
Sinta membuka pintu VIP dimana cucunya berada. Usai dari kamar rawat Ditia, ia kembali lagi kemari. Tapi sebelum nya ia sudah menelpon David terlebih dahulu.
"Bunda, bunda pulang saja, biar Zoya yang di sini. Lagi pula Al hanya demam biasa."
"Ya tunggu David, baru bunda pulang sayang."
"Bunda bilang sama mas David?"
Sinta menggeleng kan kepalanya tak mengerti. Jika dia tak menelpon David, terus harus telpon siapa?.
Clek...
Zoya beralih menatap pintu yang terbuka. Dan ia mengerutkan keningnya melihat David yang sudah ada di sini. Suaminya itu berarti langsung ke mari saat bunda menelponnya.
"Mas..."
Zoya mengulurkan tangan dan mencium tangan suaminya.
"Al kenapa sayang, tadi masih baik baik saja?"
David mencium kening istrinya dan beralih pada putrinya. Mengelus kepalanya yang memang masih demam. David juga mengelus tangan mungil yang tertancap jarum infus.
"Maaf..."
Zoya beralih menatap suaminya, ia tak mengerti apa maksud suaminya.
Sinta mengusap pipinya yang basah, ia tau putranya sangat menyesal. Dan mana mungkin ia akan memisahkan David dan Zoya. Biarpun bukan anak kandung, ia merasa David sangat menyayangi gadis cilik itu.
"Addy..."
David tersenyum dan mengecup pipi cabi Almira kanan kiri.
"Al sudah bangun sayang...... Wah putri Daddy langsung sembuh sekarang. Al memang anak pintar."
David mengelus kepala Almira, rupanya gadis ini langsung terbangun ketika ia datang.
"Addy jangan tinggalin Al,? Kata Afi, Al ga punya Addy. Ga ada yang gendong Al kalau Al atit."
Almira menghiba pada David, ia mengeratkan pelukannya pada lengan David. Seperti tak ingin di tinggalkan ketika sakit. Mendengar kata Almira, bukan hanya Zoya yang menangis. Sinta dan David juga menangis mendengar ucapan Almira.
Betapa berdosa nya dia dulu yang menghina Zoya. Sedangkan dulu Almira masih kecil, mungkin saja gadis ini juga pernah sakit. Dan dia pasti merindukan sosok seorang ayah. Dia pasti ingin ayahnya ada di sampingnya. Itu sebabnya tubuh Zoya yang kurus kering memikirkan kebahagiaan putrinya dan mencari pekerjaan. Dan dia justru menyiksanya. Ya inilah yang ia sesalkan, Zoya trauma lahir batin karna kebrengsekan dirinya.
David hanya memeluk tubuh mungil Almira. Ia tau gadis kecil ini tak pernah tersentuh oleh tangan ayah kandungnya. Bibi Lili pernah mengatakan jika dia tak pernah melihat almarhum Rangga menggendong putrinya. Itu artinya, gadis ini tak pernah merasakan elusan tangan seorang ayah.
"Al sayang addy....Al ingin punya Addy telus.."
David mengangguk mengiyakan ucapan putrinya.
Tentu saja, seperti anak pada umumnya. Jika ia akan demam ia akan takut kehilangan seseorang yang sangat ia rindukan. Apalagi Almira, gadis ini tak pernah mendapatkan kasih sayang selain Zoya, bibi dan paman nya.
Sinta mengusap pipinya, keluar dari ruang VIP. Ia merogoh tas branded nya. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian ia lalu pulang di antar supir David. Semoga dengan ini ia bisa mewujudkan mimpi anaknya.
Sementara di dalam ruang rawat. David dan putrinya Almira tidur saling berpelukan. Ia tak pernah tau, jika putrinya yang sangat merindukan sosok seorang ayah. Zoya tak kuasa membendung tangisnya. Mungkin saja Almira merindukan sosok seorang ayah.
"Terima kasih, kau sudah memberiku malaikat kecil untuk ku mas."
Menghapus air matanya ia lalu keluar, tapi seseorang menabrak nya di depan pintu.
Brukk...
