Hati AZZOYA

Hati AZZOYA
season 2. 74


(perhatikan ya Mak bab nya, duluan mana😁 maklum saja ada si anu🤭)


*


"Singkirkan kakimu brengsek.."


David mendelik pada Aaron, rahangnya mengeras melihat tingkah laku pria brengsek di depannya.


Aaron sendiri tersenyum jahat pada David, ia membaringkan kepalanya di atas paha istrinya.


"Aku tak sengaja papa mertua."


Nafas David memburu mendengar Aaron yang memanggil nya papa mertua. Emosi nya memuncak, ia yakin jika Aaron mengejeknya dengan panggilan papa mertua.


"Kau bukan menantuku bodoh,!"


Teriaknya pada Aaron, ia tak perduli dengan tatapan Zoya dan putrinya. Aaron membuat emosinya meningkat dan sampai ubun ubun.


"Kau memang bukan papa mertua, papa mertua ku sudah meninggal, ya kan sayang.?"


Aaron menatap wajah istrinya memelas, mencari pembelaan dari Almira. Almira sendiri melirik ke arah ibunya.


"Sayang..." Manjanya lagi.


Dan David sendiri berdiri meninggalkan Aaron. Jangan sampai ia muntah di sana, melihat wajah menyebalkan Aaron. Ia juga bisa jantungan melihat tingkah manja Aaron pada putrinya.


Zoya menggeleng kan kepalanya melihat mereka berdua.


"Jangan sampai aku pulang membawa penyakit dari sini. Aaron sialan, pria itu sama sekali bukan menantu idaman, dasar brengsek."


Umpat David di kamar tamu.


Zoya melirik ke arah Aaron, ia mendesah lirih saat melihat Aaron yang sangat manja pada Almira. Tak lama ia tersenyum tipis, saat mengingat jika ia akan iri melihat Almira bahagia dengan nya. Tapi bukan iri bagi Zoya, ia justru bersyukur melihat Almira bahagia bersama pria yang tepat tentunya.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka.


"Tuan makan malam sudah siap.."


Aaron mengangguk mengiyakan, ia bangun dari paha istri nya dan menggendong Almira. Mata nya melirik ke arah Zoya, ia bingung menghadapi wanita yang sempat ia ingin kan itu. Bukan merasa malu karna ia dulu pernah menginginkan nya. Tapi merasa bersalah padanya yang memisahkan Almira. Menikahinya tanpa restu nya terlebih dahulu sebagai seorang ibu lalu membawa jauh putrinya tiba-tiba. Pasti Zoya sangat sedih kehilangan putri semata wayangnya, ia yakin itu.


"Panggil lah suamimu yang pemarah itu ke ruang makan."


Aaron melangkah lebar ke ruang makan, ia mendudukkan dirinya di kursi miliknya bersama Almira di pangkuannya.


Tak lama David dan Zoya datang mendudukkan dirinya pada kursi masing-masing.


David mengerutkan keningnya saat tak mendapati nasi di meja makan. Ia menatap hidangan yang tersaji. Semua nya lengkap dari sayur ikan bahkan daging dan steak juga ada di meja, jus dan susu juga sudah siap.


"Apa kau tak punya nasi,?"


Aaron memejamkan matanya mendengar kata nasi dari bibir David. Mendengar namanya saja kepalanya berputar putar membayangkan bagaimana bentuk dan warna nya yang membuat geli.


"Dad, Om alergi sama nasi,"


David menyipitkan matanya mendengar penuturan Almira. Mana ada alergi dengan nasi.


"Kau ini jadi aku harus makan seperti mu, mana ada bubur jagung pakai lauk pauk seperti ini." Tak ayal, tangan nya mengambil steak dan memakannya.


Aaron tak mendengar David, ia tetap membuka mulutnya saat Almira menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.


"Om kenyang sayang,"


David melirik Aaron, ia berdecih dalam hati melihat tingkah manja nya yang melebihi Arhas dan Asraf waktu kecil. Ia yakin jika tak ada Almira dan Zoya, ia sudah meracun nya.


