
"Eh eh Mila, apa kau tau dimana Luna saat ini. Apa kau juga tau siapa yang membawa wanita itu.?"
"Aku tidak tau, lagian juga ga ada yang mau mendekat dengan wanita penyakitan seperti Luna. Jadi siapa yang mau membawanya."
Benar juga..Lalu kemana perginya.?
" Ya sudah,..." Nancy melangkahkan kakinya menuju kontrakan milik nya. Sementara wanita yang di panggil Mila menggelengkan kepalanya.
"Kapan aku hidup seperti ini. David sangat keterlaluan mengusir ku, dan tak membiarkan aku bekerja di tempat lain."
Nancy mendesah frustasi, ia sangat menyesal telah melakukan semua ini. David membuat daftar hitam untuk nya, agar tak di terima di tempat lain. Ya tak ada yang tak bisa David lakukan. Ia akan membuat siapapun yang mengusik hidupnya menderita. David tak mengenal siapa lawan nya. Baginya menyingkirkan benalu itu lebih baik dari pada membiarkannya.
Sementara di dalam kontrakan Luna. Wanita itu hanya meneteskan air mata nya. Perutnya sakit luar biasa, rasa panas di seluruh tubuh dan inti bawahnya semakin sakit luar biasa. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain hanya mengerjapkan matanya.
Shhtt..
Rintihan sangat lirih keluar dari bibir nya yang bergetar dan pecah pecah. Air mata yang tak berhenti mengalir dari matanya. Area sensitifnya benar benar akan membakar tubuhnya perlahan. Jangan kan bicara dan bergerak, tangannya yang hanya sekedar untuk meraba perut nya yang sakit luar biasa saja tak bisa. Luna sudah seperti mayat hidup saat ini. Tak ada yang tau jika Luna di dalam kontrakan nya, pendarahan hebat. Darah itu mengalir dari ************ nya. Entah sejak kapan darah itu keluar, Luna sendiri tak tau. Ia hanya terbaring tak berdaya di kasur busanya.
*
Sinta mengerutkan keningnya mendapati makan Zoya. Sejak kapan menantunya ini rakus. Zoya tak pernah makan sebanyak ini. Sementara David sendiri juga menyadari perubahan istrinya. Baginya jika istrinya makan banyak, tak sia sia juga ia mencari uang.
"Zoy, nambah lagi..?"
Sinta heran sudah dua kali Zoya mengisi piring nya, dan dia hendak mengisinya lagi.
Sementara Zoya salah tingkah, ia juga baru sadar, sudah tiga kalinya ia menambah nasi.
"Bunda kenapa, jika Zoya gemuk juga David tak akan rugi." David menimpalinya, ia juga sebenarnya heran, sejak kapan istrinya suka nambah.
"Zoya lapar bunda, kemarin sore hanya makan sedikit."
Sinta mengangguk mengerti, tak lama kemudian ia pergi ke butik miliknya. Dan Almira, David sudah mencarikannya guru privat, agar mengajarinya. putri sambungnya ini sebentar lagi berusia empat tahun. Jadi sebagai seorang ayah dia harus memberikan anaknya pendidikan sejak dini.
" Sayang kau tak ingin ikut ke kantor.?"
Zoya menggeleng, David sendiri tak memaksa istrinya ikut. Ya David kadang akan membawa Zoya ke perusahaan nya. Tak banyak yang Zoya lakukan hanya tiduran dan kadang akan membantu sang suami. Itupun jika David bisa menjaga miliknya, yang kadang akan berakhir bercinta di dalam ruang CEO miliknya.
"Tuan, tuan Dewa...."
"Biarkan saja, aku tak mau tahu."
Rey mengangguk mengerti, tak lama kemudian ia undur diri meninggalkan ruangan CEO milik atasannya. sekepergian Reymond, David mendesah panjang. Ia memutar kursi kebesaran nya menghadap jendela kaca besar yang langsung menghadap pusat kota.
"Semoga dengan ini kau bisa bertaubat Dewa. Mungkin itulah karma kau telah menyakiti hati mommy."
