
Bisma dan orang tuanya berlari di lorong rumah sakit. Arum juga ikut bersama mereka. Dari jauh ia melihat ibu David di depan pintu.
Tak lama kemudian Sinta terjatuh dan pingsan. Suster membopong tubuh wanita tua yang terkulai di lantai dingin. Sementara wanita satunya yang di yakini pembantunya hanya menangis.
Sampai di depan pintu, Bisma tak kalah shock. Ia juga mematung mendengar jika tuan David di nyatakan meninggal dunia. Tak lama kemudian semua orang di kaget kan dengan suara suster.
"Keluarga nona Zoya,"
Bisma menoleh, entah apa yang ia pikirkan. Ia mendekati suster tersebut, Arum sendiri menatap nanar punggung suaminya. Yang berjalan ke arah suster. Ia tak bisa menyembunyikan cemburunya kali ini.
"Bayi nona Zoya perlu di adzani, apa anda keluarganya." Bisma langsung mengangguk mengiyakan. Tak lama ia mengikuti langkah suster ke ruangan tak jauh dari sana. Arum mengikuti langkah suaminya diam diam.
Bisma menatap bayi mungil di dalam inkubator. Ia menggeliat, mata hitamnya berkedip menatap ke arahnya.
"Dia sangat mirip David." Bisma bergumam, tapi suster dapat mendengar nya. Ia lalu menimpali ucapan pria di sampingnya ini.
"Bukan cuma dia yang mirip, saudara kembarnya pun sangat mirip tuan."
Bisma terkesiap, ia menatap suster dan suster menunjukan satu lagi bayi di sampingnya, yang tertidur pulas.
"Kembar.."
"Ya tuan,"
Bisma mengusap matanya yang basah. Entah apa yang di pikirkan saat ini. Melihat kedua anak kembar David.
Tak lama kemudian Bisma mengadzani mereka berdua. Sementara di luar pintu, Arum menatap suaminya. Tangan nya menekan dadanya yang sesak.
Apakah suaminya akan menceraikan nya. Lalu menikahi Zoya, menjadi ayah sambung bagi anak anak Zoya. Bukankah dulu Bisma juga ingin menjadi ayah sambung untuk putri Zoya. Tidak menutup kemungkinan jika saat ini dia juga akan melakukannya.
Lagi lagi Arum, tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Jika boleh meminta, aku ingin kau tak pernah membuka matamu Zoya."
Arum bergumam lirih. Sakit sekali melihat suami yang baru saja menikahinya. Memperdulikan wanita lain, apalagi di depan matanya sendiri. Ia lalu berbalik, menatap kedua mertuanya. Mereka juga sama, sangat bersedih dan menyayangkan kecelakaan ini.
Setengah jam kemudian..
Usai sadar dari pingsannya, Sinta menatap kosong ke depan. Ini seperti mimpi untuk nya. Sementara di depannya, terbaring tubuh Zoya yang tak kalah menyedihkan. Usai menjalani operasi sesar Zoya juga di nyatakan koma oleh dokter. Zoya pendarahan, akibat benturan keras di perutnya. Untung saja bayi mereka baik baik saja.
Tubuh Sinta bergetar hebat merasakan sesak yang menghimpit nya. Ia tak akan bisa menjalani hari-harinya tanpa anak dan menantunya. Bagaimana dengan kedua cucunya dan Almira. Apa yang harus ia lakukan.
Sinta di kejutkan dengan pintu yang terbuka. Ia menoleh dan melihat pria tampan menghampirinya.
Ia tak tau siapa pria di depannya ini, tapi ia merasa jika pria ini mengenal anak menantunya.
Bisma mengusap pipinya yang basah, melihat keadaan Zoya. Ia menyentuh tangan dan mengecup punggung tangan Zoya. Bisma tak perduli dengan wanita di depannya ini yang menatap heran padanya.
"Zoya adalah cinta pertama saya nyonya."
Tanpa ada yang bertanya, Bisma mengungkapkan sendiri perasaannya pada wanita tua di depannya.
Sinta tak bergeming, ia hanya menatap Bisma menunggu jawaban, apa maksudnya.
"Putra anda yang merebutnya dariku, aku dulu yang berniat melamarnya. Tapi tuan David mengacaukannya."
