
Zoya melepas selang infus dan berjalan tertatih mencari keberadaan Bisma. Bisma sendiri duduk di kursi tunggu dan menunduk.
Ia tersenyum tipis melihat Bisma, melangkah mendekati pria yang sudah ia anggap sebagai kakak baginya.
Merasa ada yang mendekati, Bisma mengangkat wajahnya. Ia di kejutkan dengan Zoya yang berdiri di depannya.
"Zoy..."
" Lihat aku mas, apa kau yakin ingin menikahiku?."
Zoya menatap Bisma yang menatap ke arah lain.
" Mas, terima kasih kau sudah merawat ku hingga sembuh. Apa ini imbalan yang kau inginkan. Kau ingin aku menjadi istri keduamu....." Zoya menatap Bisma lekat.
" Ya aku bersedia, tapi jauhkan anak anakku dariku." Lanjutnya lagi.
Bisma terkesiap ia menatap tak percaya pada Zoya. Bukankah saat sadar dia menanyakan keberadaan anak anaknya.
"Zoy..."
Zoya berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar rawatnya. Di balik pintu ia menunduk, meneteskan air matanya. Semoga saja Bisma terbuka hatinya.
"Mbak..." Zoya di kagetkan dengan Arum yang tiba-tiba saja sudah di depannya. Ia mengusap pipinya yang basah dan menatap wanita cantik di depannya. Matanya menatap datar Arum, entah apa yang wanita ini pikirkan. Kenapa ia mau berbagi suami, apa Bisma mengancamnya.
Zoya masih tak bergeming, ia masih menatap wajah Arum.
"Aku sudah bersedia menjadi madu mu, Arum. Kita akan berbagi suami, bukankah ini yang kau inginkan. Aku harus menebus rasa terima kasih ku pada kalian, telah merawat ku sampai sembuh. Dan aku bersedia menjadi istri kedua Bisma."
Arum menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Zoya. Bagaimana mungkin Zoya menyetujui begitu saja.
"Mbak..."
"Aku sudah mengatakan nya pada suamimu, pergilah. Katakan padanya, aku akan menikah dengannya setelah tiba di tanah air nanti."
Arum menatap Zoya yang berjalan ke ranjang pesakitan. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Zoya. Arum berlari keluar sambil mengusap air matanya.
*
Bisma termenung setelah kepergian Zoya. Ia mengusap wajahnya kasar. Kenapa Zoya tak ingin membawa anak anaknya.
Ya Bisma tak bisa melihat seorang anak tanpa ibunya. Apalagi Zoya memiliki tiga anak, dan dia mengatakan tak ingin membawa anak anaknya.
Setengah jam Bisma termenung dan dia berdiri melangkah ke kamar Zoya.
Brukkk...
"Maaf.."
Arum menunduk dan tak lama kemudian sebuah tangan mengangkat dagunya.
"Mas..."
"Maafkan aku.."
Dari jauh Zoya bisa melihat Bisma dan Arum. Ia tersenyum tipis melihat keduanya.
"Aku tau kau tak akan tega melakukan ini mas, sadarlah. Arum sangat mencintai mu."
Ia mengusap pipinya yang basah, anak anaknya pasti merindukannya. Almira dan kedua jagoannya pasti menunggu nya di rumah. Mereka bertiga sudah kehilangan ayah mereka dan dia ada di sini.
"Maafkan bunda,"
*
Sinta termenung menatap ketiga cucunya yang tertidur bersama. Setelah makan malam, Almira meminta tidur bersama kedua adiknya. Tentu saja ia hanya bisa mengiyakan ucapan cucunya itu. Ia masih memikirkan bagaimana jika Bisma benar benar menikahi Zoya.
"Nyonya, ada telpon dari dokter." Sinta mengusap pipinya, ia berjalan menghampiri telpon rumah di ruang tengah.
"Ya Hallo.."
Tes....
Sinta tak bisa menyembunyikan rasa harunya, mendengar penuturan di sebrang telpon, ia menangis segukan.
"Terima kasih...."
"Nya..."
Sinta memeluk tubuh pembantunya. Sementara Minah sendiri mengusap punggung ringkih wanita yang menjadi majikannya ini.
"Doa nyonya terkabul.."
*
Zoya berlari melangkah memasuki rumah mewah milik suaminya. Ia tak perduli dengan perut nya, ia juga tak perduli dengan kondisinya yang belum stabil. Dari jauh ia bisa melihat wanita paruh baya yang menjemur kedua jagoannya. Ya Zoya tau jika mereka kembar laki laki. Ia dan David rutin check ke dokter dan mereka sudah tau jenis kelaminnya.
