yang Zoya rasakan selama ini. Zoya tau rasanya tak diinginkan bi. Zoya tau rasanya menunggu seseorang menyayangi kita."
Bibi Lili memeluk tubuh ringkih Zoya. Dialah saksi pernikahan Zoya dan almarhum suaminya. Begitupun dengan Ridwan, ia hanya mendesah lirih. Hidup Zoya sangat lah berliku. Wanita berhijab ini adalah korban dari keegoisan seseorang. Rangga almarhum suaminya ini yang membuat mental Zoya hilang sebagai wanita.
Tak jauh dari sana David mendengar mereka. Ya David mendengar kata-kata Zoya. Rasanya David ingin sekali merengkuh tubuh ringkih Zoya. Ingin meminta maaf atas kesalahannya yang dulu. Ia benar benar sangat menyesal telah menghina, mencaci, bahkan merendahkan martabatnya sebagai istri dan wanita.
"Addy, ayo main kuda kuda an"
David tersadar dari lamunannya ketika Almira berada di punggung nya. Memintanya merangkak dan ia yang menjadi joki nya.
"Ah ya, ayo tuan putri siap naik."
Lebih dari satu jam lamanya hingga Almira ketiduran di pangkuan David. Zoya yang melihat putrinya tertidur pulas di pangkuan David hendak memindahkannya.
"Tunjukan saja di mana kamarnya. Aku yang akan menggendongnya. Takutnya dia akan terbangun lagi."
Deg....
Zoya bangkit, di ikuti oleh David yang menggendong Almira di belakangnya.
Clek...
Deg....
Dada David bergemuruh hebat melihat kamar yang cukup kecil. Di tambah lagi hanya ada kipas angin dan lemari pakaian kecil di sudut ruangan. Tak lupa lagi boneka pemberiannya yang tersusun rapi di bawah lantai yang dingin. Hanya ada karpet tipis di sana.
Air mata David Ingin sekali meluncur bebas. Bagaimana kehidupan Zoya selama ini. Ya rumah yang kecil dan sederhana tapi bersih. David pikir di ruang tamu hanya ada sofa dan televisi berukuran kecil. Memang David tak memperhatikan nya. Tapi ketika ia melihat kamar ini rasanya dadanya benar benar sesak.
Kamar sempit berukuran tiga kali empat dan kasur busa menjadi penghuni ruangan ini.
"Tidurkan di sini tuan!"
Lamunan David buyar saat Zoya mengagetkan nya. Ia lalu membaringkan bocah kecil dan imut itu di kasur. Mungkin saja ia tidur bersama ibunya di kasur ini.
***...
Zoya menepuk-nepuk bokong putrinya. Masih berdiri kokoh di belakang Zoya. David mengamati kamar remang remang yang sempit dan panas ini.
"Maaf tuan, tak baik anda terlalu lama di kamar wanita. Sebaiknya anda keluar, putri saya sudah tidur terima kasih."
David melangkah mundur kebelakang.
Tes....
David segera menyeka air matanya yang menetes. Tak hanya apartemen miliknya dulu, ternyata Zoya juga sama tinggal di sini sangat sederhana. Jauh dari kata layak.
Zoya menemui David di ruang tamu. Ia membawa secangkir kopi untuk nya. Biar bagaimanapun David adalah tamu di rumahnya. Meski pria itu dulu yang sudah membuat nya menderita. Zoya berharap dengan ini akan ada pelangi yang indah untuk nya dan putrinya.
Sebenci apapun ia dengan David. Zoya tak boleh memupuk rasa benci itu. Mungkin benar, pria itu merasa di hianati oleh tunangan nya. Sehingga dia melampiaskannya pada dirinya.
Lalu bagaimana dengan dirinya yang trauma akibat kesalahan almarhum suaminya dan juga David.
"Maaf..."
Satu kata yang terucap dari bibir David. Zoya mendongak melihat wajah David. Biasanya wajah itulah yang menatapnya garang dan benci.
Bibir Zoya terkunci rapat, entah apa yang ia pikirkan tentang David.
David mengeluarkan satu kotak berwarna merah terang. Zoya menautkan alisnya.
"Kita akan segera menikah, pakailah."
Setelah mengatakan itu David pergi meninggalkan Zoya. Sementara Zoya mematung mendengar nya. Tak ayal tangan nya mengambil kotak kecil tersebut lalu membukanya.
Deg....
Tangan Zoya bergetar, di tangannya sebuah cincin bertahtakan berlian. Jelas Zoya tau maksud David barusan. Seketika bayang bayang pernikahan yang bertolak belakang dari yang ia impikan berputar di kepalanya.
Pernikahan semu yang di rasakan nya bersama almarhum suaminya Rangga.
Kisah cinta mereka berdua, sebelum menikah boleh di bilang romantis. Tapi setelah menikah dan bekerja. Rangga berubah seratus delapan puluh derajat. Bertolak belakang dari sebelum mereka menikah. Rangga kerap kali menghinanya dan merendahkannya sebagai seorang wanita. Yang tak bisa mengurus wajah dan juga tubuhnya.
Apalagi Rangga mengacuhkan putri semata wayang mereka.
.
Mom budayakan like komen dan juga beri VOTE dan hadiah juga 😌 Tambahkan favorit 😌
.
.