Ya David lah saksi kebejatan Dewa yang selalu menyiksa mommynya. David saat itu masih kecil ia hanya bisa bersembunyi dibalik tembok. Hingga ia beranjak dewasa, Dewa sama sekali tidak berubah. Ia masih memukul dan menyiksa ibunya, jika dia tak puas dengan pelayanan mommynya. David pikir, Dewa tak pernah bermain api di belakang sang bunda. Selain menyiksa dia juga membawa wanita lain di ranjang milik sang bunda. Saat itulah David berontak dan membawa mommynya pergi meninggalkan Dewa di rumah mewahnya di kota X.
"Lalu kemana perginya.?"
Tak lama kemudian ia berdiri dari kursi plastik di ruang kontrakannya. Ia keluar dengan tergesa gesa, memanggil teman di samping kontrakan nya. Ya Nancy, penasaran dengan wanita penyakitan itu. Bukan karna kasihan, tapi bagaimana wanita itu mati lalu di krubungi belatung, siapa yang akan rugi. Jelas saja mereka juga akan kena imbasnya.
"Nancy, sepi tak ada orang. Lihatlah di dalam juga sangat gelap. Apa dia tak membuka gordennya, padahal hari sangat cerah, tapi aku tak bisa melihat kedalam, ini gelap sekali."
"Ia ayo kita pulang.?"
"Eh eh kenapa kalian akan pergi begitu saja. Bagaimana jika ternyata dia ada di dalam, bagaimana juga kalau dia mati, kalian mau tinggal di kontrakan ini, jika salah satu penghuni mati bunuh diri."
Kedua teman Nancy menggeleng, Nancy tersenyum penuh kemenangan. Itu artinya ada yang mau di ajak masuk ke dalam.
Ya Nancy ingin mengambil, uang Luna. Mungkin saja sugar Daddy nya memberinya uang banyak. Kemarin ia tak kepikiran akan mencuri uangnya. Tapi hari ini ia sudah tak mempunyai uang, siapa lagi yang punya uang banyak seperti dirinya yang menjajakan tubuhnya pada sugar Daddy, selain Luna. Ia yakin Luna mempunyai banyak uang, ia akan diam diam mengambilnya. Lagi pula pasti Luna sekarang seperti mayat hidup, dia tak akan berteriak mengatakan dirinya maling.
Krettt...
Nanti membuka pintu, ia mengerutkan keningnya, memang gelap dan pengap kontrakan Luna. Seperti sudah lama tak berpenghuni.
"Mita ko aku berasa cium bau amis ya.."
Nancy tak menggubris ucapan temannya. Ia berjalan ke kamar Luna, mencari dimana wanita itu menyimpan tas nya.
Brukk..
Aw...
Nancy terjatuh saat kakinya tak sengaja tersandung. Tak lama kemudian teman satu nya mengarahkan ponsel miliknya.
Arkkk....
Wajah Nancy pucat pasi melihat Luna terkapar dengan wajah seperti mumi. Ia beringsut mundur, secepat kilat berlari keluar mengejar temannya.
Nancy tak percaya dengan apa yang di lihat nya satu jam yang lalu. Luna meregang nyawa dengan bayi di salam perutnya. Tak hanya itu, dia juga pendarahan hebat, darah nya meresap di kasur busa yang ia tiduri. Tubuh Luna sangat menakutkan.
Nancy menjambak rambutnya sendiri. Ia juga kepikiran dengan apa yang di katakan oleh Luna sebelum ia meninggal.
"Kau juga akan mendapat giliran Nancy."
"Brengsek,"
Nancy ketakutan, setelah melihat Luna yang mati mengenaskan, dengan penyakit kelamin yang di deritanya. Jangan sampai ia juga terkena penyakit menjijikkan itu. Ya hanya Nancy, ia masih sehat, ia juga jarang menjajakan tubuhnya. Lain dengan Luna yang sudah dari dulu.
Berbagai pikiran buruk Nancy hinggap di kepalanya.
"Tidak hanya kau, dan aku tidak terinfeksi."