Sementara di dalam mobil Bisma menatap punggung Zoya yang menjauh. Setelah Zoya sadar, wanita itu ingin pulang ke Indonesia. Dan Bisma tak bisa berbuat banyak, ia menuruti permintaan wanita cantik yang menjauh dari pandangan nya.
"Bunda..."
Sinta mematung mendengar seseorang memanggilnya. Ia membalikkan tubuhnya dan saat itu juga Zoya menubruk tubuh tuanya.
"Maafkan Zoya, maafkan Zoya."
"Kau kembali... "
Tangisan Sinta terdengar sampai di dalam rumah. Lala yang baru saja keluar dengan Almira tak kalah terkejutnya.
"Bunda..."
Almira berlari ke arah ibunya dan Zoya sendiri melepaskan pelukannya pada ibu mertuanya berjongkok memeluknya erat.
"Bunda jangan tinggalin Al, Al hanya ingin bunda. Al janji tidak akan nakal lagi."
"Maafkan bunda sayang,"
Cup...Cup... Zoya mencium wajah Almira bertubi tubi. Ia lalu berbalik dan melangkah pada kedua bayi yang tidur di atas stroller.
"Maafkan bunda..."
*
Lima tahun kemudian...
Zoya melangkah masuk ke area pemakaman umum. Ia tersenyum dan mengucap salam. Kaki jenjangnya berbelok pada gundukan tanah yang di tumbuhi rumput hijau.
Ia mendudukkan dirinya di sana dan menaburkan bunga mawar yang ia bawa.
"Assalamualaikum mas, aku datang mengunjungi mu. Maafkan aku yang jarang mengunjungi mu. Aku sibuk bersama anak anak."
Zoya terkekeh kecil, saat mengingat betapa nakalnya si kembar. Mereka berdua selalu membuat kakak nya marah.
"Terima kasih, kau sudah memberiku malaikat untuk ku. Kau adalah pria pertama yang mengenalkan aku cinta, terima kasih mas."
Zoya berdoa dan tak lama ia berdiri. Keluar dari pemakaman, berjalan ke minimarket yang tidak terlalu jauh. Ia tersenyum saat melihat Bisma menggendong balita di tangan nya.
"Mas.."
"Unda..."
Zoya meraih gadis kecil di gendongan Bisma. Mencium pipinya bertubi tubi.
Bisma sendiri tersenyum melihat wanita cantik yang menggendong balita di tangan nya.
"Mbak..."
"Anak kalian gembil sekali pipinya, gemes pengin gigit."
Arum tersenyum tipis, ia melirik ke arah suaminya yang menatap Zoya tak berkedip. Merasa di perhatikan Bisma menoleh ke arah nya. Ia tersenyum dan menyentuh telapak tangan nya.
"Maafkan kami..."
Zoya berbalik dan tersenyum pada keduanya.
"Aku seharusnya yang meminta maaf pada kalian. Karna akulah orang ke tiga di antara kalian."
Arum memeluk Zoya, ia meneteskan air matanya. Tak percaya jika Zoya menolak menjadi madunya. Padahal dulu Zoya sudah mengatakan jika dia siap menjadi madunya.Tentu saja ia marah, ia kecewa dengan takdir cintanya. Ia tak ingin berbagi tapi cinta nya pada Bisma mengalahkan segala apapun. Ia menerima Zoya sebagai madunya. Tapi entah kenapa saat Zoya menginginkan menjadi madunya, justru suaminya sendiri menolaknya. Dia tak ingin memisahkan Zoya dan anak anak.
"Terima kasih mbak.."
"Mainlah ke rumah, anak anak pasti merindukan si gembil ini." Zoya lagi lagi mencium gemas pipi balita di gendongan nya.
" Iya mbak kapan kapan.."
Tak lama Zoya mengangguk dan pamit pulang. Kebetulan taksi berhenti di depannya, ia melambaikan tangan nya pada mereka berdua.
Sampai di halaman rumah dia sudah di sambut oleh ketiga anaknya.
"Bunda, kenapa lama?Aarahs dan Ashraf nakal lagi." Zoya menggelengkan kepalanya, inilah setiap hari yang mereka lakukan.
"Sayang jangan nakal sama kakak," Kedua bocah kembar itu menunduk.
Zoya mengusap kepalanya dan melangkah menaiki anak tangga.
Clekk...
Arkk...
"Aku menunggu mu, kenapa kau lama sekali."
Cup....
"Aku mencintaimu AZZOYA."
Zoya tersenyum lebar, ia mengalungkan tangannya pada lehernya. Membalas ciuman panasnya dan ******* bibir nya.
Brakk...
"Mas.. "
"Aku tak membutuhkan kursi roda itu sayang. Yang aku butuhkan hanya Zoya, istri ku." Zoya menjerit saat ujung gunung kembarnya di gigit oleh suaminya.
"Mas David..."
END