
Sudah berjam jam lamanya David menunggu Aaron yang terbaring tak berdaya. Ia mendesah menatap wajah Aaron yang sangat menyedihkan. Tubuh nya penuh keringat sebesar besar biji jagung. Keningnya apalagi, dia seperti cacing yang terkena sinar matahari. Tangan nya tak berhenti mengusap punggung Aaron yang basah.
"Apa anakku lama keluar nya, kenapa lama sekali. Apa mereka sengaja ingin melihat ku mati.?"
Buk...
"Ku sumpal mulutmu, jika berani bicara lagi."
Ucap David mendelik pada Aaron. Ia tak habis pikir kenapa ada pria bodoh sepertinya. Bukannya berdoa agar anak dan istrinya selamat, malah menanyakan hal bodoh.m dan tak berguna.
"Kau tidak tau rasanya papa mertua, tubuhku seperti mau terbelah." Rintihnya lagi.
"Ya tunggu lah sebentar lagi kau bebas. Ingat jika kau sudah tak sakit lagi, kau harus tetap patuh padaku dan jangan membangkang padaku. Kau tau ini adalah bentuk karma mu dulu. Bukankah kau dulu ingin mengambil istri ku dan kau justru menikahi putri ku. Dan inilah akibatnya menjadi pria tak tau diri."
Oceh David pada Aaron, ia sebenarnya masih gondok dengan menantunya ini, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah tau jika Aaron sangat mencintai putri nya.
"Diamlah, perut ku seperti nya tak sakit lagi."
"Benarkah,?" David berseru girang jika ia berhasil menyembuhkan Aaron dengan tangan nya. David menoleh dan memegang perut Aaron, yang licin karena keringat.
"Ya tapi punggung ku rasanya masih mau patah,?" Jawabnya mengeluh.
"Tidak apa-apa aku akan menggosoknya lagi."
David dengan sigap menggosok lagi punggung Aaron naik turun. Bibirnya tak berhenti tersenyum karna sudah membuat Aaron sembuh dengan tangan ajaib nya.
Sedangkan di ruang bersalin, Zoya bernafas lega saat dokter mengatakan jika operasi nya berhasil dan putrinya baik baik saja. Zoya berulang kali mengucapkan kata syukur saat mendengar keduanya di berikan kesehatan, baik putrinya maupun cucunya.
"Apa aku bisa melihat cucuku, suster.?"
Tanya Zoya antusias,
" Boleh nyonya tunggu sebentar lagi, ibunya juga akan di pindahkan ke ruang VIP."
Jawab suster dan Zoya mengangguk mengiyakan.
Sepuluh menit kemudian Zoya mengikuti langkah suster yang akan membawanya ke ruang rawat Almira.
"Silahkan nyonya," Zoya mengangguk mengerti.
Clekk....
Almira tersenyum lebar mendapati Zoya masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Zoya sendiri yang melihat Almira bersama suster tersenyum haru.
"Sayang, kamu baik baik saja.?"
"Iya bunda, terima kasih Al sayang bunda."
Ucap Almira penuh haru saat Zoya mencium kening nya. Tak lama kemudian suster masuk membawa bok bayi dan mendekati Almira.
"Nyonya ini, Baby nya."
Suster celingukan mencari keberadaan seseorang, ia lalu menoleh lagi pada dua wanita cantik yang sedang melihat bayi mungil di dalam box bayi.
"Nyonya, apa ayah dari bayi nya tidak ada,?"
Ucap suster. Zoya mendongak mendengar perkataan suster di depan nya ini, kenapa ia baru sadar jika David dan Aaron belum tau. Kenapa ia juga bisa bodoh sih, bukannya cucu nya juga harus di adzan ni.
"Sayang bunda lupa dengan mereka, tunggu di sini ya sayang.?"
Almira mengangguk dan tak lama kemudian Zoya keluar dari ruang rawat putrinya mencari keberadaan suami dan Aaron menantunya.
Sementara di ruang rawat, David masih menggosok punggung Aaron. Aaron sendiri sudah mulai tenang saat perut nya tak lagi mulas.
"Ck...Apa kau tidur Aaron,?" Tanya David yang melihat Aaron memejamkan matanya.
