
Almira memeluk tubuh ibunya, hari ini Zoya dan David akan pulang ke tanah air meninggalkan nya lagi.
"Ingat bunda sayang, kau harus istirahat ya? Ingat juga, jaga kandungan mu. Kau harus banyak makan agar Baby nya sehat."
Almira mengangguk mengiyakan ucapan ibunya.
David mengusap kepala Almira, gadis kecil nya akan dia tinggalkan bersama dengan suaminya di sini. Semoga saja Aaron menjaga mereka dengan baik. Meski Aaron sering membuatnya emosi tapi ia tau jika Aaron mencintai Almira sangat besar.
"Daddy sama bunda pulang dulu sayang."
Almira mengangguk dan melepaskan pelukannya pada Zoya.
Cup...
"Jaga putri ku dengan baik, awas saja jika kau menyakiti nya. Aku akan mem_"
Ck......
"Pergilah telinga ku sakit mendengar ocehan papa mertua. Aku tau apa yang harus kulakukan." Potong nya cepat.
"Aaron sialan.."
David benar benar di buat naik darah oleh Aaron. Pria sialan ini benar benar membuat emosinya meningkat jika berdekatan terus.
Zoya menarik tangan suaminya, ia tak mau melihat keduanya berdebat lagi. Mereka berdua memang susah sekali akur. Baik David ataupun Aaron, keduanya sama-sama tak ingin mengalah.
Zoya melambaikan tangan nya pada Almira yang menatapnya di depan pintu mension mewah Aaron.
Tes....
Zoya mengusap pipinya yang basah, ia sebenarnya masih rindu dengan putri nya. Baru tiga hari bertemu, mereka akan di pisahkan lagi dengan jarak yang jauh. Apalagi Almira adalah satu satunya putri nya. Padahal sebelumnya Zoya berniat membawa Almira pulang ke tanah air, mengunjungi ibu dan kedua adiknya. Tapi Tuhan sudah menitipkan malaikat kecil di rahim sang putri terlebih dahulu.
David memeluk Zoya dan mengusap punggung nya. Ia tau seberapa sayang nya Zoya pada Almira. Gadis yang dulu di rawat dengan tangan Zoya sendiri tanpa bantuan suaminya.
"Kita akan sering mengunjungi nya, sudah jangan menangis."
Mic yang mengemudikan mobilnya melirik ke arah kaca. Ia sungguh iri dengan tuannya yang memiliki istri yang sangat cantik dan masih belia. Di tambah lagi dengan mertuanya yang sangat perhatian.
"Huh.. Semoga aku juga seperti tuan,"
*
Hoekk....Hoekk...
"Aish.. Sialan,"
Nathan menatap wajah Aaron iba. Keringat dingin bercucuran di dahi milik tuannya itu. Tak lama ia bergidik ngeri saat membayangkan jika dirinya yang mengalami nya. Ia adalah saksi tuannya yang tersiksa seperti ini setiap pagi. Baru saja ia membantu tuannya memijit leher nya saat muntah. Biasanya nyonya Almira lah yang akan membantu tuannya.
"Huh, kapan penderitaan ini akan berakhir. Apa sampai istriku melahirkan baru akan sembuh, kenapa bibit ku sendiri sepertinya memusuhi ku,?"
Keluhnya keluar dari kamar mandi. Sudah berapa bulan ia masih muntah setiap hari. Padahal perut Almira sudah membesar dan ia masih tersiksa seperti ini.
"Tuan, dokter Peter sudah datang."
Aaron melangkah keluar dari kamar pribadi nya di ruang CEO milik nya. Sedangkan Nathan mengikuti nya dari belakang.
Di luar Peter sudah menunggu nya, Peter menatap wajah Aaron yang benar-benar pucat saat pintu kamar pribadi nya terbuka.
"Apa anda ingin di infus kembali tuan.?"
"Aku tak mau."