"Maaf nona saya terburu buru,"
"Iya.."
Kartika menatap wajah cantik wanita berhijab di depannya. Merasa dirinya di perhatikan Zoya tersenyum lebar.
"Nona mau kemana?"
"Tidak ada, hanya mencari angin segar."
Dari dalam David terbangun, mendengar suara berisik dari luar. Ia lalu menyelimuti tubuh kecil Almira dan bangun. Matanya mencari keberadaan istri nya dan ternyata Zoya ada di luar dan bersama seseorang.
"Sayang..."
Dua wanita cantik langsung mengalihkan perhatian mendengar suara David.
"Mas David sudah bangun,? Aku tadi mau cari minum mas."
"Tidak usah sayang, biar mas saja yang cari..!"
Deg....
Kartika menatap tak percaya pada David dan wanita yang menabraknya. Jadi ini istri David?
Zoya mengangguk dan berpamitan pada wanita yang baru saja ia tabrak. Masuk kedalam ia tak ingin meninggalkan Almira tanpa pengawasan. Takut gadis itu akan terbangun dan mencarinya.
"Dav..."
David mengangkat sebelah alisnya, ketika baru saja menyadari jika dia adalah Kartika. Ia tak menggubris wanita itu, melangkah pergi mencari pesanan istrinya.
Dan Kartika mengikuti langkah lebar David. Ia harus mendapatkan kepastian.
"Dav..."
David menyentak tangan Kartika saat ia sadar Kartika memegang tangan nya. Dan Kartika yang tak siap, tersungkur ke depan. Hampir saja ia mencium dinginnya lantai rumah sakit. Apalagi bukan hanya mereka berdua, ada banyak para perawat hilir mudik.
"Jangan berani menyentuh ku nona,!"
David berlalu begitu saja, meninggalkan Kartika yang masih shock di tempatnya. Kartika mengepalkan tangannya mendapatkan perlakuan seperti ini. Melihat David yang pergi begitu saja, ia lalu berbalik menuju ruangan di mana wanita itu berada.
Brakk....
Zoya yang berada di dalam terkejut mendengar suara pintu yang terbuka lebar. Begitu pun dengan Almira, gadis cilik ini langsung terbangun dari tidurnya.
"Unda...."
Zoya mendudukkan tubuh kecil Almira dan memeluk nya.
"Jadi kau istri David..?"
Tanpa basa-basi Kartika berjalan dan melayangkan pertanyaan nya. Matanya melotot pada Zoya. Sementara Zoya yang tak mengerti berbalik tanya dan tersenyum.
"Nona mengenal suami saya?"
"Bukan mengenal, tapi kami akan bertunangan dan menikah jika kau tak hadir di antara kami."
Deg....
Dada Zoya seperti di hantam batu besar mendengar penuturan wanita di depannya. Benarkah dia orang ketiga dalam hubungan David dan wanita ini.
"Bisakah kau minta cerai pada David. Aku akan sangat malu jika David membatalkan pertunangan kami. Undangan pertunangan kami sudah di sebar. Bagaimana aku menanggapi mereka semua. Jika aku tak jadi bertunangan dengan David. Mereka pasti akan mengejekku."
Zoya menunduk ia mengeratkan pelukannya pada putrinya. Benarkah David akan bertunangan dengan wanita ini. Sedangkan Almira tubuhnya bergetar takut. Ya Almira tak pernah mendengar ada orang yang berbicara keras.
" Jangan berbicara omong kosong."
Kartika berjengit ia membalikkan tubuhnya kebelakang. Matanya tak sengaja melihat mata tajam David. Begitupun dengan Zoya, mengangkat wajahnya.
"Aku sama sekali tak pernah mengatakan jika aku akan bertunangan dengan mu."
"Tapi ibumu yang mengatakan nya padaku Dav. Kenapa kau tega sekali, menikah dengan orang lain. Sementara ibumu memberikanku harapan agar aku menunggumu. Kau tak berperasaan."
Kartika meluapkan kekesalannya pada David. Lagipula sudah terlanjur David mengetahui ia ingin Zoya meninggalkan nya.
.
.