"Tidak,"
"Ku pikir kau tidur, aku sudah lelah menggosok punggung mu. Tangan ku pegal dan kesemutan, apa sudah tidak sakit jika aku berhenti menggosok nya."
Ucap David memelas pada Aaron, tangan nya benar benar pegal dan kesemutan.
"Ya, siapa yang menyuruh mu menggosok terus. Punggung ku sudah tak terlalu sakit."
David terbelalak mendengar perkataan Aaron, tak lama kemudian tangan nya memukul lengan Aaron.
Bukk...
Clekk....
"Sayang, lihatlah menantu kurang ajar mu itu dia kurang ajar padaku Zoy."
David mengadu pada Zoya saat melihat istrinya masuk ke dalam. Tak lama kemudian Aaron menoleh saat David mengatakan Zoya.
"Ibu mertua apa anak ku sudah keluar.?"
Zoya menunduk kan wajahnya, ia sendiri tak harus bagaimana. Kenapa Aaron tak memakai pakaian, apa yang mereka lakukan di ruangan ini.
David memicingkan matanya mendengar penuturan Aaron. Tangan nya memukul Aaron lagi.
"Apa kau bodoh, setidaknya carilah kata yang halus." Semburnya pada Aaron lagi.
Zoya hanya menggelengkan kepalanya melihat ke arah suaminya.
"Al sudah di ruang rawat mas, dia sehat dan bayinya juga sehat."
"Ayo sayang."
David menarik tangan Zoya keluar dari kamar Aaron. Sedangkan Aaron sendiri masih terpaku mendengar jika Almira dan bayinya baik baik saja. Hingga lima menit, Aaron baru tersadar saat tak ada seorang pun di sampingnya.
"****.. Kenapa mereka meninggalkan ku,"
Aaron bangkit dan berlari mengikuti langkah Zoya dan David. Ia celingukan mencari keberadaan mereka.
"Kemana mereka,... kau dimana ruang istriku berada.?" Aaron bertanya pada suster yang melewati nya.
Sedangkan suster tersebut menatap Aaron tak berkedip, melihat tubuh proporsional, dada bidang yang di tumbuhi bulu bulu halus, dan perut sixpack yang mengkilat karena keringat. Seketika suster berfantasi liar membayangkan bagaimana jika tubuh liat itu menindih nya.
"Hey.."
Teriak Aaron pada suster di depan nya. Suster gelagapan mendengar bentakan Aaron padanya.
"Apa kau tuli, dimana ruang rawat istri ku.?" Bentak nya menggema di lorong rumah sakit. Sementara suster yang berdiri di depan Aaron, gemetar ketakutan.
"Si_apa tuan.?"
Takut nya menundukkan wajah nya, sedangkan Aaron meninggalkan wanita yang bodoh menurut nya. Mata tajam nya melotot pada pria yang sembilan tahun lebih tua darinya dan baru keluar dari kamar rawat inap.
"Sialan, kenapa kau meninggalkanku sendiri,"
"Ayo masuk, kupikir kau mengikuti ku tadi."
David menarik tangan Aaron, masuk ke dalam, tanpa melihat tatapan mata Aaron padanya.
Sampai di dalam, Almira menatap suaminya tak berkedip, ia bingung dengan penampilan suaminya. Terlihat acak-acakan dan tak memakai pakaian.
"Sayang,"
Rengek Aaron pada Almira dan langsung menjatuhkan kepalanya pada pundak istrinya. Aaron bahkan tak bertanya di mana bayinya, dia langsung bermanja dengan Almira dan mengadukan nasibnya yang baru saja sehat. Tangan nya melingkar di punggung kecil Almira dan mengendus leher Almira yang tertutup jilbab.
Sedangkan Zoya sendiri melengoskan tubuh nya membelakangi Aaron.
"Hubby kenapa tidak pakai baju,"
"Hah..."
David melototkan matanya saat menyadari jika Aaron tak berpakaian dan hanya memakai celana pendek.
Sedangkan Aaron sendiri langsung melepaskan pelukannya pada istrinya.
Buk..
"Kenapa kau bodoh sekali, di mana pakaian milik mu." Sembur David pada Aaron.
"Bukankah tadi papa mertua yang melepaskan dan membuangnya."
Zoya mendelik menatap tajam pada suaminya.
"Itu.."
.
.