Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 32


"Almira..."


David mengeraskan rahangnya mendengar penuturan putrinya. Bagaimana mungkin Almira dengan mudahnya menerima pria brengsek di depannya ini. Apa dia tak tau, bisa saja dia mempermainkan dirinya agar bisa merebut Zoya dari tangan nya.


"Dad, maaf..."


Almira menunduk, ia tau tak ada yang setuju dengan keputusan nya. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini satu satunya agar daddy yang sudah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang hidup bahagia dengan bundanya. Jika Aaron dulu ingin merebut Zoya dari tangan daddy nya. Maka ia yang akan membuat pria dewasa ini melupakan ibunya.


Entah keberanian dari mana Almira mengatakan semua itu. Mendengar jika pria ini yang menjadi suaminya saja ia shock dan kaget, apalagi saat daddy nya mengatakan jika pria dewasa itu dulu ingin merebut bundanya dari nya.


Almira berbalik, ia tak mau kebahagiaan keluarga nya terancam gara gara orang ketiga. Bukankah pria ini mengatakan jika ia istrinya dan sudah menikahinya. Ia akan menerima apapun yang Tuhan berikan padanya. Meski baru mengenalnya ia pikir pria yang menjadi suaminya itu mungkin tak terlalu buruk. Apalagi wajah nya tak seseram saat pertama kali bertemu.


Aaron tersenyum masam mendengar istrinya mengatakan jika mereka akan tinggal di sini sebulan. Semoga saja rumah mewah David masih utuh jika dia tinggal disini.


" Mas..."


David menatap tajam Aaron dan masuk ke dalam rumah mewahnya, menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bersama Almira. Begitupun dengan Sinta, ia meninggalkan Aaron begitu saja di luar tanpa menyuruhnya masuk. Ia masih shock dan bingung dengan apa yang baru saja di dengar nya.


Tapi tidak dengan kedua anak kembar David, mereka berdua menatap wajah berkarisma Aaron yang tak jauh dari nya.


Aaron sendiri mendengus dan menggerutu bibirnya.


" Bukankah kau sendiri yang mengajakku tinggal di sini. Lalu kenapa kau meninggalkanku sendiri di luar, menyebalkan. Mereka sama sekali tak menyambut ku sebagai menantu tertampan, huh.."


"Tak ada yang akan menyambut benalu di rumah ini tuan,"


Aaron melototkan matanya mendengar dirinya di katakan benalu. Ia menoleh kesamping dan matanya tak berkedip melihat dua bocah yang sama mirip.


"Kalian kembar.." Tanyanya bodoh.


"Tidak..."


Asraf dan Arhas pergi meninggalkan Aaron. Mereka berdua juga tak menyangka dengan pria dewasa yang mengaku sebagai suami kakak nya. Setelah bersitegang dengan daddy nya dengan wajah garang nya, setelah melihat mereka berdua justru menunjukan wajah bodoh nya. Tentu saja kembar, bukankah mereka mirip.


"Benar benar tak ada yang menyambut ku."


Aaron berjalan masuk ke dalam rumah mewah David. Ia mengerutkan keningnya tak mendapati keberadaan seseorang. Kemana mereka semua?


Ia berdiri di ruang tengah, matanya menyipit mencari keberadaan kamar istrinya. Tak lama kemudian dua anak kembar David keluar dari kamar.


"Di mana kamar istriku.?"


"Om bertanya pada siapa.?"


Aaron menghembuskan nafasnya perlahan, ia harus sabar menghadapi mereka semua.


"Ada di kamar atas, dekat kamar daddy."


"What...Oh ****,"


Ia mengutuk David, kenapa harus dekat dengan kamar nya. Tentu saja mereka akan sering berpapasan dengan ayah mertuanya, jika kamar nya saja berdekatan.


"Apa tidak ada kamar yang lain,?"


Asraf dan Arhas menyipitkan matanya mendengar perkataan pria dewasa di depannya ini. Dan Aaron sendiri yang melihat mereka seperti mencurigainya menghembuskan nafasnya.


Oh sial, kenapa kamar nya harus berdekatan sih. Bagaimana caranya dia merayu istri nya jika David akan memata matai dirinya dan Almira.


"Sebelah mana kamar nya..?"


Aaron pasrah, hanya sebulan jika sudah sebulan ia akan membawa istrinya pergi dari sini. Ia akan membawa Almira ke Venesia, ke Mension mewah nya dan akan menjadikan ratu di mension utama.


Mengingat Almira yang akan duduk manis dan di layani dengan pelayan Mension mewah nya membuat Aaron terkikik geli. Mereka pasti akan mengira Almira putrinya yang harus ia rawat dan besarkan.