Jawabnya tak bersemangat, dokter sendiri menggelengkan kepalanya. Ia juga iba melihat tuan Aaron yang hampir setiap hari muntah. Apalagi belakangan ini seperti nya bertambah parah.
"Lalu untuk apa anda memintaku datang kemari jika anda tak ingin di infus. Saya sudah memberikan obat pereda mual untuk anda kemarin tuan.?"
Peter menunduk, ia sendiri juga bingung, kenapa tuan Aaron lama sembuhnya. Biasanya, saat orang lain yang mengalami kehamilan simpatik tidak selama ini, istri tuan Aaron bahkan hampir melahirkan tapi tuan Aaron sendiri belum sembuh.
"Apa anda terkena kutukan tuan?."
"Hey..."
Teriak Aaron tak terima mendengar jika ia terkena kutukan. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak pada asisten nya ini.
"Maaf tuan.."
Nathan menunduk, ia mengutuk kebodohan nya yang asal bicara saja terhadap tuannya.
"Hubby.."
Almira datang bersama dengan Mic yang mengantarkan nya. Bukan nya Almira tak ingin ikut ke perusahaan bersama Aaron. Tapi mengingat perutnya yang membesar Almira malas dan ingin di mension. Padahal Almira baru kali ini tak ikut ke perusahaan bersama Aaron. Tapi tiba-tiba saja Nathan menelponya dan memberitahukan jika suami nya muntah lagi.
"Sayang, aku muntah lagi,"
Nathan dan Peter meringis mendengar suara manja Aaron pada istrinya.
"Huh, harus nya aku di Mension saja dengan mu. Aku tersiksa jika kau tak bersamaku Al."
"Apa sekarang sudah lebih baik lagi.?"
Aaron mengangguk mengiyakan ucapan Almira. Tak lama Almira duduk bersandar di sofa samping dokter Peter.
"Pulanglah, istri ku sudah datang, aku tak membutuhkan mu lagi."
Usir nya pada Peter yang duduk di samping Almira. Peter sendiri langsung beranjak berdiri membawa tas miliknya.
"Kau mau kemana, duduk disana dan kerjakan semua berkasnya, aku lemas."
Aaron menatap tajam pada Nathan yang ingin beranjak keluar.
"Kenapa lemas masih bisa marah dan bicara ngegas sih. Tuan memang benar benar sakit atau hanya ingin di manja nyonya sih. Pantas saja tuan David sebal dengan nya. Sudah tua tapi menyebalkan melebihi bayi."
Gerutu nya berjalan duduk di kursi kebesaran Aaron. Ia menatap lembar kertas putih yang membuatnya pusing. Andai saja kursi ini milik nya, ia akan menendang Aaron dari sini.
Satu jam Nathan duduk di kursi kebesaran Aaron. Pria yang tak jauh usia nya dari Aaron ini sesekali melirik ke arah tuannya.
Melihat tingkah laku Aaron dengan nyonya nya.
"Kenapa kau menatap ku terus, apa kau iri padaku.?"
"Tidak tuan, mana mungkin saya iri tuan."
*
Queen menatap bangunan tertinggi perusahaan terbesar milik Aaron. Ia berjalan masuk kedalam dengan pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Apa kau tetap akan menolak ku Aaron. Aku tak akan mudah melepaskan yang menjadi milik ku Zoya. Putri mu sudah merebut Aaron dariku. Dan aku akan mengambil kembali milik ku."
Queen berjalan tanpa bertanya pada Resepsionis. Ia yakin jika bertanya ia tak akan di biarkan masuk oleh penjaga. Itu sebabnya Queen masuk begitu saja.
Queen menatap wanita yang berjalan keluar dari ruangan Aaron. Matanya tak berkedip melihat wanita dengan perut buncitnya membawa bungkus Snack di tangan nya.
"Bahkan gadis itu hamil dan kau tega nya membuangku. Apa bedanya aku dan dia, aku bisa memberikan mu anak Aaron?."
.
.