
Aaron gondok dengan istrinya yang membiarkan nya sampai pagi dengan keadaan yang mengenaskan. Harusnya Almira datang melepaskan nya, bukan di biarkan begitu saja. Untung saja milik nya tak di gigit nyamuk. Bagaimana jika bukan hanya nyamuk saja, tapi semut yang mengerubungi milik nya.
"Istriku memang kadang menyebalkan."
Aaron berjalan keluar dan mendapati Nathan berdiri di depan pintu. Ia melototkan matanya kembali pada asisten nya itu yang bodoh. Hampir saja milik nya yang lembek di lihat oleh pria menyebalkan seperti Nathan.
"Tuan tidak apa apa..?"
Aaron tak menjawab ucapan Nathan. Ia berjalan menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Sampai di kamar milik nya, ia tak mendapati istrinya, berjalan ke arah balkon dan ternyata benar Almira sedang berada di luar sedang menjemur putrinya. Aaron berjalan kembali ke kamar mandi membersihkan dirinya. Bibirnya tak berhenti tersenyum mengingat jika semalam Almira memanjakannya.
Tapi sayang sekali, ia tak melihat wajah seksi Almira. Ia menunduk dan melihat milik nya yang seperti nya senang. Wajar saja sudah hampir satu bulan miliknya tidur dan tak di manja. Dan semalam dia sudah mendapatkan jatah nya dari sang istri.
"Ah kenapa tidak dari kemarin kemarin, aku bisa melihat bibir mungil nya yang penuh."
Aaron terkikik geli membayangkan bagaimana istrinya mengemut milik nya yang super jumbo.
Tak lama kemudian Aaron keluar dari kamar mandi masuk kedalam walk in closed. Keluar dari ruang ganti Aaron mendapati Almira sudah berada di kamar nya.
"Sayang...."
Almira tak menjawab dan langsung ke luar lagi ke kamar putrinya. Aaron bingung, ia mengerutkan keningnya melihat Almira yang seperti nya marah padanya.
"Sayang..."
Aaron mengikuti langkah istrinya masuk kedalam kamar putrinya. Ia melihat istrinya yang sedang memberikan nutrisi pada buah hati mereka.
"Sayang.."
Baby sister yang melihat tuannya masuk, segera keluar dari kamar anak majikannya. Almira hanya melirik ke arah suaminya.
Cup...Cup...
"Marah.."
Mencium pipi Almira dan bertanya tanpa rasa malu.
"Tidak..."
Almira tak melihat wajah suaminya, ia masih gondok dengan kejadian semalam. Bibirnya sampai sekarang masih terasa tebal, padahal jika di lihat biasa saja, tapi entah kenapa masih terasa tebal dan kebas.
Aaron melepaskan bibir putrinya dari ****** Almira, dan bayi yang baru sebulan itu merengek kembali.
"By..."
Aaron tak menggubris istrinya, ia mengangkat putrinya dalam gendongan nya. Ia menimang bayi mungil di tangan nya. Aaron memang sudah tak kaku seperti pertama kalinya ia menggendong putrinya. Ia sudah tau bagaimana menidurkan putrinya bersamanya.
Cup..
"Kau marah sayang, maaf semalam aku tak bisa mengontrol nya. Dari pada dengan orang lain lebih baik dengan mu sayang."
"Iya kenapa aku lupa jika semalam ada om Nathan. Kenapa bukan dia yang membantumu semalam by."
Aaron tercengang mendengar nya, Almira mengira orang lain itu Nathan. Tak lama Aaron tersenyum dan mengecup pipi istrinya berkali-kali. Ia bersyukur memiliki istri yang masih polos. Ia pikir Almira akan marah dan emosi saat ia mengatakan nya dengan orang lain. Tapi ternyata istrinya mengira jika orang lain itu adalah Nathan.
"Aku mencintai sayang.."
"Awas ya by, Al gak mau, kram bibir Al, bahkan sampai sekarang juga masih terasa kebas by."
Aaron tertawa terbahak hingga membangun kan putrinya yang berada di dalam gendongan nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana bibir mungil itu mengemut milik nya.
