Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 13


Malam harinya.... Rumah David sangat ramai dengan anak anak panti. Hanya beberapa sahabat Almira yang datang. Memang Almira tak banyak teman, selain ia tak terlalu banyak bergaul, ia juga tak terlalu memusingkan teman dan dunia luar. Ia lebih suka bersama adik dan keluarga nya.


Zoya dan Sinta sendiri sangat sibuk dengan beberapa anak panti. Tak hanya menyediakan makan malam, tapi Zoya juga memberi hadiah kepada mereka satu persatu. Inilah yang setiap kali Zoya berikan pada anak anak panti. Ia dan David mengundang mereka datang kemari dengan memberikan mereka semua hadiah, berharap mereka semangat belajar dan menuntut ilmu.


Tak ada tiup lilin untuk Almira, hanya ada hadiah dari David dan Zoya tentunya. Mereka memang tak pernah menyediakan tiup lilin. Hanya beberapa kue dan camilan yang Zoya bikin.


"Al, udah delapan belas tahun, brarti udah boleh dong ya pacaran sama bunda." Qinan menggoda Al. Sementara Bastian yang berada di dekatnya, langsung menoleh. Jantung nya berdebar menunggu jawaban yang keluar dari bibir Almira.


"Masa mau pacaran Qi, emang Al mau pacaran sama siapa? Kan tiap hari cuma sama kalian, ada ada aja."


Almira menggeleng dan tertawa renyah. Qinan sendiri melirik ke arah Bastian yang tersenyum masam. Ia tau apa yang Bastian harapkan dari bibir mungil Almira.


"Kan udah bisa pacaran Al, cari pasangan deh, masa iya udah delapan belas tahun masih aja sendiri, kaya Arhas dan Asraf...... Kamu gak penasaran gimana rasanya berciuman Al." Lanjutnya sambil mengedipkan matanya, sedangkan Almira hanya menggeleng. Ia lalu beralih pada bunda dan Omanya, membantu mereka berdua memberikan hadiah pada adik adik panti.


Sementara Bastian menatap Almira penuh kecewa. Ia tau jika Almira bukanlah gadis yang suka bergaul. Tapi jawaban Almira barusan membuat hati nya sedikit kecewa. Ternyata Almira tetap menganggap nya sebagai teman.


*


Aaron menatap Queen dari kursi kebesaran nya. Sejak pagi, setelah percintaan panas mereka Queen tak pergi dari perusahaan nya. Dia duduk di sofa menatap dirinya tak berkedip.


"Pulanglah Queen, sebentar lagi malam." Ia mengingatkan wanita di depannya ini, berharap mendengarkannya dan pergi. Sejauh ini memang tak ada rasa cinta yang mendebarkan di hati Aaron pada Queen. Hanya partner di atas ranjang, teman menyalurkan gairahnya. Seperti yang baru saja mereka lakukan, sama sama membutuhkan gairah ****.


"Lalu bagaimana dengan ku Aaron, aku sudah memberikan semua yang ku punya untuk mu. Bisakah kau beri aku kepastian, aku hanya ingin kau menikahiku. Kau sudah mengambil harta yang paling berharga dariku."


"Bukan aku yang mengambilnya Queen. Tapi kau sendiri yang memberikannya pada ku, aku tak pernah meminta nya." Memotong perkataan Queen, inilah yang membuat Aaron menyesal telah melakukan nya dulu. Hingga ia terjebak harus menjadikan dia kekasihnya. Ya Aaron memang pria pertama yang menyentuh Queen tiga tahun lalu. Itupun bukan kemauan nya, melainkan Queen sendiri yang melemparkan tubuhnya.


"Aku tidak mau tau, kau harus menikahiku. Tak ada pria lain yang menyentuh ku selain dirimu."


Gigi Aaron gemerutuk menahan emosi, tangan nya juga terkepal erat. Queen benar benar menguji kesabaran nya. Ia sudah bersabar menghadapi Queen selama ini. Apa dia sengaja melemparkan tubuhnya untuk menjebak dirinya.


Tak lama kemudian Queen berdiri dan pergi meninggalkan Aaron yang masih menatapnya tajam. Tapi sebelum ia benar-benar keluar, Queen berbalik.


"Aku menunggumu." Queen mengusap pipinya yang basah, dan Aaron melihatnya.


Brakk..."Brengsek.."


*


"Al, liburan besok mau kemana." Bastian bertanya saat hendak akan pulang. Ia tau pasti Almira tak akan pergi kemanapun. Ia hanya memastikan jika Almira akan mau pergi bersamanya.


"Ga ada kak."


Mendengar jawaban Almira Bastian tersenyum lebar. Jika Almira tak ingin berpacaran, apa salahnya jika ia mengajak jalan jalan besok saat libur. Tak lama kemudian ia pamit pulang, bersama senyum di bibirnya.


