
Helena keluar dari ruang CEO milik Nicholas, ia akan pulang ke rumah miliknya. Sedangkan Nicholas sendiri mengamuk di ruang kerja nya.
Prang....
"Brengsek... Aaron sialan."
Dor.... Prang....
Tubuh Nicholas berjengit kaget mendengar suara tembakan yang memecahkan kaca di belakang nya. Ia menatap kaca jendela yang hancur akibat tembakan. Tubuhnya semakin menegang saat sebuah benda menekan kepala nya. Ia yakin jika itu adalah sebuah senjata api.
"Si_a_pa..?"
"Kau mengumpat ku Nicho.."
Deg...
"Aaron,"
"Yap kau benar sekali, ternyata kau masih mengingat ku."
Aaron menurunkan tangannya kembali dari kepala Nicholas dan mendudukkan dirinya di sofa. Aaron tersenyum miring melihat wajah Nicho yang seperti orang bodoh.
"Ingat jangan sampai aku mendengar mu mengumpat ku lagi."
Kata Aaron sembari meniupkan ujung senjata milik nya. Lalu melirik ke arah Nicholas yang masih diam mematung. Nicholas sendiri masih shock melihat kaca yang pecah dan senjata api di kepala nya barusan. Siapa sebenarnya Aaron.?
"Aku sudah pernah bilang padamu, jangan senang mengumpat ku. Bekerja samalah sebagai rekan bisnis yang saling menguntungkan. Jangan saling menjatuhkan. Aku akan bersikap manis padamu nanti. Kau tau, kau sendiri yang memancing ku, padahal aku masih menghormati ayahmu. Tapi kau merusak kepercayaan ku, jadi jangan salahkan aku."
"Aaron siapa kau sebenarnya.?"
Ucap Nicholas menatap Aaron tajam. Aaron menipiskan bibir nya.
"Bukan siapa siapa, tapi aku akan menjadi malaikat pencabut nyawa untuk mu jika kau berani macam-macam denganku."
Nicholas menatap Aaron tak berkedip masih bertanya-tanya siapa Aaron sebenarnya.
"Aku tak pernah mengganggu mu selama ini. Untuk apa kau datang kemari.?"
"Kau lupa, kau baru mengumpat ku."
Aaron tersenyum miring melihat kegugupan Nicholas.
"Untuk apa kau kemari.?"
Nicholas berbalik dan mendudukkan dirinya di kursi kebesaran nya. Entah kenapa semenjak Aaron mengetahui tentang ia dan daddy nya, Aaron seperti hantu baginya.
"Aku hanya mampir, bukankah kau juga pernah mampir ke perusahaan ku. Dan aku juga mampir sekarang. Tak pantas rasanya sudah hampir sebulan lamanya kita bekerja sama, tapi aku tak pernah menginjakkan kakiku ke perusahaan milik mu. Dan aku baru tau jika ruangan mu sangat nyaman."
Nicholas mengumpat Aaron, yang membalikkan kata kata nya dulu.
Nicholas berjengit kaget saat melihat Aaron berada di depan nya. Bagaimana ia tak tau Aaron berjalan ke arah nya.
"Kau mau apa..?"
"Jangan pernah berani menunjukan wajah mu pada istriku. Aku tak suka matamu yang jelek ini menatap istriku."
Tubuh Nicholas menegang saat Aaron mengacungkan lagi senjata apinya padanya. Selama ini ia tak pernah di ancam seperti ini. Apa lagi ayahnya seorang jenderal, dan Aaron berani padanya.
Tak lama kemudian Nicholas bernafas lega saat melihat Aaron menurunkan senjata api nya dan berjalan ke arah pintu.
"Tuan Nicho, jadilah pria yang bertanggung jawab. Bukankah malam panas itu meninggal jejak.?"
Nicholas melototkan matanya kembali mendengar penuturan Aaron. Dari mana Aaron tau jika Helena hamil. Apa Helena mengatakan nya pada Aaron, rasanya tidak mungkin.
Aaron sendiri tersenyum lebar keluar dari ruang CEO milik Nicholas.
"Coba saja jika kau mengusik ku lagi."