Nicholas memijit keningnya saat mendapati dirinya berada di dalam kamar VIP Club. Apalagi bersama dengan Helena. Wanita yang menjadi sekertaris nya, mereka berdua baru menghabiskan malam bersama. Bukankah harusnya Helena bersama Aaron, kenapa justru dia ada bersama nya dan menghabiskan malam panas dengan nya.
"Tuan anda yang memaksa saya semalam, saya terkunci di dalam kamar."
Helena menunduk, ia sendiri juga shock saat tiba tiba saja Bosnya bertanya padanya. Pantas saja semalam pria ini begitu kasar dan terkesan brutal menjamahnya. Ternyata Bosnya itu juga meminum obat laknat seperti Aaron. Ia tak tau bagaimana bisa Bosnya meminum nya. Tapi yang jelas semua ini pasti karna Aaron.
Nicholas mengepalkan tangannya mendengar penuturan Helena. Apa Aaron yang melakukan nya, itu artinya Aaron tau jika semalam ia ingin menjebaknya.
"Brengsek..."
Helena berjengit kaget mendengar umpatan Nicholas. Ia beringsut bangun dan mengambil pakaian milik nya.
Tak lama kemudian ponsel di saku celana Nicholas berdering. Nicholas sendiri bangkit dan mengambil celana bahan miliknya dan mengambil ponsel. Tak perduli dengan tubuhnya yang masih polos.
Helena berlari ke kamar mandi, ia memakai pakaian nya dengan tergesa gesa. Ada rasa yang tak tau itu apa, bukan nya tidur dan menghabiskan malamnya bersama Aaron. Tapi ia justru berakhir bersama Nicholas, Bos nya sendiri. Meski Nicholas sendiri juga kaya, tapi ia sama sekali tak mencintai pria yang menjadi Bosnya itu.
Nicholas mengerutkan keningnya saat mendapati nomor asing di ponselnya. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga nya.
"Kau sudah bangun tuan Nicho, bagaimana dengan malam anda. Sangat menyenangkan bukan, seperti nya anda menghabiskan malam anda dengan sangat panas tuan."
Nicholas mengeraskan rahangnya mendengar suara di balik sambungan telepon. Aaron, ternyata benar apa yang ia pikir kan. Jika semua ini adalah ulah Aaron. Tapi di mana Aaron saat ini.?
"Kau mau tau, aku dimana,? Aku di mension ku sekarang. Semalam istri ku yang memanjakan ku, aku menolak wanita tua itu. Itu sebabnya aku memberikan un_"
Tut...Tut...
Prak...
Helena berjengit saat kembali dari kamar mandi, melihat Bosnya membanting ponsel nya.
"Brengsek..."
Nicholas berjalan menghampiri Helena, gara gara ingin membantu wanita ini mendapatkan Aaron ia yang terkena dampaknya.
Akk..
"Tu_an.?"
Helena kaget saat Nicholas mencekik lehernya. Ia menatap mata merah Nicholas, yang menyorot pada nya.
"Semua ini gara gara kau perempuan sialan, kau sudah membuatku malu di depan Aaron. Pria itu pasti sudah menertawakan ku brengsek."
Nafas Helena tersendat, mendapatkan cekikan dari bos nya.
"Tu_an.."
Brukk...
Nicholas melepaskan tangannya pada menghempaskan Helena begitu saja. Nafasnya memburu mengingat jika Aaron sudah berhasil menjebak nya. Apalagi dengan Helena, wanita yang sama sekali tak di inginkan oleh nya. Helena sama sekali bukan tipe nya.
"Brengsek, kau Aaron.."
Pria yang di umpat oleh Nicholas tersenyum miring di kursi kebesaran nya. Nathan yang melihat senyum tuannya bergidik.
"Sudah ku katakan Nicho, aku masih menghormati ayahmu sebagai jendral kemarin. Tapi sekarang, kau sendiri yang akan mencoreng namanya. Kita lihat saja, bagaimana reaksi ayahmu mendapatkan hadiah dariku."
.
.