Almira sendiri menatap Bastian yang menjauh dan keluar dari pintu gerbang mengendarai sepeda motornya.


"Sayang, masih diluar.?" Zoya mengagetkan Almira. Almira menoleh dan tersenyum mendapati ibunya mendekat padanya.


"Bunda belum tidur,?" Zoya mendekat dan mengelus kepala putrinya. Tak terasa delapan belas tahun usia Almira. Selama ini putrinya ini tak pernah membuatnya marah, dia anak yang penurut. Tak pernah meminta sesuatu yang aneh darinya dan David.


"Apa Al ingin sesuatu dari bunda dan daddy." Almira menggeleng, ia tak ingin mau apapun. Tak lama ia tersenyum lebar dan mengecup pipi Zoya.


"Al tidak ingin apa apa bunda, bunda dan Daddy sehat saja Al sudah senang."


*


Berbeda dengan Almira dan keluarga nya, Aaron duduk termenung di ruang kerjanya milik nya. Setelah pulang dari perusahaan miliknya, ia tak bisa memejamkan mata. Memikirkan perkataan Queen tadi di perusahaan.


Brakk.. Prang..


Aaron menendang meja kerja dan terbalik seketika. Ia mengusap wajahnya gusar, ia tak bisa seperti ini seterusnya. Apalagi Queen memaksa bertunangan dengan nya.


"Carikan tiket pesawat untuk ku malam ini, aku akan pergi, sekarang juga."


Aaron menutup ponsel dan berdiri dari duduknya. Menyambar kunci mobil pergi ke bandara. Ia harus memastikan sesuatu, terlebih dahulu saat ini. Ia tak bisa menjalani hubungan yang palsu.


Sedangkan di sebrang telpon, Nathan mendesah lirih. Ia lalu menghubungi seseorang yang akan mengabulkan permintaan tuannya. Malam ini tuannya nekat ingin pergi ke Indonesia lagi. Setelah delapan tahun, Aaron akan kembali lagi ke Indonesia. Ia tau jika Aaron tak mencintai Queen, Aaron hanya menganggap Queen adalah partner ranjangnya, tidak lebih. Apa tuannya akan mencampakkan Queen dan tetap pada pendiriannya, menginginkan istri dari pria lain.


Nathan menggelengkan kepalanya, tak lama kemudian ia juga harus bersiap mengikuti kemana langkah tuannya pergi. Aaron memang tak pernah memintanya ikut bersama nya, tapi ia tau pasti tuannya membutuhkan dirinya.


*


Sementara di apartemen, Queen duduk di kursi riasnya. Pikiran nya melayang, memikirkan pertengkaran nya dengan Aaron tadi. Ya, ia akui memang dirinya lah yang menginginkan Aaron agar menyentuhnya waktu itu. Dia sendiri yang melemparkan tubuhnya pada Aaron saat itu.


Queen menggeleng kan kepalanya, ia harus bisa membuat Aaron menikahinya. Dia sudah memberikan segalanya untuk pria itu. Ya Aaron tak mungkin akan mencampakkan nya begitu saja. Mungkin dia belum siap, besok ia akan meminta maaf padanya.


*


Uhh.. Zoya menggeliatkan tubuhnya saat David menekan salah satu gunung kembarnya.


Tak lama kemudian ia membuka mata dan melihat David yang tersenyum menyeringai lebar di depannya.


"Mas mau apa.?"


"Mas merindukan mu, sayang." Cup, David langsung menyambar bibir Zoya dan ********** rakus. Ia tak akan membiarkan istrinya lolos pagi ini. Sudah berkali kali David menginginkan istrinya tapi selalu saja terganggu dengan ketiga anaknya. Saat malam Zoya akan tertidur lebih dulu. Tidak dengan pagi ini.


Zoya sendiri menggeliat saat tangan besar David bergerilya masuk dan meremas dua gunung kembarnya. Memang sudah lebih empat hari mereka tak bercinta seperti hari sebelumnya. Kesibukan David yang mengajari bisnis ketiga anaknya saat pulang dari perusahaan. Kadang membuatnya tertidur lebih dulu. David memang mengajari ketiga anaknya sedini mungkin.


"Bunda, daddy.."


"****.."


David mengumpat dalam hati, kenapa mereka harus mengganggunya. Zoya langsung membuka matanya. Ia lalu mendorong tubuh tinggi besar David yang menindihnya dan membenahi pakaiannya sendiri. Lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Bunda kakak dimana, ko gak ada."


" Kakak pergi dengan temannya sayang," Arhas mendengus mendengar kakak nya tak ada di rumah. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan kamar ibunya.


"Qi, pulang yuk."


"Nanti kenapa Al," Almira mendengus, ia lalu berbalik, pergi meninggalkan Qinan dan menyebrang jalan.


Brakk...