*
Almira tersenyum lebar saat ia dan suaminya akan berkunjung di tanah air mengunjungi keluarga nya. Dari pagi ia memasukkan pakaian milik nya dan suami ke dalam koper. Sedangkan koper besar satunya lagi milik putrinya Arora Jennifer.
Cup...
"Kau sangat seksi Al,"
Almira memicingkan matanya mendengar penuturan suaminya. Aaron senang sekali membuat nya kaget. Almira menatap dirinya sendiri, seksi dari mananya. Bahkan ia memakai daster yang biasa ia pakai, dan Aaron mengatakan seksi.
"Ada apa by, setiap hari Al juga begini by, seksi dari mana nya, coba.?"
Aaron menghembuskan nafasnya perlahan, rupanya Almira masih belum tau kode dari nya. Padahal ia sudah ingin, ah sepertinya Almira wanita yang tak peka. Aaron mendengus dan berbalik ke arah kamar mandi. Meminta dulu takut malu, lagi pula Almira sudah mengancamnya dulu saat ia membantunya, dan berakhir mengenaskan di ruang kerja miliknya. Sedangkan besok pagi mereka akan pergi ke Indonesia. Masa ia dia berbuka puasa di rumah di mertuanya.
"By aku akan tidur terlebih dahulu, biar besok subuh aku gak ngantuk."
"Iya.."
Jawab Aaron lesu dan masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Almira tersenyum, ia tau apa yang di inginkan oleh suaminya.
Almira membuka daster yang di pakai nya dan membuangnya asal. Tinggal kain tipis tali satu yang melekat di tubuh nya kecil. Almira berjalan ke arah meja rias dan tersenyum di depan cermin. Ia menaburkan bedak di wajah dan memakai blush on di kedua pipinya. Tak lupa, ia memoles bibir nya dengan lipstik.
"Cantik,.."
Pujinya untuk dirinya sendiri. Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi di buka. Aaron yang berjalan menunduk dan mengusap rambutnya yang basah tak tau kejutan dari istrinya. Aaron mengerutkan keningnya saat kakinya menginjak pakaian milik istri nya. Bukankah daster ini tadi di pakai Almira. Aaron mengangkat wajah nya dan shock mendapati Almira.
"Sayang.."
"Cantik tidak by.."
Aaron mengangguk gugup, ia masih tak percaya melihat istrinya berpakaian minim dan tipis. Dua buah kenyal yang semakin besar itu seolah menantang nya dan ingin di sentuh. Jelas saja pucuk dua buah itu melambai lambai pada Aaron yang kehausan. Almira tak memakai penyangga pada dua buah kenyal nya. Apalagi Almira saat ini berjalan menghampiri nya. Seketika senjata nya yang meringkuk kedinginan bangkit dan bergerak.
Ahhh...
Tubuh Aaron tiba-tiba saja menegang dan mendesah saat tangan kecil Almira mengelus milik nya. Matanya terpejam merasakan sensasi panas menjalar di seluruh tubuh nya. Nafasnya memburu menahan hasrat birahinya yang melambung tinggi.
"Sa_yang_"
Aaron tergagap merem melek, merasakan tubuhnya yang semakin panas. Almira benar benar membuat Aaron hampir saja limbung kebelakang, kakinya gemetar menahan sensasi panas dan nikmat saat Almira mengulum milik nya.
Ahhh...
Lagi lagi Aaron mengerang karna lidah Almira. Tapi tak lama Almira melepaskan nya.
"Sa_yang.."
Nafas Aaron memburu menahan hasrat birahinya sendiri. Keringat dingin keluar membasahi tubuh nya . Padahal Aaron sendiri merasakan panas yang luar biasa menjalar di seluruh tubuh nya. Apalagi pusat inti tubuhnya semakin berkedut.
"Iya by,"
Almira tersenyum dan menggigit bibir bawahnya sendiri menggoda Aaron. Aaron sendiri, semakin terbakar melihat Almira yang menggigit bibirnya. Dari mana istrinya belajar dan pintar menggoda nya.
"Om, ing_" Gugup nya menatap wajah cantik Almira.
"Om mau tidak buka puasa bareng Al.."
Hah...
.
.
Terima kasih sudah menemani otor dalam berkarya 😁 kali ini benar benar sudah END ya. 🤣
Yuk kepoin novel otor yang lainnya.
SALAM SAYANG DARI ANAK UDIK
😘😘