Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode.95


Usai melepaskan penyatuan nya, David merangkak naik dan memeluk tubuh Zoya. Tak perduli dengan tubuh mereka yang masih polos. Ia mendekap istrinya yang pintar mengancam.


"Sayang..."


"Hemm.." Ia menghembuskan nafasnya perlahan, istrinya hanya merespon dengan gumaman, dia masih marah padanya.


"Sayang..." Zoya berbalik dan menghadap ke arah suaminya.


"Jangan tinggalkan mas, jangan bawa mereka pergi dari mas sayang. Sungguh mas tidak melakukan apa-apa padanya, dia tiba-tiba saja datang saat mas tidur."


"Aku hanya ingin pergi les hamil.." David melotot, tak lama kemudian ia tersenyum lebar. Ia pikir istrinya akan pergi meninggalkan nya. Ia mengecup wajah Zoya berkali kali.


"Kapan sayang.."


"Tadi harus nya, tapi harus dengan mas David," David mengangguk mengerti.


"Apa Minggu depan bisa sayang?" Zoya mengangguk mengiyakan, tak lama kemudian ia mengeratkan pelukannya pada suaminya. Hingga David bisa mendengar suara dengkuran halus milik istrinya.


David membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya. Kemudian berdiri melangkah ke dalam kamar mandi. Usai membersihkan diri, ia melirik ke arah ranjang di mana istrinya masih tertidur. Ia pikir istrinya sangat sensitif belakang ini, mungkin karena dia hamil. Tak lama kemudian ia keluar dari ruang pribadi nya. Di sana Rey sudah berdiri menunggu nya.


"Di mana dia?"


"Gudang tuan..."


"Jangan sampai dia kabur,..... Wanita sialan, lihat saja."


*


Nancy bergetar takut saat sadar di mana dia berada. Ia di dorong begitu saja dan di tinggalkan. Alhasil ia sendiri di gudang pengap dan gelap itu.


Akk...


Nancy, beringsut mundur saat merasakan ada yang berjalan menyentuh tangan nya.


"Kumohon keluarkan aku," Ia menangis saat tak ada seorang pun yang mendengarnya. Mungkin saja ia akan berakhir di sini.


Ya David tak akan membiarkan Nancy keluar bebas dari sini. Wanita itu sudah membuat nya geram.


Hingga dua hari lamanya, David mengurung nya di gudang tua. Tak lama Nancy di kagetkan dengan suara pintu terbuka.


Nancy membuka matanya perlahan, tubuhnya sangat lemas. Dua hari ia di kurung, mereka sama sekali tak memberinya makan dan bahkan hanya sekedar minum.


"Bangun nona, mereka menjemput mu." Mata Nancy menatap tiga pria berpakaian hitam. Ia diam tak ada tenaga yang hanya untuk meronta saat mereka menyeret nya keluar dari tempat pengap tersebut.


Nancy, wanita malang itu akan David kirim ke luar pulau. Ia tak ingin Nancy berkeliaran di sekitar nya. Apalagi saat ini Zoya sedang mengandung, ia tak perduli dengan Nancy nantinya. Wanita itu memang harus David singkirkan. Ia tak ingin mengambil resiko lagi.


*


David meringis melihat istrinya kesana kemari dengan perut buncitnya. Ya saat ini kandungan Zoya sudah memasuki bulan ke sembilan. Sejak saat itu ia tak pernah meninggalkan istrinya. Dan baru saja ia menelpon sang mommy. Wanita yang menjadi ibunya itu akan kembali lagi ke kota A. David meminta ibunya datang ke mari, sudah cukup ibunya menyendiri di sana. Lagi pula wanita itu sebentar lagi akan punya cucu, tentu saja Sinta mengiyakan ucapan David.


"Maaf tuan di luar ada yang ingin mencari nona Zoya."


David mengerutkan keningnya mendengar ada yang mencari istri nya lagi. Sebelum nya, Bima yang mencarinya beberapa bulan yang lalu, dan sekarang siapa lagi yang mencari istri nya. Tak lama kemudian ia turun dan menemui seseorang yang mencari istri nya.


"Ada apa?"