Sinta masih tak menjawab, ia tak ingin membuka suara sedikitpun. Pikiran nya masih buntu, dengan apa yang terjadi. Di tambah lagi seorang pria mengaku jika Zoya adalah cinta pertama nya.
"Saya akan membawa Zoya bersama saya nyonya."
Sinta bereaksi, ia mengepalkan tangannya mendengar penuturan pria di depannya ini.
"Siapa kamu, kamu bukan keluarganya, apalagi suaminya. Kamu hanya mantan pacar Zoya. Sedangkan Zoya adalah menantu saya, untuk apa kamu ingin membawa menantu saya pergi. Saya sanggup membiayai sampai Zoya sembuh." Ungkapnya menggebu.
"Lihat lah cucu anda nyonya, mereka butuh perhatian anda."
Sinta lagi lagi menangis mendengar nya. Bagaimana dengan cucu cucunya. Apa yang harus ia lakukan. Benar apa kata pria di depannya ini, mereka bertiga butuh perhatian nya, sedangkan Zoya juga harus sembuh untuk mereka bertiga.
Bisma keluar dari ruang ICU, di depan pintu, Arum menatap nya penuh tanda tanya. Tapi Bisma menghindari tatapan istrinya itu. Ia berjalan ke arah di mana ruang pribadi dokter. Ia akan meminta izin pada dokter, akan membawa Zoya pergi ke luar negri.
Arum menatap kedua mertuanya, ia tak mengerti maksud suaminya. Bagaimana mungkin dia akan membawa Zoya pergi.
"Ma, Pa.."
Mereka menunduk tak tau juga harus apa.
Keesokan harinya...
Bisma membawa Zoya keluar dari rumah sakit. Tak hanya itu ia juga membawa dokter yang ia sewa bersamanya. Ia tak ingin terjadi sesuatu terhadap Zoya.
"Mas," Arum menatap wajah suaminya.
" Aku hanya ingin yang terbaik untuk Zoya." Bisma menunduk, ia tak berani menatap mata istrinya. Sementara Arum tersenyum tipis melihat suaminya yang nekat membawa Zoya.
Dari jauh Sinta menatap nanar pada Bisma yang membawa Zoya pergi. Tak lam kemudian ia menatap dokter yang datang menghampiri nya.
"Nyonya,"
" Ya berikan yang terbaik. Menantu saya pergi berobat, aku percayakan padamu."
Mbok Minah sendiri mengusap punggung majikannya. Ia sama dengan Sinta, sangat sedih.
Bagaimana jika Almira menanyakan Zoya, apa yang harus ia katakan pada gadis kecil itu.
Satu bulan berlalu...
Sinta menatap cucu sambungnya yang duduk termenung di kamarnya. Satu bulan yang lalu, gadis itu berulang kali menanyakan di mana ibu dan Daddy nya. Tak banyak bicara, Sinta hanya mengatakan jika mereka sedang pergi mencari uang.
Tapi sudah seminggu ini, Almira sering melamun dan dia tak lagi bertanya keberadaan bundanya. Badan nya sangat kurus, tak ada pipi cabi yang selalu ia cubit.
"Oma..." Sinta mengusap matanya yang basah, saat sadar jika Almira sudah di depannya.
"Ya sayang..."
"Adek bayi, sudah minum susu?"
Sinta tak bisa menyembunyikan air matanya. Ia lalu berbalik menggandeng tangan cucu sambungnya. Tak ingin Almira melihat matanya yang memerah.
"Ya baru saja minum susu, sekarang giliran kakak yang makan, terus minum susu, biar bisa jaga adek bayi."
Sinta menjawab tapi tak berani menatap wajah kecil yang berjalan bersamanya.
Almira mengangguk mengiyakan, gadis kecil yang selalu manja pada semua orang, sekarang hanya bisa menurut dan patuh. Tak banyak bicara, tak banyak merengek yang selalu ia lakukan layaknya anak pada umumnya.
"Al mau ke kamar adek dulu Oma,"
Sinta mengangguk dan mereka berdua berjalan ke kamar cucu kembarnya.
"Assalamualaikum adeknya Al..."
Mbok Minah yang yang mendengar suara kecil menoleh.
"Adek Al sudah mandi, Nek,?"
Mbok Minah mengangguk mengiyakan. Ia mengusap kepala anak majikannya. Gadis kecil ini jadi pendiam sekarang. Semoga semuanya akan kembali seperti semula.
.
.