Asraf dan Arhas menatap tak percaya, mereka berdua jelas saja berpikiran negatif pada Aaron.


Aaron tersadar dan memasang wajah datar dan cool nya kembali. Terlalu senang jika Almira sudah menganggap nya sebagai suami meski belum menerimanya, ia lupa jika anak David masih berada di depannya dan menatap ke arah nya.


"Antarkan aku, aku tak mau nanti salah kamar dan masuk ke dalam papa kalian."


"Pantas saja istri ku tak gemuk, dia setiap hari naik tangga dan turun tangga seperti ini. Apa tak ada cara lain,?"


Asraf menatap punggung lebar Aaron dari belakang. Ia menggelengkan kepalanya mengusir pikirkan buruknya tentang pria di depannya ini. Dari mana kakaknya bertemu dengan pria dewasa seperti ini.


"Tuan anda mau ke kamar Daddy.?"


Aaron menurunkan tangannya kembali saat membuka pintu mendengar suara dari belakang nya. Ia mengumpat David lagi, hampir saja ia membuka pintu kamar nya.


Ia lalu berbalik dan melihat kamar yang di tunjuk oleh Asraf.


Aaron berjalan mendekati pintu kamar Almira, dan tersenyum lebar. Kenapa ia jadi bodoh, harusnya ia tau saat melihat pintu nya saja, jika kamar ini milik istri nya.


*


David berjalan menuju kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air. Sedangkan Zoya mengikuti langkah suaminya. Ia memeluk tubuh David dari belakang, menyandarkan tubuhnya di punggung lebar David.


"Mas,"


Zoya terisak di punggung suaminya, ia tak menyangka jika ia gagal mendidik putri semata wayangnya. Mungkin saja bukan Almira yang bersalah, tapi tetap saja ia sudah gagal menjadi seorang ibu.


Merasa kan punggung nya basah, David berbalik. Ia mengangkat wajah Zoya dengan kedua telapak tangan nya.


"Maafkan aku sayang,"


Zoya menggeleng kan kepalanya, ia memeluk tubuh David dan menangis di pelukannya. Entah kenapa rasa kecewa terhadap dirinya sendiri sangat lah besar. Dan David hanya mengelus punggung istrinya. Ia tau jika Zoya sangat lah sedih. Istri nya kecewa dengan takdir yang selalu mempermainkannya. Ia bersumpah akan membunuh David jika pria brengsek itu mempermainkan putri nya.


*


Aaron mengerutkan keningnya tak mendapati keberadaan istrinya di kamar nya. Ia menutup pintu perlahan, dan menguncinya.


"Om.."


"****..."


Aaron berjengit kaget saat dirinya di kagetkan dengan suara istrinya. Ia berbalik dan mendapati wajah Almira yang menatapnya tajam. Dan Aaron sendiri menatap tak berkedip mata bundar Almira dengan bulu mata nya yang lentik dan panjang, menggemaskan.


Tanpa sadar Aaron mendekat dan menggendong tubuh kecil Almira.


Arkk.."Apa yang Om lakukan, turunkan Al."


Almira memukul Aaron dengan tangan kecilnya, ia kaget saat tiba tiba saja tubuhnya melayang di gendongan Aaron.


Aaron meringis, ia menurunkan Almira di ranjang berwarna pink. Ia sendiri tak sadar, gemas saja melihat wajah Almira, yang lucu dan menggemaskan.


"Om mau apa di kamar Al,?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Aaron menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bukankah dia tadi sudah menerimanya jika ia suaminya, kenapa sekarang bertanya lagi.


Almira menghembuskan nafas nya perlahan. Ia sendiri masih shock dan bingung dengan status nya yang tiba-tiba saja menjadi istri.


"Om kapan menikahi Al, dan di mana?"


Almira menatap datar wajah Aaron, pria yang dulu di takuti nya dan menyeramkan sekarang menjadi suami nya.


"Jika Om benar istri Al, jangan ganggu bunda dan daddy, biarkan mereka hidup bahagia."


Aaron menatap tak percaya pada Almira, jadi istrinya menerimanya karna dia tak ingin ia mengganggu ibunya. Aaron mendekat dan menyambar bibir Almira. Sedangkan Almira sendiri yang mendapatkan ciuman dari Aaron hanya diam. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Di tambah lagi bundanya dan juga Daddy nya yang pasti kecewa padanya. Tapi bagaimana lagi jika pria dewasa ini adalah jodoh yang di kirim tuhan untuk nya.


Aaron melepaskan bibirnya dari bibir Almira, ia mengusap bibir basah istrinya dengan jari jempolnya. Kemudian mengecupnya singkat.


"Aku mencintai Almira Putri Yudistira."


.


.