Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
episode. 26


David berjalan menuju mobil yang di dalamnya ada Rey, asisten nya yang menunggu.


Sore tadi orang orang nya mengatakan jika ada yang datang ke rumah Zoya. Mereka satu keluarga menyambangi rumah Zoya. Begitu David tau siapa mereka, David langsung meninggalkan hotel. Mengambil cincin yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Cincin itu sudah lama ia membelinya. Jauh sebelum ia menemukan Zoya di kota B ini. Padahal malam itu, sedang ada rapat penting. David meninggalkan begitu saja.


Ia tau apa maksud tujuan mereka ke rumah Zoya. Itu sebabnya ia tak boleh kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Biarkan saja dia egois, tak meminta persetujuan Zoya terlebih dahulu. David tak bisa kehilangan Zoya untuk kedua kalinya. Cukup dia meratapi nasibnya yang baru menyadari jika ia mencintai wanita berhijab itu, setelah kehilangan nya.


"Zoy..."


"Apa maksud nya ini bibi, apa yang tuan David inginkan.? Kenapa tiba-tiba melamar Zoya."


Bibi Lili menangkup wajah cantik Zoya dengan kedua telapak tangannya. Matanya berkaca-kaca.


"Dengar Zoy, kita tidak tau rencana Allah pada umatnya. Jika tuan David menginginkanmu menjadi seorang istrinya. Itu artinya tuhan mengirim kan pria yang bisa melindungi mu bersama Almira. Buang jauh jauh pikiran buruk mu terhadapnya. Bukalah hatimu sedikit saja. Tak semua pria akan seperti almarhum suami mu Zoy. Kau harus bisa melawan ketakutan mu."


Zoya menangis di pelukan wanita paruh baya tersebut. Entah tak ada Sirat bahagia di lamar seorang pria yang sangat kaya. Tak ada rasa bahagia atau pun senang. Zoya masih terkurung di dalam masa lalu yang pahit.


David mengusap wajahnya gusar. Bagaimana jika Zoya tak menerima lamarannya. Dan bagaimana jika Zoya justru membencinya. Berbagai pikiran buruk hinggap di kepala David.


Meski Zoya akan menolak sekalipun. Dia akan membahagiakan putrinya. David ingin menebus kesalahannya pada balita lucu yang kehilangan sosok ayahnya.


*


"Tuan ada yang mencari anda!"


Nancy datang tak lama setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Pagi Om David"


Queen datang dengan pakaian khas wanita remaja. David mengerutkan keningnya mendapati wanita itu masuk. Siapa dia?


Bahkan David tak mengingat sama sekali siapa wanita itu.


"Ada apa?"


Queen menautkan kedua alisnya mendengar nada tak bersahabat David padanya.


" Queen ingin melihat dulu ruangan yang akan menjadi tempat magang Queen"


Dahi David tambah mengkerut, ia sama sekali tak tahu apa maksudnya. Rey yang mengetahui, jika tuannya bingung angkat bicara.


" Tuan, nona Queen adalah putri dari tuan Dirga."


"Lalu untuk apa kau datang kemari.?"


Sudah Rey duga inilah akhirnya. Tuannya itu tak sadar saat menerima Queen datang keperusahaan nya.


"Tuan nona Queen adalah mahasiswi yang magang di sini. Seminggu yang lalu ia mengajukan berkasnya.


"Lalu kau menerima nya, terserah padamu mau di bagian apa dia. Yang penting jangan berkeliaran di depan ku."


Kata kata David langsung menghujam hati Queen. Gadis yang tak pernah mendapatkan penghinaan walau sedikit langsung mengepalkan tangannya.


"Maaf Om, Om sendiri yang menyetujui Queen magang di sini. Tapi kenapa sekarang om David justru tak menyambut Queen ada di sini."


"Maaf nona, memangnya siapa kau bagiku. Dan kenapa aku harus menyambut mu. Jika memang kau mahasiswi yang magang. Ikuti aturan yang berlaku, silahkan pergi dari sini.?"


Queen tak percaya ada pria seperti ini. Dia sama sekali tak menyambut dirinya. Berbeda dengan pria yang tempo hari ia lihat.


"Mari nona"


Rey mengarahkan Queen untuk mengikutinya. Tuannya ini memang benar benar tak berubah seperti dulu. Masih saja datar jika berbicara dengan seorang wanita. Setidaknya jika ia alergi terhadap wanita. Bicarakan tak harus ketus dan kasar, bisa baik baik.


Queen yang mengikuti langkah Reymond sungguh masih di buat tak percaya. Pria yang ia temui bersama Daddy nya tak seperti itu.