Aaron melirik ke arah David, ia tau jika David berniat jahat padanya. Tak lama ia tersenyum miring saat David menyuapkan daging steak ke dalam mulutnya.


"Lauren,.."


"Ya tuan.."


Pelayan datang menghampiri tuannya yang memanggil nya.


"Apa itu bukan steak ikan hiu.?"


David tersedak mendengar nya kata ikan hiu dari mulut Aaron. Ia menyambar gelas yang di sodorkan Zoya pada nya.


Nafas nya memburu menatap Aaron yang kurang ajar padanya. Ia tau jika Aaron sengaja padanya.


"Bukan tuan.."


Aaron mengangguk mengiyakan, tak lama tangan nya mengibas tanda menyuruh pelayan pergi meninggalkan mereka.


Kemudian ia menggendong Almira pergi meninggalkan meja makan.


Tersenyum penuh kemenangan melihat wajah David yang merah padam menatap nya.


"Menantu sialan.." Geramnya dalam hati, nafsu makannya hilang seketika.


*


Queen menangis di dalam kamar mandi milik nya, saat merasakan panas dan nyeri di perut bagian bawahnya. Tubuhnya bergetar ketakutan saat melihat darah segar mengalir di antara pahanya.


Ia masih memegang benda tumpul yang mirip milik pria di tangan nya.


Queen baru saja memuaskan dirinya dengan benda yang ada di tangan nya. Rasa dahaga dengan sentuhan pria membuatnya setiap hari melakukan nya seorang diri. Tapi malam hari ini ia tak menyangka jika milik nya akan berdarah dan perut nya akan sakit luar biasa.


"Aaron tolong aku,"


Tak lama kemudian matanya terpejam merasakan sakit yang luar biasa hebat di pusat inti tubuh dan perutnya.


Sedangkan Cristi mengerutkan keningnya saat tak mendapati putrinya turun dari kamar nya. Ini sudah lewat jam makan malam, tapi Queen sama sekali belum turun dari kamar nya.


Sementara Dirga sendiri tak perduli, ia tetap makan meski tak ada putrinya nya yang ikut makan bersamanya. Rasa kecewanya terhadap Queen yang mencoreng nama dan wajahnya membuatnya mengabaikan putrinya sebulan ini.


"Mas, aku naik dulu kekamar Queen ya.."


Dirga hanya melirik ke arah Cristi sekilas. Tak lama kemudian Cristi berdiri dari duduknya dan melangkah naik ke kamar atas.


Sampai di kamar Queen, Cristi duduk di kasur milik Queen. Menunggu Queen keluar dari kamar mandi.


Cristi menautkan kedua alisnya saat tak mendengar suara gemercik air. Bukankah Queen mandi, tapi Cristi tak mendengar bunyi air yang mengalir.


Tanpa sengaja matanya menatap darah yang tercecer di lantai.


"Kenapa anak itu jorok sekali."


Deg...


Tubuh Cristi menegang saat mengingat sesuatu. Lagi pula tak mungkin rasanya jika datang bulan sampai tercecer seperti ini.


Ia langsung berjalan ke arah kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tak terkunci.


"Queen..."


Cristi berlari mendekati putrinya dan shock melihat putrinya bersandar di bathub yang tak ada air nya, dengan kaki yang terbuka lebar, apalagi mengeluarkan darah segar.


"Queen,...."


Tangan nya menutup mulutnya, ia menatap benda berwarna ungu ketuaan yang ada di samping Queen. Tak lama ia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lihat nya.


"Queen..."


Tangan Cristi mengambil benda yang tergeletak. Tak lama ia berjengit mendengar pintu yang terbuka. Ia buru-buru menyembunyikan benda di tangan nya.


"Nona..."


Pelayan shock melihat tubuh nona muda nya.


"Panggil tuan.."


Cristi mengusap pipinya yang basah, ia berdiri dan mengambil berlari mengambil handuk untuk menutupi tubuh polos Queen dan menyembunyikan benda di tangan nya.


*