Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 65


Clek....


David menatap wanita yang termenung membelakangi pintu. Hatinya sakit melihat Zoya seperti ini, dan itu karna ulah nya lagi.


"Unda..."


Zoya kaget dan menoleh kearah putrinya. Ia dengan sigap menghapus air matanya yang keluar. Dan David melihatnya, ia merasa menjadi pria paling brengsek di dunia ini. Menyakiti Zoya lahir batin, hingga buah hati mereka menjadi taruhannya.


"Sayang nya bunda, habis nangis ya."


"Al cali unda, mbak Lala bilang unda atit!"


Almira menangis lagi di pangkuan Zoya, ia memeluk tubuh bundanya yang dari tadi di carinya.


"Sekarang bunda sudah sembuh sayang, Al lihat bunda sudah tidak sakit lagi."


David mengusap air mata nya, mengingat ia yang telah kehilangan bayinya.


"Mas David dari kantor?"


David tak menjawab nya, ia justru menatap lekat wajah istrinya yang masih pucat. Dan Zoya tersenyum tipis di tatap oleh suaminya. Mana mungkin ia membenci David, dia suaminya. Dan dia mencintai nya, entah kapan rasa itu tumbuh. Yang jelas Zoya sangat mencintai David.


Ia juga mengerti jika David tak sengaja menyakiti nya. Karna dia cemburu pada almarhum Rangga.


"Sayang maaf.."


David menunduk, ia sungguh menyesali perbuatannya. Menjamah istrinya kasar hingga mereka kehilangan buah hatinya. Zoya merasa iba, ia menatap wajah tinggi David yang menunduk di depannya.


"Mas tidak bersalah, mungkin ini belum rejeki kita mas. Maafkan aku juga, yang membuat mas kecewa dengan sikap Zoya...."


Zoya tersenyum lebar, ia tak ingin David merasa bersalah atas kepergian buah hatinya.


"Mas sudah makan..?"


David menggelengkan kepalanya, dan Zoya menarik tangan suaminya agar duduk di sampingnya.


"Kalau begitu kita makan, Al mau makan bareng bunda.?"


Almira mengangguk mengiyakan ucapan ibunya. Ia segera turun dari pangkuan Zoya. David menubruk tubuh Zoya, menangis di pelukan istrinya. Ia tak menyangka Zoya begitu baik terhadap nya. Padahal ia sudah berulang kali menyakiti wanita ini.


"Mas ada apa?"


Zoya ikut meneteskan air matanya, ia tau David sangat menyesali perbuatannya, yang membuat mereka kehilangan buah hatinya.


"Maafkan mas sayang, berjanjilah Zoya jangan tinggalkan mas. Mas mencintaimu Zoy.."


"Ya, aku tidak akan meninggalkan mu mas."


David mengeratkan pelukannya pada istrinya. Tangisnya bertambah keras, mendengar Zoya yang tak akan meninggalkan nya.


Sedangkan Almira juga ikut menangis melihat dua orang tuanya menangis.


Di depan pintu, Sinta juga tak bisa membendung air matanya. Rasa bersalah yang telah menyakiti dua orang yang saling mencintai.


Ia pergi dari sana, dan akan pulang ke rumah. Ada David yang menjaga menantu nya saat ini.


"Tante,"


Sinta mengalihkan pandangannya pada wanita yang menyapa nya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Mengingat jika ayah Kartika juga sama di rawat di sini.


"Tika baru datang?"


Yang di tanya mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia balik bertanya.


"Ya, istri David sakit, oh ya tante duluan ya sayang." Sinta berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Kartika. Tapi suara Kartika menghentikan langkahnya lagi.


"Tante, tunggu."


Sinta lagi lagi menghembuskan nafasnya perlahan, menghadapi Kartika yang keras kepala. Gadis ini sungguh membuatnya geram. Ia juga baru tau jika Kartika orang yang sangat keras kepala.


"Bisakah kita minum kopi dulu?"


Disinilah ibu David dan Kartika, kafe di samping rumah sakit. Kartika masih menatap wajah ibu David.