"Saya ingin bertemu Zoya, saya hanya ingin memberikan undangan pernikahan saya padanya." David menatap kertas putih bertinta emas, sepertinya memang benar, Bisma datang kemari mengantarkan undangan pernikahan untuk istrinya.


"Kami tak janji, istri ku hamil besar, aku tak berniat membawanya ke manapun apalagi ke pesta pernikahan."


"Kak Bisma.."


Mereka di kagetkan dengan suara Zoya yang berjalan ke arahnya. David segera bangun dan menyambut istrinya lalu mendudukkan di sampingnya. Sementara Bisma sendiri menatap Zoya dan perut buncitnya.


"Kakak mau menikah," Bisma mengangguk mengiyakan. Ia menatap dalam wanita yang masih di hati nya itu. Ia sama sekali tak pernah menghilangkan Zoya dari dalam hatinya. Hingga ia bertemu dengan Arum, lalu sang bunda memintanya untuk menikah dengan nya. Padahal Bisma sama sekali tak mencintai wanita itu. Cintanya hanya pada Zoya. Satu tahun mencoba untuk ikhlas dan melupakan wanita yang pernah singgah di hati nya, nyatanya ia tak bisa. Zoya masihlah wanita nomor satu di hatinya. Tapi wanita ini tak memilih dirinya untuk menjadi imam untuk nya. Jika boleh jujur Bisma masih mengharapkan wanita cantik ini menoleh ke arah nya.


Bisma tersenyum tipis, bagaimana Zoya mau menoleh ke arah nya. Melihat perut buncitnya saja wanita ini jelas jelas tak akan pernah menjadi miliknya.


Mata David tak berkedip menatap Bisma yang menatap istrinya. Rahangnya mengeras, jengah pada pria yang tak tau malu di depannya ini.


"Aku tidak janji ya kak, maaf."


"Tak apa,"


"Apa masih ada yang perlu di bicarakan." Bisma mengeratkan genggaman tangannya. Sementara Zoya sendiri merasa tak enak hati pada Bisma. Pria yang dulu sangat baik padanya dan juga Almira.


"Zoya minta maaf kak,"


"Tidak apa apa?" Seketika wajah kecewa Bisma tergambar di raut wajah nya.


"Tapi bisakah kau usahakan, kakak menikah di Royal Suite. Tak jauh dari sini, apa kau tak ingin menghadiri pernikahan kakak.?"


David mengeratkan giginya emosi, mendengar ucapan Bisma. Sepertinya pria itu sangat ingin Zoya menghadiri pesta pernikahan nya.


"Baiklah kak nanti Zoya usahakan." Bisma tersenyum lebar mendengar Zoya akan pergi ke pernikahan nya. Tak lama kemudian Bisma pamit undur diri, meninggalkan rumah mewah David.


*


David menatap istrinya tajam, ia masih tak setuju dengan keputusan istrinya. Untuk apa mereka akan pergi ke pesta pernikahan Bisma. Dia bukan siapa siapa baginya, kenapa diharuskan untuk pergi, memang siapa dia.


"Sayang..."


"Mas, Zoya banyak berhutang budi pada mas Bisma. Dia hanya ingin Zoya menghadiri pernikahan nya." Zoya lebih dulu, memotong perkataan suaminya. Ia tau suaminya tak setuju dengan keputusan nya. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga tak bisa menolok nya. Bisma sudah ia anggap sebagai kakak baginya. Pria itulah yang menghibur dirinya dan Almira saat ia masih di kota B.


David mendengus ia masih tak terima istrinya memanggilnya mas pada Bisma. Terlihat sangat spesial sekali menurut David.


" Apa tidak ada panggilan yang lain, menyebalkan." Zoya hanya melirik, ia mendengar gerutuan suaminya.


"Unda, ada Oma..." Almira berteriak memanggil ibunya, ia berlari ke arah wanita yang ia rindukan. Sinta memeluk putri sambung David.


"Dimana bunda sama Daddy sayang,?"


"Kamar Oma,"


"Sudah pintar cucu Oma," Sinta dan Almira bergandengan masuk ke dalam. Ia benar benar merindukan rumah ini. David dan Zoya memang sering mengunjunginya di kota X. Itu sebabnya ia sangat merindukan rumah nya yang ini.