"Ah mungkin saja ia banyak kerjaan sehingga ia berbicara ketus."


Queen bergumam lirih, menenangkan hatinya sendiri. Jika David bukanlah pria temperamen.


"Tuan Rey, apa saya bisa bekerja berdekatan dengan tuan David. Maaf kemarin Daddy saya mengatakan, jika saya harus langsung di bimbing oleh beliau."


Queen mengepalkan tangannya mendengar jika ia akan berakhir di sana. Jelas saja Queen tau apa pekerjaan nya.


" Ibu Noni ada karyawan magang baru untuk besok. Silahkan anda bertanya pada nya. Permisi."


Queen menatap tak suka pada pekerjaannya. Mulai besok ia akan bekerja sebagai penghuni gudang ini. Setelah sebelumnya ia menolak menjadi asisten menejer keuangan.


"Sial, kenapa justru aku harus berakhir di sini."


Bibir mungilnya mengumpat dan menyumpahi wanita yang memberinya pekerjaan ini.


*


Di toko nya Zoya benar benar termenung. Ia memikirkan semalam, David yang melamarnya tiba-tiba. Ia sungguh tak mengerti, pria baik dan ramah seperti Bisma ia tolak. Justru David pria yang Zoya ingin hindari melamarnya tiba-tiba. Dan anehnya Zoya diam saja.


"Mbak kuenya!"


"Astaghfirullah, Mira mbak lupa!"


"Mbak melamun apa? Jangan suka melamun mbak. Apalagi lamunin cowok bisa kecantol kita."


Zoya menggelengkan kepalanya, sambil mengambil kue di dalam oven panas.


Aw...


"Astaghfirullah haladzim"


"Mbak Zoya kenapa sih! apa tadi Mira bilang mbak jangan melamun. Gini kan jadinya aduh."


Zoya meringis merasakan panas di punggung telapak tangannya, yang tak sengaja menyenggol oven panas. Sementara Mira mencari keberadaan kotak obat.


David mengeryitkan keningnya mendapati wajah Zoya yang seperti menahan sakit. Tak lama ia mendesah sambil berjalan ke arah wanita cantik itu.


"Biar saya yang obati lukanya. Kau urus kuenya!"


Hah...


Dua wanita itu kaget dan refleks menoleh kearah pria yang tiba-tiba muncul mengagetkan mereka.


David duduk di depan Zoya dan langsung mengambil salep. Tangan nya hendak menyentuh tangan kurus Zoya. Tapi Zoya menarik nya.


"Ada apa?"


Rey yang mendengar dari luar toko saja mendesah kan nafasnya. Tuannya itu benar benar kaku. Tak ada halusnya sama sekali dengan wanita. Padahal selama tiga tahun lalu ia sangat menggila mencari keberadaan wanita itu. Saat sudah ketemu tak bisa merubah nada bicaranya yang selalu ketus sama siapa saja.


David menatap wajah datar Zoya. Padahal beberapa hari yang lalu ia sangat kacau. Menginginkan Zoya memaafkannya.


"Maaf kita bukan muhrim tuan?"


"Lalu bagai mana dengan makan berdua dengan sendok yang sama."


Deg...


Zoya kaget mendengar kata kata David. Dari mana pria ini tau. Tapi Zoya juga ingat saat itu dia menyuapi Bisma bakso miliknya. Ah Zoya baru sadar kenapa dia baru mengingatnya. Benar juga kata nya.


David menipiskan bibir nya, melihat Zoya salah tingkah. Dia pikir mungkin itu hal yang biasa. Nyatanya pria itu menaruh rasa padanya. Ia lalu menarik tangan Zoya mengoleskan salep pada lukanya. Reflek bibir nya meniup luka bakar di tangan Zoya.


Deg....


Mendapatkan perlakuan seperti itu. Zoya menarik tangan nya. Ia lalu berjalan ke dapur menghindari David. Dadanya bergemuruh hebat, perlakuan David mengingat kan pada Rangga. Saat mereka masih baru menikah.


"Astaghfirullah.."


David menatap punggung kurus Zoya. Apa Zoya belum memaafkannya?. Apakah Zoya masih membencinya.?


Mira yang menyaksikan keduanya hanya menunduk sambil sesekali akan sibuk dengan kue yang baru saja keluar dari oven. Padahal dalam hati kecilnya, bertanya siapa pria itu. Yang ia tau, Zoya adalah janda di tinggal mati suaminya. Selama ini selain dengan Bisma yang sudah di anggap nya sebagai keluarga, Zoya tak pernah dekat dengan siapapun?