"Tan_"


"Maafkan tante Kartika, jika kau ingin mengatakan tentang pesta pertunangan. Tante akan mengatakan, jika semua itu sia sia. David sudah beristri, dan kau tau itu. Apa yang ingin kau cari dengan pria beristri. David tak akan pernah mencintai mu. Dia milik Zoya, begitupun dengan sebaliknya. Apa kau senang menjadi yang kedua. Menjadi yang kedua mungkin bisa saja, tapi apakah kau ingin menjadi pajangan saja. Lagi pula David tak mencintaimu, dia hanya mencintai Zoya."


Kartika mengepalkan tangannya mendengar penuturan panjang ibu David. Wanita ini, sekarang sudah tak lagi di pihaknya.


"Jangan lupa tante, tante sendiri yang menyuruh Tika menunggu David. Bagaimana dengan mudahnya tante bicara seenaknya saja. Apa tante tak bisa membayangkan bagaimana jika mereka mengejek aku tan. Aku pasti akan di cap sebagai perawan tua. Aku pasti akan malu, jika pertunangan ku batal."


Sinta membiarkan Kartika, menumpahkan segala kekesalannya.


"Lebih baik di cap sebagai perawan tua. Dari pada di cap sebagai perebut suami orang Tika. Kartika, cobalah buka hatimu sedikit saja. David tak mencintai mu,?


Tante yang akan mengganti rugi uang yang sudah kau dan orang tua mu


keluarkan. Maafkan tante yang egois, tante tak bisa memisahkan David dan Zoya. Lagi pula kau sendiri yang mengadakan pesta pertunangan mu. Tante sama sekali tak tau, bukan begitu Kartika. Ya benar, tante yang menyuruh mu menunggu David waktu itu. Dan itu tiga tahun lalu, Tika. Adapun tentang pertunangan ini, tante tak pernah menyetujui nya bukan. Tante tak pernah bilang ya Tika. Kau sendiri dan orang tuamu lah yang membuat kesimpulan sendiri. Maafkan tante...."


Sinta berdiri dan pergi meninggalkan Kartika sendiri. Ia tak ingin menyakiti Zoya, sudah cukup David yang menyakitinya berulang kali.


Sementara Kartika, matanya memerah menahan amarah dan malu. Ia ingin memaki wanita tua itu yang sudah membuatnya berharap lebih pada David.


Sinta menurunkan kakinya dari mobil. Mata nya melirik mobil asing yang berada di halaman rumah nya.


Mobil siapa?


Dari depan pintu ia sudah di sambut oleh Lala. Pengasuh cucunya, Almira.


" Nyonya ada yang mencari."


Sinta hanya mengangguk dan berjalan ke arah tamu. Matanya meneliti punggung lebar seorang pria yang berambut putih.


" Mau apa kau datang kemari?"


Tanpa basa-basi Sinta menyambut nya sinis.


Dewa mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik. Ia mendesah lirih, sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah bertemu. Dia masih saja tak di sambut baik.


Sinta menatap lekat wajah Dewa. Ia sungguh muak melihat pria ini. Bertahun tahun lamanya ia menjadi istri pelampiasan Dewa. Ia menikahinya hanya untuk kedok agar ia mendapat warisan saja. Bertahun tahun ia diam tak pernah melawannya demi David, putranya. Pria brengsek yang menjajakan tubuh nya pada semua wanita. Dan salah satunya adalah dia yang terjebak.


"Aku merindukan mu,"


Cih...


"Kenapa, mainan mu sudah membuang mu. Atau kau sudah jatuh bangkrut dan akan merayuku kembali. Jangan bermimpi Dewa.... Kau pria brengsek yang telah menelantarkan istri dan anaknya sendiri. Demi bersenang senang dengan wanita mu yang baru. Lalu sekarang, setelah mereka membuang mu kau pikir aku akan memulung mu. Mimpimu terlalu tinggi Dewa."


Dewa mengeraskan rahangnya mendengar hinaan yang keluar dari mulut pedas mantan istri nya.


.


.